Claim Missing Document
Check
Articles

Edukasi Dan Pemberdayaan Lansia dalam Menjaga Kesehatan di Kelurahan Kacapiring, Kecamatan Batununggal Bandung Haro, Masta; Sudharmono, Untung; Sitompul, Monalisa; Malinti, Evelin; Wulandari, Imanuel Sri Mei
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.13372

Abstract

ABSTRAK Proses penuaan terjadi secara alami dan proses alami tersebut menyebabkan terjadinya berbagai perubahan pada lansia, yaitu dari segi kondisi fisik atau biologis, kondisi psikologis, kondisi sosial, serta kondisi ekonomi. Lansia perlu mendapatkan perhatian dengan mengupayakan agar mereka tidak terlalu tergantung kepada orang lain dan mampu mengurus diri sendiri (mandiri), menjaga kesehatan diri. Tujuan Pelaksanaan Pengabdian Kepada Masyarakat untuk menumbuhkan pemahaman lansia kelompok Ina Hanna HKBP Reformanda dalam Upaya meningkatkan Kesehatan secara mandiri. Untuk meningkatkan pengetahuan lansia perlu adanya edukasi melalui penyuluhan Kesehatan. Metode yang digunakan adalah dengan penyuluhan Kesehatan menggunakan power point dan poster. Terdapat peningkatan pengetahuan dari hasil pre test dan post test pemahaman lansia tentang kiat sehat bugar di usia lanjut. Dari 30 lansia yang mengikuti penyuluhan Kesehatan rata-rata nilai pre tes adalah 73,3%, nilai ini masuk dalam kategori nilai baik, nilai post test dengan nilai rata-rata 86,6% dimana masuk dalam ketegori sangat baik. Dapat disimpulkan bahwa Penyuluhan Kesehatan yang diberikan memberikan manfaat yang positif dalam peningkatan pengetahuan lansia mengenai kiat hidup sehat bugar di usia lanjut. Kata Kunci: Edukasi, Kiat Sehat, Lansia  ABSTRACT The aging process occurs naturally, all these natural process causes various changed in older people, namely in terms of physical or biological conditions, psychological conditions, social conditions, and economic conditions. Elderly needs more attention by ensuring they are not too dependent on other people and can take care of themselves (independently) to maintain their health. Implementation of health promotion efforts aimed at increasing understanding of elderly in the Ina Hanna HKBP Reformanda group in efforts to improve health. To increase the knowledge of th elderly, education is needed through health education. The method used is health education using power points and posters. There is an increase in knowledge by pre-test and post -test show result understanding of elderly regarding tips for being healthy and fit in old age. From 30 elderly atending in health education, the average result pre-test score was 73.3%, meant good score category, and post-test score is average score 86.6%, that meant the excellent category. It concluded that the health education provided provides positive benefits in increasing elderly knowledge regarding tips for healthy living in old age Keywords: Education, Healthy Tips, Elderly
Peningkatan Kapasitas P3K melalui Edukasi First Aid di Area Wisata Dusun Bambu Kabupaten Bandung Barat Sudharmono, Untung; Wulandari, Imanuel Sri Mei; Sitompul, Monalisa; Haro, Masta
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 5 (2024): Volume 7 No 5 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i5.14368

Abstract

ABSTRAK Salah satu latar belakang utama bagi perlunya edukasi P3K di daerah wisata adalah meningkatnya angka kecelakaan dan kejadian darurat medis yang melibatkan wisatawan. Destinasi wisata seringkali menawarkan beragam aktivitas, seperti hiking, snorkeling, atau bersepeda gunung, yang dapat meningkatkan risiko cedera. Tanpa pengetahuan dan keterampilan P3K yang memadai, penanganan keadaan darurat bisa menjadi lambat dan tidak efektif. Tujuan dari pemberian edukasi ini adalah untuk meningkatkan kapasitas P3K dari para pekerja di area wisata Dusun Bambu. Metode yang digunakan adalah memberikan edukasi dengan simulasi mengenai First Aid  pada pekerja di area wisata. Hasil yang didapati bahwa 86% peserta mampu memahami materi yang disampaiakn dengan baik, dan 100 % peserta dapat mempraktekan kembali apa yang telah diajarkan. Edukasi yang disertai dengan simulasi mampu meningkatkan kapasitas P3K dari pegawai di area wisata Dusun bambu. Saran yang dapat disampaikan kiranya peserta terus memperbarui pengetahuan dan keterampilan dalam pertolongan pertama melalui pelatihan reguler dan belajar dari pengalaman. Kata Kunci: Edukasi, P3K, BHD ABSTRACT One of the main backgrounds for the need for first aid education in tourist areas is the increasing number of accidents and medical emergencies involving tourists. Tourist destinations often offer a variety of activities, such as hiking, snorkeling or mountain biking, which can increase the risk of injury. Without adequate first aid knowledge and skills, handling emergencies can be slow and ineffective. The aim of providing this education is to increase the first aid capacity of workers in the Dusun Bambu tourist area. The method used is to provide education with simulations regarding First Aid to workers in tourist areas. The results showed that 86% of participants were able to understand the material presented well, and 100% of participants were able to practice what had been taught. Education accompanied by simulations can increase the first aid capacity of employees in the Dusun Bamboo tourist area. Suggestions that can be conveyed are that participants continue to update their knowledge and skills in first aid through regular training and learning from experience. Keywords: Education, Basic Life Support
Gambaran Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan dengan Orang Tua Penderita Diabetes Mellitus Tipe 2 Charissa Angie Victorine Simbolon; Imanuel Sri Mei Wulandari
Malahayati Nursing Journal Vol 6, No 3 (2024): Volume 6 Nomor 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v6i3.13980

