Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Efektifitas Akupresure Terhadap Dismenorea Pada Akseptor KB IUD Novianti Novianti; Arlyana Hikmanti; Susilo Rini
Proceedings Series on Health & Medical Sciences Vol. 4 (2023): Proceedings of the Midwifery Conference on Collaborative Maternity Care (DYNAMIC)
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pshms.v4i.548

Abstract

Dismenorea adalah suatu keluhan yang paling umum ditemui pada pemakaian KB IUD ditahun pertama. Pengobatan dismenorea dapat menggunakan farmakologi dan nonfarmakologi. Melalui farmakologi dengan menggunakan analgesik sebagai obat pereda nyeri, sedangkan nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri dengan pijat akupresure yang lebih aman, nyaman dan efisiensi biaya. Dan dari Puskesmas Banjarnegara 2 pada tahun 2021 didapatkan data akseptor KB Implant ada 117 orang, pil 8 orang, kondom 2 orang, suntik 3 bulan 265 orang, dan IUD sebanyak 302 orang. Dari data tersebut akseptor KB IUD dengan keluhan dismenorea terdapat 8 kasus. Sehingga peneliti tertarik untuk menggunakan pijat akupresure sebagai penatalaksanaan dismenorea untuk mendapatkan hasil bahwa pijat akupresure lebih efektif dalam mengurangi rasa nyeri haid.
Pengaruh Rebusan Daun Sirsak dalam Penanganan Flour Albus Asa Kirana; Arlyana Hikmanti; Susilo Rini
Proceedings Series on Health & Medical Sciences Vol. 4 (2023): Proceedings of the Midwifery Conference on Collaborative Maternity Care (DYNAMIC)
Publisher : UM Purwokerto Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pshms.v4i.571

Abstract

Flour Albus merupakan salah satu tanda dari suatu gangguan reproduksi yang ditandai dengan pengeluaran cairan yang berlebihan, gatal, berwarna, berbau tidak sedap dan bisa disertai dengan nyeri. Perempuan di Indonesia 75% pernah mengalami flour albus, dan meningkat setiap tahun hingga 70%. Tujuan penelitian adalah untuk melihat pengaruh rebusan daun sirsak pada pasien yang mengalami flour albus di Puskesmas Banjarnegara 1 tahun 2022. Metode penelitian menggunakan studi kasus subjek yang diambil adalah seorang ibu berumur 24 tahun dengan keluhan mengeluarkan cairan berlebih, berwarna putih kekuningan, agak berbau, gatal, dan merasa tidak nyaman. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara anamnesa, pemeriksaan fisik, dan observasi dengan menggunakan lembar observasi. Hasil penelitian menunjukan air rebusan daun sirsak pada ibu yang mengalami flour albus keluhannya berkurang dan sembuh. Intervensi flour albus terhadap rebusan daun sirsak yaitu memiliki pengaruh dalam mengurangi keluhan dan dapat mengatasi masalah pada ibu dengan flour albus karena daun sirsak sendiri memiliki kandungan antiseptik.
Asuhan Kebidanan pada Akseptor KB IUD Ny. D Umur 47 Tahun P3 A0 AH3 di Puskesmas Karangkobar Tahun 2021 Jesica Kesuma Devi Panjaitan; Susilo Rini; Rosi Kurnia
Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat 2021: Prosiding Seminar Nasional Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (SNPPKM 2021)
Publisher : Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (452.715 KB)

