Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Meningkatkan Kualitas Hidup Lansia Melalui Arsitektur Terapeutik Studi Kasus Griya Usia Lanjut Santo Yosef Tia Aisyah Maharani; Sri Suryani Yuprapti Winasih
DEARSIP : Journal of Architecture and Civil Vol. 5 No. 01 (2025): Desember 2024 - Mei 2025
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/dearsip.v5i01.9399

Abstract

Every human being needs a pace to shelter, engage in activities, spend time, and socialize in their daily lives, including those who have reached old age. Griya Usia Lanjut Santo Yosef is established for those in need of care and social support in their elderly lives. Typically, those who reside in these facilities who lack a partner or have healthy issues, thus requiring significant impact on their well-being. The quality of the environment within nursing homes is crucial considering that the elderly often face complex challenges such as declining mental health, dementia, loneliness, minmal social activity exacerbating their physical and mental conditions. Therapeutic architecture is an architectural approach focusing on users by creating built environments that foster physiological and psychological interaction. This research explores principes of therapeutic architecture such as open space, accessibility, natural lighting, spatial flexibility to support residents recovery and enhance the quality of life for the elderly.
Kajian Liponsos Keputih Surabaya Sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pendekatan Arsitektur Perilaku ALFREDO TRIPUTRA ARDIANSYAH; Sri Suryani Yuprapti Winasih
DEARSIP : Journal of Architecture and Civil Vol. 5 No. 01 (2025): Desember 2024 - Mei 2025
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Islam Darul Ulum Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52166/dearsip.v5i01.9429

Abstract

Pada kasus beberapa desainer arsitek terkadang melupakan beberapa komponen penting dalam perancangannya, salah satunya yaitu rasa memiliki baik dengan sengaja maupun tidak. Seperti contoh pada perancangan sebuah Liponsos sebagai salah satu program pemberdayaan masyarakat. Liponsos (Lingkungan Pondok Sosial) merupakan tempat penampungan bagi mereka Penyayang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) dan ODGJ yang terjaring razia. Kurangnya rasa memiliki dari perancang inilah yang kemudian memunculkan masalah seperti mantan pasien yang kembali ke jalanan dan lain sebagainya. Oleh karena itu pemunculan arsitektur perilaku melalui sudut pandang teori kebutuhan oleh Abraham Maslow dapat dilakukan dalam kasus UPTD Liponsos Keputih dalam penerapannya sebagai sarana pemberdayaan Masyarakat. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui penggambaran langsung di lapangan. Pemaparan dan penggambaran dapat diambil melalui data primer dan sekunder. Data primer diambil melalui observasi fisik dan non fisik lapangan seperti penataan ruang dan fasilitas yang tersedia, sedangkan wawancara beberapa responden sebagai bahan data non fisik terkait memenuhi kebutuhan mereka. Pengumpulan literatur dari jurnal, buku dan prosiding yang berkaitan dengan arsitektur perilaku dan menyediakan kebutuhan oleh Abraham maslow dapat diolah sebagai data sekunder. Hasil dari penelitian ini nantinya dapat mengungkap pentingnya pemahaman bagaimana desain fisik dan lingkungan dapat mempengaruhi perilaku masyarakat dalam konteks pemberdayaan. Diharapkan hasil dari kajian ini dapat memberikan wawasan baru dalam upaya meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pendekatan arsitektur perilaku.
Penerapan Arsitektur Hijau pada Sequis Center Jakarta Fitria Zubaidi; Diva Istiana Anggraeni; Sri Suryani Yuprapti W; Fairuz Muthia
Archvisual: Jurnal Arsitektur dan Perencanaan Vol. 3 No. 1 (2023): Archvisual JAP, Agustus 2023
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55300/cxypj050

Abstract

The topic of global environmental crisis comes up wherever and whenever, along with the worldwide environmental catastrophe in Indonesia, one of which is in Jakarta. This issue eventually led to the concept of green architecture to minimize new resources and save energy, creating a healthy and comfortable environment for its users. GBCI, an organization that evaluates whether a building fulfills the requirements for a green building using the Greenship grading system, is the foundation of the principles of implementing the concept of green architecture. Sequis Center, an office building in Senayan, South Jakarta's Sudirman Central Business District, is one of the buildings in Indonesia that achieved a gold grade in Greenship certification. Sequis Center uses the concept of environmentally friendly buildings through energy saving. This research uses a qualitative method by collecting data through literature studies, direct field observations, and analyzing the principles according to the concept of green architecture. Based on the conclusions of this research, the Sequis Center promotes sustainable environmental ecosystems by utilizing the green architecture concept. The results of this analysis can be added value to the building and are expected to increase knowledge about global warming that can be generated from buildings and activities in them.
PENGARUH POLA SIRKULASI TERHADAP KENYAMANAN PENGGUNA PADA RANCANGAN ARSITEKTUR SENTRA WISATA KULINER Syakur Wirdiyan Triantoro; Sri Suryani Yuprapti Winasih
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2025
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31848/arcade.v9i2.3917

