Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Status Kesehatan Korban Banjir Rob di Desa Jeruksari Kabupaten Pekalongan Sugiharto Sh; Masdiana Safitri
JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat Vol 2, No 1: April 2021
Publisher : STIKES Bhakti Husada Mulia Madiun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (277.971 KB) | DOI: 10.47575/jpkm.v2i1.211

Abstract

Status kesehatan adalah suatu keadaan dimana orang dalam tingkatan sehat atau sakit. Faktor lingkungan dan perilaku merupakan faktor yang paling berpengaruh terhadap status kesehatan masyarakat. Lingkungan pada daerah yang tergenang rob dapat menimbulkan kerusakan sistem sanitasi dan air bersih karena adanya banjir rob yang menjadikan potensi kejadian luar biasa (KLB) penyakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran status kesehatan dan penyakit yang paling banyak diderita oleh warga Desa Jeruksari di Wilayah kerja Puskesmas tirto II Kabupaten Pekalongan. Desain penelitian menggunakan survei dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian adalah warga Desa Jeruksari sebanyak 91 Kepala Keluarga dengan jumlah responden sebanyak 292 orang. Teknik pengambilan sampel menggunakan multi stage dengan dua teknik yaitu cluster dan rule of thumbs. Alat pengumpulan data berupa kuasioner Riskesda 2013. Hasil penelitian menunjukan 127 responden (43,5%) termasuk dalam katagori sakit. Berdasarkan laporan dari responden, terdapat tujuh (7) jenis penyakit yang ada di desa Jeruksari. Tiga (3) jenis penyakit yang paling sering dialami warga yang mengalami rob yaitu ISPA 52 responden (17,8%), dermatitis 52 reponden (17,8%) dan diare 26 responden (8,9%). Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar dalam rangka meningkatkan pelayanan kesehatan dan pemberian penyuluhan kesehatan khususnya terkait dengan perilaku hidup bersih dan sehat serta upaya pencegahan penyakit.
Healthy eating: A concept analysis Sh Sugiharto; Chen-Chung Hey; Agus Supinganto; Nilawati Uly
Malahayati International Journal of Nursing and Health Science Vol 4, No 1 (2021)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/minh.v4i1.3857

Abstract

"Every human being is the creator of his own health or disease (Buddha)". A message of this quote is eat better, health better. Food is an important component and needed by the body to grow and develop as the body fuel. Mistakes in consuming food can be fatal. Therefore, knowledge about healthy eating is needed. Mostly, people refer the term “healthy eating” as a diet. These terms are interchangeable. The term "diet" is defined as restricting the amount of food or avoiding certain foods. Healthy eating is not merely counting the amount of foods, but rather the accuracy of choosing foods based on the need for balanced nutrition. A long with the GERMAS program regarding healthy eating guidelines, namely “Isi Piringku”, then we must understand about food ingredients and their nutritional content as well as balanced nutritional components containing carbohydrates, fats and proteins. The study aimed to construct the concept of healthy eating. The study applied Rodgers’ Evolutionary method for concept analysis. As the results, there are three dimensions of healthy eating involve physical, psychosocial, and biochemistry dimension. By considering these three dimensions of healthy eating, you will eat healthier.
EDITORIAL: PILAR PERAWATAN MANDIRI DIABETES MELLITUS: Editorial: Pillars of Diabetes Mellitus Self-Care Sugiharto
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 7 No. 2 (2021): JIKep | September 2021
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (237.954 KB) | DOI: 10.33023/jikep.v7i2.896

