Djunaedi Kosasih
Program Studi Magister Sistem Dan Teknik Jalan Raya, Fakultas Teknik Sipil Dan Lingkungan Institut Teknologi Bandung.

Published : 22 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Analisis Data Lendutan Perkerasan dengan Program Backcalc untuk Sistem Struktur 2-Lapisan Djunaedi Kosasih
Jurnal Teknik Sipil Vol 10 No 1 (2003)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2003.10.1.4

Abstract

Abstrak. Data lendutan masih umum digunakan dalam proses evaluasi kondisi struktur perkerasan, khususnya karena pengukuran lendutan dapat dilakukan secara non-destruktif. Lendutan maksimum (dmax) dan cekung lendutan yang terjadi akibat beban roda kendaraan secara teoritis dapat mencerminkan kondisi struktur perkerasan yang dinyatakan dengan modulus (E) dan konstanta poisson (μ). Makin besar nilai dmax yang terjadi, maka nilai E struktur perkerasan akan makin rendah, dan sebaliknya. Sedangkan, cekung lendutan akan menentukan distribusi nilai E untuk masing-masing lapisan perkerasan, dimana nilai E untuk lapisan yang lebih atas biasanya akan lebih besar dibandingkan dengan nilai E untuk lapisan dibawahnya. Pengaruh nilai Î¼ terhadap hubungan antara nilai dmax dan nilai E umumnya dianggap tidak signifikan. Back Calculation merupakan proses perhitungan balik untuk mendapatkan modulus perkerasan berdasarkan data lendutan dengan mempersamakan cekung lendutan teoritis terhadap cekung lendutan yang diukur di lapangan. Namun, dari literatur dan dari hasil analisis yang telah dilakukan, cekung lendutan teoritis ternyata sulit untuk dapat dibuat tepat sama dengan cekung lendutan survai kecuali di beberapa titik pada cekung lendutan yang sengaja dijadikan target dalam melakukan proses konvergensi. Makalah ini mendiskusikan proses Back Calculation hanya untuk struktur perkerasan yang dimodelkan sebagai sistem struktur dua-lapisan dengan menggunakan program komputer BackCalc. Untuk sistem struktur dua-lapisan, konvergensi umumnya terjadi pada titik lendutan maksimum dan pada titik belok dari cekung lendutan. Disamping itu, lendutan maksimum diketahui lebih berkorelasi dengan modulus perkerasan, sedangkan lendutan titik belok lebih berkorelasi dengan modulus tanah dasar.Abstract. Deflection is still used in pavement condition evaluation, particularly because it can be measured in a non-destructive way. Maximum deflection (dmax) and its respective deflection bowl caused by the wheel load theo-retically reflect structural conditions of a pavement, expressed in terms of modulus (E) and poisson ratio (μ). The higher the value of dmax, the smaller the modulus will be. Meanwhile, deflection bowl dictates the distribu-tion of the modulus for each pavement layer, where upper layers normally have higher modulus. The effect of poisson ratio on the relationship between deflection and pavement modulus is usually assumed to be insignificant. Back calculation is a process whereby pavement modulus is to be back calculated from deflection data, in such a way, that the resulting theoretical deflection bowl is to be matched with the measured deflection bowl. However, from the literature and from the analysis carried out in this research, it was found that it would be quite difficult to obtain a perfect match between the two deflection bowls, except at few deflection points at which convergences were exercised. This paper discusses back calculation for pavement structures modeled as a two-layered system by using com-puter program BackCalc. For two-layered systems, in general, convergences occurred at the maximum deflec-tion point and at the inflection point of a deflection bowl. Whereas, maximum deflection was found to correlate better with pavement modulus, and deflection at the inflection point correlated better with subgrade modulus.
Analisis Kerusakan Retak Lelah pada Struktur Perkerasan Kaku Landasan Pesawat Udara dengan menggunakan Program Airfield Djunaedi Kosasih; Arie Fibryanto
Jurnal Teknik Sipil Vol 12 No 1 (2005)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2005.12.1.4

