Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Implementasi Terapi Zikir untuk Menurunkan Tingkat Kecemasan pada Pasien Preoperasi dengan Anestesi Spinal Andika Juwita Plorentina; Tophan Heri Wibowo; Madyo Maryoto
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 4 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i4.938

Abstract

Latar belakang: Kecemasan merupakan respon psikologis yang sering dialami pasien sebelum menjalani tindakan operasi. Kecemasan dapat muncul akibat kurangnya informasi mengenai prosedur pembedahan maupun tindakan anestesi yang akan dilakukan. Jika kecemasan tidak ditangani dengan baik, kondisi ini dapat mempengaruhi kesiapan pasien sebelum operasi. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk menurunkan kecemasan adalah terapi dzikir. Terapi dzikir merupakan intervensi spiritual yang dilakukan dengan mengucapkan kalimat-kalimat dzikir secara berulang sehingga dapat memberikan ketenangan dan membantu pasien lebih rileks sebelum tindakan operasi. Metode dalam kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini yaitu mengukur tingkat kecemasan pasien pre operasi dengan menggunakan instrumen Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) sebelum dan sesudah diberikan implementasi terapi dzikir. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 30 September sampai 31 Oktober 2025 dengan jumlah peserta sebanyak 30 pasien pre operasi dengan spinal anestesi di RSI Fatimah Cilacap. Hasil analisis menunjukkan bahwa tingkat kecemasan sebelum implementasi terapi dzikir sebagian besar berada pada kategori cemas berat sebesar (73,3%) dan cemas sangat berat/panik sebesar (26,7%). Setelah diberikan terapi dzikir terjadi penurunan tingkat kecemasan dimana kategori cemas ringan sebesar (63,3%) dan cemas sedang sebesar (36,7%), serta tidak ditemukan lagi pasien dengan kecemasan berat maupun panik. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi terapi dzikir mampu menurunkan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi dengan spinal anestesi. Luaran dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat ini berupa publikasi jurnal ilmiah.  
Upaya Meningkatkan Dukungan Keluarga Terhadap Kepatuhan Kontrol Rutin Pada Penderita Diabetes Melitus Di Puskesmas Kembaran 1 Viky Dwi Pradani Pradani; Wasis Eko Kurniawan; Madyo Maryoto
Ahsana: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2026): Februari 2026 - Ahsana: Jurnal Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Indonesian Scientific Journal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59395/ahsana.v4i1.420

Abstract

Keluarga merupakan individu terdekat yang dapat berkontribusi aktif untuk memperoleh kepatuhan dan keberhasilan pengobatan. diabetes adalah suatu kondisi metabolisme yang bermanifestasi sebagai peningkatan kadar gula darah melebihi batas normal. Koping negatif disebabkan oleh kurangnya dukungan keluarga sehingga mengganggu kepatuhan kontrol rutin pada penderita diabetes. Tingkat kepatuhan dipengaruhi oleh empat faktor yaitu faktor demografi, penyakit, program terapeutik, dan psikososial. Puskesmas Kembaran II berjumlah 367 pasien.Metode yang digunakan dalam mengatasi permasalahan yaitu dengan pemberian edukasi tentang pengaplikasian metode pendampingan keluarga pada tingkat kepatuhan minum obat penderita diabetes mellitus dengan metode edukasi. Pengukuran tingkat pengetahuan peserta dilakukan dengan mengidentifikasi pengetahuan sebelum (pre-test) dan setelah (post-test) kegiatan pengabdian.setelah dihitung dari 30 peserta 26 peserta di kategori kurang pengetahuan dengan presentasi 86,6%, 3 peserta di kategori baik dengan presentase 0,1%, dan 1 peserta sudah di kategori cukup baik dengan presentase 0,03%, 30 peserta, 28 peserta meningkat kategori cukup baik dengan presentase 93,3%, dan 2 peserta meningkat kategori baik dengan prasentase 0,06%. Berdasarkan nilai presentase pre-test dan post-test dapat disimpulkan bahwa ada perubahan nilai dalam pengetahuan sebelum dan sesudah mengikuti penyuluhan tentang dukungan keluarga tentang kepatuhan kontrol rutin yang awalnya menujukan pengetahuan mayoritas masih di kategori kurang, setelah dilakukan penyuluhan kepada keluarga penderita diabetes melitus menunjukan adanya peningkatan pada angka pengetahuan yang baik dalam pemahaman mereka, hasil dari kegiatan pengabdian masyarakat ini yang telah dilaksanakan dapat dilihat adanya peningkatan pengetahuan dari nilai presentase pada pre-test dan post-test adanya peningkatan sebanyak 16,67%, dari hasil nilai tertingi pada saat pre-test 86,6% (kurang) dan nilai tertinggi pada post-test 93,3% (cukup baik). 
Asuhan Keperawatan Gerontik pada Ny.M yang Mengalami Hipertensi dengan Masalah Nyeri Akut dengan Penerapan Teknik Relaksasi Otot Progresif Tiara Amanda Putri; Madyo Maryoto; Mariah Ulfah
Jurnal Penelitian Perawat Profesional Vol. 7 No. 5 (2025): Oktober 2025, Jurnal Penelitian Perawat Profesional
Publisher : Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jppp.v7i5.458

