Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM KHR. ABDULLAH BIN NUH Ismail Syakban; Muchlis Muchlis
TAJDID: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol 5 No 1 (2021): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v5i1.629

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemikiran pendidikan KH.Raden Abdullah Bin Nuh yang merupakan salah satu ulama Jawa Barat dan termasuk tokoh pembaharu pendidikan Islam yang berhasil mengembangkan lembaga pendidikan non-pemerintah (swasta), dan mengembangkan lembaga pendidikan formal dan non-formal.Gagasan dan pemikiran pendidikan KHR. Abdullah Bin Nuh secara implisit dapat ditelusuri dari berbagai karya tulis seta akrivitasnya. Dari berbagai judul buku yang ditulisnya tersebut secara eksplisit tidak ada yang berjudul pendidikan dalam arti ilmu pendidikan, yang dijumpai dalam buku tersebut adalah nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan kedalam jiwa masyarakat.Dengan demikian, Abdullah Bin Nuh dapat dikatakan sebagai praktisi pendidikan, yaitu orang yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk mendidik masyarakat. Pemikiran pendidikan KHR. Abdullah bin Nuh lebih mengutamakan akhlak (tasawuf). Hal ini terwujud dari berbagai pengalaman dan pendalaman berbagai disiplin ilmu.karya Al- Ghazali banyak memberikan ide dalam menerbitkan gagasan-gagasan konsep pendidikan KHR.Abdullah Bin Nuh. Ini terbukti dengan nama-nama lembaga pendidikan diantaranya: Pesantren Al-Ghazali, Majlis Ta‟lim Al-Ihya yang keduanya berada di kota Bogor. Beliau juga menterjemahkan beberapa kitab karangan Al-Ghazali seperti: Minhajul „abidin, sebagian dari kitab Ihya „ulumuddin, serta materi yang menjadi bahan kajian mengkhususkan merujuk kitab Al-Ghazali.
ETIKA BERBICARA DALAM KELUARGA BERSAMA RADIO 93.0 RESPON FM RADIONYA KELURAGA ANDA Firdaus .; Dini Susanti; Vini Wela Septiana; Ismail Syakban; Thaheransyah .; Syaflin Halim
Abdi Dosen : Jurnal Pengabdian Pada Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : LPPM Univ. Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (428.11 KB) | DOI: 10.32832/abdidos.v5i1.849

Abstract

Keluarga adalah lingkungan sosial terkecil di dalam masyarakat dimana setiap anggotanya terikat oleh hubungan pernikahan dan darah. Dalam konteks pendidikan, keluarga adalah lingkungan utama yang pertama kalinya memberikan bekal pendidikan kepada anak dalam berbagai aspek kehidupan, terutama dalam hal pendidikan sosial- kemasyarakatan. Pendidikan dalam keluarga yang paling utama adalah dalam hal membentuk akhlak anak-anak sebagai bekal mereka dalam menghadapi kehidupannya kelak.Setiap keluarga, khususnya keluarga muslim, kedua orangtua tentu saja berharap anak-anak mereka memiliki akhlak yang baik (akhlakul karimah). Dalam hal ini, pola komunikasi dalam hal ini merupakan etika berbicara dalam keluarga memegang peranan yang sangat penting. Etika berbicara yang baik, menggabungkan antara komunikasi verbal dan non verbal, komunikasi individu dan kelompok, ikut menentukan bagaimana akhlak seorang anak dibentuk. Subjek dalam pengabdian ini merupakan para pendengar Radio 93,0 Respon FM. Dengan pemilihan subjek ini, karena Radio ini mempunyai program yang sangat bagus yaitu tentang keluarga. Maka dipilihlah radio ini. Pendekatan yang dilakukan melalui Radio 93,0 Respon FM ini pendengar terutama untuk warga /masyarakat Kasang Kab. Padang Pariaman agar bisa memahami hubungan baik dalam keluarga. Proses kegiatan ini yang diawali dengan Penyampaian materi, mendemonstrasikan, dan tanya jawab secara langsung.
Studi Kritis Terhadap Konsep Pendidikan Anak Berperspektif Gender Ismail Syakban
Jurnal Kajian dan Pengembangan Umat Vol 3, No 2 (2020): Vol. 3, No. 2 Desember 2020
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31869/jkpu.v3i2.2326