Abstract

Abstrak. Desain struktur perkerasan kaku yang memperhitungkan volume lalu lintas pesawat udara campuran pada prinsipnya harus didasarkan pada kriteria retak lelah, seperti yang diusulkan oleh metoda PCA (Yoder, et.al., 1975). Dengan pendekatan ini, setiap pesawat udara yang melintas untuk keberangkatan dianggap akan mengakibatkan derajat kerusakan tertentu pada struktur perkerasan yang sebanding dengan tegangan lentur yang terjadi didalamnya. Di akhir masa layan rencana, setelah total kerusakan mencapai 100%, maka struktur perkerasan diasumsikan akan mengalami keretakan lelah. Kerusakan retak lelah terbentuk pada jalur lintasan roda pesawat udara desain yang harus ditentukan dengan cara coba-coba pada saat proses desain. Makalah ini menguraikan contoh proses penentuan pesawat udara desain dari 17 jenis pesawat udara tipikal yang beroperasi pada saat ini di bandar udara Juanda, Surabaya, dengan mengaplikasikan program Airfield (Kosasih, 2004). Kontribusi dari setiap jenis pesawat udara terhadap kerusakan struktur perkerasan dijelaskan secara rinci. Pengaruh dari Load Repetition Factor (LRF) yang memperhitungkan distribusi lintasan roda pesawat udara dalam arah lateral terhadap penundaan kerusakan retak lelah juga didiskusikan. Abstract. Structural design of an airport rigid pavement carrying mixed traffic should be based in principle upon fatigue cracking criterion, as stated by the PCA method (Yoder, et.al., 1975). By this approach, every departing aircraft is assumed to cause certain damage in the pavement that corresponds to the flexural stress level occurring therein. When the cumulative total damage reaches 100% in the end of its design life, the pavement is expected to experience fatigue cracking within the wheel path of a certain aircraft, which is then defined as the design aircraft. Such a design aircraft must be determined iteratively during the design process. This paper outlines a design example in determining a design aircraft out of 17 typical types of aircraft operating at present on Juanda airport of Surabaya by using program Airfield (Kosasih, 2004). The contribution of each type of aircraft on pavement structural damage is described in detail. The effect of Load Repetition Factor (LRF) to account for aircraft wander in a lateral direction of the pavement on delaying fatigue cracking is also discussed.
Analisis Aplikasi Algoritma Genetika dalam Proses Desain Struktur Perkerasan Djunaedi Kosasih
Jurnal Teknik Sipil Vol 12 No 2 (2005)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2005.12.2.6

Abstract

Abstrak. Algoritma genetika pada prinsipnya bermanfaat untuk persoalan yang sulit dipecahkan dengan menggunakan pendekatan deterministik. Meskipun demikian, makalah ini dimaksudkan hanya untuk mengexplorasi aplikasi algoritma genetika yang menggunakan pendekatan stochastic sebagai metoda alternatif dalam mencari nilai ITP (Index Tebal Perkerasan) dari model empiris yang memerlukan proses konvergensi sederhana. Kemudian, nilai ITP tersebut dibandingkan dengan yang diperoleh melalui teknik interpolasi linier yang sederhana dalam pencarian nilai konvergen. Dua proses kodifikasi solusi (i.e. nilai ITP) yang diperlukan pada algoritma genetika apakah sebagai bilangan biner (kode konvensional) atau bilangan riil (kode non-konvensional) dianalisis secara khusus, mengingat kode bilangan riil seringkali diperlukan untuk aplikasi algoritma genetika dalam bidang rekayasa transportasi. Empat parameter utama dari algoritma genetika, yaitu jumlah populasi, probabilitas pertukaran gen, probabilitas perubahan gen dan fungsi seleksi, yang dianggap paling sesuai untuk pencarian nilai ITP diusulkan dalam makalah ini.Abstract. Genetic algorithm basically is a useful tool for problems that are difficult to solve by using deterministic approaches. Despite of this, this paper is intended only to explore genetic algorithm which is based on the principle of stochastic approaches as an alternative method to calculate the structural number of a pavement from an empirical model requiring simple convergency processes. The resulting pavement structural number was then compared with that obtained from a simple linear interpolation technique in seeking for a convergence. Two codification processes of solution (i.e. structural number) performed in genetic algorithm by using binary number (conventional code) or real number (non-conventional code) were specifically studied, since the real number code is frequently used for the application of genetic algorithm in the field of transportation engineering. Four main parameters needed for genetic algorithm, i.e. population size, probability of crossover, probability of mutation and selection function, that were found to be the most appropriate for searching pavement structural number are proposed in this paper.
Analisis Metoda AASHTO’93 dalam Disain Tebal Lapisan Tambahan pada Struktur Perkerasan Lentur yang Dimodelkan Hanya Berdasarkan Lapisan Campuran Beraspal Djunaedi Kosasih
Jurnal Teknik Sipil Vol 14 No 3 (2007)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2007.14.3.3

