Claim Missing Document
Check
Articles

PENGUATAN PERAN LANSIA DALAM PENCEGAHAN STUNTING DALAM KELUARGA DI DESA CIHANJUANG RAHAYU Simbolon, Idauli; Tambunan, Evelyn Hemme; Wulandari, Imanuel Sri Mei
Journal of Community Empowerment Vol 3, No 1 (2024): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v3i1.24152

Abstract

ABSTRAKAngka stunting di Indonesia termasuk di Jawa Barat dan khususnya Bandung masih tinggi. Pemerintah berupaya untuk menurunkan angka stunting hingga 14 persen pada tahun 2024.Seluruh lapisan masyarakat di dorong untuk berpartisipasi dalam pencegahan dan penanggulangan masalah stunting tak terkecuali para lansia. Lansia dalam menjani fase penurunan kapasitas tubuh tetap memiliki potensi dalam berperan dalam keluarga. Salah satu perannya adalah pengasuh anggota keluarga dalam hal ini terlibat dalam melakukan kegiatan merawat dan menjaga cucu. Berdasarkan studi bahwa banyak lansia yang tidak memiliki pengetahuan yang cukup tentang pencegahan stunting. Lansia membutuhkan penguatan untuk melakukan peran mereka khusunya dalam mencegah stunting dalam keluarga. Oleh karena itu tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini ditujukan untuk memberi penguatan peran lansia dalam mencegah stunting melalui edukasi. Metode yang digunakan adalah melalui penyuluhan kesehatan mengenai stunting dan demonstrasi  masak makanan bernutrisi lengkap di desa Mokla, Cihanjuang Rahayu Kecamatan Parongpong, Bandung Barat. Setelah kegiatan PKM ini, penyuluhan dan demo masak, para peserta lansia memiliki pemahaman tentang stunting dan cara pencegahannya melalui menjaga kebersihan diri anak supaya tidak mudah terkena infeksi dan juga memiliki ketrampilan dalam menyediakan makanan yang bergizi lengkap. Disarankan penguata ini dilakukan secara berkesinambungan dan teratur dimana lansia memiliki kecenderungan untuk lupa.Kata Kunci: pencegahan; penguatan; peran lansia; stunting ABSTRAKThe stunting rate in Indonesia, including in West Java and especially Bandung, is still high. The government is working to reduce the stunting rate to 14 percent by 2024. All levels of society are encouraged to participate in preventing and overcoming the stunting problem, including the elderly. Elderly people who are in the phase of decreasing body capacity still have the potential to play a role in the family. One of those who applied was a caregiver for a family member, in this case involved in carrying out activities to care for and look after grandchildren. Based on research, many elderly people do not have sufficient knowledge about stunting prevention. The elderly need strengthening to carry out their role, especially in preventing stunting in the family. Therefore, the aim of this community service is aimed at empowering the role of the elderly in preventing stunting through education. The method used is through health education regarding stunting and cooking complete nutritious food in Mokla village, Cihanjuang Rahayu, Parongpong District, West Bandung. After this PKM activity, counseling and cooking demonstration, the elderly participants had an understanding of stunting and how to prevent it by maintaining children's personal hygiene so that they are not susceptible to infection and also had the skills to provide complete nutritious food. It is recommended that this strengthening be carried out continuously and regularly because the elderly have a tendency to forget.Keywords: elderly role; empowerment; prevention; stunting
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT STRESS KERJA PERAWAT DENGAN PERILAKU CARING PERAWAT DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG Marbun, Gabriella; Wulandari, Imanuel Sri Mei
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 8 No. 3 (2024): DESEMBER 2024
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v8i3.37838

Abstract

Stres kerja merupakan situasi dimana mengalami ketegangan yang menyebabkan ketidakseimbangan fisik dan psikologis. Stres kerja pada umumnya dapat berdampak pada perilaku caring perawat kepada pasien. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan adakan antara tingkat stres kerja perawat dengan perilaku caring perawat di Rumah Sakit Advent Bandung. Desain penelitian ini adalah desain penelitian kuantitatif dengan cross sectional  dan analisis uji dalam penelitian ini adalah spearman rho.  Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan nonprobability Samping dengan Teknik  purposive sampling dengan sampel sebanyak 86 responden dengan populasi 109 resonden. Dari hasil penelitian didapatkan tingkat stres kerja perawat di rumah sakit advent bandung dalam kategori stres sedang yaitu sebanyak 56 responden (65,1%), perilaku perawat dirumah sakit advent bandung dalam kategori caring dengan 49 responden (57,0%) dan hasil uji spearman rho dengan hasil p-value 0,331 > 0,05 artinya tidak terdapat hubungan yang signifikan dan nilai korelasi koefisien 0,106 dengan kekuatan hubungan ayng sangat lemah. Kesimpulan dari penelitian ini tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat stres kerja perawat dengan perilaku caring di Rumah Sakit Advent Bandung dengan kekuatan hubungan yang sangat lemah.  
Kapasitas Evakuasi Diri dari Ruang Kelas Saat Gempa Bumi di Sekolah Dasar Suka Asih Cugenang Cianjur Sudharmono, Untung; Sitompul, Monalisa; Malinti, Evelin; Wulandari, Imanuel Sri Mei; Haro, Masta
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 4 (2025): Volume 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i4.18601

