Claim Missing Document
Check
Articles

Utilizing Z-track Air Lock Technique to Reduce Pain in Intramuscular Injections Evelyn Hemme Tambunan; Imanuel Sri Wulandari
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2015): April 2015
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (302.527 KB) | DOI: 10.20473/jn.v10i1.2038

Abstract

Introduction: Injection is one of most painful and common medical interventions that more than 12 billion of it are administered annually throughout the world. Pain remains as one of the unresolved health problems. The objective of this research was to investigate the pain severity utilizing the z-track air lock technique during intra muscular injection procedure.Methods: This study was conducted as an unblinded cinical trial, where 90 female subjects aged between 18-25 years old were randomly assigned to three groups of 30. Each group received z-track air lock (Group ZTAL), air lock (AL), and z-track (Group ZT) techniques. Neurobion 5000 vitamin used as an injection substance.A Verbal Rating Scale (VRS) on 0–3 was used to evaluate the severity of pain during procedure. Data were analized using the SPSS version 19. Groups’ age, Body Mass Index (BMI) and pain severity were analyzed through descriptive and One Way ANOVA statistics.Results: Results showed that there were no signifi cant differences of pain severity both within and between groups (p > 0.05).Conclusion: Both Z-track and air lock method are less pain compared to traditional method according to previous studies. Noncicepti stimulus inhibited nocicepti stimulus in z-track technique while locking effect inhibit leakeage of substance injection to subcutaneous layer of skin which contain of nerve fi bers. However All techniques are recommended to produce less pain therefore it can be considered as a standard procedure for intra muscular injection.
EFEKTIVITAS SENAM AEROBIC TERHADAP KADAR GULA DARAH PREDIABETES KELOMPOK IBU-IBU SENAM DI GOR UNAI KECAMATAN PARONGPONG KABUPATEN BANDUNG BARAT Imanuel Sri Wulandari
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 4 No 2 (2018): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/jsk.v4i2.717

Abstract

Penelitian ini di latar belakangi oleh prevalensi DMT2 di daerah perkotaan Indonesia yaitu 5,7% sedangkan prevalensi pre-diabetes hampir dua kali lipatnya yaitu 10,2%. Kebanyakan masyarakat Indonesia memilih untuk memeriksakan dirinya ketika sudah mengalami penyakit DMT2 terlebih dahulu, dibandingkan dengan mencegahnya. Pre-diabetes dapat dicegah dengan berbagai cara, salah satunya dengan cara berolahraga. Olahraga yang digunakan yaitu olahraga senam aerobic yang dapat dibilang murah dan dapat diikuti oleh semua generasi. Peneliti ingin mengetahui apakah ada perbedaan pada kadar gula darah sebelum dan sesudah setelah diberikan senam aerobic. Desain metode penelitian menggunakan perlakuan berulang (One Group Pretest-Posttest Design). Peneliti akan melakukan pengecekan kadar gula darah puasa sebelum dilakukan senam aerobic dan setelah melakukan senam aerobic, responden akan dicek kembali kadar gula darah puasa. Populasi yang digunakan 35 ibu-ibu yang selalu mengikuti senam aerobic selama 3 kali seminggu dan sampel yang digunakan berjumlah 9 responden. Sampel dipilih menggunakan teknik total sampling. Hasil yang didapatkan setelah penelitian selama 3 kali seminggu, dengan menggunakan rumus mean dan paired t test, didapatkan bahwa hasil rata-rata kadar gula darah puasa sebelum diberikan intervensi adalah 106,56 dan hasil rata-rata kadar gula darah puasa sesudah diberikan intervensi adalah 107,44. Hasil thitung yang didapatkan adalah 0,206 lebih kecil dibandingkan ttabel yaitu 1,860 dan dapat ditarik kesimpulan bahwa Ho diterima (tidak ada perbedaan sebelum dan sesudah dilakukan senam aerobic. Bisa terjadi kenaikan akibat responden sebelum puasa mengkonsumsi makanan yang membuat gula darah menjadi naik. Saran kepada peneliti selanjutnya melanjutkan penelitian ini dengan populasi yang lebih banyak dan melakukan penelitian lebih lama dari penelitian sebelumnya. Kata kunci: Senam aerobic, kadar gula darah, pre-diabetes
EFEKTIVITAS RELAKSASI AUTOGENIK TERHADAP KUALITAS TIDUR PASIEN HEMODIALISIS DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG Imanuel Sri Wulandari
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 4 No 1 (2018): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/jsk.v4i1.729