Abstract

Abstrak. Penerapan metoda analitis dalam disain struktur perkerasan lentur di Indonesia masih belum dibakukan. Sementara itu, metoda AASHTO’93, yang edisi sebelumnya menjadi referensi utama dari SNI’98 mengenai Metoda Analisis Komponen, telah membakukan alternatif prosedur disain tebal lapisan tambahan secara analitis berdasarkan modulus perkerasan yang dihasilkan dari proses back calculation terhadap data cekung lendutan. Salah satu ketentuan yang penting dalam prosedur disain ini adalah ketentuan tentang pemodelan struktur sistem 2-lapisan yang digunakan. Lapisan pertama adalah lapisan perkerasan yang merupakan gabungan dari semua lapisan campuran beraspal dan lapisan agregat; dan, lapisan perkerasan tersebut bertumpu pada tanah dasar sebagai lapisan kedua. Metoda AASHTO’93 menganggap nilai Poisson ratio yang sama untuk kedua lapisan, yaitu 0.50. Makalah ini menganalisis pengaruh dari variasi Poisson ratio pada modulus perkerasan dan pada disain tebal lapisan tambahan yang dihasilkan, dan juga menganalisis alternatif model sistem 2-lapisan yang memodelkan hanya lapisan campuran beraspal sebagai lapisan perkerasan yang bertumpu pada gabungan antara lapisan agregat dan tanah dasar sebagai lapisan kedua. Abstract. The application of an analytical overlay thickness design method for flexible pavement structures in Indonesia has not been issued as standard yet. Nonetheless, the AASHTO’93 method of which its previous edition was adopted as the main reference for the SNI’98 on Metoda Analisis Komponen has included an alternative overlay design procedure based on analytical principles by using pavement moduli resulting from back calculation process on deflection data. One important element of this design procedure is to modelling a 2-layered system structure. The first layer is to represent all pavement layers above the subgrade; and, the second layer is to represent the subgrade itself. The AASHTO’93 method assumes Poisson ratio of 0.50 for both layers. This paper analyses the effect of varying Poisson ratio on the resulting back calculated pavement moduli and on the overlay thickness design, and it also analyses an alternative 2-layered system model based only on asphalt layers as the first layer on top of granular layers and the subgrade as the second layer.
Pengembangan Model Korelasi antara Modulus Resilien dengan Modulus Dinamis untuk Campuran Stone Matrix Asphalt Nyoman Suaryana; Bambang Sugeng Subagio; Djunaedi Kosasih; Sjahdanulirwan Sjahdanulirwan
Jurnal Teknik Sipil Vol 21 No 2 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2014.21.2.8

