Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Tinjauan Kualitas Air Terhadap Tingkat Kelayakan Teluk Pangandaran Untuk Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Yuke Eliyani; Iin Siti Djunaidah; Dinno Sudinno
Jurnal Penyuluhan Perikanan dan Kelautan Vol 13, No 3 (2019)
Publisher : Program Studi Penyuluhan Perikanan Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33378/jppik.v13i3.138

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kelayakan teluk Pangandaran untuk budidaya Vaname (Litopenaeus vannamei) ditinjau dari nilai parameter kualitas air. Lokasi penelitian adalah di Kecamatan Cijulang, Cimerak serta Cikangkung Kabupaten Pangandaran Provinsi Jawa Barat. Penelitian ini merupakan penelitian eksplorasi dengan metode survei. Hasil analisis kualitas air untuk parameter suhu, pH, TSS, NO2, NO3, DO, BOD5, serta PO4-P masing – masing sebesar 24-24,5 oC; 7,62 – 7,90 ppm; 0,004 – 0,009 ppm; 0,176 – 0,269 ppm; 4,3 – 6,6 ppm; 0,070 – 0,980 ppm; 0,0122 – 0,00415 ppm. Bedasarkan nilai-nilai parameter tersebut, kualitas air ketiga lokasi penelitian masih layak untuk budidaya Vaname, namun harus disertai dengan tambahan input teknologi pengelolaan kualitas air.
PEMANFAATAN SILASE DAUN KELOR (Moringa oleifera) DALAM FORMULASI PAKAN TERHADAP EFISIENSI NUTRIEN DAN PERTUMBUHAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus) Muhammad Akbarurrasyid; Vini Taru Febriani Prajayati; Achmad Sofian; Dinno Sudinno; Ega Aditya Prama; Wahyu Puji Astiyani; Indra Kristiana
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 2 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i2.539

Abstract

Daun kelor (Moringa oleifera) merupakan bahan baku lokal yang memiliki kandungan protein nabati sebesar 21,49% sehingga dapat dijadikan alternatif dalam penyusunan formulasi pakan buatan. Potensi penggunaan daun kelor sebagai bahan baku dalam formulasi pakan dapat dilakukan dalam bentuk silase. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penggunaan dan persentase silase daun kelor dalam formulasi pakan terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Penelitian dilakasana dengan menggunakan metode Rancangan Acak Lengkap dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Penelitian dilakukan dengan mengindetifiksi potensi silase daun kelor, persiapan pakan perlakuan dan uji biologi terkait efesiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Hasil penelitian menunjukan pemanfaatan silase daun kelor memiliki potensi yang sama seperti pakan komersial terhadap efisiensi nutrient dan pertumbuhan ikan nila. Nilai efisiensi nutrient tidak menunjukan perbedaan signifikan antara pakan formulasi silase dan tanpa silase daun terhadap rasio konversi pakan dan retensi energi (P>0.05), sebaliknya mengalami perbedaan signifikan terhadap rasio efisiensi protein (P<0.05). Pertumbuhan ikan nila yang diperoleh tidak menunjukan perbedaan signifikan antara formulasi silase dan tanpa formulasi terhadap pertumbuhan bobot mutlak, Laju Pertumbuhan Spesifik (LPS) dan tingkat kelangsungan hidup (P>0.05), hal ini menujukan bahwa kualitas pakan formulasi silase sama dengan pakan tanpa formulasi tapi memiliki tingkat rasio efisiensi protein yang rendah.  
KEANEKARAGAMAN TEMPORAL PLANKTON SEBAGAI BIOINDIKATOR KUALITAS LINGKUNGAN DI AREA TAMBAK BUDIDAYA UDANG VANNAMEI (Litopenaeus vannamei) Muhammad Akbarurrasyid; Vini Taru Febriani Prajayati; Mustika Katresna; Dinno Sudinno; Sofian Sofian
Jurnal Perikanan Unram Vol 13 No 3 (2023): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v13i3.621