Abstract

Hipertensi merupakan masalah kesehatan global yang signifikan, terutama pada lansia, dan sering disertai dengan keluhan nyeri akut. Pengobatan nonfarmakologis menjadi alternatif untuk mengatasi efek samping dan biaya pengobatan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas teknik relaksasi otot progresif dalam menurunkan tingkat nyeri pada pasien lansia dengan hipertensi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus pada pasien perempuan berusia 71 tahun (Ny. M) di Puskesmas Sokaraja 1 dengan diagnosis keperawatan nyeri akut. Intervensi berupa teknik relaksasi otot progresif diberikan selama tiga hari berturut-turut, mulai tanggal 17 sampai dengan 19 Mei 2025. Analisis data dilakukan dengan membandingkan data sebelum dan sesudah intervensi. Hasil pengukuran skala nyeri dan tekanan darah sebelum dan sesudah intervensi dibandingkan untuk mengetahui efektivitas relaksasi otot progresif dalam mengurangi nyeri akut dan mengontrol tekanan darah. Dari hasil analisis, terlihat bahwa terjadi penurunan skala nyeri dari 7 menjadi 3 dan penurunan tekanan darah dari 190/98 mmHg menjadi 165/75 mmHg. Berdasarkan hasil analisis ini, dapat disimpulkan bahwa penerapan teknik relaksasi otot progresif efektif dalam mengurangi nyeri akut dan membantu mengontrol tekanan darah pada pasien hipertensi.
Nursing Care for Mr. S Families with Diabetes Mellitus in The Village of Padamara, Mipiran District, Purbalingga District Unik Alfiana; Madyo Maryoto
Viva Medika Vol 16 No 4 (2023)
Publisher : LPPM Universitas Harapan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35960/vm.v16i4.1090

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) is a non-communicable disease. According to World Health Organization in 2021, it is a chronic disease caused by the pancreas that is not producing enough insulin or it is caused by the body that is not using the generated insulin effectively. Insulin is a hormone regulating blood glucose. One of the complications of Diabetes Mellitus is neuropathy, indicated by pain, tingling, and numbness. The possible treatment for this symptom in DM patients is by doing regular exercise for 30 minutes three until four times a week such as foot exercise. Physical activity can transport glucose into the cell and increase insulin sensitivity. The research was carried out from Monday, 31st October 2022 to Monday, 7th November 2022. The result of this study showed that on the third day Mrs. K presented a better condition in which she could follow the movement in diabetic foot exercise well and her feet were getting more comfortable; tingling and numbness were not frequently felt.
Gambaran Quality of Life Peserta Program Pengelolaan Penyakit Kronis Mu'thiya Hasymah; Madyo Maryoto; Ita Apriliyani
JURNAL KEPERAWATAN MERSI Vol 14 No 2 (2025): Oktober
Publisher : Prodi Keperawatan Purwokerto, Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jkm.v14i2.13925