Abstract

Pendahuluan: Gangguan tidur merupakan masalah yang sering dialami oleh pasien Gagal Ginjal Terminal (GGT). Apabila gangguan tidur tidak segera diatasi akan mengakibatkan peningkatan resiko jatuh, penurunan kognitif, bahkan dapat menyebabkan kematian akibat komplikasi dari kardiovaskular. Intervensi mandiri perawat diperlukan untuk mengatasi gangguan tidur, mencegah resiko penyakit kardiovaskular atau komplikasi lainya. Tujuan : penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh relaksasi autogenik terhadap kualitas tidur pasien hemodialisis di RS. Advent Bandung.Metode :Penelitian ini menggunakan quasi eksperiment dengan pendekatan pretest and posttest design with control group. Empat puluh dua pasien dipilih sebagai responden menggunakan consecutive sampling. Responden dibagi menjadi dua kelompok menggunakan jadwal hari terapi, 21 kelompok intervensi dan 21 kelompok kontrol. Kelompok intervensi mendapatkan relaksasi autogenik sebanyak dua kali seminggu selama empat minggu. Kelompok kontrol mendapatkan perawatan standar. Kualitas tidur diukur dengan menggunakan PSQI pada pretest dan postest. Hasil : hasil dari penelitian uji homogenitas berdasarkan karakteristik responden menunjukan tidak berbeda secara signifikan (p>0,05) pada kelompok intervensi dan kontrol. Terdapat perbaikan kualitas tidur secara signifikan pada kelompok intervensi (p=0,000). Dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh relaksasi autogenik yang signifikan (memperbaiki) terhadap kualitas tidur pada pasien hemodialisis. Diskusi: hasil penelitian ini bisa menjadi intervensi mandiri perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada pasien hemodialisis. Kata Kunci: hemodialisis, kualitas tidur, relaksasi autogenic
PENYULUHAN KESEHATAN TENTANG HIV/AIDS TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PADA SISWA SMA NEGERI PARONGPONG DESA CIHANJUANG KECAMATAN BANDUNG BARAT Imanuel Sri Mei Wulandari; Irawati Namah
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 5 No 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/jsk.v5i1.775

Abstract

Lebih dari setengah infeksi HIV didunia ditemukan pada usia 15-19 tahun, dan mayoritas remaja terinfeksi karena hubungan seksual. Data Penularan HIV/AIDS pada remaja di Jawa Barat, dari jumlah penduduk Jawa Barat yang berusia 10-24 tahun, sebesar 11.358.704 atau 26,60% adalah remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap siswa SMA tantang HIV/AIDS di SMA Negeri Parompong Jawa Barat . etode penelitian ini secara survey. Rancangan penelitian deskriptif pre- post tanpa kontrol dengan pendekatan cross sectional. Populasi kelas II SMA yang menjadi sampel sebanyak 86 orang yang terdiri dari IPA 34 siswa dan IPS 52 siswa . Instrumen penelitian untuk mengukur pengetahuan dan sikap berupa kuesioner tertutup dengan skala Guttman Instrument untuk perngukuraan tingkat pengetahuan dan sikap tentang HIV/AIDS. Analisa data dilakukan untuk mengetahui hubungan antara masing- masing variabel bebas (independent) dan variabel terikat (dependent) dengan uji paired t-test. Terdapat pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah dilakukan penyeluhan kesehatan dengan nilai p = 0,000. Dalam mencari informasi tentang HIV/AIDS diharapkan remaja lebih selektif baik melalui media cetak maupun media elektronik. Informas HIV/AIDS sebaiknya diberikan sejak dini, agar pengetahuan remaja tentang HIV/AIDS lebih baik. Kata Kunci: HIV AIDS, pengetahuan, remaja
HUBUNGAN EFIKASI DIRI DENGAN KEPATUHAN MINUM OBAT PADA PASIEN TBC DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PARONGPONG KECAMATAN PARONGPONG KABUPATEN BANDUNG BARAT Mella Yusef Fintiya; Imanuel Sri Mei Wulandari
Jurnal Skolastik Keperawatan Vol 5 No 2 (2019): Juli - Desember
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Advent Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35974/jsk.v5i2.2206