Abstract

Plankton merupakan mikroorganisme yang memiliki fungsi dan jasa ekosistem penting pada lingkungan perairan. Plankton rentan terhadap perubahan kondisi lingkungan perairan sehingga dapat dijadikan indikator kualitas lingkungan perairan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman temporal plankton sebagai bioindikator kualitas lingkungan perairan pada area sekitar tambak udang vannamei. Penelitian dilakukan dengan cara survey dan identifikasi terhadap plankton dan kualitas air secara temporal. Plankton yang teridentifikasi dilakukan analisis indeks biologi (keanekaragaman, keseragaman dan dominansi), kualitas air dianalisis secara deskriptif kualitatif serta analisis regresi untuk mengetahui peran plankton sebagai indikator kualitas lingkungan perairan. Hasil penelitian diperoleh kelimpahan dan kepadatan plankton kelompok Chlorophyceae sebesar 78,30% (3 Genus), Cyanophyceae sebesar 12,89% (2 Genus), Bacillariophyceae sebesar 5,98% (3 Genus), Dinoflagelata sebesar 2,52% (2 Genus) dan lain-lain sebesar 0,31% (1 Genus). Kelimpahan dan kepadatan plankton secara temporal berpengaruh terhadap kualitas air. Hasil pengamatan kualitas air mengalami fluktuasi yang mendukung kelimpahan dan kepadatan plankton, sedangkan hasil uji regresi keanekaragaman (R2 = 0,7854), keseragaman (R2 = 0,9643) dan dominansi (R2 = 0,8673) plankton terhadap kualitas air sangat berpengaruh. Hasil penelitian menunjukan bahwa keanekaragaman, keseragaman dan dominansi plankton secara temporal merupakan indikator biologi terhadap kualitas lingkungan perairan.
Manajemen Pakan pada Pembesaran Udang Vaname (Litopenaues vannamei) di CV Rejo Royal Vannamei Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur Wahyu Puji Astiyani; Achmad Sofian; Ikbal Juliana; Muhammad Akbarurrasyid; Indra Kristiana; Dinno Sudinno
Jurnal Aquaculture Indonesia Vol 5, No 2 (2026)
Publisher : Prodi Akuakultur Fakultas Perikanan Universitas Dharmawangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46576/jai.v5i2.8497

Abstract

Udang vaname (Litopenaeus vannamei) merupakan komoditas akuakultur bernilai ekonomi tinggi dengan potensi pengembangan yang kompetitif. Pakan menjadi komponen utama dalam kegiatan budidaya karena menyumbang sekitar 60–70% dari total biaya produksi, sehingga pengelolaan pakan yang efektif sangat diperlukan untuk meningkatkan efisiensi usaha. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penerapan manajemen pakan pada fase pembesaran udang vaname di CV Rejo Royal Vannamei, Banyuwangi, Jawa Timur. Metode penelitian menggunakan observasi langsung terhadap praktik pemberian pakan yang meliputi jenis dan bentuk pakan, ukuran pakan, kandungan nutrisi, dosis pemberian, frekuensi pemberian pakan, teknik pengkayaan pakan, sistem penyimpanan, serta evaluasi efisiensi pakan melalui parameter Feed Conversion Ratio (FCR) dan Efisiensi Pemberian Pakan (EPP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai Average Body Weight (ABW) berkisar 12,22–12,95 g/ekor dengan Average Daily Growth (ADG) sebesar 0,12–0,31 g/hari. Ukuran udang berkisar 77–81 ekor/kg dengan biomassa 3.384–9.217 kg dan populasi akhir 264.014–440.399 ekor. Tingkat kelangsungan hidup (Survival Rate) berada pada kisaran 83,46–85,86%, sedangkan nilai FCR berkisar 1,22–1,39 dengan EPP sebesar 71,92–81,30%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penerapan manajemen pakan yang tepat mampu meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan, mendukung pertumbuhan optimal, serta mempertahankan tingkat kelangsungan hidup udang selama periode pemeliharaan
Produktivitas Budidaya Udang Vaname (Litopenaeus vannamei) Berdasarkan Faktor Kualitas Air, Pertumbuhan, Efisiensi Pakan, dan Analisa Usaha Muhammad Akbarurrasyid; Ega Aditya Prama; Hemallya Fadila; Dinno Sudinno; Wahyu Puji Astiyani; Irvan Firman Syah Zainal Arifin
Vol 16 No 1 (2026): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v16i1.2143