Abstract

Abstrak. Parameter yang berhubungan dengan sifat mekanistik bahan, seperti modulus kekakuan sangat diperlukan baik untuk perencanaan tebal lapisan perkerasan jalan maupun untuk mengevaluasi kinerja campuran beraspal. Mengingat campuran beraspal merupakan material yang tidak bersifat elastis sempurna maka pemakaian istilah modulus elastis kurang tepat digunakan. Sebagai gantinya digunakan beberapa istilah seperti modulus resilien dan modulus dinamis. Tujuan dari penelitian ini adalah mengembangkan korelasi antara dua parameter modulus campuran beraspal tersebut, khususnya pada campuran SMA (Stone Matrix Asphalt). SMA yang digunakan dibedakan menjadi dua, yaitu dengan serat selulosa sebagai bahan penstabil dan dengan asbuton butir sebagai bahan penstabil. Berdasarkan hasil pengujian pengaliran aspal (draindown) terlihat asbotun butir dapat berfungsi sebagai penstabil SMA. Nilai modulus resilien dan modulus dinamis SMA akan berkurang apabila temperatur pengujian bertambah. Sementara dengan turunnya frekwensi pembebanan maka nilai modulus resilien dan modulus dinamis akan menurun juga. Korelasi antara modulus dinamis dengan modulus resilien pada kondisi frekwensi pembebanan dan temperatur yang sama cukup baik dengan R2 = 0,97 dimana nilai modulus dinamis sekitar 0,9 dari nilai modulus resilien. Abstract. Parameters that are related to the mechanistic properties of material, such as the modulus is an important factor both for thick layers design and for pavement performance evaluation. It is well known that most paving materials are not elastic but experience some permanent deformation after each load application and term of elastic modulus inappropriate to use. Another alternative that can be used is the terms such as dynamic modulus and resilient modulus. The purpose of this research is to develop a correlation between the two modulus parameters, especially for the SMA mix (Stone Matrix Asphalt). SMA is used can be divided into two, i.e. with cellulose fibers as a stabilizer and with granular asbuton as stabilizer. Based on the results of the draindown asphalt  testing, granular asbotun can serve as a stabilizer. The value of dynamic and resilient modulus will be reduced when the temperature testing increased. While the decrease of loading frequencies will be reduced the value of dynamic and resilient modulus. Correlation between the dynamic modulus and the resilient modulus quite well with R2 = 0.97 on the same conditions of temperature and loading frequency, where the dynamic modulus value about 0.9 the resilient modulus value.
Evaluasi Karakteristik Modulus Resilien dan Deformasi Permanen Campuran Beton Beraspal (AC-Binder Course) Menggunakan Campuran Agregat Berabrasi Tinggi Astriereza Prery Adithya; Bambang Sugeng Subagio; Djunaedi Kosasih; Sri Hendarto
Jurnal Teknik Sipil Vol 23 No 3 (2016)
Publisher : Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/jts.2016.23.3.7

Abstract

Abstrak. Agregat substandar adalah agregat yang tidak memenuhi sifat yang disyaratkan dalam spesifikasi jalan, antara lain berat jenis, nilai pastisitas, penyerapan dan abrasi yang akan mempengaruhi tingkat kelekatan agregat terhadap aspal pada campuran beraspal. Tujuan utama dari penelitian ini yaitu meneliti pengaruh agregat substandar bernilai abrasi tinggi (>40%) yang divariasi dengan agregat standar (berabrasi ≤40%) pada campuran beraspal gradasi menerus (AC-BC) terhadap nilai kekakuan dan ketahanan terhadap deformasi. Persentase penggunaan campuran agregat substandar dan agregat standar pada pengujian ini adalah 100-0, 80-20, 60-40, 50-50 dan 0-100. Hasil uji Marshall pada variasi 60-40, 50-50 dan 0-100 menunjukkan bahwa penambahan agregat standar dalam agregat substandar meningkatkan Stabilitas Marshall dan IKS (Indeks Kekuatan sisa) namun nilai IKS masih dibawah spesifikasi. Hasil pengujian UMATTA pada temperatur 25ï‚°C dan 45ï‚°C variasi 60-40, 50-50 dan 0-100 kekakuan campuran (Modulus Resilien) semakin tinggi. Hasil pengujian deformasi permanen dengan WTM pada temperatur 45°C dan 60°C, nilai Stabilitas Dinamis menunjukkan nilaitertinggi terjadi pada campuran 50-50.Abstract. Substandard aggregates is aggregates which isn't required at paving specification, such as specific gravity, plasticity, absorption and abrasion that will effect stickness at asphalt mixture. The objective of this research is to evaluate the influence of substandard aggregate-high abrasion value (>40%) were varied by standard aggregates (abrasion ≤40%) on a continuous gradation asphalt mixture (AC-BC) to the value of stiffness and deformation. Properties of aggregates were tested and compared using specification of Bina Marga 2010, while the mix of characteristics obtained through Marshall Test, Resilient Modulus using UMATTA and permanent deformation using Wheel Tracking Machine ( WTM ). Percentage of substandard aggretgates and standard aggregates in this research is 100-0, 80-20, 60-40, 50-50 dan 0-100. Marshall test result on the variation of 60-40, 50-50 dan 0-100 indicate that te addition of standard aggregate improving the Marshall Stability and residual strengh index, but the residual strenght index velue is still below of spesification. UMATTA test result at 25ï‚°C and 45ï‚°C temperature variation of 60-40, 50-50 dan 0-100 that mix stiffness ( Resilient Modulus ) higher. Test result of permanent deformation using WTM at temperature 45°C dan 60°C, the highest dynamic stability value at 50-50 mixture.
The Development of An Analytical Overlay Design Procedure Djunaedi Kosasih
Civil Engineering Dimension Vol. 10 No. 1 (2008): MARCH 2008
Publisher : Institute of Research and Community Outreach - Petra Christian University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.065 KB) | DOI: 10.9744/ced.10.1.pp. 7-13