Abstract

ABSTRAK Kapasitas evakuasi diri dari ruang kelas saat gempa bumi merupakan aspek penting dalam upaya mitigasi risiko bencana di lingkungan sekolah. Penelitian ini untuk mengetahui kemampuan siswa dalam mealkukan evakuasi dari ruang kelas saat terjadi gempa. Metode yang digunakan adalah dengan penyuluhan dan simulasi melakukan evakuasi dari dalam ruang kelas saat terjadi bencana gempa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman siswa terhadap langkah-langkah evakuasi masih bervariasi, dipengaruhi oleh frekuensi simulasi, tingkat edukasi tentang bencana, dan peran guru dalam memimpin evakuasi. Infrastruktur sekolah, seperti jalur evakuasi dan titik kumpul, juga menjadi faktor penentu keberhasilan evakuasi. Hambatan utama meliputi kepanikan siswa, keterbatasan fasilitas, dan kurangnya simulasi yang terintegrasi. Penelitian ini merekomendasikan peningkatan frekuensi simulasi, pelatihan bagi guru, dan perbaikan infrastruktur untuk memperkuat kapasitas evakuasi. Dengan langkah ini, sekolah dapat meningkatkan keselamatan siswa dan staf selama gempa bumi. Kata Kunci: Bencana, Evakuasi, Gempa  ABSTRACT The capacity to self-evacuate from classrooms during an earthquake is an important aspect in efforts to mitigate disaster risk in the school environment. This research is to determine students' ability to evacuate the classroom when an earthquake occurs. The method used is counseling and simulation of evacuating from the classroom when an earthquake occurs. The research results show that students' understanding of evacuation steps still varies, influenced by the frequency of simulations, the level of education about disasters, and the role of teachers in leading evacuations. School infrastructure, such as evacuation routes and assembly points, is also a determining factor in the success of an evacuation. The main obstacles include student panic, limited facilities, and lack of integrated simulations. This research recommends increasing the frequency of simulations, training for teachers, and improving infrastructure to strengthen evacuation capacity. With these steps, schools can improve the safety of students and staff during earthquakes. Keywords: Knowledge, Health Teaching, Life Style
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN MANAJEMENT DIRI DIABETES MELITUS TIPE 2 PADA MAHASISWA KEPERAWATAN YANG MEMILIKI RIWAYAT KETURUNAN DARI ORANG TUA simanjuntak, Kristiani; Wulandari, Imanuel Sri Mei
Klabat Journal of Nursing Vol. 7 No. 1 (2025): Building Resilient Communities
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v7i1.1292