Abstract

World Health Organization (WHO) mengatakan bahwa KB penting untuk perempuan dari resiko kehamilan dan komplikasi lainnya. Penggunaan kontrasepi telah meningkat banyak di bagian dunia, secara global penggunaan kontrasepsi modern sedikit meningkat dari 54% pada tahun 1990 menjadi 57,4% pada tahun 2015. Peran bidan sangat penting dalam memberikan asuhan pada asseptor baru KB IUD meliputi konseling pra pemasangan dan pasca pemasangan IUD serta efek samping KB IUD agar tidak terjadi spooting dan ekspulsi. Metode pengumpulan data yang dilakukan yaitu anamnesa, head to toe, inspeksi, palpasi, dokumentasi dan observasi. Hasil studi kasus ini menunjukkan bahwa telah dilakukan Asuhan Kebidanan pada Akseptor Baru KB IUD Ny.D Umur 47 Tahun P3 A0 Ah3 Di Puskesmas Karangkobar Banjarnegara dengan menggunakan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah varney secara komprehensif. Kesimpulan dari studi kasus ini adalah telah dilakukan asuhan kebidanan dengan pendekatan manajemen kebidanan 7 langkah varney dan didalamnya terdapat beberapa kesenjangan antara data hasil dan teori namun hal ini telah teratasi.
PIJAT OKSITOSIN UNTUK MENGOPTIMALKAN PEMBERIAN ASI PADA IBU NIFAS Nabila Dwi Marsella; Susilo Rini; Arlyana Hikmati
Jurnal Kesehatan Vol 14, No 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v14i1.335

Abstract

Asuhan masa nifas merupakan masa krisis baik ibu dan bayi. Hal ini dikarenakan adanya perubahan fisik dan psikologis pada ibu yang menimbulkan masalah pada masa nifas. Salah satu masalah yang biasa terjadi adalah pemberian ASI yang kurang maksimal. Upaya untuk menanggulangi permasalahan ini dilaksanakan melalui cara dalam pemberian pijat oksitosin. Sebagai salah satu alternatif mengatasi ketidaklancaran ASI yang merangsan hormon oksitosin serta prolaktin pasca proses persalinan. studi kasus ini bertujuan dalam memberikan gambaran pengaruh pemberian pijat oksitosin dalam peningkatan produksi dari ASI. Metode yang dipakai untuk penelitian berupa studi kasus, jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 9 ibu nifas dengan sampel 1 orang ibu nifas dengan kriteria tidak mengalami komplikasi. Instrumen pada penelitian ini adalah lembar wawancara dan lembar observasi. Proses penghimpunan atas data dilakukan melalui wawancara, pengobservasian, pemeriksaan atas fisik dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dilakukan editing dan cleaning, selanjutnya dianalisis setiap tahapan manajemen varney. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan produksi ASI setelah dilakukan asuhan komplementer pijat oksitosin dibanding sebelum pijat okitosin. Hasil penelitian ini diharapkan bidan dapat menerapkan pijat oksitosin pada ibu nifas, sedangkan bagi ibu nifas diharapkan terus melakukan pijat oksitosin secara mandiri agar pengeluaran ASI lebih maksimal. Kesimpulan penelitian ini adalah pijat oksitosin efektif meningkatkan ASI.Kata kunci: Asuhan Kebidanan; Ibu Nifas; Pijat OksitosinAbstractThe postpartum period poses challenges for both the mother and the infant. These difficulties arise during the postpartum period as a result of physical and psychological changes experienced by the mother. One of the common problems is breastfeeding that is less than optimal. Efforts to overcome this problem can be done by giving oxytocin massage. As an alternative to overcome the non-fluency of breast milk which stimulates the hormones oxytocin and prolactin after giving birth. The objective of this case study is to outline the impact of providing oxytocin massage as a means to enhance lactation output. The approach employed in this research was a case study, the population in this study was 9 postpartum mothers with a sample of 1 postpartum mother with the criteria of not experiencing complications. The tools utilized in this study consisted of interview questionnaires and observation sheets. The process of gathering information through the utilization of interviews, observation, physical examination and documentation study. The data collected was edited and cleaned, then analyzed at each stage of varney management. The findings indicated a rise in breast milk production after oxytocin massage complementary care compared to before oxytocin massage. The anticipated outcomes of this study suggest that midwives have the potential to apply oxytocin massage to postpartum mothers, while postpartum mothers are expected to continue to do oxytocin massage independently so that milk production is maximized. The conclusion of this study is that oxytocin massage is effective in increasing breast milk.Keywords: Midwifery care; Postpartum Mothers; Oxytocin Massage
PIJAT OKSITOSIN UNTUK MENGOPTIMALKAN PEMBERIAN ASI PADA IBU NIFAS Nabila Dwi Marsella; Susilo Rini; Arlyana Hikmati
Jurnal Kesehatan Vol. 14 No. 1 (2023)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKes) Cirebon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38165/jk.v14i1.335

