Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGARUH PUPUK UREA, SP36, DAN KCL DIPERKAYA DENGAN INOKULASI FUNGI MIKORIZA ARBUSKULA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL KEDELAI EDAMAME PADA TANAH GAMBUT Ida Juwita; Dwi Zulfita; Darussalam Darussalam
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 11, No 4
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v11i4.58212

Abstract

Kedelai edamame (Glycinemax (L) Merril.) merupakan kedelai asal Jepang yang memiliki nilai jual lebih tinggi dibandingkan dengan kedelai biasa. Kedelai edamame memiliki bentuk tanaman, biji dan polong yang lebih besar. Upaya untuk meningkatkan produksi kedelai edamame dapat dilakukan dengan mengoptimalkan lahan gambut untuk areal produksi kedelai edamame di Kalimantan Barat. Pupuk yang dapat digunakan adalah Urea, SP36, dan KCL, ketiga pupuk ini mengandung unsur nitrogen (N), fosfor (P), dan kalium (K). Unsur hara N, P, dan K sangat diperlukan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Disamping itu penggunaan FMA mampu meningkatkan serapan unsur yang tidak mobil terutama hara P. FMA memiliki peranan yang sangat penting bagi tanaman yaitu dapat memfasilitasi penyerapan hara dalam tanah sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan tanaman, sebagai penghalang biologis terhadap infeksi patogen akar, meningkatkan ketersediaan air bagi tanaman dan meningkatkan hormon pemacu tumbuh. Tujuan dari penelitian ini untuk memperoleh dosis terbaik pupuk N, P, dan K yang diperkaya dengan inokulasi FMA terhadap pertumbuhan dan hasil kedelai edamame pada tanah gambut. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen lapangan dalam bentuk Rancangan Acak Kelompok (RAK) yang terdiri dari 4 perlakuan dengan 5 kali ulangan. Perlakuan yang dimaksud yaitu : p1 = dosis pupuk 100% dari anjuran, p2 = dosis pupuk 75% dari anjuran, p3 = dosis pupuk 50% dari anjuran, p4 = dosis pupuk 25% dari anjuran. Variabel yang diamati dalam penelitian meliputi : tinggi tanaman (cm), volume akar (cm3), berat kering tanaman (g), jumlah cabang produktif (buah), umur berbunga (hst), jumlah polong isi pertanaman (buah), berat polong isi per tanaman (g). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian pupuk N, P, K dosis 100% dosis anjuran setara dengan Urea 0,90 g/tanaman, SP36 0,65 g/tanaman, dan KCl 0,65 g/tanaman diperkaya dengan inokulasi FMA dapat memberikan pertumbuhan dan hasil kedelai edamame yang terbaik pada tanah gambut.
RESPON PERTUMBUHAN DAN HASIL JAHE MERAH TERHADAP PEMBERIAN NAUNGAN ALAMI PADA TANAH GAMBUT ARI DIPINTO DIPINTO; Darussalam Darussalam; Iman Suswanto Suswanto
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 9, No 2 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jspe.v9i2.38608

Abstract

Intensitas naungan merupakan aspek lingkungan yang berperan penting bagi tanaman jahe yang perlu diteliti guna meningkatkan produksinya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kebutuhan intensitas cahaya yang terbaik dari tanaman naungan terhadap pertumbuhan dan  hasil tanaman jahe merah pada tanah gambut.Penelitian ini dilakukan pada bulan Februari  2019 sampai Juni di Sungai Selamat Pontianak Utara. Rancangan percobaan adalahmenggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK). Analisis keragaman denganuji beda nyata jujur (BNJ) pada tingkat kepercayaan 5%, dengan 5 perlakuan komposisi tanaman naungan, masing-masing perlakuan diulang sebanyak 5 kali, dan setiap ulangan terdiri dari 15 tanaman jahe.Adapun perlakuan tanaman naungan yang dimaksud adalah komposisi naungan tanaman pare. n0= Tanpa naungan, n1= Ditanam 4 tanaman/2m2, n2= Ditanam 6 tanaman/2m2,n3 = Ditanam 8 tanaman/2m2, n4 = Ditanam 10 tanaman/2m2. Variabel pengamatan yang diamati yaitu tinggi tanaman(cm), berat kering tanaman(g), jumlah daun(helai), jumlah anakan per rumpun(tunas) danberat rimpang per rumpun(g).Hasil penelitian menunjukan perlakuan  tanaman naungan  n4  dengan intensitas cahaya 40% pada pertumbuhan meningkatkan tinggi tanaman, berat kering dan berat segar tanaman jahe. Pada hasil perlakuan n0 dengan intensitas cahaya 100% meningkatkan jumlah daun dan berat rimpang. Tanaman jahe merupakan tanaman yang memerlukan naungan pada pertumbuhan dan memerlukan intensitas cahaya yang penuh pada hasil untuk mendapatkan produksi yang baik.
Pengaruh Pemberian Bokasi Kulit Durian Terhadap Pertumbuhan Dan Hasil Cabai Rawit Pada Tanah Alluvial mardianto mardianto; Rahmidiyani Rahmidiyani; Darussalam Darussalam
Jurnal Sains Pertanian Equator Vol 7, No 3 (2018): AGUSTUS 2018
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (577.028 KB) | DOI: 10.26418/jspe.v7i3.26372

