Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Pemetaan Distribusi Tanah Keras di Kota Banjarmasin berbasis Sistem Informasi Geografis (SIG) Safitri, Nadia; Fitriansyah, Muhammad; Ramadhani, Ekawati Laily; Anggaraini, Elia; Muzaidi, Irwandy
Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil UMS 2025: Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil UMS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berada di Kota Banjarmasin, yang terletak di Provinsi Kalimantan Selatan, sebagian besar wilayahnya didominasi oleh tanah lunak yang secara teknis memiliki karakteristik daya dukung rendah, tingkat kompresibilitas tinggi, dan permeabilitas rendah, yang berpotensi menimbulkan permasalahan dalam perencanaan pondasi dan struktur bangunan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan distribusi tanah keras di Kota Banjarmasin menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG), berdasarkan hasil uji sondir dengan tahanan konus (qc). Tanah keras merupakan jenis tanah yang memiliki tingkat kekerasan tinggi dan sangat berpengaruh terhadap perencanaan konstruksi. Metode penelitian ini mencakup pengumpulan data primer dan sekunder. Data tahanan konus menunjukan variasi kedalaman tanah keras dengan nilai antara 150 - 250 kg/cm2, yang termasuk dalam klasifikasi tanah keras. Berdasarkan hasil analisis dan pemetaan, kedalaman tanah keras di Kota Banjarmasin bervariasi antara 20 - 44 meter dan tersebar di berbagai lokasi dengan kedalaman yang berbeda-beda. Kedalaman paling dangkal ditemukan di wilayah Banjarmasin Utara sedangkan kedalaman terbesar terdapat di Banjarmasin Barat, Banjarmasin Tengah, dan Banjarmasin Selatan. Pemetaan ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam perencanaan Pembangunan infrastruktur berkelanjutan di Kota Banjarmasin.
NILAI FAKTOR KEMANAN PERKUATAN OPRIT JEMBATAN MENGGUNAKAN BAHAN GEOTEXTILE DAN CERUCUK GALAM pada TANAH LUNAK KOTA BANJARMASIN Fitriansyah, Muhammad; Gustie Sambalewa Saky; Irwandy Muzaidi; Elia Anggarini
AGREGAT Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i1.22395

Abstract

Soft soils according to geotechnical guidelines relate to those soils that if not recognized and investigated carefully can cause intolerable long-term instability and settlement problems, such soils have low shear strength and high compressibility, The soft soil layer located in Banjarmasin, South Kalimantan has a thickness of up to 25 m, the average hard soil is found at a depth of about 40 m. The slope of the soil in Banjarmasin is between 0.13% with a geological composition, especially the bottom, dominated by clay with fine sand inserts and alluvium deposits consisting of gray-black and soft clay. The slope of the land in Banjarmasin is between 0.13% with a geological composition, especially the lower part dominated by clay with fine sand inserts and alluvium deposits consisting of grayish black clay and soft Research methods are a way to solve problems or how to develop knowledge with scientific methods. In this study, the analysis used is a comparison of the calculation of reinforcement on the bridge oprit manually with two methods of reinforcing galam cribs and Geotextile materials. The data used in this study used Sondir data for the Labor Intensive Bridge Project, based on the results of the analysis of the decline in galam and geotextile materials. Then it is known the difference in the value of the decline based on the results of the safety factor value of 3.71 and for geotextiles 1.21. From the value of the safety factor obtained, the reinforcement of galam pile is better than using geotextile.
Analisis Faktor Keamanan Pada Permodelan Timbunan Yang Diperkuat Geogrid Di Atas Tanah Lempung Lunak Muzaidi, Irwandy; Anggarini, Elia; Hardiani, Dyah Pradhitya; Sriardi, Doni
AGREGAT Vol 9 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/ag.v9i1.22441