Abstract

Diabetes Mellitus (DM) merupakan penyakit metabolik yang ditandai dengan kadar gula darah tinggi akibat gangguan pada sistem endokrin. DM tipe 2 memiliki faktor risiko keturunan yang signifikan, sehingga individu dengan riwayat keluarga penderita DM berisiko lebih tinggi mengalaminya. Manajemen diri merupakan aspek penting dalam pengelolaan DM, namun banyak individu yang masih mengalami kesulitan dalam menerapkannya. Tingkat pengetahuan tentang penyakit ini diduga berperan penting dalam keberhasilan manajemen diri. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat pengetahuan dan manajemen diri pada mahasiswa keperawatan dengan riwayat keturunan DM tipe 2 dari orang tua. Metode yang digunakan adalah descriptive correlation dengan pendekatan cross-sectional. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 57 mahasiswa keperawatan Universitas Advent Indonesia yang dipilih melalui teknik total sampling. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil analisis menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan manajemen diri (p = 0,01) dengan keeratan hubungan sedang (r = 0,428). Diperlukan edukasi lanjutan melalui seminar atau konseling medis bagi mahasiswa keperawatan yang memiliki riwayat keturunan DM. Institusi pendidikan diharapkan dapat menyediakan program edukatif untuk meningkatkan pemahaman dan penerapan manajemen diri secara optimal. Diabetes mellitus (DM) is a metabolic disease characterized by high blood sugar levels due to disruption of the endocrine system. Type 2 DM has significant genetic risk factors, so individuals with a family history of DM are at higher risk of developing it. Self-management is an important aspect of DM management, but many individuals still experience difficulties in implementing it. The level of knowledge about the disease is thought to play an important role in successful self-management. This study aims to determine the relationship between the level of knowledge and self-management in nursing students with a genetic history of type 2 DM from parents. The method used was descriptive correlation with a cross-sectional approach. The sample in this study amounted to 57 nursing students of Universitas Advent Indonesia who were selected through total sampling technique. Data analysis was performed using the Spearman correlation test. The results of the analysis showed that there was a significant relationship between the level of knowledge and self-management (p = 0.01) with moderate relationship closeness (r = 0.428). Further education through seminars or medical counseling is needed for nursing students who have a genetic history of DM. Educational institutions are expected to provide educational programs to improve understanding and optimal implementation of self-management.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DAN KEPATUHAN MINUM OBAT ANTI BIOTIK DI KLINIK UNIVERSITAS ADVENT INDONESIA Gultom, Septiana Cicilia; Wulandari, Imanuel Sri Mei
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.38654

Abstract

Antibiotik merupakan terapi utama untuk mengatasi infeksi bakteri. Namun, penggunaan yang tidak rasional, seperti menghentikan antibiotik sebelum waktunya atau penggunaan tanpa indikasi yang tepat, dapat menyebabkan resistensi bakteri. Tingkat pengetahuan masyarakat mengenai antibiotik diyakini berperan penting dalam membentuk perilaku kepatuhan terhadap penggunaan antibiotik. Studi ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan antara tingkat pengetahuan pasien dengan tingkat kepatuhan minum obat antibiotik di Klinik Universitas Advent Indonesia. Tujuan penelitian menganalisis apakah terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan pasien tentang antibiotik dan kepatuhan mereka dalam mengonsumsi antibiotik sesuai dengan resep dokter. Metode penelitian ini Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain analitik korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sebanyak 82 pasien rawat jalan yang memenuhi kriteria inklusi dipilih melalui teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data dilakukan menggunakan uji korelasi Spearman Rho karena data tidak terdistribusi normal. Hasil yang didapatkan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang baik tentang antibiotik (51,2%), namun tingkat kepatuhan minum antibiotik masih tergolong rendah (93,9% responden berada pada kategori kepatuhan kurang). Uji korelasi Spearman Rho menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan dan kepatuhan (p=0,166; r=0,154), meskipun arah hubungan positif sangat lemah. Kesimpulan dari penelitian ini Tingkat pengetahuan pasien tentang antibiotik di Klinik Universitas Advent Indonesia secara umum baik, namun tidak secara signifikan berhubungan dengan tingkat kepatuhan minum antibiotik.
HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN DENGAN PERILAKU PENCEGAHAN PENYAKIT TUBERCULOSIS DI RUMAH SAKIT ADVENT BANDUNG Tampubolon, Elizabeth Finidya; Wulandari, Imanuel Sri Mei
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 9 No. 1 (2025): APRIL 2025
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v9i1.44020

Abstract

Tuberkulosis (TBC) merupakan salah satu penyakit paling mematikan di dunia setelah HIV/AIDS, yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini menyebar melalui percikan air liur, di mana individu yang terinfeksi dapat menularkan penyakit kepada orang sehat melalui percikan yang terhirup. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat pengetahuan pasien atau keluarga pasien dengan perilaku pencegahan penyakit tuberculosis (TB) di Rumah Sakit Advent Bandung. Metode pengambilan sampel yang diterapkan dalam penelitian ini adalah teknik purposive sampling, di mana diambil sampel sebanyak 42  dari total populasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 69% responden memiliki pengetahuan baik tentang Tuberculosis, sementara 31% berada dalam kategori cukup. Selain itu, 83.3% responden menunjukkan perilaku pencegahan yang baik, sedangkan 16.7% berada dalam kategori cukup. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan tingkat pengetahuan berkontribusi positif terhadap perilaku pencegahan Tuberculosis, menekankan pentingnya edukasi kesehatan sebagai strategi utama dalam mengurangi penularan penyakit.
Hubungan Tingkat Depresi Pasien Diabetes Melitus dengan Fatigue di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung Ricky, Matthew Aaron; Wulandari, Imanuel Sri Mei
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 4, No 4 (2024): Volume 4 Nomor 4 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v4i4.14161