Abstract

Abstrak Pendidikan Islam yang bertujuan untuk membentuk manusia yang baik, termasuk anak-anak menjadi kabur dan bermasalah untuk memahami munculnya kesetaraan gender yang mengusung feminisme. Pada liberalisme dan patriarki, menyerukan kesetaraan dan kesetaraan di semua bidang kehidupan (rumah tangga dan publik). Konsekuensinya, tatanan kehidupan yang sudah mapan akan segera berubah karena sudah tidak relevan lagi dengan perkembangan sosial budaya masyarakat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis apa yang dimaksud dengan konsep pendidikan berperspektif gender dan gambaran pendidikan Islam terhadap pendidikan anak berperspektif gender. Metode yang digunakan dalam skripsi ini adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif. Sumber data yang berasal dari data primer dan sekunder disajikan secara deskriptif, kemudian dianalisis (deskriptif-analitik) dengan menggunakan metode analisis isi. Hasil penelitian ini menemukan bahwa konsep perspektif gender dalam pendidikan anak merupakan suatu konsep pendidikan yang bertujuan untuk membentuk peserta didik dalam pola perspektif kehidupan relasi gender, sadar akan pluralisme, dan anti diskriminasi atas dasar apapun; agama, ras, etnis, dan jenis kelamin. Dengan demikian, konsep takik pemerataan ini terbentuk antara pria dan wanita muda yang berdiri sejajar. anak didik memiliki pemahaman bahwa posisi kehidupan sosial manusia adalah sama dan tidak boleh berbeda. Kurikulum materi berupaya merombak semua hal yang dianggap bias gender, seperti dalam soal ibadah misalnya thaharah, sholat, puasa, haji, nikah, dan lain sebagainya. Metode penerapannya, dilakukan melalui perombakan terhadap bahan ajar yang ada di buku teks karena dianggap bias gender dan menghasut diskriminasi terhadap siswa. Dalam pandangan Islam (Islamic Worldview) konsep kesetaraan gender dalam pendidikan anak salah dan menyimpang. Dia menyimpang nilai-nilai Islam berdasarkan wahyu. Sebab, ia hanya melihat aspek temporal dan mengabaikan aspek ukhrawi. Persamaan dan perbedaan peran dan status siswa (laki-laki dan perempuan) hanya dianggap sebagai konstruksi sosial budaya dan produk sejarah yang dapat berubah seiring perkembangan zaman. Oleh karena itu, konsep feminisme lahir dari pemahaman hakikatnya yang melanggar kreasi kodrat dan kodrat anak yang pada dasarnya memiliki keragaman dan perbedaan. Ia juga mengabaikan materi pendidikan yang sangat mendasar untuk pengembangan kepribadian anak, seperti pendidikan iman, emosional, dan pendidikan penalaran intelektual. Kata Kunci: Gender, Seks, Feminisme, Kesetaraan Gender, Pandangan Islam
The Educational Strategy of Pesantren through OSDAP (Darussalam Parmeraan Santri Organization) in Anticipating Bullying Among Santri: Strategies for Prevention and Intervention Mgr Sinomba Rambe; Faizah Nur Atika; Ismail Syakban; Muhammad Nizar Al Bashir; Al Jihadul Haq; Ahmad Rizki
Ta’dib : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 14 No. 2 (2025): Ta'dib: Jurnal Pendidikan Islam
Publisher : Fakultas Tarbiyah dan Kegurusn Universitas Islam Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/tjpi.v14i2.7397

Abstract

The escalation of bullying in educational settings poses a serious threat to students’ character development. This study aims to analyze anti-bullying prevention and intervention strategies implemented at Pondok Pesantren Darussalam Parmeraan through the Darussalam Parmeraan Student Organization (OSDAP). Using a qualitative case study approach, data were collected through observation, interviews, and document analysis. The findings reveal that OSDAP functions as an effective institutional agent in fostering anti-bullying awareness by organizing structured student forums that encourage empathy, emotional expression, and peer solidarity. These efforts are strengthened by firm pesantren regulations with educational sanctions and the systematic internalization of Islamic values—particularly compassion, tolerance, and respect—across academic, extracurricular, and mosque-based activities. This study demonstrates that anti-bullying education in pesantren operates as an integral component of holistic Islamic character education rather than as an isolated disciplinary measure. The integration of moral instruction, organizational involvement, and religious practices contributes to the creation of a safe educational environment and the development of students’ social responsibility and moral resilience.
Readiness (Kesiapan Belajar) dalam Perspektif Psikologi Pendidikan Islam: Kajian Deskriptif Terhadap Konsep, Faktor dan Implikasinya Fitri Anita; Delfi Yatri; Erna Yulis; Ismail Syakban; Julhadi
PEDAGOGIC: Indonesian Journal of Science Education and Technology Vol. 6 No. 3 (2026): PEDAGOGIC: Indonesian Journal of Science Education and Technology (In-Press)
Publisher : Lembaga Intelektual Muda (LIM) Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54373/ijset.v6i3.5833