Abstract

Diabetes Meliitus merupakan penyakit kronik. Perawatan mandiri penderita DM bertujuan untuk mengelola penyakit terhadap dampak fisiologis, emosi dan hubungan interpersonal. Pada tahun 2014, American Association of Diabetes Educators (AADE) merumuskan ada tujuh pilar perawatan mandiri DM, antara lain: Pola makan yang sehat, Aktif secara fisik/aktif bergerak, minum obat, pemantauan, pemecahan masalah, mekanisme koping yang sehat, dan mengurangi resiko. Diabetes Mellitus is a chronic disease. Self-care for DM sufferers aims to manage the disease on its physiological, emotional and interpersonal relationships. In 2014, the American Association of Diabetes Educators (AADE) formulated seven pillars of DM self-care, including: a healthy diet, being physically active/actively moving, taking medication, monitoring, problem solving, healthy coping mechanisms, and reducing stress. risk.
SURVEI KEPADATAN JENTIK NYAMUK AEDES AEGYPTI PADA PENAMPUNGAN AIR DALAM RUMAH DAN IMPLIKASINYA TERHADAP KEPERAWATAN KOMUNITAS Khotafiatun Khotafiatun; Sh Sugiharto; Wiwiek Natalya
Jurnal Keperawatan Komprehensif (Comprehensive Nursing Journal) Vol. 7 No. 1 (2021): JURNAL KEPERAWATAN KOMPREHENSIF (COMPREHENSIVE NURSING JOURNAL)
Publisher : STIKep PPNI Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (847.07 KB) | DOI: 10.33755/jkk.v7i1.202

Abstract

Nyamuk Aedes aegypti merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue. Kepadatan nyamuk Aedes aegypti sebagai indikator penularan dan penyebaran demam berdarah dengue dapat dilihat dari tempat perindukkannya yaitu penampungan air. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kepadatan jentik nyamuk Aedes aegypti pada penampungan air dalam rumah di Wilayah Kerja Puskesmas Tirto II Kabupaten Pekalongan. Desain penelitian ini menggunakan desain deskriptif. Tehnik sampling menggunakan tehnik Cluster Sampling dengan jumlah responden 274 unit rumah. Untuk memantau jentik nyamuk menggunakan checklist pemeriksaan jentik berkala dari DepKes RI. Data dianalisa berdasarkan frekuensi dan prosentase. Hasil penelitian menunjukkan nilai House Index sebesar 32,1%, Container Index 13,7%, Breteau Index  42,7% dan Angka Bebas Jentik 68%. Indiator-indikator tersebut menunjukkan Desa Jeruksari termasuk dalam kategori risiko tinggi penularan penyakit Demam Berdarah Dengue. Sehingga disarankan bagi perawat komunitas untuk lebih menggiatkan penyuluhan kesehatan dan memberdayakan masyarakat serta kader kesehatan dalam kegiatan pemberantasan sarang nyamuk 3M-Plus.
GAMBARAN FUNGSI KOGNITIF BERDASARKAN KARAKTERISTIK LANSIA YANG TINGGAL DI KOMUNITAS : Cognitive Functions Based on the Characteristics of Elderly Indwelling-Community Kamilia Mardiana; Sugiharto
Jurnal Ilmiah Keperawatan (Scientific Journal of Nursing) Vol. 8 No. 4 (2022): JIKep | Oktober 2022
Publisher : LPPM STIKES Pemkab Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (271.064 KB) | DOI: 10.33023/jikep.v8i4.1283

