Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Penerapan Lean Manufacturing Untuk Mengidentifikasi Waste Pada Proses Produksi Menggunakan Value Stream Mapping di Perusahaan Gas Industri Hana Lee; Farida Djumiati Sitania; Yudi Sukmono
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 1 No. 2 (2022): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i2.869

Abstract

Dalam lingkungan bisnis yang kompetitif, perusahaan manufaktur dituntut untuk meningkatkan efisiensi dengan mengidentifikasi dan mengurangi aktivitas tanpa nilai tambah (pemborosan) dalam proses produksi. Pada PT XYZ terdapat dua rak pengisian oksigen, masing-masing berisi 51 tabung. Waktu pengisian satu rak adalah 1,5 jam, dengan 7 jam kerja per hari seharusnya dapat mengisi 4 rak. Namun, hanya 2 rak yang terisi, menyebabkan slack 2 rak. Penerapan lean manufacturing dapat membantu mengidentifikasi dan mengurangi waste pada proses pengisian gas oksigen sehingga menjadi lebih optimal. Pada penelitian ini menggunakan lean manufacturing untuk melakukan pendekatan terhadap 7 waste yang ada, dengan menggunakan alat value stream mapping untuk mengetahui lead time, waste relationship matrix untuk mengetahui waste kritis pada perusahaan dan fishbone untuk analisis akar permasalahan. Waste kritis yang teridentifikasi selama proses produksi gas oksigen dengan perhitungan skor WRM, yakni waste transportation sebesar 54 (18%), waste process 54 (18%), dan waste motion 48 (16%). Hasil yang didapatkan teridentifikasi waste transportation yaitu peletakan tabung oksigen jauh dari rak pengisian dan area aisle yang sempit. Waste process yaitu pengencangan valve secara berulang, scan barcode lama dan lupa membuka katup valve. Waste motion yaitu kunci jauh dari jangkauan operator. Waste transportation dapat diminimasi dengan SOP jelas, penataan area kerja, alat bantu seperti troli, dan pemantauan real-time. Waste process diatasi melalui pembuatan SOP pengencangan valve, checklist, kamera wide angle, dan monitoring otomatis. Waste motion dikurangi dengan SOP, visualisasi area penyimpanan kunci berlabel, serta tempat penyimpanan ergonomis.
Aplikasi Konsep Lean Untuk Minimasi Waste Menggunakan Value Stream Mapping Pada Warehouse Spare Parts Aldi Wibawan Riyadi; Farida Djumiati Sitania; Wahyuda
Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan Vol. 4 No. 3 (2025): Jurnal Teknologi dan Manajemen Industri Terapan
Publisher : Yayasan Inovasi Kemajuan Intelektual

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55826/jtmit.v4i4.938

Abstract

Warehouse PT XYZ memiliki peran strategis sebagai pusat distribusi spare parts untuk memastikan kelancaran aktivitas hauling. Hasil observasi menunjukkan adanya berbagai bentuk pemborosan (waste) seperti waktu tunggu, kesalahan pengambilan spare parts, serta gerakan yang tidak perlu yang mengindikasikan belum optimalnya proses operasional pada warehouse. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi alur proses dan persentase efisiensi proses operasional warehouse, mengidentifikasi jenis dan penyebab waste, serta memberikan rekomendasi perbaikan untuk meminimasi waste dengan pendekatan lean warehouse. Metode yang digunakan bersifat kuantitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui observasi lapangan dan wawancara. Tools analisis yang digunakan meliputi Value Stream Mapping (VSM) untuk memetakan aktivitas serta menghitung Process Cycle Efficiency (PCE), dan Fishbone Diagram untuk mengidentifikasi akar penyebab pemborosan. Hasil penelitian menunjukkan nilai awal PCE sebesar 63%, dengan 37% waktu termasuk aktivitas non-value added dan necessary non-value added. Nilai ini masih berada di bawah standar minimal perusahaan yaitu 75%. Enam jenis waste teridentifikasi, termasuk transportation, waiting, motion, dan inappropriate processing. Akar penyebab utama meliputi layout kerja yang tidak efisien, SOP yang belum optimal, serta sistem pencarian spare parts yang belum terintegrasi. Usulan perbaikan yang dirancang berupa integrasi sistem informasi, perbaikan tata letak, serta pelatihan rutin operator dan mekanik diharapkan dapat mempercepat lead time order fulfillment spare parts serta meningkatkan efisiensi operasional warehouse.
Automated ergonomic sitting postures detection for office workstation using XGBoost method Theresia Amelia Pawitra; Farida Djumiati Sitania; Anindita Septiarini; Hamdani Hamdani
IAES International Journal of Artificial Intelligence (IJ-AI) Vol 15, No 1: February 2026
Publisher : Institute of Advanced Engineering and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijai.v15.i1.pp506-514