Abstract

The pile built on soft soil has a tendency to fail its submission (bearing failure). This is caused by soft soils to have a low carrying capacity to carry the burden of construction. If a pile must be built which must be completed in a relatively fast time and must be stockpiled on soft soil, can be overcome by reinforcing the soil using geogrid material so as to increase the carrying capacity of soft soil (bearing capacity) and stability of the pile. Analysis uses the element method to the help of plaxis software to find the value of safety, deformation, and voltage changes in the pile built on the soft soil strengthened by geogrid. From this study it was found that the Modeling Piles 2 without Geogrid got a SF 1,0668 value and using Geogrid got a SF 1,3349 value. The safety factor of the pile of land 2 is above 1.25 which means that landslides are rare even without geogrid or use geogrid.
Stabilisasi Tanah Lempung Kota Banjarmasin dengan Penambahan Limbah Gypsum sebagai Timbunan Dasar (Subgrade) Muzaidi, Irwandy; Fitriansyah, Muhammad; Anggarini, Elia; Fauza, Zainul Azmul
Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil UMS 2024: Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil UMS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kota Banjarmasin merupakan daerah berjenis tanah aluvial yang didominasi struktur lempung yang memiliki daya dukung dan stabilitas tanah yang rendah. Tanah di Kota Banjarmasin dianggap tidak sesuai untuk digunakan dalam pekerjaan konstruksi perkerasan jalan jika digunakan sebagai bahan timbunan pondasi bawah (subbase). Oleh karena itu diperlukan stabilisasi tanah untuk meningkatkan kapasitas dukung pada tanah agar dapat digunakan untuk memenuhi suatu kebutuhan bahan konstruksi. Metode penelitian yang digunakan adalah dengan mencampur variasi limbah gypsum + tanah asli sebesar 3%, 6%, dan 9% dengan masa perawatan 7 hari dan 14 hari. Hasil penelitian menunjukan bahwa nilai CBR terbesar didapat pada penambahan limbah gypsum 6%, adapun CBR soaked diperoleh dengan nilai tanah asli + limbah gypsum 0% sebesar 8,44%, tanah asli + limbah gypsum 3% sebesar 13,46% (peram 7 hari) 14,53% ( peram 14 hari). Tanah asli + limbah gypsum 6% sebesar 18,43% (peram 7 hari), 19,97% (peram 14 hari). Tanah asli + limbah gypsum 9% sebesar 13,34% (peram 7 hari), 14,76% (peram 14 hari). Sehingga komposisi Tanah lempung Banjarmasin dapat digunakan sebagai bahan timbunan dasar.
Analisis Stabilitas Lereng pada Tanah Lempung Lunak Kabupaten Kapuas dengan Perkuatan Geocell menggunakan Program Plaxis dan Metode Fellenius Fitriansyah, Muhammad; Kurniawan, Khairul; Anggarini, Elia; Muzaidi, Irwandy
Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil UMS 2024: Prosiding Seminar Nasional Teknik Sipil UMS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lereng merupakan permukaan tanah yang memiliki kemiringan tertentu dari bidang horizontal. Faktor yang dapat menyebabkan terjadinya longsor berasal dari struktur lereng itu sendiri, seperti kemiringan dan karakteristik tanah atau batuan dari lereng. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui angka faktor keamanan lereng dengan kondisi eksisting dan mengetahui angka faktor keamanan setelah diperkuat dengan geocell secara horizontal sebanyak 1 lapis, 2 lapis, 3 lapis, 5 lapis, dan 7 lapis menggunakan program Plaxis dan perhitungan manual menggunakan Metode Fellenius. Hasil angka faktor keamanan yang diperoleh dari analisis dengan program Plaxis pada kondisi eksisting adalah 1,0877, untuk geocell 1 lapis sebesar 1,4283, geocell 2 lapis sebesar 1,4894, untuk geocell 3 lapis sebesar 1,5592, untuk geocell 5 lapis sebesar 1,7521, dan untuk geocell 7 lapis sebesar 2,1431. Sedangkan angka faktor keamanan melalui perhitungan manual menggunakan Metode Fellenius pada kondisi eksisting adalah 0,9499, untuk geocell 1 lapis sebesar 1,0540, untuk geocell 2 lapis sebesar 1,1818, untuk geocell 3 lapis sebesar 1,3247, untuk geocell 5 lapis sebesar 1,6553, dan untuk geocell 7 lapis sebesar 2,0459. Dari hasil analisis tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan geocell sebanyak 3 lapis secara horizontal sebagai perkuatan lereng menunjukan hasil yang paling efisien untuk diaplikasikan pada lereng tersebut.