Abstract

Latar Belakang: Aging Process atau proses menua dapat berdampak terhadap terjadinya penurunan kemampuan biologis, psikologis dan sosiologis. secara bilogis, lansia dapat mengalami penurunan sistem saraf pusat berupa melemahnya kemampuan persepsi sensori dan motorik. Sebagai akibatnya, penurunan fungsi kognitif dapat terjadi pada lansia. Penurunan fungsi kognitif tersebut dapat dipengaruhi beberapa faktor diantaranya usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, pekerjaan, pendapatan, status tinggal dan aktivitas sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran fungsi kognitif berdasarkan karakteristik lansia yang tinggal di komunitas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Untuk pengumpulan data menggunakan teknik total sampling. Sampel pada penelitian ini terdapat 185 lansia yang tinggal di Desa Bugangan. Fungsi kognitif responden diukur menggunakan Mini Mental State Examination (MMSE). Hasil: Berdasakan kriteria inklusi dan eksklusi, sebanyak 151 lansia memenuhi syarat dan berkenan menjadi responden pada penelitian ini. Hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata responden berusia 69 tahun (SD = 5.54). Lebih dari separuh responden (57%) berjenis kelamin perempuan. Sebagian besar responden tidak sekolah (65%). Sebanyak 83 responden masih aktif bekerja dengan pendapatan dibawah UMR. Mayoritas responden (90%) tinggal bersama keluarga besar dan 126 responden masih aktif mengikuti kegiatan sosial. 97 responden mengalami penurunan fungsi kognitif yaitu 69 responden ringan, dan 28 berat. Simpulan: Penurunan fungsi kognitif pada lansia dapat terjadi seiring dengan bertambahnya usia, dari penurunan kognitif ringan sampai berat. Perawat komunitas diharapkan dapat memberikan intervensi seperti cognitive stimulation therapy agar dapat meminimalisir terjadinya gangguan fungsi kognitif lansia. Abstract Background: Aging process affects the decrease of biological, psychological and sociological aspects. Biologically, the elderly can experience a decrease in the central nervous system that influences of weakened sensory and motor perception abilities. As a result, cognitive decline can occur in the elderly. The decline in cognitive function can be influenced by several factors including age, gender, education level, occupation, income, residence status and social activities. The study aims to determine the description of cognitive function based on the characteristics of the elderly indwelling-community. Methods: The study applied descriptive study with a cross-sectional approach. Total 185 elder people were recruited to be respondents. Mini Mental State Examination (MMSE) was used to assess respondents’ cognitive functions. Results: 151 elder people met the inclusion and exclusion criteria, and willing to become respondents in this study. The results showed that the mean of age was 69 years old (SD = 5.54). More than half of the respondents (57%) are female. Most of the respondents were uneducated (65%). There were 83 respondents are still actively working with income below the minimum wage. The majority of respondents (90%) live with extended family and 126 respondents are still actively participating in social activities. 97 respondents experienced a decline in cognitive function, which classified into mild cognitive disfunction (69 respondents) and severe cognitive disfunction (28 respondents). Conclusion: The decline in cognitive function in the elderly can occur in line with age, from mild to severe cognitive decline. Community nurses are strongly recommended to provide cognitive stimulation therapy for elderly to prevent cognitive disorder among them.
Peningkatan Keterampilan Perawatan Mandiri Melalui “Diabetes Class” Pada Pasien Diabetes Mellitus Tipe 2 Peserta PROLANIS di Wilayah Kerja Puskesmas Kedungwuni 2 Kabupaten Pekalongan Sugiharto Sugiharto; Eva Mudaliya; Maya Riskiana; Pria Bagus Pambudi
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 11th University Research Colloquium 2020: Bidang Pengabdian Masyarakat
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (571.106 KB)