Abstract

Background: The increasing number of elderly in Indonesia has an impact on the increasing  prevalence of chronic diseases, especially hypertension and diabetes mellitus, which has implications for reducing Quality of Life. The Chronic Disease Management Program (Prolanis) organized by BPJS Kesehatan aims to maintain the health condition of participants to avoid complications and improve Quality of Life. Objective: This study aims to determine the description of Quality of Life of Prolanis participants at the Kutawis Community Health Center, Purbalingga. Methods: This study used a quantitative descriptive design with a cross-sectional approach. The research sample was 49 respondents from 93 Prolanis participants selected using an accidental sampling technique. The research instrument used the WHOQOL-BREF questionnaire that assesses quality of life in four domains, namely physical, psychological, social, and environmental. Results: The results showed that the quality of life of Prolanis participants was generally in the moderate category (49%). Based on the domain, most respondents had a moderate quality of life category, namely physical (75.5%), psychological (85.7%), social (71.4%), and environmental (83.7%). Conclusion: It can be concluded that the quality of life of Prolanis participants at the Kutawis Community Health Center in Purbalingga is mostly in the moderate category across all four domains. Therefore, although Prolanis plays a role in maintaining quality of life, further intervention and evaluation are needed to improve participants' quality of life to the high category.
Penerapan Terapi Doa untuk Menurunkan Kecemasan Pasien Pre-Operasi dengan General Anestesi di RSUD Dr. R. Goeteng Taroendibrata Zafhira Araza; Tophan Heri Wibowo; Madyo Maryoto
Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 6 No 4 (2026): Kolaborasi: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Inspirasi El Burhani

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56359/kolaborasi.v6i4.946

Abstract

Introduction: Surgical procedures performed under general anesthesia commonly cause preoperative anxiety in patients. Uncontrolled anxiety may interfere with patient readiness, affect physiological stability, and potentially delay surgery. Therefore, a complementary non-pharmacological intervention is needed, one of which is spiritual therapy through prayer. Objective: The purpose of this service was to provide spiritual comfort and reduce preoperative anxiety in patients undergoing general anesthesia through the implementation of prayer therapy. Method: This public service was conducted by implementing guided prayer therapy consisting of istighfar, remembrance (dzikir), and a tawakal prayer for approximately 5–10 minutes before surgery. The activity was carried out at RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga involving 30 Muslim patients scheduled for surgery under general anesthesia. Anxiety levels were measured using the Amsterdam Preoperative Anxiety and Information Scale (APAIS) before and after the intervention. Result: Prior to the intervention, most patients experienced moderate anxiety (56.7%) and severe anxiety (40.0%). After prayer therapy, anxiety levels decreased with the majority categorized as mild anxiety (80.0%), some moderate anxiety (16.7%), and a small proportion without anxiety (3.3%). Patients also appeared calmer, more cooperative, and mentally better prepared to undergo surgery. Conclusion: Prayer therapy is effective as a non-pharmacological intervention to reduce preoperative anxiety in patients receiving general anesthesia and has the potential to be implemented as a complementary spiritual care approach in perioperative services.
Hubungan Indeks Massa Tubuh (Imt) Terhadap Tekanan Darah Pada Pasien Program Rujuk Balik (PRB) Hipertensi Di Puskesmas Somagede Banyumas Purnomo Ardi Wibowo; Mariah Ulfah; Madyo Maryoto
Journal of Health, Medical, and Psychological Studies Vol 2 No 1 (2026): : August: Sanitas: Journal of Health, Medical, and Psychological Studies
Publisher : CV SCRIPTA INTELEKTUAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65310/6qk5k537

Abstract

This study aimed to analyze the relationship between body mass index (BMI) and blood pressure among patients enrolled in the hypertension referral-back program at Somagede Primary Health Center, Banyumas. A quantitative cross-sectional design was applied involving 142 respondents selected through purposive sampling from a population of 220 patients. Data were obtained from secondary clinical records and analyzed using chi-square tests and contingency coefficient analysis. The findings demonstrated a statistically significant association between BMI and blood pressure (p = 0.001), with a moderate positive correlation (cc = 0.399). The distribution indicated that individuals with higher BMI categories, particularly overweight and obese groups, exhibited greater proportions of elevated blood pressure levels, including stage I and stage II hypertension. These results support the role of BMI as an important clinical indicator in assessing hypertension severity. However, the moderate strength of association suggests the involvement of additional contributing factors. Integrating weight management strategies into primary healthcare interventions may enhance blood pressure control among hypertensive patients in community-based programs.
Gambaran Kelengkapan Dokumentasi Assessment Pra Induksi di Rumah Sakit Jatiwinangun Yuniani Candrasari; Roro Lintang Suryani; Madyo Maryoto; Aris Nur Rahmat
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Agustus 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i8.11911