Abstract

Abstract: Circulation patterns are the main element in architectural design. Circulation connects each element in the building as a rope that binds the interior and exterior spaces. The Culinary Tourism Center generally functions as an area for eating and drinking, an entertainment area and a trade area. The Culinary Tourism Center is a place that is visited a lot and has circulation movement patterns in both indoor and outdoor spaces such as human circulation and vehicle circulation which specifically discusses circulation patterns and circulation achievements. This research was conducted using qualitative methods with direct observation techniques of the conditions of the Culinary Tourism Centers in the city of Surabaya, namely SWK Bratang Binangun, SWK Penjaringan Sari, and SWK Karah. Based on the results of the observation data that has been analyzed, it was found that there is an application of circulation patterns at the Culinary Tourism Center. Of course, this circulation pattern has an impact on the efficiency of activities and user comfort. Therefore, the aim of this research is to determine the circulation patterns applied to the Culinary Tourism Center and determine the circulation pattern that suits the needs of the Culinary Tourism Center under study. Keyword: Circulation Patterns, Culinary Tourism Center Abstrak: Pola sirkulasi merupakan unsur utama dalam rancangan arsitektur. Sirkulasi menjadi penghubung tiap unsur pada bangunan sebagai tali yang mengikat bagi ruang-ruang dalam maupun luar. Sentra Wisata Kuliner secara garis besar berfungsi sebagai area untuk makan dan minum, area hiburan, dan area perdagangan. Sentra Wisata Kuliner yakni tempat yang banyak dikunjungi serta memiliki pola pergerakan sirkulasi pada ruang dalam maupun ruang luar seperti sirkulasi manusia dan sirkulasi kendaraan yang khususnya membahas pola bentuk sirkulasi dan pencapaian sirkulasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan teknik observasi secara langsung kondisi Sentra Wisata Kuliner yang ada di kota Surabaya yakni SWK Bratang Binangun, SWK Penjaringan Sari, dan SWK Karah. Berdasarkan hasil data observasi yang telah dianalisis, diperoleh adanya penerapan pola sirkulasi pada Sentra Wisata Kuliner. Tentu, pola sirkulasi tersebut berdampak pada efisiensi aktivitas serta kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini guna mengetahui pola sirkulasi yang diterapkan pada Sentra Wisata Kuliner dan mengetahui pola sirkulasi yang sesuai dengan kebutuhan Sentra Wisata Kuliner yang diteliti. Kata Kunci: Pola Sirkulasi, Sentra Wisata Kuliner   Keyword: Circulation Patterns, Culinary Tourism Center Abstrak: Pola sirkulasi merupakan unsur utama dalam rancangan arsitektur. Sirkulasi menjadi penghubung tiap unsur pada bangunan sebagai tali yang mengikat bagi ruang-ruang dalam maupun luar. Sentra Wisata Kuliner secara garis besar berfungsi sebagai area untuk makan dan minum, area hiburan, dan area perdagangan. Sentra Wisata Kuliner yakni tempat yang banyak dikunjungi serta memiliki pola pergerakan sirkulasi pada ruang dalam maupun ruang luar seperti sirkulasi manusia dan sirkulasi kendaraan yang khususnya membahas pola bentuk sirkulasi dan pencapaian sirkulasi. Penelitian ini dilakukan dengan metode kualitatif dengan teknik observasi secara langsung kondisi Sentra Wisata Kuliner yang ada di kota Surabaya yakni SWK Bratang Binangun, SWK Penjaringan Sari, dan SWK Karah. Berdasarkan hasil data observasi yang telah dianalisis, diperoleh adanya penerapan pola sirkulasi pada Sentra Wisata Kuliner. Tentu, pola sirkulasi tersebut berdampak pada efisiensi aktivitas serta kenyamanan pengguna. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini guna mengetahui pola sirkulasi yang diterapkan pada Sentra Wisata Kuliner dan mengetahui pola sirkulasi yang sesuai dengan kebutuhan Sentra Wisata Kuliner yang diteliti. Kata Kunci: Pola Sirkulasi, Sentra Wisata Kuliner
Implementasi Arsitektur Naratif Pada Rumah Atsiri Indonesia Sebagai Objek Wisata Edukasi Berlianawati; Sri Suryani Yuprapti Winasih
Jurnal Arsitektur GRID: Journal of Architecture and Built Environment Volume 8, Nomor 1 (2026): Juni
Publisher : Program Studi Arsitektur Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan Universitas Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52429/grid.v8i1.80

Abstract

Fenomena wisata edukatif menjadi tujuan wisata keluarga karena adanya integrasi antara pendidikan dan pariwisata. Namun, wisata edukasi cenderung terbatas pada pengolahan visual kawasan dan fasilitas permainan, sehingga lebih terfokuskan hanya sebagai sarana hiburan. Pendekatan arsitektur naratif dapat membentuk ruang yang tidak terbatas hanya pada olah visual saja, tetapi juga menciptakan pengalaman panca indra yang bermakna. Rumah Atsiri Indonesia membawa pengunjung mengenal bagaimana minyak atsiri dapat dihasilkan yang dikemas dalam proses yang runtut dan menarik serta perjalanan untuk mengenal sejarah minyak atsiri secara interaktif. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penerapan arsitektur naratif untuk mendukung proses edukasi mengenai minyak atsiri bagi pengunjung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif yang didapat melalui observasi langsung, analisis elemen-elemen naratif pada ruang aktivitas pengunjung, dan studi literatur mengenai arsitektur naratif. Arsitektur naratif yang didukung oleh pengalaman pengguna serta proses interaksi langsung diharapkan dapat lebih optimal dalam medukung proses pembelajaran pada wisata edukasi.