I Wayan Masa Tenaya
Department Of Public Health, Faculty Of Veterinary Medicine, Udayana University, Denpasar, Bali 80225, Indonesia.

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

OH-5 Tata Laksana Kasus Gigitan Terpadu (TAKGIT) Sebagai Model Implementasi One Health dalam Optimalisasi Pengendalian Rabies di Bali . Nurhayati; Pebi Purwo Suseno; Wahid Fakhri Husein; Andri Jatikusumah; Ahmad Gozali; Ratmoko Eko Saputro; Elly Sawitri; I Made SukernI; I Wayan Pujana; I Wayan Masa Tenaya; Fadjar Sumping Tjatur Rasa
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (486.179 KB)

Abstract

PENDAHULUANIndonesia merupakan salah satu negara endemis rabies. Salah satu provinsi dengan jumlah kasus rabies yang tinggi adalah Provinsi Bali. Sejak November 2008 Provinsi Bali dinyatakan tertular rabies dengan jumlah manusia meninggal karena rabies dari tahun 2008 - 2017 mencapai 170 orang, sedangkan Kasus positif rabies HPR berjumlah 1.716 kasus.Beberapa upaya pengendalian telah dilakukan untuk menekan kejadian kasus rabies. Salah satu program yang cukup efektif adalah program pengendalian yang dilaksanakan secara terpadu dan lintas sektor yang sering disebut Tata laksana Kasus Gigitan Terpadu (TAKGIT). TAKGIT merupakan salah satu implementasi pendekatan “ONE Health” dan merupakan panduan bagi petugas lapangan dalam merespon dan menindaklanjuti kejadian kasus gigitan hewan diduga rabies yang dikoordinasikan lintas sektor (kesehatan manusia dan kesehatan hewan). Tujuan penulisan ini adalah untuk menggambarkan peran TAKGIT dalam merespon kasus gigitan diduga hewan pembawa rabies (HPR) dan kontribusinya menurunkan kasus pada manusia.
Deteksi Antibodi Terhadap Rabies pada Anjing Lepasan Berdasarkan Topografi Wilayah di Kabupaten Badung, Bali Sayu Raka Padma Wulan Sari; I Gusti Ngurah Kade Mahardika; I Wayan Masa Tenaya
Jurnal Veteriner Vol 22 No 3 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (133.668 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2021.22.3.398

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase anjing lepasan yang memiliki antibodi protektif terhadap virus rabies berdasarkan topografi wilayah tempat tinggal anjing di Kabupaten Badung. Lokasi pengambilan sampel, yaitu di Kecamatan Mengwi (Desa Mengwi, Mengwitani, Sempidi) yang mewakili wilayah perkotaan, Kecamatan Petang (Desa Pangsan, Petang, Belok) yang mewakili wilayah pegunungan dan Kecamatan Kuta Selatan (Desa Jimbaran, Ungasan, Tanjung Benoa) yang mewakili wilayah pantai. Objek penelitian adalah 90 ekor anjing lepasan dengan umur di atas tiga bulan. Sampel serum diuji menggunakan kit enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Rata-rata titer antibodi anjing lepasan terhadap virus rabies di Kabupaten Badung adalah 0,24±0,31 IU/mL. Persentase anjing lepasan yang memiliki antibodi terhadap virus rabies (e” 0,1 IU/mL) adalah 100%. Sementara itu, persentase anjing lepasan yang mempunyai antibodi protektif terhadap virus rabies (e” 0,5 IU/mL) adalah 11,1%. Persentase anjing yang memiliki antibodi dan yang memiliki antibodi protektif terhadap virus rabies di masing-masing wilayah topografi tidak berbeda nyata. Penelitian ini memberikan fakta bahwa semua anjing lepasan yang dijadikan sampel di tiga wilayah topografi Kabupaten Badung memiliki antibodi rabies, dan hanya 11,1% anjing lepasan yang memiliki antibodi protektif terhadap virus rabies. Perlu strategi dari pemerintah untuk memfokuskan sasaran vaksinasi pada anjing lepasan, mengingat wilayah jelajah anjing lepasan lebih luas sehingga penularan rabies oleh anjing lepasan kemungkinan akan sangat besar. Hal ini perlu dilakukan untuk mencapai keberhasilan dalam pemberantasan rabies di Kabupaten Badung.
Seroprevalensi Flu Burung Subtipe H5N1 pada Itik Bali di Pasar Hewan Beringkit dan Pasar Umum Galiran, di Bali DERISNA SAWITRI UNGSYANI; Gusti Ayu Yuniati Kencana; I Wayan Masa Tenaya
Jurnal Veteriner Vol 22 No 1 (2021)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.366 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2020.22.1.86