Abstract

ABSTRACT Parents who have a risk of certain diseases will pass on the same risk to their offspring. One of the hereditary diseases or what is referred to as genetic diseases that can occur is Diabetes Mellitus (DM). DM disease is classified into 2, namely type 1 DM and type 2 DM. This study aims to identify the demographic frequency distribution of respondents, the extent of the knowledge level of students with parents with type 2 DM, the description of the ranking of knowledge items of students with parents with type 2 DM. The research design used in this study is quantitative with descriptive analytic method. The sampling technique used in this study was non-probability sampling using purposive sampling technique. The samples used in this study were students of the Faculty of Nursing Sciences at Adventist University who had offspring from one or both parents with type 2 DM based on the results of the questionnaire filling statement. The instrument in this study was a questionnaire containing questions about the level of Knowledge about DM. The questionnaire used in this study was prepared by Umah C. (2019). the respondents' level of knowledge was in the moderate category where the total score ranged from 56-75 as many as 41 people (57.74%), followed by knowledge with a deficient category where the score ranged ≤ 55, totaling 25 people (35.21%) and 5 people had a good level of knowledge of 5 people (7.05%). So it can be concluded that the overall level of knowledge of both male and female students who stated that they had offspring from parents both father and mother with type 2 DM for all levels at the Faculty of Nursing Sciences at Adventist University of Indonesia about type 2 DM was sufficient. Keywords: Knowledge, Student, DM type 2  ABSTRAK Orang tua yang memiliki risiko penyakit tertentu akan menurunkan risiko yang sama kepada keturunannya. Salah satu penyakit keturunan atau yang disebut sebagai penyakit genetik yang dapat terjadi tersebut adalah Diabetes Mellitus (DM). Penyakit DM terklasifikasi menjadi 2  yaitu DM tipe 1 dan DM tipe 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi frekuensi demografi responden, sejauh mana tingkat pengetahuan mahasiswa dengan orang tua penderita DM tipe 2, gambaran rangking butir-butri pengetahuan mahasiswa dengan orang tua penderita DM tipe 2. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif dengan metode deskriptif analitik. Teknik sampling yang digunakan dalam penelitian ini merupakan non-probability sampling dengan menggunakan tehnik  purposive  sampling. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Keperawatan  di Universitas Advent yang memiliki keturunan  dari salah satu atau kedua orangtua penderita DM tipe 2 berdasarkan hasil pernyataan pengisian kuesioner. Instrumen dalam penelitian ini adalah kuesioner yang berisi pertanyaan tentang tingkat Pengetahuan tentang DM. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini disusun oleh Umah C. (2019). tingkat pengetahuan responden masuk dalam kategori cukup dimana total nilai berkisar antara 56-75 sebanyak 41 orang (57.74%), diikuti dengan pengetahuan dengan kategori kurang dimana nilai berkisar ≤ 55, berjumlah 25 orang (35.21%) dan 5 orang memiliki tingkat pengetahuan yang baik sebesar 5 orang (7.05%). Jadi dapat disimpulkan secara keseluruhan tingkat pengetahuan mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan yang menyatakan memiliki keturunan dari orangtua baik ayah maupun ibu penderita DM tipe 2 untuk semua tingkat di Fakultas Ilmu Keperawatan di Universitas Advent Indonesia tentang DM tipe adalah cukup. Kata Kunci: Pengetahuan, Mahasiswa, DM Tipe 2
Age and sex differences in body composition among Indonesian adults: a cross-sectional study Evelin Malinti; Yunus Elon; Imanuel Sri Mei Wulandari
Media Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Vol. 36 No. 2 (2026): MEDIA PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN KESEHATAN
Publisher : Poltekkes Kemenkes Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34011/jmp2k.v36i2.4485

