I Ketut Tanu
Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

The Lingga Or Phallus At Kancing Gumi Temple As A Medium Of Worship For Hindus In Sulangai Village, Petang District, Badung Regency I Ketut Tanu
Jurnal Penelitian Agama Hindu Vol 4 No 4 (2020)
Publisher : Jayapangus Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.805 KB)

Abstract

There are many mediums used for worshipping in Indonesia. They can be in the form of ancient relics such as temples, statues, Pratima, or barongs. The aim is as a medium or means of concentrating one's mind on worshiping Ida Sang Hyang Widhi Wasa. One of the relics used as a means of worshipping is a Lingga or phallus. The lingga used as the research object in this study is the Lingga at the Kancing Gumi Temple. This temple is in Sulangai Village, Petang District, Badung Regency. This temple belongs to the Kahyangan Jagad Temple which is respected by the local community as a medium of worship. The Lingga at Kancing Gumi Temple is believed to be the key (kancing) for the stability of the island of Bali. This Temple is one of the temples that holds an important meaning in the cosmology-spiritual landscape in Bali. As the name suggests, this temple is the key that determines the stability of the island of Bali and even the world. Therefore, among the inhabitants of Sulangai Pura Village, it is believed that this temple is a lifeline or reinforce, a guardian of world stability. Kancing Gumi Temple is unique. There is a dresta (it is something prohibited to be done by everyone) for pemedek or everyone who wants to pray in this temple. Pregnant women and women who are breastfeeding are not allowed to come to this temple to pray. Besides, the pemedek is not allowed to offer pork. Moreover, the pemedek is prohibited to wear footwear in the area of ​​the Kancing Gumi Temple. If this prohibition is violated, it is believed that things that are not desirable will happen. This uniqueness is accepted and preserved as local assets by local inhabitants.
Implementasi Pembelajaran Kontekstual Pada Era New Normal Berbasis Pendidikan Tri Hita Karana di Desa Medewi Kecamatan Pekutatan Kabupaten Jembrana I Made Arsa Wiguna; Ni Ketut Srie Kusuma Wardhani; Ni Wayan Sariani Binawati; I Ketut Tanu; I Made Redana
Sevanam: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 1 No 2 (2022): September
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/sevanam.v1i2.1012

Abstract

The program of community service activity carried out by the Master Dharma Acarya (Hindu Education) in Medewi Village, Jembrana is the application of three obligations in higher education or called tri dharma. This program is based on several reasons. First, the obligation of higher education institutions, including lecturers and students, as a knowledge practices. Second, education and society have a strong relationship and influence each other. Third, education should be culture-based and oriented, so that the values ​​that exist in society need to be strengthened. Fourth, this community service is also a mandate from Hindu literature, that jnana yadnya is the main yadnya. The theme of this service is the application of contextual learning in the new normal era based on Tri Hita Karana. Theoretically and practically, this service activity refers to the concept of community-oriented contextual learning which includes seven things, namely: (1) meaningfulness and usefulness; (2) Utilization of the environment in learning; (3) Integrated learning materials in daily life; (4) The problems raised in the learning are in accordance with the needs; (5) Emphasis on participatory learning; (6) Fostering cooperation; and (7) Fostering independence. The reinforcement is in understanding, interpreting and using Tri Hita Karana in life. Theoretically, service participants who are members of the community are able to interpret the Tri Hita Karana philosophy and relate it to their daily religious life. Practically, participants are equipped to take advantage of the potential that exists in the surrounding environment to support or improve the quality of their health and life through the practice of processing medicinal plants sourced from Hindu literature such as Lontar Usadha Taru Pramana and herbal medicine practitioners who are also members of this community service team.
PENDIDIKAN KEBERAGAMAAN HINDU DALAM UPACARA NGUSABHA SATUH DI PURA DALEM BANJAR PAKEL DESA ADAT GEGELANG KECAMATAN MANGGIS KABUPATEN KARANGASEM Ni Wayan Seniari; I Ketut Tanu; I Nengah Sumantra
Upadhyaya : Jurnal Penelitian Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2021): Volume 2 Nomor 2 April 2021
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/up.v2i1.2639