Abstract

Tuberculosis is a pulmonary infectious disease caused by Mycobacterium Tuberculosis. In Indonesia tuberculosis case every year is increasing. Indonesia kept the 6th highest tuberculosis sufferer in the world, while West Java kept the first order. The purpose of this research is to see the relationship of self-efficacy with the adherence of OAT medication. The research method uses a correlational descriptive design with a cross sectional approach by involving 23 respondents undergoing treatment at a parongpong Puskesmas, the respondent chosen using the Purposive sampling. Independent variables are self-efficacies, variable dependent is the adherence to taking medication. The instrument in this study is a questionnaire analyzed using Pearson's R. Results and analysis of self-efficacy by taking compliance the drug has a relationship with the value of P-value 0.030 or (P ≤ 0.05) with a moderate relationship level (0.454). Efficacy is one of the factors that affects the adherence to the treatment of patients with tuberculosis in the working area of Parongpong Puskesmas. Suggestions for further research need to know the role of health cadres in the compliance with medication.
Faktor Yang Berhubungan Dengan Kepatuhan Minum Obat Pasien TB Di Wilayah Kerja Puskesmas Parongpong Imanuel Sri Mei Wulandari; Jeanny Rantung; Evelin Malinti
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 5 No 1 (2020): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.766 KB) | DOI: 10.30651/jkm.v5i1.4536

Abstract

Background: Everyone has a risk of contracting tuberculosis, this disease also develops rapidly in areas that have high humidity. Mycobacterium is infecting through droplets released by the patient. TB treatment is a long-term treatment which medication is consumed every day, to achieve success in treatment requires adherence from patients to consume drugs.Objective: this research is to find out the factors that influence medication adherence of TB patients in Parongpong Health CenterMethod: Methodology of The study used is a quantitative research design with a correlation approach involving 23 respondents who are undergoing treatment at the Parongpong Community Health Center, respondents selected using purposive sampling. The instrument in this study was a questionnaire that was analyzed using the Spearman rho.Result: From the results of data analysis, it was found that gender had a significant relationship with medication adherence. The four factors studied have a significant relationship to medication adherence with p values <0.05, closeness of knowledge relations (0.620), self-stigma (0.467), self-efficacy (0.494), and family support (0.482)).Conclution: Respondents' knowledge is the most dominant factor in influencing medication adherence. Researcher given advice is to maintain adherence to take medication until the completion of the treatment program, to increase the cure rate of TB patients
PERILAKU CARING PERAWAT DAN DUKUNGAN KELUARGA TERHADAP KECEMASAN PRE OPERASI Imanuel Sri Mei Wulandari; Novita Verayanti Manalu
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : CV. Ridwan Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (283.935 KB) | DOI: 10.36418/syntax-literate.v6i8.3762