Abstract

ABSTRACT Diabetes is a chronic disease that occurs when the pancreas does not produce enough insulin or the body cannot use the insulin it produces effectively. Depression is a common mental disorder characterized by a depressed mood. Fatigue is the degree to which a person becomes tired. The research method that will be used in this research is quantitative correlation. A total of 30 diabetes mellitus patients at Bandar Lampung Adventist Hospital, aged between 35 and 74 years and were willing to sign informed consent. Data collection was carried out from October to November 2023 using the Depression Anxiety Stress Scales-42 (DASS-42) questionnaire and the Fatigue Assessment Scale questionnaire. Data analysis uses bivariate analysis. The level of depression in diabetes mellitus patients in respondents was in the Severe category (40%). The Fatigue level of diabetes mellitus patients in respondents is in the Severe category (90%). There is a significant relationship between the level of depression and fatigue in diabetes mellitus patients and the value (Pv = 0.032). Keywords : Diabetes mellitus, Depression, Fatigue, Adults, Elderly  ABSTRAK Diabetes adalah penyakit kronis yang terjadi ketika pankreas tidak menghasilkan cukup insulin atau tubuh tidak dapat menggunakan insulin yang dihasilkannya secara efektif. Depresi adalah gangguan mental umum yang ditandai dengan suasana yang tertekan. Fatigue adalah tingkat di mana seseorang menjadi lelah. Metode penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif korelasi. Sebanyak 30 orang pasien diabetes melitus di Rumah Sakit Advent Bandar Lampung, berusia dalam rentang 35 sampai 74 tahun dan bersedia menandatangani informed consent. Pengumpulan data dilakukan pada bulan oktober sampai November tahun 2023 dengan menggunakan kuesioner Depression  Anxiety  Stress  Scales-42 (DASS-42) dan kuesioner Fatigue Assesment Scale. Data di analisis menggunakan analisis Bivariat. tingkat Depresi pasien diabetes melitus responden masuk dalam kategori Parah (40%). tingkat Fatigue pasien diabetes melitus responden masuk kedalam kategori Berat (90%). Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat depresi dengan fatigue pasien diabetes melitus dengan nilai (Pv = 0.032). Kata Kunci: Diabetes Melitus, Depresi, Fatigue, Dewasa, Lansia
Factors Associated With Blood Pressure Of Adult Clients Malinti, Evelin; Elon, Yunus; Wulandari, Imanuel Sri Mei
Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 8 No 3 (2020): Dunia Keperawatan: Jurnal Keperawatan dan Kesehatan
Publisher : School of Nursing, Faculty of Medicine and Health Science, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (421.855 KB)

Abstract

An individual's health status can be reflected in blood pressure. Many factors can affect blood pressure. Thisstudy aims to evaluate risk factors for blood pressure in adults in Cihanjuang Rahayu village. With a crosssectional approach, this study was conducted on a total of 120 respondents selected by purposive sampling.Filling out questionnaires and measuring height and weight, and blood pressure were performed to obtaindata in this study. More than half of respondents have blood pressure above normal which is classified aselevated and hypertension. Socio-demographic data such as age and marital status have a significantrelationship with systolic and diastolic blood pressure (p <.05). Educational level and occupation weresignificantly associated with systolic blood pressure (p <.05). While the level of income has a significantrelationship with diastolic blood pressure (p <.05). Body Mass Index with systolic and diastolic blood pressurehas a significance value of p <.05. There was no significant relationship (p> .05) between activity level, stresslevel, smoking, drinking coffee, sex, and family history with blood pressure. Conducting a healthy lifestyle isvery important to instill in the community to prevent and control high blood pressure.
Hubungan Pola Makan dan Kejadian Peningkatan Tekanan Darah Pada Wanita Dewasa Paulina, Neng Riska; Wulandari, Imanuel Sri Mei
NUTRIX Vol 9 No 2 (2025): Volume 9, Issue 2, 2025
Publisher : Fakultas Ilmu Keperawatan Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/nj.v9i2.1326