Abstract

Diabetes mellitus (DM) merupakan penyakit kronis yang kompleks yang membutuhkan perawatan lanjut. Sehingga pengetahuan perawatan mandiri merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan perawatan mandiri diabetes. Tujuan dari pengabdian masyarakat ini adalah membentuk “Diabetes Class” yang dapat memberikan pendidikan kesehatan secara komprehensif dan terstruktur mengenai diabetes dan perawatannya. Pelaksanaan pengabdian masyarakat ini melalui tiga (3) tahapan yaitu 1) perencanaan kegiatan yang meliputi identifikasi kebutuhan, identifikasi potensi dan kelemahan yang ada, menentukan jalan keluar dan kegiatan yang akan dilakukan, dan membuat pengorganisasian kegiatan, 2) pelaksanaan kegiatan, dan 3) tahap evaluasi berupa monitoring dan evaluasi kegiatan. Semua proses ini dilakukan sendiri oleh diabetisi peserta PROLANIS, sedangkan Tim pengabdian dan petugas puskesmas bertindak sebagai fasilitator. Berdasarkan pengkajian data awal, tingkat pengetahuan para diabetisi masih rendah yaitu rata-rata 10.81 (SD = 5.67). Sesuai dengan kesepakatan para diabetisi, Diabetes Class dilaksanakan setiap hati Jumat jam 06:00 – 09:00 WIB. Untuk tempat pelaksanaannya di ruang pertemuan Puskesmas Kedungwuni 2. Media edukasi yang digunakan adalah peta “Langkah Tepat Menuju Perawatan Diabetes Yang Baik”. Sebanyak 31 diabetisi peserta PROLANIS berpartisipasi dalam diabetes class yang dilaksanakan delapan (8) kali pertemuan. Secara umum para diabetisi peserta “Diabetes Class” menunjukkan antusiasme dalam berpartisipasi di dalam kelas. Rata-rata peningkatan pengetahuan peserta “Diabetes Class” setelah mengikuti program “Diabetes Class” sebesar 4.69, SD = 9.26. Tingkat pengetahuan tentang diabetes mellitus dan perawatannya mengalami peningkatan yang signifikan (t = -2.025; p = 0.05). Peningkatan motivasi pun signifikan (t = 3.979; p = .000) terjadi pada para peserta “Diabetes Class”.
Karakteristik Usia, Tingkat Stress dan Gaya Hidup Klien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Wonopringgo Kabupaten Pekalongan Wiwiek Natalya; S Sugiharto; Hilda Oktaviani
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 13th University Research Colloquium 2021: Kesehatan dan MIPA
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (319.634 KB)

Abstract

Hipertensi merupakan penyebab kematian nomor 3 setelah stroke dan tuberkulosis Diperkirakan pada tahun 2025 hipertensi salah satu penyebab kematian dini di seluruh dunia. Pengetahuan akan faktorfaktor yang paling berperan dalam terjadinya hipertensi akan sangat membantu dalam upaya deteksi dini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran karakteristik tingkat usia, stress dan gaya hidup pada klien hipertensi di Wilayah kerja Puskesmas Wonopringgo Pekalongan. Desain penelitian ini merupakan penelitian studi deskriptif. Teknik pengambilan sampel menggunakan Cluster random sampling dengan jumlah 107 responden. Alat pengumpulan data menggunakan kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan Prevalensi hipertensi terjadi pada rentang usia 46-55 tahun mempunyai hipertensi tahap II yaitu 31 responden (29,0%) dengan tingkat stress sedang yaitu 81 responden (75,7%), responden dengan gaya hidup yang sehat yaitu 51 responden (47,7%),Hasil penelitian ini sebagai acuan tenaga kesehatan untuk memberikan promosi kesehatan terkait dengan faktor yang mempengaruhi pada klien hipertensi sebagai upaya pencegahan kejadian hipertensi dengan pengontrolan tekanan darah secara teratur.
Gambaran Perkembangan Elektrokardiografi pada Pasien Sindrom Koroner Akut di ICU RSI PK Muhammadiyah Pekajangan Ibnu Mas'ut; S Sugiharto
Prosiding University Research Colloquium Proceeding of The 15th University Research Colloquium 2022: Mahasiswa (Student Paper Presentation) A
Publisher : Konsorsium Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Perguruan Tinggi Muhammadiyah 'Aisyiyah (PTMA) Koordinator Wilayah Jawa Tengah - DIY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (158.135 KB)