Abstract

Banyak orang yang merasa cemas dan takut ketika harus menjalani operasi. Cemas dan takut merupakan reaksi yang wajar. Tetapi, rasa cemas yang berlebihan justru membuat kondisi kesehatan menjadi kurang baik menjelang operasi. Dukungan keluarga dan caring perawat sangat diharapkan untuk mengurangi kecemasan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan perilaku caring perawat dan dukungan keluarga terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi. Metode yang digunakan adalah korelasi analitik dengan pendekatan cross sectional. Dimana populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pasien pre operasi dengan anestesi umum, sedangkan yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah 48 pasien pre operasi yang dijadwalkan pada bulan maret 2020 di Rumah Sakit Advent Bandung. Hasil dari penelitian ini menunjukkan sebagian besar perawat menujukan sikap caring yang baik 91,7 %, dukungan keluarga baik 45,8%, dan 56,3% pasien menunjukkan rasa cemas yang sedang. Analisa bivariat menunjukkan nilai p 0,000 < 0,05 dimana ada hubungan yang signifikan antara caring perawat dengan tingkat kecemasan pre operasi, dan terdapat hubungan yang signifikan antara dukungan keluarga dan tingkat kecemasan pre operasi dengan keeratan hubungan kuat (0,538). Diharapkan perawat akan tetap mempertahankan dan selalu mengaplikasikan sikap caring dalam melakukan asuhan keperawatan, serta lebih memotivasi keluarga untuk memberikan dukungan yang lebih baik, sehingga dapat menghilangkan rasa kecemasan pasien pre operasi.
Hubungan Tingkat Kecemasan Terhadap Sikap Remaja Akibat Pandemik Covid-19 Devra Jovana Clarissa Suryaatmaja; Imanuel Sri Mei Wulandari
Malahayati Nursing Journal Volume 2 Nomor 4 Tahun 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (160.679 KB) | DOI: 10.33024/manuju.v2i4.3131

Abstract

ABSTRACT: CORRELATION BETWEEN STATE OF ANXIETY AND ADOLESCENT ATTITUDE DUE TO COVID-19 Background: The current pandemic shaking the world is Coronavirus Disease 19 or commonly abbreviated as COVID-19. This disease attacks human respiratory system and can cause death. As a result of this pandemic, anxiety arises from all communities, including adolescents. Educational facilities are temporarily closed. Therefore, the learning method uses an online system. One of the factors that cause anxiety from teenagers is fear because they do not know whether the people around them are healthy or not, so they also avoid crowd or gathering which can invite large number of people. Moreover, they fear about themselves whether they are bringing the virus to those around them. Some of them are also afraid of fake news about COVID-19 which are scattered around carelessly on social media.Purpose: The purpose of this study is to determine the correlation between the anxiety level and adolescent attitudes in dealing with COVID-19.Methods: The researcher uses quantitative analytical correlation methods, with a cross-section approach. The population in this study are all from high school students of Salemba Adventist School not less than 138 people and the total of samples in this study are 51 students.Results: The results of this study show that the level of anxiety is at a moderate level (64.7%) and indicate very positive attitude (52.9%) of the respondents in responding to the COVID-19 pandemic. The bivariate analysis found that there is a significant relationship between the level of student anxiety and student attitudes with a value of p <0.05.Conclusion: It can be concluded that teenagers want to follow health protocols to keep themselves healthy and avoid this disease by maintaining personal hygiene such as wash their hands periodically and consume nutritious foods and drink vitamins. Key Word: Anxiety, attitude, Covid-19       INTI SARI: HUBUNGAN TINGKAT KECEMASAN TERHADAP SIKAP REMAJAAKIBAT PANDEMIK COVID-19 Latar Belakang: Pandemik saat ini yang sedang mengguncang dunia adalah Coronavirus Disease 19 atau biasa disingkat COVID-19. Penyakit ini menyerang sistem pernapasan manusia dan bisa menyebabkan kematian. Akibat pandemik ini, maka timbul kecemasan dari semua masyarakat termasuk anak remaja. Sarana pendidikan ditutup sementara sehingga metode pembelajaran pun menggunakan sistem online. Salah satu faktor timbulnya kecemasan dari remaja  adalah karena takut karena mereka tidak tahu apakah orang-orang di sekitar mereka sehat atau tidak sehingga mereka juga menghindari keramaian atau pertemuan yang mengundang banyak orang. Dan diri mereka sendiri pun takut apakah mereka membawa virus tersebut kepada orang-orang di sekitarnya. Beberapa juga takut akan adanya berita palsu mengenai COVID-19 yang suka beredar sembarangan.Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan sikap remaja dalam menghadapi COVID-19.Metode: Peneliti menggunakan metode kuantitatif korelasi analitik, dengan pendekatan cross sectiona. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Advent Salemba sebanyak 138 orang dan yang menjadi sampel dalam penelitian ini sebanyak 51 siswa.Hasil: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat kecemasan berada pada tingkat kecemasan sedang (64,7%) dan sikap yang sangat baik (52,9%) dari responden dalam menyikapi pandemik COVID-19. Adapun Analisa bivariat didapati terdapat hubungan yang siginifikan antara tingkat kecemasan siswa dengan sikap siswa dengan nilai p < 0.05.  Kesimpulan: Dapat disimpulkan bahwa para remaja mau mengikuti protokol kesehatan untuk menjaga dirinya agar tetap sehat dan terhindar dari penyakit ini dengan menjaga kebersihan diri seperti mencuci tangan setiap waktu dan makan makanan yang bergizi serta minum vitamin. Kata Kunci: Covid-19, Kecemasan, Sikap Remaja
PERUBAHAN SIKAP SISWA SMAN 1 PARONGPONG TERHADAP HIV/AIDS SETELAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN Pilemon Tarigan; Imanuel Sri Mei Wulandari
Malahayati Nursing Journal Volume 2 Nomor 2 Tahun 2020
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.683 KB) | DOI: 10.33024/manuju.v2i2.2459