Abstract

This study aims to describe the concept of learning readiness from the perspective of Islamic educational psychology through a qualitative descriptive approach. The method used is library research by reviewing various scientific sources in the form of books, journal articles, and relevant academic documents in the last five years. Data were collected through documentation techniques and analyzed using content analysis through the stages of data reduction, classification, interpretation, and drawing conclusions. The results of the study indicate that learning readiness from an Islamic perspective encompasses not only physical and intellectual readiness, but also emotional, social, and spiritual readiness of students. The concept of learning readiness in Islamic education is based on the values ​​of tazkiyatun nafs, sincerity of intention, and the formation of morals in the process of seeking knowledge. Factors that influence learning readiness include physical and psychological conditions, the learning environment, previous experiences, motivation, and spirituality. The implications of this study emphasize that the learning process in Islamic education needs to pay attention to student readiness holistically through adaptive learning strategies, providing motivation, and strengthening spiritual values. This study is expected to enrich the study of Islamic educational psychology, particularly regarding the concept of integrative and humanistic learning readiness.
PEMIKIRAN PENDIDIKAN ISLAM KHR. ABDULLAH BIN NUH Ismail Syakban; Muchlis Muchlis
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 5 No. 1 (2021): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v5i1.629

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pemikiran pendidikan KH.Raden Abdullah Bin Nuh yang merupakan salah satu ulama Jawa Barat dan termasuk tokoh pembaharu pendidikan Islam yang berhasil mengembangkan lembaga pendidikan non-pemerintah (swasta), dan mengembangkan lembaga pendidikan formal dan non-formal.Gagasan dan pemikiran pendidikan KHR. Abdullah Bin Nuh secara implisit dapat ditelusuri dari berbagai karya tulis seta akrivitasnya. Dari berbagai judul buku yang ditulisnya tersebut secara eksplisit tidak ada yang berjudul pendidikan dalam arti ilmu pendidikan, yang dijumpai dalam buku tersebut adalah nilai-nilai luhur yang harus ditanamkan kedalam jiwa masyarakat.Dengan demikian, Abdullah Bin Nuh dapat dikatakan sebagai praktisi pendidikan, yaitu orang yang mengabdikan seluruh jiwa dan raganya untuk mendidik masyarakat. Pemikiran pendidikan KHR. Abdullah bin Nuh lebih mengutamakan akhlak (tasawuf). Hal ini terwujud dari berbagai pengalaman dan pendalaman berbagai disiplin ilmu.karya Al- Ghazali banyak memberikan ide dalam menerbitkan gagasan-gagasan konsep pendidikan KHR.Abdullah Bin Nuh. Ini terbukti dengan nama-nama lembaga pendidikan diantaranya: Pesantren Al-Ghazali, Majlis Ta?lim Al-Ihya yang keduanya berada di kota Bogor. Beliau juga menterjemahkan beberapa kitab karangan Al-Ghazali seperti: Minhajul „abidin, sebagian dari kitab Ihya „ulumuddin, serta materi yang menjadi bahan kajian mengkhususkan merujuk kitab Al-Ghazali.
Development of Muhammadiyah Teaching Materials Based on Learning Innovation Ismail Syakban; Dewi Rahmayani; Syarifah Sriwahyuni; Zaniar Zaniar
Studi Multidisipliner: Jurnal Kajian Keislaman Vol 13, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Islam Negeri Syekh Ali Hasan Ahmad Addary Padngsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/multidisipliner.v13i1.18462

Abstract

This research aims to develop teaching materials for Muhammadiyah courses that are oriented towards digital learning innovation and blended learning in the Muhammadiyah Higher Education environment. This research is motivated by the still dominant use of conventional lecture methods and the limitations of the use of interactive digital media in Muhammadiyah learning. Based on initial observations of three lecturers and twenty students of the Islamic Religious Education Study Program at the University of Muhammadiyah West Sumatra, it was found that most students considered the learning process less interesting, while lecturers still faced obstacles in integrating technology-based learning approaches effectively. This research uses a Research and Development (R&D) approach with the Borg and Gall model which is adapted into four stages, namely needs analysis, product design, limited trials, and evaluation and revision. The product developed is different from existing teaching materials because it integrates progressive Islamic values, interactive digital content, reflective learning activities, and blended learning models that combine synchronous and asynchronous learning. Research data was collected through observation, interviews, questionnaires, and limited product trials. Student engagement is measured through indicators of participation, interaction, learning motivation, and assignment completion during learning implementation. The results of the study show that the teaching materials developed are able to increase student participation and strengthen understanding of the ideological values and praxis of Muhammadiyahan. However, this study also found several limitations, such as the limited number of participants, the context of research that was only conducted at one institution, and the difference in the level of digital literacy between lecturers and students. These findings show that the development of digital teaching materials based on Progressive Islamic values has the potential to increase the relevance and effectiveness of Muhammadiyah learning, although broader testing is needed to assess the sustainability and generalization of research results.