Abstract

Asuhan masa nifas merupakan masa krisis baik ibu dan bayi. Hal ini dikarenakan adanya perubahan fisik dan psikologis pada ibu yang menimbulkan masalah pada masa nifas. Salah satu masalah yang biasa terjadi adalah pemberian ASI yang kurang maksimal. Upaya untuk menanggulangi permasalahan ini dilaksanakan melalui cara dalam pemberian pijat oksitosin. Sebagai salah satu alternatif mengatasi ketidaklancaran ASI yang merangsan hormon oksitosin serta prolaktin pasca proses persalinan. studi kasus ini bertujuan dalam memberikan gambaran pengaruh pemberian pijat oksitosin dalam peningkatan produksi dari ASI. Metode yang dipakai untuk penelitian berupa studi kasus, jumlah populasi pada penelitian ini sebanyak 9 ibu nifas dengan sampel 1 orang ibu nifas dengan kriteria tidak mengalami komplikasi. Instrumen pada penelitian ini adalah lembar wawancara dan lembar observasi. Proses penghimpunan atas data dilakukan melalui wawancara, pengobservasian, pemeriksaan atas fisik dan studi dokumentasi. Data yang terkumpul dilakukan editing dan cleaning, selanjutnya dianalisis setiap tahapan manajemen varney. Hasil penelitian menunjukan adanya peningkatan produksi ASI setelah dilakukan asuhan komplementer pijat oksitosin dibanding sebelum pijat okitosin. Hasil penelitian ini diharapkan bidan dapat menerapkan pijat oksitosin pada ibu nifas, sedangkan bagi ibu nifas diharapkan terus melakukan pijat oksitosin secara mandiri agar pengeluaran ASI lebih maksimal. Kesimpulan penelitian ini adalah pijat oksitosin efektif meningkatkan ASI.Kata kunci: Asuhan Kebidanan; Ibu Nifas; Pijat OksitosinAbstractThe postpartum period poses challenges for both the mother and the infant. These difficulties arise during the postpartum period as a result of physical and psychological changes experienced by the mother. One of the common problems is breastfeeding that is less than optimal. Efforts to overcome this problem can be done by giving oxytocin massage. As an alternative to overcome the non-fluency of breast milk which stimulates the hormones oxytocin and prolactin after giving birth. The objective of this case study is to outline the impact of providing oxytocin massage as a means to enhance lactation output. The approach employed in this research was a case study, the population in this study was 9 postpartum mothers with a sample of 1 postpartum mother with the criteria of not experiencing complications. The tools utilized in this study consisted of interview questionnaires and observation sheets. The process of gathering information through the utilization of interviews, observation, physical examination and documentation study. The data collected was edited and cleaned, then analyzed at each stage of varney management. The findings indicated a rise in breast milk production after oxytocin massage complementary care compared to before oxytocin massage. The anticipated outcomes of this study suggest that midwives have the potential to apply oxytocin massage to postpartum mothers, while postpartum mothers are expected to continue to do oxytocin massage independently so that milk production is maximized. The conclusion of this study is that oxytocin massage is effective in increasing breast milk.Keywords: Midwifery care; Postpartum Mothers; Oxytocin Massage
Pelatihan Asuhan Komplementer Pasca Salin Preeklamsi Untuk Bidan Susilo Rini; Arni Nur Rahmawati
WASATHON Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 2 No 02 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/wasathon.v2i02.975