Abstract

ABSTRAC: CHANGES IN ATTITUDE OF SMA N 1 PARONGPONG  STUDENTS TO HIV / AIDS AFTER THE HEALTH EDUCATION  Background: The increase in cases of HIV / AIDS is one thing that is troubling, sufferers are very susceptible to secondary infections caused by a decrease in their immune system. 1/5 of sufferers of HIV / AIDS are teenagers, where this group is vulnerable to exposure to HIV / AIDS through promiscuity. Many efforts have been made to reduce the incidence of new infections, especially in the youth group by providing health education.Purpose: This study was to determine the attitudes of high school students towards HIV / AIDS.Method: The method used is descriptive analytic one group pre-post design using a cross sectional approach. The population in this study were SMA 1 Parongpong students and the sample in this study was 86 students selected using a simple random system.Result: The results obtained before being given health education student attitudes were dominated by negative attitudes as much as 54.7% and after being given health education were dominated by positive attitudes with 88.4%. Wilcoxon test results showed a significant relationship between the provision of health education with changes in attitudes towards high school students towards HIV / AIDS, with a p value <0.05.Conclusion: Adolescents who have positive attitudes are also expected to have positive behavior towards HIV / AIDS, so that they will avoid exposure or transmission of HIV / AIDS. Advice that can be given to maintain this positive attitude is to update accurate information. Key Word: Health Education, Attitude, HIV/AIDS  INTISARI: PERUBAHAN SIKAP SISWA SMAN 1 PARONGPONG TERHADAP HIV/AIDS SETELAH DILAKUKAN PENDIDIKAN KESEHATAN Latar Belakang:Meningkatnya kasus HIV/AIDS merupakan satu hal yang meresahkan, penderita sangat rentan terkena infeksi sekunder yang diakibatkan karena menurunnya sistem imun tubuhnya. 1/5 dari penderita HIV/AIDS adalah kelompok remaja, dimana kelompok ini rentan terekspos dengan HIV/AIDS melalui pergaulan bebas. Banyak upaya yang telah dilakukan guna menurunkan angka kejadian infeksi baru terlebih pada kelompok remaja dengan memberikan pedidikan kesehatan.Tujuan:  Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sikap siswa SMA terhadap HIV/AIDS.Metode: Penelitian jenis deskriptif analitik one group pre – post design dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMA N 1 Parongpong dan sampel pada penelitian ini adalah 86 siswa yang dipilih dengan menggunakan sistem acak sederhana.Hasil Penelitian:  Hasil yang didapatkan sebelum diberikan pendidikan kesehatan sikap siswa didominasi dengan sikap negatif sebnayak 54,7 % dan setelah diberikan pendidikan kesehatan didominasi dengan sikap postif dengan 88,4%. Hasil uji wilcoxon menunjukan adanya hubungan yang bermakna antara pemberian pendidikan kesehatan dengan perubahan sikap pada siswa SMA terhadap HIV/AIDS, dengan p value < 0,05.Kesimpulan: Remaja yang mempunyai sikap positif diharapkan juga mempunyai perilaku yang positif terhadap HIV/AIDS, sehingga akan terhindar dari paparan atau penularan HIV/AIDS. Saran yang dapat diberikan untuk mempertahankan sikap positif ini adalah dengan mengupdate informasi yang akurat. Kata Kunci: pendidikan kesehatan, sikap, HIV/AIDS
Gangguan Emosi Dan Perilaku Remaja Akibat Kecanduan Gadget Jeperson Simanjuntak; Imanuel Sri Mei Wulandari
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 4 (2022): Volume 4 Nomor 4 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.631 KB) | DOI: 10.33024/mnj.v4i4.6221