Abstract

Sedentary office work increases musculoskeletal risk, underscoring the need for non-intrusive, real-time posture monitoring. This study presents a computer vision approach that classifies ergonomic versus non-ergonomic sitting postures using upper body key points extracted by MoveNet thunder. Images from 30 participants were captured from frontal and side views, and labeled according to SNI 9011:2021 criteria. Seventeen key points were detected, with head-to-hip landmarks retained, then normalized and centered. Three classifiers—adaptive boosting (AdaBoost), extreme gradient boosting (XGBoost), and a multi-layer perceptron (MLP)—were trained and evaluated with 10-fold stratified cross-validation. XGBoost achieved the best performance, with accuracy 93.0%±1.9%, precision 94.6%, recall 91.4%, F1-score 92.9%, and area under the receiver operating characteristic curve (ROC-AUC) 0.974±0.010, outperforming MLP and AdaBoost. The method supports privacy-preserving, on-device inference and is suitable for integration into smart office systems to reduce exposure to high-risk postures. Limitations include controlled capture conditions and an upper body focus; future work will expand posture taxonomy and real-world deployment.
Ergonomic Risk Assessment on Palm-Oil Harvesting Workers in East Kalimantan Theresia Amelia Pawitra; Lina Dianati Fathimahhayati; Farida Djumiati Sitania
Jurnal Kesehatan Masyarakat Vol. 20 No. 4 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Semarang in collaboration with Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI Tingkat Pusat) and Jejaring Nasional Pendidikan Kesehatan (JNPK)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/kemas.v20i4.31236

Abstract

Along with the growth of the palm-oil industry in Indonesia, work-related musculoskeletal disorders (WMSD) experienced by palm-oil harvesting workers also increased. This paper aims to evaluate ergonomic risk factors among harvesting palm workers in East Kalimantan and to propose suggestions to mitigate the risks. A total sample of 70 workers from 3 plantations in Muara Wahau, Babulu, and Muara Badak was observed in 2023. Gotrak survey and ergonomic risk factor (ERF) questionnaire of SNI 9011:2021 were utilized for determining the WMSD and identifying the ergonomics risk, respectively. The result showed that 91% of workers experienced pain after work, and 72% frequently experienced physical fatigue. The Gotrak survey on cutting and carrying bunches activity revealed high exposure risk for the neck (97%), followed by the shoulder (77%) and knee (55%). Meanwhile, during the activity of loading bunches onto the truck, high exposure risk occurs in the shoulders (73%), elbows (53%), and knees (53%). The result of the Kruskal-Wallis statistical test indicates that there is a difference in Gotrak levels among the three locations. The Gotrak level in Muara Wahau is the highest, followed by Babulu and Muara Badak. The results of the ERF questionnaire showed that loading to truck, followed by carrying FFB to the fruit collection point, were the two activities with high ERF scores, i.e., 39 and 34, respectively. Finally, improvements such as stretching exercises before and during work, as well as redesigning ergonomic T-hook and egrek, will mitigate the risk.
Optimasi Perencanaan Produksi Menggunakan Model Integer Programming pada IKM Osadha Nusantara Nurkayla Nata; Wahyuda Wahyuda; Farida Djumiati Sitania
Factory Jurnal Industri, Manajemen dan Rekayasa Sistem Industri Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/factory.v5i1.1687