Abstract

The productivity of whiteleg shrimp (Litopenaeus vannamei) cultivation is influenced by technical and non-technical factors. Technical factors include water quality, growth and survival, and feed efficiency. Non-technical factors, such as business analysis and feasibility, are related to cultivation productivity. The study was conducted in Pandeglang, Banten, Indonesia, for three months. Six ponds were observed, each with an area of 2.500 m2, 2.000 m2 and 1.500 m2, with a stocking density of 125 shrimp/m2 . The results showed that water quality was mostly within the optimal range, except for parameters such as brightness, nitrite, ammonium, ammonia, phosphate, Total Organic Matter (TOM), and magnesium. The growth values of Average Body Weight (ABW) and Average Daily Growth (ADG) were very good, with a low mortality rate or high SR, and optimal feed efficiency throughout the pond. The results of the business analysis show a positive value on the productivity of L. vannamei. In general, productivity factors such as water quality, growth and survival, feed efficiency and business analysis are related to biomass production with R2 values, namely: 0.9942 (pond 1), 0.9922 (pond 2), 0.9956 (pond 3), 0.9598 (pond 4), 0.9903 (pond 5) and 0.9844 (pond 6).
PENGARUH PEMBERIAN PAKAN MAGGOT, PELET DAN KOMBINASI TERHADAP PERFORMA PRODUKSI IKAN LELE (Clarias sp.) Adang Kasmawijaya; Otie Dylan Soebhakti Hasan; Moh Rahmat; Ai Setiadi; Lakonardi Nuraditya; Dinno Sudinno
Jurnal Salamata Vol 8, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Bone

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/salamata.v8i1.20125

Abstract

Maggot salah satu sumber pakan dalam kegiatan budidaya ikan baik sebagai pakan hidup maupun sebagai sumber bahan baku pakan buatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penggunaan pakan berupa larva maggot dalam kegiatan budidaya ikan lele. Perlakuan yang diberikan yaitu larva maggot (P1), pelet (P2) serta kombinasi larva maggot dan pelet (P3) masing-masing 3 ulangan dan lama pemeliharaan dilakukan selama 35 hari dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL). Pada akhir pemeliharaan, pertumbuhan ikan lele menunjukan perbedaan pertumbuhan yang signifikan (p < 0,05). Pertumbuhan ikan lele yang diberikan pakan pelet sebesar 9,0 ± 1,8 g tidak berbeda nyata dengan pakan kombinasi maggot dan pelet yaitu sebesar 10,0 ± 1,0 g sedangkan berbeda nyata dengan pakan maggot hidup sebesar 5,2 ± 0,7 g. Tingkat pertumbuhan biomas spesifik (W-SGR) untuk perlakuan kombinasi maggot dan pelet memiliki tingkat pertumbuhan yang paling tinggi yaitu sebesar 4,59 ± 0,29 % dibandingkan dengan perlakuan pelet sebesar 4,25 ± 0,6 % dan maggot sebesar 2,68 ± 0,43 %. Sementara itu, tingkat pertumbuhan panjang spesifik yang tertinggi dihasilkan dari perlakukan pakan pelet yaitu sebesar 2,05% ± 0,28, diikuti oleh pakan kombinasi pelet dan maggot sebesar 1,35 ± 0,33 % dan yang terendah pakan maggot sebesar 0,89 ± 0,5%. Penelitian ini menyimpulkan kombinasi pelet dan maggot dapat meningkatkan pertumbuhan ikan lele.Black Soldier fly (BSF) larvae are one of many sources of feed in fish farming, both as live feed and as raw materials for artificial feed. This study aimed to assess the use of live maggot feed in catfish cultivation. The treatments used were BSF (P1), pellets (P2), and a mix feed (BSF and pellets) (P3), with three replications for each. The rearing period lasted 35 days using a completely randomised design (CRD). At the end of the period, catfish growth showed significant differences. Catfish fed with pellet feed of 9.0 ± 1.8 g did not significantly differ from those fed with the combination of BSF and pellets, which was 10.0 ± 1.0 g, but both were significantly different from fish fed live BSF larvae at 5.2 ± 0.7 g. The specific biomass growth rate (W-SGR) was highest in the maggot and pellet combination treatment at 4,59 ± 0,29 %, compared to 4,25 ± 0,6 % for pellets and 2,68 ± 0,43 % for maggots. Similarly, the highest specific length growth rate was achieved with pellet feed at 2,05 ± 0,28 %, followed by the combination at 1,35 ± 0,33 %, and the lowest with maggots at 0,89 ± 0,5 %. Overall, this research demonstrates that combining pellets and maggots significantly improves catfish growth.