Abstract

ABSTRACTThe use of gadgets is very much needed in the teaching and learning process of students during the Covid-19 pandemic. Information and knowledge will be easily accessible by using gadgets.  Excessive use of gadgets has a negative impact on adolescent development both emotionally and behaviorally. Addiction to gadgets can make teenagers difficult to socialize or interact with other people, tend to close themselves to interactions, and have less concentration in doing things. This study aims to portray the emotions and behavior of adolescents due to gadgets abuse. This study uses a quantitative descriptive research design, with a cross-sectional approach. The sample in this study was 100 adolescents with an age range 0f 13-15 years old. The sample selection used a random sampling technique at SMPN 28 Bandung. Data analysis is descriptive. Respondents are mostly male which is 57%. the level of gadget addiction is categorically low at 52%. Few of them have emotional and behavioral problems, such as social, emotional, behavioral change, hyperactivities, and peer relationship problems.  The conclusion that can be drawn is that addiction to gadgets can trigger emotional and behavioral changes in adolescents. Supervision from parents is required to prevent increasing addiction to the use of gadgets and behavior changes in adolescents.  Keywords: Behavioral Disorders, Emotional Of Adolescent, Gadget Addiction ABSTRAK Penggunaan gadget menjadi suatu kebutuhan pada remaja di masa pandemik covid-19, dimana proses belajar mengajar dilakukan secara daring. Informasi dan kegiatan belajar dapat dilakukan secara jarak jauh dengan menggunakan gadget. Penggunaan gadget yang berlebihan mempunyai dampak negatif bagi perkembangan remaja baik secara emosi maupun perilaku. Kecanduan gadget dapat mengakibatkan remaja tidak mudah untuk bersosial atau berinteraksi dengan orang lain, cenderung menutup diri dan mempunyai konsentrasi yang kurang dalam melakukan suatu hal. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui gambaran emosional dan perilaku remaja akibat kecanduan terhadap gadget. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif, dengan pendekatan cross-sectional. Sampel pada penelitian ini adalah 100 remaja dengan rentang usia 13-15 tahun. Pemilihan sampel menggunakan teknik random sampling pada remaja di SMPN 28 Bandung. Analisa data yang dilakukan dalam penelitian ini dengan deskripsi. Mayoritas responden bejenis kelamin laki-laki 57 %. Tingkat kecanduan gadget pada remaja masuk kategori rendah dengan 52%, gangguan emosi dan perilaku yang terjadi pada remaja adalah sebagian kecil remaja memiliki masalah emosi dan perilaku, yaitu masalah sosial, emosional, perubahan perilaku, hiperaktivitas dan gangguan hubungan dengan teman sebaya. Kesimpulan yang dapat diambil adalah kecanduan pada gadget mampu memicu gangguan emosional dan perilaku remaja pada hal yang bersifat negatif. Diperlukan pengawasan dari orang tua untuk mencegah meningkatkan kecanduan dalam pemakaian gadget dan perubahan perilaku pada remaja, sehingga penulis memberikan masukan untuk penelitian berikutnya dengan melibatkan orangtua untuk mengatasi masalah kecanduan gadget pada remaja. Kata Kunci: Gangguan Emosi, Kecanduan Gadget, Perilaku Remaja