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis bokasi kulit durian yang memberikan pertumbuhan dan hasil terbaik pada tanaman cabe rawit di tanah aluvial. Penelitian dilaksanakan di kebun percobaan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura. Penelitian dilaksanakan selama ± 6 bulan, mulai tanggal 16 Mei 2017 sampai tanggal 28 Agustus 2017. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan satu faktor yaitu bokasi kulit durian yang terdiri dari 5 taraf perlakuan. Dengan satu Faktor yaitu bokasi kulit durian (10,15,20,25 dan 30 ton/ha). Variabel yang diamati pada penelitian adalah tinggi tanaman, jumlah buah pertanaman, berat buah pertanaman, volume akar, berat kering bagian atas dan bawah tanaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pemberian bokasi kulit durian dengan dosis sebesar 20 ton/ha setara dengan 700g/polybag menunjukkan hasil tertinggi terhadap jumlah buah dan berat buah.Kata kunci :aluvial, bokasi,cabe rawit.
ANALYSIS OF INVESTMENT FEASIBILITY AND SENSITIVITY ANALYSIS FOR THE XYZ GEOTHERMAL POWER PLANT (GPP) DEVELOPMENT PROJECT Darussalam Darussalam; Irni Yunita
International Journal of Economic, Business, Accounting, Agriculture Management and Sharia Administration (IJEBAS) Vol. 5 No. 1 (2025): February
Publisher : CV. Radja Publika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54443/ijebas.v5i1.2465

Abstract

Currently, the electricity system of North Sulawesi Province is supplied by power plants including Geothermal Power Plant (GPP), Coal-fired Power Plant (CFPP), Hydroelectric Power Plant (HPP), Solar Power Plant (SPP), Diesel Power Plant (DPP), and Gas Turbine Power Plant (GTPP) with a total installed capacity of 589 MW. The Net Capacity (NC) of this system is approximately 492 MW and the Net Supply Capacity (SC) is around 462 MW, resulting in a gap between installed capacity, NC, and SC Over the past few years, the electricity sales growth in North Sulawesi Province has been quite high, around 7.8% based on sales data from 2011-2020, and is projected to continue growing. Additionally, it is expected that the Energy Mix from New and Renewable Energy sources should reach 23% by 2025, thus the development of new power plants from New and Renewable Energy sources can contribute to achieving this Energy Mix. This research is conducted as a further study regarding the feasibility of investing in the development of XYZ Geothermal Power Plant to provide added value for the company. The research method employed is quantitative descriptive method, which involves calculating the Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), Profitability Index (PI), Discounted Payback Period (PP), and Sensitivity Analysis (SA). The results show that the investment will be feasible if the capital source for the investment comes from corporate loans for the upstream sector and soft loans for the downstream sector of development, resulting in an NPV of 2,241 thousand USD, an IRR of 11.11%, a PI of 1.01, and a PP of 24 years. Furthermore, the analysis shows that the decision on the capital source is important, as it affects feasibility, and loan variables such as the interest rate in corporate loans and repayment years in soft loans are important factors to consider in increasing economic feasibility. On the other hand, if the best scenario is chosen—decreasing cost variables and increasing both the electricity tariff and capacity factor by 10% from the base scenario—it can result in higher economic feasibility. Moreover, the electricity tariff, capacity factor, production well cost, and power plant cost have the greatest impact on feasibility. Therefore, it is important to strive for the maximum value of the electricity tariff and capacity factor, while minimizing production well and power plant costs as efficiently as possible.