Abstract

Flu burung atau Avian influenza (AI) subtipe H5N1, termasuk kelompok Highly Pathogenic Avian Influenza (HPAI) yang masih mengancam industri perunggasan, kesehatan manusia, dan sejumlah spesies burung liar. Itik merupakan reservoir alami virus AI H5N1 dan diduga kuat dapat menularkan virus ke unggas lain maupun manusia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seroprevalensi virus AI subtipe H5N1 pada itik bali di dua pasar yang menjual hewan hidup yaitu Pasar Hewan Beringkit di Kabupaten Badung dan Pasar Umum Galiran di Klungkung, Bali. Total sampel yang diambil sebanyak 120 serum itik bali, yang diambil dari itik umur lebih dari tiga bulan dan tidak divaksinasi AI subtipe H5N1. Pengambilan sampel dilakukan sebanyak empat kali dengan interval waktu dua minggu dari masing-masing pasar tersebut. Semua sampel serum tersebut selanjutnya diuji dengan uji Hambatan Hemaglutinasi (HI). Hasil uji menunjukan bahwa seroprevalensi AI subtipe H5N1 di Pasar Hewan Beringkit sebesar 20,0%, sedangkan di Pasar Umum Galiran sebesar 23,3%. Hasil ini mengindikasikan bahwa itik bali yang disampling dari kedua pasar tersebut pernah terpapar virus AI H5N1 secara alami. Surveilans dan monitoring serta tindakan pencegahan secara berkala perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran penyakit AI H5N1 di pasar hewan.
Produksi dan Karakterisasi Antibodi Monoklonal Anti-Cysticercus cellulosae (PRODUCTION AND CHRACTERIZATION OF MONOCLONAL ANTIBODIES AGAINST CYSTICERCUS CELLULOSAE) Ida Bagus Ngurah Swacita; I Made Damriyasa; Nyoman Sadra Dharmawan; Nyoman Mantik Astawa; Ida Ayu Pasti Apsari; Ida Bagus Made Oka; I Wayan Masa Tenaya
Jurnal Veteriner Vol 16 No 3 (2015)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.636 KB)

Abstract

The purpose of this study is to make a monoclonal antibody against- Cysticercus cellulosae and itscharacterization. Samples antigen prepared from T. solium larvae (C. cellulosae) was then used to immunizeBalb/c. The immune response of mice assessed by ELISA test, then the lymphocytes of mice used for theproduction of monoclonal antibodies (MoAb). Origin lymphocytes of mice that produce antibodies againstC. cellulosae antigen, fused with myeloma cells (NS1). Results fusion of two cells produces hybrid cellscalled hybridomas; cells are then screened by ELISA test. Hybridoma cells that produce only MoAb, usedto produce large quantities in vitro. Characterization of MoAb against-C.cellulosae was tested by usingELISA and Western blotting. Mice were immunized with C.cellulosae antigen showed an immune responseproducing antibodies to C.cellulosae. Based on the results of fusion, produced a total of 51 hybridoma cellclones and after being screened, only three clones of hybridoma cells that produced MoAb against–C.cellulosae. MoAb produced, named after the hole where the growth of the ELISA micro plate, the BE6,BE7, and EE9. Characteristics of this MoAb capable of tracking cellulosae of fluid larvae and recognizeantigen protein bands with molecular weight 78kDa.
Kadar Hormon Pertumbuhan Sapi Bali Lebih Rendah di Nusa Penida Daripada Daerah Bali Lainnya(LEVELS OF GROWTH HORMONE BALI CATTLE IN NUSA PENIDA LOWER THAN OTHER BALI REGIONS) Ni Ketut Suwiti; I Wayan Masa Tenaya; I Nengah Kerta Besung
Jurnal Veteriner Vol 18 No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (86.478 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2017.18.2.226

Abstract

The objective of this research was to compare the levels of growth hormone in bali cattle reared in the purification of Nusa Penida with those from other regions in Bali Province. A total of 320 sera samples were collected from bali cattle reared in Nusa Penida, Klungkung, Tabanan, Buleleng and Bangli. The levels of growth hormone was determined by using sandwich Enzime Linked Immunosorbent Assay (ELISA). The results showed that a diverse levels of growth hormone in Bali cattle were observed in Bali cattle. The lowest growth hormone levels (576.4 pg/mL) was found in Bali cattle reared in Nusa Penida and the highest levels (5044.08 pg/mL) were found in the Buleleng regency. It was concluded that bovine growth hormone levels varies, depending on the regions of rared of Bali cattle. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi kadar hormon pertumbuhan sapi bali yang dipelihara di wilayah pemurnian Nusa Penida dan wilayah lainnya di Provinsi Bali. Sebanyak 320 sampel serum sapi bali betina dewasa dikumpulkan dari peternakan rakyat di Nusa Penida Klungkung, Tabanan, Buleleng, dan Kabupaten Bangli. Kadar hormon pertumbuhan dideteksi dengan metode Enzime Linked Immunosorbent Assay (ELISA). Hasil penelitian menunjukkan, kadar hormon pertumbuhan sapi bali terendah (576,4 pg/mL) ditemukan pada sapi bali yang dipelihara di Nusa Penida, sedangkan kadar hormon tertinggi (5044,08 pg/mL) ditemukan pada sapi bali yang dipelihara di Kabupaten Buleleng. Disimpulkan bahwa kadar hormon pertumbuhan sapi bali berbeda-beda, tergantung wilayah tempat pemeliharaan sapi bali.
Respons Imun Mencit yang Diimunisasi dengan Cysticercus cellulosae (IMMUNE RESPONSE TO TAENIA SOLIUM CYSTICERCOSIS IN MICE) Ida Bagus Ngurah Swacita; I Made Damriyasa; Nyoman Sadra Dharmawan; Nyoman Mantik Astawa; Ida Ayu Pasti Apsari; I Wayan Masa Tenaya
Jurnal Veteriner Vol 16 No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (99.859 KB)

Abstract

Cysticercosis is a zoonotic parasitic disease which is still problem in Indonesia. The purpose of thisstudy was to investigate immune responses of mice that had been immunized using Taenia solium larval(Cysticercus cellulosae) antigens originated from infected pigs. Three kinds of the C.cellulosaeantigens,secretory and whole antigens were used to immunize three different groups Balb/c mice consisted of 15animals. The serum samples before and after immunization were tested with ELISA test. The resultsshowed that the third antigens induced highly significant titre (P<0,01)compared to unimmunized animals.However no significant different (P>0,05) were found when the third antigens were compared. It wasconcluded that immunization with the three kinds of C. cellulosae antigens can cause immunity in mice.