Abstract

Background: Differences in body composition across adulthood are associated with increased metabolic risk and functional decline. Although body mass index (BMI) is widely used to assess nutritional status, it has limitations in distinguishing adiposity from skeletal muscle mass. Objective: This study aimed to analyze differences in body composition according to age and sex, and to examine the associations between age and BMI, total body fat, visceral fat, and skeletal muscle mass among Indonesian adults. Methods: A cross-sectional study was conducted among 282 adults aged ≥18 years using purposive sampling. Body composition was assessed using bioelectrical impedance analysis. Statistical analyses included Spearman’s rho correlation, Kruskal–Wallis test, and ordinal logistic regression. Results: A total of 51.1% of participants were classified as obese, while 77.3% exhibited low skeletal muscle mass. Age was positively correlated with total body fat (ρ = 0.259; p < 0.001) and visceral fat (ρ = 0.267; p < 0.001), and negatively correlated with skeletal muscle mass (ρ = −0.294; p < 0.001). Middle-aged adults demonstrated the highest adiposity levels, whereas younger adults exhibited higher skeletal muscle mass. Conclusion: Older age was associated with increased adiposity and reduced skeletal muscle mass. Comprehensive body composition assessment is important to support early identification of metabolic risk and sarcopenic obesity.
PENGUATAN PERAN LANSIA DALAM PENCEGAHAN STUNTING DALAM KELUARGA DI DESA CIHANJUANG RAHAYU Idauli Simbolon; Evelyn Hemme Tambunan; Imanuel Sri Mei Wulandari
Journal of Community Empowerment Vol 3, No 1 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v3i1.24152

Abstract

ABSTRAKAngka stunting di Indonesia termasuk di Jawa Barat dan khususnya Bandung masih tinggi. Pemerintah berupaya untuk menurunkan angka stunting hingga 14 persen pada tahun 2024.Seluruh lapisan masyarakat di dorong untuk berpartisipasi dalam pencegahan dan penanggulangan masalah stunting tak terkecuali para lansia. Lansia dalam menjani fase penurunan kapasitas tubuh tetap memiliki potensi dalam berperan dalam keluarga. Salah satu perannya adalah pengasuh anggota keluarga dalam hal ini terlibat dalam melakukan kegiatan merawat dan menjaga cucu. Berdasarkan studi bahwa banyak lansia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pencegahan stunting. Lansia membutuhkan penguatan untuk melakukan peran mereka khusunya dalam mencegah stunting dalam keluarga. Oleh karena itu tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan untuk memberi penguatan peran lansia dalam mencegah stunting melalui edukasi. Metode yang digunakan adalah melalui penyuluhan kesehatan mengenai stunting dan demonstrasi  masak makanan bernutrisi lengkap di desa Mokla, Cihanjuang Rahayu Kecamatan Parongpong, Bandung Barat. Setelah kegiatan PKM ini, penyuluhan dan demo masak, para peserta lansia memiliki pemahaman tentang stunting dan cara pencegahannya melalui menjaga kebersihan diri anak supaya tidak mudah terkena infeksi dan juga memiliki ketrampilan dalam menyediakan makanan yang bergizi lengkap. Disarankan penguata ini dilakukan secara berkesinambungan dan teratur dimana lansia memiliki kecenderungan untuk lupa.Kata Kunci: pencegahan; penguatan; peran lansia; stunting ABSTRAKThe stunting rate in Indonesia, including in West Java and especially Bandung, is still high. The government is working to reduce the stunting rate to 14 percent by 2024. All levels of society are encouraged to participate in preventing and overcoming the stunting problem, including the elderly. Elderly people who are in the phase of decreasing body capacity still have the potential to play a role in the family. One of those who applied was a caregiver for a family member, in this case involved in carrying out activities to care for and look after grandchildren. Based on research, many elderly people do not have sufficient knowledge about stunting prevention. The elderly need strengthening to carry out their role, especially in preventing stunting in the family. Therefore, the aim of this community service is aimed at empowering the role of the elderly in preventing stunting through education. The method used is through health education regarding stunting and cooking complete nutritious food in Mokla village, Cihanjuang Rahayu, Parongpong District, West Bandung. After this PKM activity, counseling and cooking demonstration, the elderly participants had an understanding of stunting and how to prevent it by maintaining children's personal hygiene so that they are not susceptible to infection and also had the skills to provide complete nutritious food. It is recommended that this strengthening be carried out continuously and regularly because the elderly have a tendency to forget.Keywords: elderly role; empowerment; prevention; stunting