Abstract

Pendidikan keberagamaan merupakan suatu hal yang menyangkut tentang tingkat pengetahuan, keyakinan, pelaksanaan dan penghayatan seseorang atas ajaran agama yang diyakininya, atau suatu sikap penyerahan diri kepada suatu kekuatan yang ada di luar dirinya yang diwujudkan dalam aktivitas dan perilaku individu sehari-hari. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui salah satu upacara yajna yang disebut Upacara Ngusabha Satuh di Pura Dalem Banjar Pakel, Desa Adat Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Keunikan dari upacara Ngusabha Satuh terletak pada prosesi serta sarana dan prasarana yang digunakan. Adapun masalah yang dibahas 1. Bagaimana prosesi pelaksanaan upacara Ngusabha Satuh, 2. Bagaimanakah dampak dari pelaksanaan upacara Ngusabha Satuh terhadap kehidupan masyarakat, 3. Makna pendidikan keberagamaan Hindu apakah yang terkandung dalam upacara Ngusabha Satuh di Pura Dalem Banjar Pakel Desa Adat Gegelang, Kecamatan Manggis, Kabupaten Karangasem. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah 1. Teori Religi, 2. Teori Dependensi, dan 3. Teori Keberagamaan. Informan dalam penelitian ini ditetapkan secara purposive sampling dengan teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan studi dokumen. Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini adalah prosesi pelaksanaan upacara Ngusabha Satuh yang dimulai dari ngayah, mejaga-jaga, mesucian (Katuran ke Beji), Nunas Tirtha, Mapepada, Pangusabhaan, dan Penyineban. Pelaksanaan upacara Ngusabha Satuh tentunya memiliki dampak antara lain dampak religius, dampak sosial ekonomi, dampak pelestarian budaya dan dampak pendidikan. Makna pendidikan keberagamaan Hindu yang terkandung dalam upacara Ngusabha Satuh yaitu makna pendidikan pengetahuan agama, makna pendidikan keyakinan, makna pendidikan praktek agama/ritual dan makna pendidikan konsekuensi.
FESTIVAL OGOH-OGOH: REPRESENTASI SENI DAN TRADISI MENYAMBUT NYEPI DI BALI Ni Made Ayu Erna Tanu Ria Sari Ria Sari; I Ketut Tanu
Jawa Dwipa Vol. 7 No. 1 (2026): Jawa Dwipa
Publisher : Lembaga Penerbit Sekolah Tinggi Hindu Dharma Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54714/jd.v7i1.130

Abstract

Kebudayaan memiliki peran strategis dalam kehidupan masyarakat sebagai identitas sekaligus sebagai penggerak pembangunan sosial dan ekonomi. Salah satu bentuk implementasi kebudayaan yang masih lestari di Bali adalah tradisi ogoh-ogoh dalam rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji nilai-nilai budaya, sosial, dan religius dalam tradisi ogoh-ogoh, serta menganalisis peran generasi muda, perkembangan festival ogoh-ogoh di era modern, dan dampaknya terhadap kehidupan masyarakat Bali. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan studi literatur terhadap berbagai sumber ilmiah yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa tradisi ogoh-ogoh mengandung nilai religius sebagai simbol penetralisir unsur negatif (bhuta kala), nilai sosial melalui penguatan solidaritas dan gotong royong masyarakat, serta nilai estetika sebagai ekspresi seni rupa tradisional. Generasi muda memiliki peran penting sebagai pelaku, inovator, dan promotor budaya dalam menjaga keberlanjutan tradisi ini. Dalam perkembangannya, festival ogoh-ogoh mengalami transformasi menjadi atraksi budaya yang berkaitan erat dengan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, tanpa menghilangkan esensi nilai tradisionalnya. Selain memberikan dampak positif berupa peningkatan kohesi sosial dan peluang ekonomi masyarakat, festival ogoh-ogoh juga menghadirkan tantangan, terutama terkait potensi komodifikasi budaya dan pergeseran nilai sakral menjadi profan. Oleh karena itu, diperlukan pengelolaan yang bijaksana dan berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pemanfaatannya dalam pembangunan. Dengan demikian, tradisi ogoh-ogoh tidak hanya berfungsi sebagai bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga sebagai media pelestarian budaya, penguatan identitas lokal, serta penggerak dinamika sosial dan ekonomi masyarakat Bali di era modern. Kata kunci: Festival Ogoh-Ogoh, Seni dan tradisi, Nyepi , Bali