Abstract

Background: Acute Coronary Syndrome (ACS) is a collection of disease processes that include unstable angina pectoris to Q wave myocardial infarction, caused by narrowing of the arteries due to the atherosclerosis process which is characterized by characteristic chest pain, changes in cardiac enzymes, and changes in electrocardiographic (ECG) images. . According to WHO (2017) 30% of deaths in the world are due to ACS. ECG is the main non-invasive investigation in establishing the diagnosis of ACS and evaluating the development of ACS itself. The purpose of the study: to determine the characteristics and descriptions of the development of the ECG in patients with acute coronary syndrome Methods: This study uses a retrospective descriptive research design, a documentation study with a total sample technique of 19 medical record data for ICU patients at RSI PKU Muhammadiyah Pekajangan for the period January 2019-December 2020. Results: The results of the medical record study of ACS patients mostly occurred in women (52.6%), the average occurred at the age of 61 years with an elementary school education of 57.9%, the average attack occurred 3.95 hours before entering the hospital, most of the first attacks (84.2%), mostly experienced in patients with hypertension 42.1%, with the ECG on the first day mostly ST elevation (68.4%) on the 2nd day there was a downward trend to 11 cases (57, 9%) ,10 cases (52.6%) on the 3rd day. and Isoelectric 1 case (5.3%). Conclusion: This study is expected to be a reference for hospitals to improve the improvement of ACS services in the ICU.
Tingkat depresi pada lansia yang tinggal di komunitas ditinjau dari karakteristik lansia Ismy Salsabila Yuliani; Sugiharto Sugiharto
Holistik Jurnal Kesehatan Vol 16, No 5 (2022)
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawata Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v16i5.7925