Abstract

The cause of the highest maternal mortality rate in 2022 in Banyumas Regency is preeclampsia during the postpartum period. Symptoms of preeclampsia can occur in pregnant, parturient and postpartum women, namely hypertension, edema and proteinuria which appear at 20 weeks of pregnancy until the end of the first week after giving birth. This condition can cause severe morbidity, chronic disabilities and even death in mothers and babies without being detected previously. Even though the postpartum period is a critical period where the incidence of preeclampsia in pregnancy can continue into the postpartum period, early detection of preeclampsia is only carried out if there are signs of symptoms or complaints from the postpartum mother. This provides an opportunity for undetected cases of preeclampsia during the postpartum period. Therefore, there is a need for prevention efforts without having to wait for signs of preeclampsia to appear through the implementation of complementary postpartum care by midwives to prevent cases of preeclampsia in postpartum mothers. Target output of scientific journals and IPR publications.
Studi Kasus Kombinasi Massage Effleurage dan Relaksasi Benson terhadap Penurunan Nyeri pada Ibu Bersalin Amalia Uhti Wildani; Surtiningsih Surtiningsih; Susilo Rini
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 4 (2025): Agustus 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i4.324

Abstract

Nyeri persalinan merupakan proses fisiologis dengan intensitas yang berbeda-beda pada setiap individu. Pengalaman nyeri selama persalinan adalah sesuatu yang baru bagi setiap ibu dan dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti budaya, rasa takut, kecemasan, pengalaman melahirkan sebelumnya, latar belakang pekerjaan. Nyeri ini dirasakan di area perut, pinggang, dan paha, sementara serviks terbuka akibat kontraksi tersebut. Proses persalinan akan segera dimulai setelah serviks terbuka. Penelitian ini menerapkan metode studi kasus untuk mengeksplorasi dengan mendetail baik kasus individu maupun kelompok. Penulisan ilmiah ini menggunakan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan asuhan kebidanan pada ibu bersalin yang mengalami nyeri, dengan penerapan metode massage effleurage dan relaksasi benson dan menilai tingkat nyeri sebelum maupun setelah diberikan terapi, dilakukan pengukuran dengan skala numerik dan Wong-Baker. Responden dalam studi kasus ini seluruh ibu bersalin fisiologis yang berada di Puskesmas Banjarnegara 1 dengan target 5 orang dimulai tanggal 2 Desember 2024. Setelah dilakukan penerapan kombinasi kombinasi massage effleurage dan relaksasi benson bahwa  kelima responden mengalami adanya penurunan skala nyeri pada seluruh responden berada pada skor 4-6. Setelah penerapan kombinasi massage effleurage dan relaksasi benson, tingkat nyeri menurun menjadi  skor 2-3.
IMPLEMENTASI MOBILISASI DINI UNTUK MENGURANGI NYERI PADA PASIEN POST OPERASI DENGAN ANESTESI SPINAL DI RS JATIWINANGUN Desy Idayani; Magenda Bisma Yudha; Susilo Rini
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 7 No. 4 (2026): Vol. 7 No. 4 (2026)
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v7i4.61756

Abstract

Nyeri pascaoperasi merupakan masalah yang sering dialami pasien setelah tindakan pembedahan dan dapat menghambat mobilitas serta proses pemulihan. Mobilisasi dini dapat digunakan sebagai intervensi nonfarmakologis pendamping untuk membantu menurunkan nyeri pada pasien pascaoperasi dengan anestesi spinal. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan mengimplementasikan mobilisasi dini dan mengevaluasi perubahan tingkat nyeri pasien pascaoperasi di RS Jatiwinangun. Kegiatan dilaksanakan pada September 2025 dengan melibatkan 30 pasien berusia 15–60 tahun yang mengalami nyeri enam jam setelah operasi dengan anestesi spinal. Tingkat nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale sebelum dan setelah mobilisasi dini selama 15 menit, berupa relaksasi napas dalam serta gerakan tangan, jari, dan kaki di tempat tidur. Sebelum intervensi, sebanyak 80,0% peserta mengalami nyeri sedang dan 20,0% mengalami nyeri berat. Setelah intervensi, sebanyak 86,7% peserta mengalami nyeri ringan, 13,3% mengalami nyeri sedang, dan tidak ditemukan nyeri berat. Rerata kategori nyeri menurun dari 2,20 menjadi 1,13 dengan selisih 1,03, sedangkan median menurun dari 2,00 menjadi 1,00. Mobilisasi dini dapat membantu menurunkan tingkat nyeri serta dapat diterapkan sebagai intervensi pendamping dalam manajemen nyeri pascaoperasi dengan anestesi spinal.