Abstract

Unhealthy eating habits, including excessive of salt, fat, and protein, are risk factors for hypertension, a chronic disease that is often usymptomatic in its early stages but can lead to serious complication.  The purpose of this research is to examine the correlation between unhealthy eating habits and hypertension among women living in Sukawana Village, West Bandung Regency.  A total of 100 adult women, aged 25-65 years, were randomly selected as participants in this descriptive research that employed a cross-sectional quantitative method.  The data was evaluated using the chi-square statistical test and was derived from the Food Frequency Questionnaire and digital blood pressure readings.  It shows a positive correlation between diet and blood pressure. The correlation value was 0.279 and the significance was 0.038 < 0.05 which indicates a weak relationship. Based on the method of scoring explained in the method section, the lower the Food Frequency Questionnaire (FFQ) score, the better the diet, and for hypertension, the higher the score, the higher the hypertension. Therefore, routine education about healthy eating and blood pressure monitoring needs to be carried out periodically at the village level. Kebiasaan makan yang tidak sehat, termasuk garam, lemak, dan protein yang berlebihan, merupakan faktor risiko hipertensi, penyakit kronis yang seringkali tidak menunjukkan gejala pada tahap awal tetapi dapat menyebabkan komplikasi serius.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji korelasi antara kebiasaan makan yang tidak sehat dan hipertensi pada perempuan yang tinggal di Desa Sukawana, Kabupaten Bandung Barat.  Sebanyak 100 wanita dewasa, berusia 25-65 tahun, dipilih secara acak sebagai peserta dalam penelitian deskriptif ini yang menggunakan metode kuantitatif cross-sectional.  Data dievaluasi menggunakan uji statistik chi-square dan berasal dari Kuesioner Frekuensi Makanan dan pembacaan tekanan darah digital.  Menunjukkan adanya korelasi positive antara pola makan dan tekanan darah. Nilai korelasi 0,279 dan signifikansi 0,038 < 0,05 yang menandakan hubungan yang lemah. Berdasarkan cara score yang dijelaskan pada bagian metode maka semakin rendah skor Food Frequency Questionnaire (FFQ) semakin baik pola makan, dan untuk hipertensi adalah semakin tinggi nilai maka semakin tinggi hipertensi. Oleh karena itu, edukasi rutin tentang makan sehat dan pemantauan tekanan darah perlu dilakukan secara berkala di tingkat desa.
HUBUNGAN KARAKTERISTIK IBU POSTPARTUM DENGAN KEJADIAN POSTPARTUM BLUES DI KLINIK YUNA MEDAN Wulandari, Imanuel Sri Mei; Josphine, Joanne
Klabat Journal of Nursing Vol. 6 No. 2 (2024): Nursing - World's Buoyant
Publisher : Fakultas Keperawatan, Universitas Klabat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37771/kjn.v6i2.1186

Abstract

asa postpartum adalah salah satu periode terjadinya berbagai perubahan psikologis pada wanita melahirkan. Angka kejadian postpartum blues di Asia cukup tinggi dan bervariasi antara 26- 85%, sedangkan di Indonesia angka kejadian postpartm blues antara 37-67% dari wanita paska persalinan, dimana 50% kasus tersebut terjadi pada wanita usia produktif yaitu 20- 50 tahun. Kondisi postpartum blues apabila tidak ditangani dengan baik dapat berpotensial menjadi postpartum depresi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakateristik ibu dengan kejadian postpartum blues. Metode yang digunakan dalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Hasil penelitian ini menunjukan dari 53 responden terdapat 81,1% ibu berusia 20-35 tahun, 56,6% ibu primipara, 54,7 % ibu dengan bekerja, 56,6% ibu berpendidikan SMA dan 62,3% ibu tidak mengalami postpartum blues. Kesimpulan dari penelitian ini adalah Pendidikan ibu mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian postpartum blues dengan p value 0,000, sedangkan usia, paritas, status bekerja tidak. Saran yang dapat diberikan pada penelitian berikutnya adalah menggali pengalaman ibu yang mengalami kejadian postpartum blues. The postpartum period is a period where various psychological changes occur in women giving birth. The incidence of postpartum blues in Asia is quite high and varies between 26-85%, while in Indonesia the incidence of postpartum blues is between 37-67% of postpartum women, where 50% of cases occur in women of productive age, namely 20-50 years. If not treated properly, postpartum blues can potentially become postpartum depression. The aim of this research is to determine the relationship between maternal characteristics and the incidence of postpartum blues. The method used is descriptive quantitative with a cross sectional approach. The results of this study show that of the 53 respondents, 81.1% of mothers were aged 20-35 years, 56.6% were primiparous mothers, 54.7% were working mothers, 56.6% of mothers had high school education and 62.3% of mothers did not experience postpartum blues. The conclusion of this research is that maternal education has a significant relationship with the incidence of postpartum blues, p value 0,000, while age, parity, and work status do not. Suggestions that can be given in future research are to explore the experiences of mothers who experience postpartum blues.