Abstract

Background: The elderly will experience changes either physically, mentally, or socially. These changes can decrease daily productivity. The degenerative process that occurs can make the elderly vulnerable to various diseases. Decreased productivity, illness or perceived complaints, loss of life partner and children, limited social activities, and feelings of sadness and worthlessness can result in depression in the elderly.Purpose: To analyze the level of depression of the elderly indwelling community based on their characteristics.Method: This descriptive study used a cross-sectional approach, the total sampling technique used was obtained 151 respondents who met the criteria, among others; elderly aged >60 years, willing to be respondents, and elderly registered as residents of Bugangan Village, Kedungwuni District, Pekalongan Regency.The results of the Mini-Mental State Examination (MMSE) 25–30 are classified into the normal category and to know the level of depression using instrument the Geriatric Depression ScaleResults: The results showed that of the elderly who lived in the indwelling community the average age is 69 years (SD = 5.53), 57.6% are female, 65.6% of respondents are in elementary school, and 83 respondents are still actively working with income below the minimum wage. Most of the respondents work as farm laborers, convection workers, and traders. The majority of respondents (90.7%) live with their families. A total of 126 respondents are still active in social activities. As well as a number of 78 respondents with widower/widow status. Almost one-third (72.8%) were normal without depression.Conclusion: The presence of family and the existence of social activities can reduce the risk of depression among elderly indwelling-community. Social support, especially from their family, is the most important and needed among elderly.Keywords: Depression; Elderly; Indwelling-CommunityPendahuluan: Lansia akan mengalami perubahan baik fisik, mental, dan sosial. Kondisi ini dapat berakibat terjadinya penurunan produktivitas sehari-harinya. Proses degeneratif yang terjadi dapat menjadikan lansia rentan terhadap berbagai penyakit. Produktivitas yang menurun, adanya penyakit atau keluhan yang dirasakan, kehilangan pasangan hidup dan anak-anak, adanya keterbatasan aktivitas sosial, dan rasa sedih dan tidak berguna dapat berakibat terjadinya depresi pada lansia.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat depresi pada lansia yang tinggal di komunitas ditinjau dari karakteristik lansia.Metode: Penelitian deskriptif menggunakan teknik total sampling didapatkan 151 responden yang memenuhi kriteria antara lain;  lansia berumur >60 tahun, bersedia menjadi responden, dan lansia yang terdaftar sebagai penduduk Desa Bugangan Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan.Hasil penilaian Mini Mental State Examination (MMSE)  25–30 tergolong ke dalam kategori normal dan  untuk melihat tingkat depresi dipakai instrumen Geriatric Depression Scale.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa lansia yang tinggal di komunitas rata-rata usia 69 tahun (SD =5.53), 57.6% berjenis kelamin perempuan, 65.6% responden tidak sekolah, 83 responden masih aktif bekerja dengan pendapatan dibawah UMR. Kebanyakan responden bekerja sebagai buruh tani, buruh konveksi, dan pedagang. Mayoritas responden (90.7%) tinggal dengan keluarga. Sebanyak 126 responden masih aktif dengan kegiatan sosial. Serta sejumlah 78 responden berstatus Duda/Janda. Kebanyakan responden berada dalam kondisi normal tanpa mengalami depresi (72.8%).Simpulan: Keberadaan lansia tinggal di komunitas yang masih memungkinkan berkumpul dengan keluarga dan beraktivitas sosial kemasyarakatan dapat menekan risiko terjadinya depresi. Dukungan sosial, terutama dari keluarga merupakan hal yang penting dan sangat dibutuhkan bagi para lansia.
GAMBARAN TINGKAT KEBAHAGIAAN PADA LANSIA YANG TINGGAL DI KOMUNITAS Lisa Andriani; Sugiharto
Jurnal Keperawatan BSI Vol 10 No 2 (2022): Jurnal Keperawatan BSI
Publisher : LPPM Universitas BSI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Lanjut usia (lansia) pada umumnya memiliki tanda-tanda terjadinya penurunan fungsi-fungsi biologis, psikologis, sosial dan ekonomi. Penurunan tersebut dapat mempengaruhi keadaan psikologis seperti munculnya perasaan bahagia atau tidak bahagia. Menjalani masa lansia dengan bahagia menjadi keinginan bagi setiap lansia. Menciptakan kebahagiaan secara psikologis yaitu ketika mendapat dukungan sosial yang akan membuat lansia merasa nyaman, melakukan aktivitas sehari-hari seperti mengikuti posbindu, senam untuk para lansia sehingga tidak memunculkan berbagai gangguan dan mencapai kebahagiaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat kebahagiaan pada lansia yang tinggal di komunitas. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif menggunakan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 151 responden. Penelitian menggunakan kuesioner Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). Analisis yang digunakan adalah analisa univariat. Hasil: Berdasarkan hasil analisa diperoleh data 83 responden (55%) merasa bahagia dan 68 responden (45%) merasa tidak bahagia. Simpulan: Lansia yang tinggal di komunitas merasa lebih bahagia. Hal tersebut kemungkinan terjadi karena lansia tinggal bersama dengan keluarga besar dan aktivitas sosial yang masih dapat dilakukan oleh para lansia. Diharapkan hasil penelitian ini agar dapat digunakan sebagai dasar pengembangan intervensi dalam memelihara serta meningkatkan kebahagiaan lansia yang tinggal di komunitas. Kata Kunci: Lansia, Oxford Happiness Questionnaire , Tingkat Kebahagiaan Introduction: Generally, the elderly has signs of a decline in biological, psychological, social and economic functions. These conditions can affect psychological states such as happy or unhappy feelings. Happiness in end stage of life is the desirable of every elder people. Social support influences psychological happiness of the elderly that will make them feel comfortable in doing daily activities such as attending POSBINDU, or even exercise for the elderly. Happiness causes elderlies have not complaints, and achieve happiness. The study aims to describe the level of happiness of the elderly in the community. Methods: This study applied a descriptive method using a cross sectional approach. There are 151 elderlies participated in this study. The study was conducted door to door. Happiness level was assessed using the Oxford Happiness Questionnaire (OHQ). The analysis used is univariate analysis. Results: There were 83 respondents (55.0%) feel happy and 68 respondents (45.0%) feel unhappy. Conclusion: The elderly indwelling-community feel happier. Probably, it is because the elderly live together with extended families and social activities can still be done by the elderly. Accordingly, creating interventions in maintaining and increasing the happiness of the elderly indwelling-community are recommended. Keywords: Elderly; Happiness; Indwelling-Community; Oxford Happiness Questionnaire