Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

PENINGKATAN KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS MELALUI PENERAPAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) PADA SISWA KELAS V SDN BANJARSARI KULON 02 Dewi Arofatul Mahmudah; Khoirul Huda; Ferry Andri Susanto
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 10 No. 04 (2024): Volume 10 No. 04 Desember 2024 In Press
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v10i04.4506

Abstract

Pendidikan memegang peran yang sangat penting dalam meningkatkan sumber daya manusia, sebab kualitas sumber daya manusia sangat dipengaruhi oleh kualitas Pendidikan. Pendidikan matematika termasuk kedalam pendidikan dengan hasil yang masih sangat rendah. Beberapa siswa menganggap pembelajaran matematika sebuah pembelajaran yang rumit dan susah. Hal tersebut dipengaruhi oleh kemampuan pemecahan siswa yang masih rendah sebab penyelesaian dalam pemecahan masalah membutuhkan pemahaman dan ketekunan untuk mengatasi berbagai hambatan. Pembelajaran berbasis masalah memungkinkan siswa untuk mengeksplorasi masalah dunia nyata, mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Salah satu model pembelajaran yang telah terbukti efektif dalam mengatasi tantangan ini adalah Problem-Based Learning (PBL) atau Pembelajaran Berbasis Masalah. Jenis penelitian ini merupakan Penelitian Tindakan Kelas (PTK) atau Classroom Action Research (CAR). Penelitian tindakan kelas ini dilakukan dalam 2 siklus yang masing- masing siklus terdapat perencanaan, pelaksanaan, mengamati dan hasilnya, kemudian merefleksi kegiatan. Penelitian dilaksanakan di SDN Banjarsari Kulon 02, Kabupaten Madiun pada bulan Agustus sampai September 2024, yang terdiri dari 23 anak bertindak sebagai subyek yang menerima tindakan. Hasil dari penelitian menunjukkan dari sebanyak 23 siswa, penerapan model PBL dapat meningkatkan kemampuan pemecahan masalah matematika dalem materi bangun ruang kubus dan balok. Kemampuan pemecahan masalah dengan penerapan model PBL mengalami peningkatan dari siklus I sampai siklus II. Dari penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa kemampuan pemecahan masalah dengan penerapan model PBL mengalami peningkatan dari siklus I dengan peserta didik yang tuntas dalam KKM sebanyak 11 orang dengan persentase 25% dari 23 peserta didik. Sedangkan pada siklus II terjadi peningkatan sebanyak 17 peserta didik dengan persentase sebesar 54% dari 23 peserta didik telah mencapai KKM
Reevaluating Educational Philosophy in the Age of Technological Transformation: A Systematic Review of Progressive Pedagogies and Digital Integration Khoirul Huda; S Sariyatun
Jurnal Penelitian Ilmu-Ilmu Sosial Vol. 6 No. 2 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/sosial.v6i2.11813

Abstract

This study presents a systematic literature review examining the intersection of progressive education and digital technology integration in contemporary learning environments. The objective is to analyze how digital tools support or challenge progressive pedagogical practices across global educational contexts. This review is categorized into five core themes for a summary of integrating progressive pedagogies, reflective learning, experiential practice, digital equity, and epistemological shifts. The methodology involved synthesizing findings from 15 selected academic sources, mapped across five thematic sections, including pedagogical integration, reflective digital practices, philosophical adaptation, traditionalism versus progressivism, and epistemological debates. Findings indicate that digital platforms enhance critical thinking, agency, and inclusivity when aligned with progressive ideals. Yet, challenges such as resistance to change, lack of digital infrastructure, and persistent traditionalist frameworks hinder broad adoption. The review underscores the growing epistemological transformation in education, where knowledge is increasingly seen as dynamic and co-constructed through digital interaction. These findings offer valuable implications for educators and policymakers seeking to implement equitable, student-centered approaches in the digital age. The study contributes to ongoing discourse on educational innovation by highlighting critical tensions and future possibilities for progressive pedagogy.
Transformasi Pembelajaran Sejarah di Era Education 4.0: Tinjauan Kritis Atas Integrasi Teori Belajar Bermakna Ausubel dan Teknologi Digital Khoirul Huda
Wahana Pendidikan Vol 13, No 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/jwp.v13i1.18459

Abstract

Studi ini bertujuan untuk secara kritis mengkaji integrasi teori pembelajaran bermakna Ausubel dalam pembelajaran sejarah dalam kerangka Pendidikan 4.0 dengan mengidentifikasi kesenjangan teoretis dan praktis dalam implementasi pendekatan pembelajaran bermakna menggunakan teknologi digital. Pendidikan 4.0 menekankan penggunaan alat digital, pembelajaran personal dan pedagogi kolaborasi sehingga menghadirkan tantangan dan peluang bagi pendidik sejarah. Urgensi studi ini terletak pada kenyataan bahwa pembelajaran sejarah masih didominasi hafalan, sementara siswa dituntut mengembangkan penalaran historis, berpikir kritis dan literasi digital. Teori Ausubel memberikan landasan konseptual untuk memperdalam pemahaman sejarah. Metode menggunakan tinjauan literatur melalui Scopus yang melibatkan analisis tematik antara tahun 2010 dan 2024. Hasil penelitian menunjukkan keberhasilan penggunaan pengorganisir awal berbasis digital, teknologi imersif dan platform digital kolaboratif. Studi ini memberikan strategi praktis bagi guru, seperti mengintegrasikan pengorganisir awal yang ditingkatkan teknologi dan kolaborasi berbasis penyelidikan dan menekankan perlunya pengembangan profesional dan dukungan kebijakan. Temuan tersebut menegaskan potensi teori pembelajaran bermakna mendukung pengajaran sejarah yang dinamis, reflektif dan terlibat secara kritis yang selaras dengan kompetensi abad ke-21
Interpreting the Bersih Desa Tradition Through Hinge Epistemology: Hermeneutic Insights From Wittgenstein and Ricoeur in History Education Khoirul Huda
Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia Vol 9, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0330v9i1p27-43

Abstract

Local cultural traditions play a crucial role in shaping historical consciousness and communal identity, yet they remain under-theorized within formal history education. This systematic literature review examines how the Bersih Desa tradition can be meaningfully interpreted and integrated into history education through the combined lenses of Wittgenstein’s hinge epistemology and Paul Ricoeur’s hermeneutics. Drawing on interdisciplinary literature across philosophy, education, religious studies, and cultural studies, the review synthesizes findings from four thematic areas: cultural significance of tradition, hinge epistemology, hermeneutic interpretation, and interdisciplinary pedagogical integration. The analysis demonstrates that Bersih Desa functions as a communal epistemic hinge grounded in shared beliefs, practices, and values, while simultaneously operating as a dynamic cultural narrative that evolves through interpretation and social change. Integrating these philosophical frameworks enables educators to move beyond descriptive treatments of local traditions toward reflective, critical, and context-sensitive pedagogical practices. The review identifies persistent gaps in the literature, particularly regarding the alignment of Western philosophical paradigms with Southeast Asian indigenous knowledge systems, and highlights the need for empirical and collaborative research in local educational contexts. This study contributes a theoretically grounded model for incorporating local traditions into history education, promoting cultural continuity, epistemic justice, and critical historical understanding.