Abstract

Penentuan jumlah produksi yang optimal dapat dilakukan dengan menggunakan model matematis agar hubungan antarvariabel dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk mencapai pendapatan maksimal. IKM Osadha Nusantara merupakan salah satu industri di Kota Samarinda yang bergerak pada bidang pengolahan minuman herbal. Industri ini memproduksi dua jenis produk utama, yaitu teh celup herbal dan serbuk herbal. Produk teh celup terdiri dari beberapa varian, yaitu bawang dayak, bajakah merah, bajakah super, dan bunga telang, sedangkan produk serbuk terdiri dari jahe merah dan kopi herbal. Selama ini, jumlah produksi Osadha Nusantara untuk setiap varian disamakan, yaitu sebesar 600 kemasan per periode produksi tanpa mempertimbangkan keterbatasan ketersediaan bahan baku serta perbedaan tingkat permintaan pada masing-masing produk setiap bulannya. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan ketidakefisienan dalam alokasi sumber daya serta belum mampu memaksimalkan pendapatan yang dapat diperoleh. Berdasarkan permasalahan tersebut, dilakukan penelitian dengan menggunakan model Integer Programming yang bertujuan untuk menentukan jumlah produksi optimal guna memaksimalkan pendapatan dengan tetap mempertimbangkan keterbatasan bahan baku dan permintaan pasar. Penelitian ini menggunakan dua pendekatan model, yaitu model teoritikal dan model praktikal yang merepresentasikan kondisi nyata perusahaan. Berdasarkan hasil software LINGO, pada model teoritikal menghasilkan pendapatan Rp119.400.000,00 dengan produksi utama teh bajakah super 1.140, serbuk jahe merah 1.020, dan kopi herbal 1.800 kemasan. Sedangkan, pada model praktikal sebesar Rp67.665.000,00 dengan produksi teh bajakah merah 250, teh bajakah super 519, teh bawang dayak 200, teh bunga telang 250, serbuk jahe merah 600, serta serbuk kopi herbal 600 kemasan.
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Kedelai dengan Metode Economic Order Quantity (EOQ) Model Lagrange Multiplier pada UMKM Tempe Barokah Chrystofel Ambalinggi; Wahyuda Wahyuda; Farida Djumiati Sitania
Factory Jurnal Industri, Manajemen dan Rekayasa Sistem Industri Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/factory.v5i1.1768

Abstract

Persediaan bahan baku memiliki peranan penting dalam menjaga kelancaran proses produksi pada UMKM Tempe Barokah Samarinda. Permasalahan yang dihadapi UMKM adalah sistem pengendalian persediaan yang masih dilakukan secara sederhana, sehingga menyebabkan frekuensi pemesanan menjadi terlalu sering  dan meningkatnya biaya pemesanan. Selain itu, keterbatasan kapasitas gudang penyimpanan juga menjadi batasan kendala. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan jumlah pemesanan optimal berdasarkan kapasitas gudang, frekuensi pemesanan, safety stock, reorder point, serta membandingkan total biaya persediaan sebelum dan sesudah penerapan metode Economic Order Quantity (EOQ) model Lagrange Multiplier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hasil uji variabilitas adalah sebesar 0,000808 < 0,25 yang  menunjukkan bahwa data bersifat statis. Hasil uji autokorelasi menunjukkan bawah pola data bersifat stasioner (horizontal). Metode peramalan yang terbaik adalah metode moving average dengan interval 9 bulan dengan nilai MAD  0,96, MSE 1,60, dan MAPE 0,73%. Hasil peramalan permintaan untuk 12 bulan ke depan adalah sebesar 1582 karung kedelai dengan rata rata permintaan sebesar 132 karung. Hasil perhitungan dengan metode EOQ model Lagrange Multiplier menunjukkan bahwa jumlah pemesanan optimal sebesar 45 karung dengan frekunsi pemesanan sebanyak 36 kali, safety stock sebanyak 1 karung, dan reorder point sebanyak 6 karung. Total biaya persediaan pada metode EOQ Lagrange Multiplier adalah sebesar Rp2.225.185,  jauh lebih rendah dibandingkan biaya persediaan pada metode perusahaan adalah sebesar Rp13.318.438. Hasil tersebut menunjukkan bahwa metode EOQ Lagrange Multiplier menghasilkan penghematan sebanyak Rp12.093.253 atau sebesar 84,46%. Dengan demikian, metode EOQ Lagrange Multiplier mampu meningkatkan efisiensi pada biaya persediaan.
Analisis Pengendalian Persediaan Bahan Baku Rengginang Menggunakan Metode Economic Order Quantity (Studi Kasus: UMKM Rengginang UD Yani Jaya Samarinda) Ahmad Ridhani; Farida Djumiati Sitania; La Ode Ahmad Safar Tosungku
Factory Jurnal Industri, Manajemen dan Rekayasa Sistem Industri Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/factory.v5i1.1783