Abstract

ABSTRAK Assessment pra induksi merupakan tahapan penting sebelum tindakan anestesi dan pembedahan untuk memastikan kondisi pasien serta meminimalkan risiko komplikasi perioperatif. Dokumentasi assessment pra induksi yang lengkap berfungsi sebagai sumber informasi medis, sarana komunikasi antar tenaga kesehatan, serta bukti pelayanan kesehatan. Dalam pelaksanaannya kelengkapan dokumentasi masih belum memenuhi standar 100% sesuai Standar Pelayanan Minimal (SPM) rumah sakit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi di Rumah Sakit Jatiwinangun. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kuantitatif dengan pendekatan retrospektif. Data dikumpulkan melalui observasi terhadap 106 dokumen rekam medis pasien anestesi umum periode Juli–Agustus 2025 menggunakan teknik total sampling. Analisis data dilakukan secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar dokumen berasal dari pembedahan elektif sebanyak 96 dokumen (90,6%), sedangkan pembedahan cito sebanyak 10 dokumen (9,4%). Pada pembedahan elektif, tingkat kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi sebesar 54% dan ketidaklengkapan sebesar 46%. Sementara pada pembedahan cito, tingkat kelengkapan dokumentasi sebesar 40% dan ketidaklengkapan sebesar 60%. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi pada pembedahan cito lebih rendah dibandingkan dengan pembedahan elektif. Secara keseluruhan, kelengkapan dokumentasi assessment pra induksi belum mencapai standar 100% sesuai dengan Standar Pelayanan Minimal (SPM) Rumah Sakit. ABSTRACT Pre-induction assessment is a crucial step before anesthesia and surgery to ensure patient condition and minimize the risk of perioperative complications. Complete pre-induction assessment documentation serves as a source of medical information, a means of communication between healthcare professionals, and evidence of healthcare services. In practice, the completeness of documentation still does not meet 100% standards according to the hospital's Minimum Service Standards (SPM). This study aims to determine the completeness of pre-induction assessment documentation at Jatiwinangun Hospital. This study used a quantitative descriptive method with a retrospective approach. Data were collected through observation of 106 medical records of general anesthesia patients from July to August 2025 using a total sampling technique. Data analysis was performed univariately in the form of frequency distribution and percentage. The results showed that the majority of documents came from elective surgery (96 documents (90.6%)), while 10 documents came from emergency surgery (9.4%). In elective surgery, the completeness of pre-induction assessment documentation was 54% and incompleteness was 46%. Meanwhile, in emergency surgery, the completeness of documentation was 40% and incompleteness was 60%. This indicates that the level of completeness of pre-induction assessment documentation in emergency surgery is lower than in elective surgery. Overall, the completeness of pre-induction assessment documentation has not reached 100%, as per the Hospital Minimum Service Standards (SPM).
Hubungan Status Fisik Asa Dengan Waktu Pulih Sadar Pasien Pasca Anestesi Umum Di Rumah Sakit Jatiwinangun Purwokerto Salsabilla Regina Putri Ummayah; Roro Lintang Suryani; Madyo Maryoto
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.1232

Abstract

Tindakan pembedahan dengan anestesi umum dapat menimbulkan perubahan fisiologis pada tubuh pasien, terutama pada fase pasca operasi. Salah satu komplikasi yang sering terjadi adalah keterlambatan waktu pulih sadar setelah anestesi umum. Kondisi ini dapat mempengaruhi stabilitas hemodinamik, fungsi pernapasan, dan keselamatan pasien. Salah satu faktor yang diduga berhubungan dengan waktu pulih sadar adalah status fisik American Society of Anesthesiologists (ASA). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar pasien pasca anestesi umum di RS Jatiwinangun Purwokerto. Metode penelitian ini menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 44 responden. Data karakteristik responden (usia, jenis kelamin, dan lama operasi) diperoleh dari rekam medis, sedangkan status fisik ASA dinilai menggunakan lembar observasi preoperatif. Waktu pulih sadar diukur menggunakan lembar observasi Aldrete Score yang meliputi aktivitas, pernapasan, sirkulasi, kesadaran, dan warna kulit. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Kendall’s tau-b. Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar responden memiliki status fisik ASA II sebanyak 18 responden (40,9%) dan waktu pulih sadar kategori cepat sebanyak 27 responden (61,4%). Hasil uji Kendall’s tau-b menunjukkan nilai p = 0,000 (p < 0,05) dengan koefisien korelasi sebesar 0,973 yang berarti terdapat hubungan sangat kuat dan positif antara status fisik ASA dengan waktu pulih sadar. Semakin tinggi status fisik ASA pasien, maka waktu pulih sadar cenderung semakin lama. Penelitian ini menunjukkan bahwa status fisik ASA berhubungan signifikan dengan waktu pulih sadar pasien pasca anestesi umum di RS Jatiwinangun Purwokerto.