Abstract

Pavement structural evaluation using pavement modulus values resulting from back calculation process on non-destructive deflection data has been adopted to quantify objectively the conditions of existing pavements under various traffic loading and environmental conditions. However, such an advanced technique is not yet followed widely by advances in analytical overlay design procedures. One possible reason is perhaps due to its requirement to perform complex computations. A new module of computer program BackCalc has been developed to do that task based on the allowable maximum deflection criterion specified by the Asphalt Institute’83. The rationale is that adequate overlay thickness will be computed by iteration to result in theoretical maximum deflection that closely matches against the specified allowable maximum deflection. This paper outlines the major components of the program module illustrated by using a practical example. The overlay thickness obtained was found to be comparable with that of the known AASHTO’93 method
KAJIAN PENGARUH TEMPERATUR DAN BEBAN SURVAI TERHADAP MODULUS ELASTISITAS LAPISAN BERASPAL PERKERASAN LENTUR JALAN Djunaedi Kosasih; Siegfried Siegfried
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 3 (2007)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The use of back calculation method in pavement system analysis is very common nowadays. There are many computer programs available to perform back calculation process on FWD deflection data. The results from back calculation process are the elastic moduli of pavement layers. These pavement layer moduli, particularly asphalt layer moduli, are affected by such factors as temperature and survey load. This study was carried out on jln. Sukarno-Hatta in Bandung where FWD deflection data were measured at various temperatures and survey loads. This paper outlines back calculation process performed comparatively using program BackCalc and program BackFAA. It was found that temperature and survey load influenced the resulting pavement moduli significantly, and as expected, the two computer programs resulted in quite consistent pavement moduli. Key words: FWD deflection bowl, back calculation process, program BackCalc, program BAKFAA
MODIFIKASI METODA AASHTO'93 DALAM DISAIN TEBAL LAPISAN TAMBAHAN UNTUK MODEL STRUKTUR SISTEM 3-LAPISAN Djunaedi Kosasih
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 24 No 2 (2007)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

One of the analytical overlay thickness design methods for flexible pavement structures is the AASHTO'93 standard by employing pavement modult obtained from back calculation process in deflection bowl data. Yet the 2-layered system structure model used in general may result in a theoretical deflection bowl that does not closely match the target deflection bowl data. Croney (1977) suggested to model pavement structure at least as a 3-layered system structure for effective application of analytical design methods. This paper outhnes a modified AASHTO'93 method for analyzing pavement modult of 3-layered system structures resulting from program BackCalc in an overlay design process and specifcally investigates the effects of daily variation in pavement temperature and variation in FWD deflection survey load on pavement modult and on overlay thickness design. Keywords : Overlay Thickness Design, Analytical Method, Pavement Modulus, Back Calculation Process.
MODEL ALTERNATIF DARI STRUKTUR PERKERASAN LENTUR DESAIN Djunaedi kosasih
Jurnal Jalan-Jembatan Vol 13 No 2 (1996)
Publisher : Direktorat Bina Teknik Jalan dan Jembatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Metoda desain struktur perkerasan lentur jalan tang saat ini berlaku di Indonesia adalah Metoda Analisa Komponen. Metoda Analisa dengan memanfaatkan model dasar struktur perkerasan yang diadopsi dari metoda AASHTO 72 telah dapat di gunakan selain untuk menentukan desain struktur perkerasan juga untuk menganalisis kondisi struktur perkerasan desain. Namun demikian, model alternatif yang lebih sederhana yang dapat manggambarkan karakteristik struktur perkerasan desain mungkin aku bermanfaat, khususnya dalam mebantu menetukan berbagai skenario stuktur perkerasan desain dalam mengevaluasi derajat kerusakan struktur perkerasan desain akibat tingkat konservatisme dari desin. Model struktur perkerasan desain alternatif yang diusulkan dalam karya tulis ini didasarkan pada fungsi exponensial yang menghasilkan struktur perkerasan desain dengan variasi perkiraan beban lalu lintas sekitar 20% pada tingkat konservatisme desain sekitar 30%.