Abstract

Bahan baku beras ketan menjadi komponen utama yang perlu dikendalikan agar proses produksi pada UMKM Rengginang UD Yani Jaya Samarinda dapat berjalan lancar. Permasalahan yang terjadi adalah pengadaan bahan baku masih dilakukan berdasarkan perkiraan pemilik usaha, sehingga berpotensi menimbulkan kelebihan stok maupun kekurangan bahan baku. Penelitian ini bertujuan menentukan jumlah pemesanan beras ketan yang ekonomis, frekuensi pemesanan, persediaan pengaman, titik pemesanan kembali, serta membandingkan total biaya persediaan antara kebijakan UMKM dan metode Economic Order Quantity (EOQ). Tahapan pengolahan data meliputi identifikasi jenis permintaan melalui uji variabilitas, analisis pola data menggunakan uji autokorelasi, peramalan permintaan, konversi hasil peramalan menjadi kebutuhan bahan baku, serta perhitungan persediaan dengan metode EOQ. Hasil uji variabilitas menunjukkan nilai sebesar 0,064693 untuk rengginang 180 gram dan 0,048731 untuk rengginang 240 gram, sehingga kedua data permintaan termasuk statis. Metode peramalan terbaik untuk rengginang 180 gram adalah Double Moving Average dengan MAPE 10,757%, sedangkan rengginang 240 gram menggunakan Trend Linear dengan MAPE 11,770%. Hasil peramalan 12 periode menghasilkan permintaan sebesar 32.184 pcs untuk rengginang 180 gram dan 25.125 pcs untuk rengginang 240 gram, yang kemudian dikonversikan menjadi kebutuhan beras ketan sebesar 9.106 kg per tahun. Hasil EOQ menunjukkan jumlah pemesanan optimal sebesar 1.212 kg atau sekitar 49 karung dengan frekuensi 8 kali pemesanan per tahun. Safety stock yang diperoleh sebesar 129 kg dan reorder point sebesar 161 kg. Total biaya persediaan dengan EOQ sebesar Rp247.287, lebih rendah dibandingkan kebijakan UMKM sebesar Rp444.195, sehingga diperoleh penghematan Rp196.908 atau sekitar 44%.
Pengelolaan Persediaan Spare Part dengan Klasifikasi ABC dan Metode EOQ pada Divisi Maintenance Pipa Minyak di PT Delta Andy Saputra; Wahyuda Wahyuda; Farida Djumiati Sitania
Factory Jurnal Industri, Manajemen dan Rekayasa Sistem Industri Vol. 5 No. 1 (2026): Edisi Agustus
Publisher : Ilmu Bersama Center

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56211/factory.v5i1.1784

Abstract

  Pengelolaan persediaan spare part merupakan faktor penting dalam mendukung kelancaran kegiatan maintenance pipa minyak pada perusahaan kontraktor migas. PT Delta menghadapi permasalahan berupa keterlambatan pengadaan material, risiko stockout, serta lokasi proyek yang jauh dari pusat distribusi. Penelitian ini bertujuan mengklasifikasikan spare part menggunakan metode ABC, menentukan jumlah pemesanan optimal dengan metode Economic Order Quantity (EOQ), serta membandingkan biaya persediaan dengan kebijakan perusahaan. Data yang digunakan adalah data historis pemakaian spare part periode Juni 2024–Mei 2025. Hasil klasifikasi ABC menunjukkan terdapat enam item kategori A, yaitu Elbow 3”-90, Flange 3” #300, Flange 6” #150, Flange 4” #300, Packing 3” #300, serta Bolt & Nut yang memiliki kontribusi nilai persediaan terbesar. Perhitungan EOQ menghasilkan jumlah pemesanan, safety stock, dan reorder point yang optimal sehingga dapat mengurangi risiko kehabisan persediaan. Selain itu, total biaya persediaan dengan metode EOQ sebesar Rp441.277,40, lebih rendah dibandingkan kebijakan perusahaan sebesar Rp887.047,28. Penerapan EOQ mampu memberikan penghematan biaya sebesar Rp445.769,88 atau 50,25%, sehingga lebih efektif dalam mengendalikan persediaan spare part perusahaan.