Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Pengaruh Kombinasi Pijat Punggung dan Listening Theraphy terhadap Produksi Air Susu Ibu Pada Ibu Pasca Salin di Yogyakarta Kadek Yuke Widyantari; Djaswadi Djaswadi; Menik Sri Daryanti
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia (JIKSI) Vol 3, No 1 (2022): JURNAL ILMU KESEHATAN INDONESIA (JIKSI)
Publisher : Univeristas Mitra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pemberian Air Susu Ibu (ASI) bisa menjadi tidak mudah bagi seorang ibu, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan karena perasaan ibu dapat menghambat pengeluaran hormon oksitosin yang berperan dalam prosuksi ASI, bila ibu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai bentuk ketegangan emosional dapat menurunkan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pijat punggung dan Listening Therapy terhadap produksi ASI ibu pasca salin. Dengan desain penelitian quasi experimental with post test-only non equivalent group design. Jumlah sampel adalah 40 ibu postpartum, dibagi kedalam dua kelompok, kelompok kontrol (20) dan kelompok intervensi (20). Temuan dari penelitian ini, pada analis bivariat ditemukan bahwa intervensi kombinasi pijat punggung dan listening therapy tidak berpengaruh signifikan secara statistik dengan produksi ASI (p>0,05) RR 3,273. Namun pada analisis multivariat ditemukan pengaruh yang signifikan antara pemberian intervensi dengan produksi ASI (p<0,05) RR 13,790. Frekuensi menyusui dan paritas merupakan confounding terhadap kelancaran produksi ASI, AOR frekuensi menyusui 9,289 dan AOR paritas 4,750. Simpulan dari penelitian ini, pemberian intervensi kombinasi pijat punggung dan listening therapy memiliki peluang 13,8 kali untuk terjadinya ASI lancar dibandingkan dengan intervensi pijat punggung saja, kemudian frekuensi menyusui dan paritas berkontribusi terhadap kelancaran produksi ASI ibu postpartum. Diharapkan Puskesmas dapat membuat suatu kebijakan mengenai pemberian terapi komplementer untuk membantu ibu postpartum yang berkaitan dengan produksi ASI, terutama bagi ibu postpartum yang beresiko memiliki ASI tidak lancar.Kata Kunci : Pijat punggung, Listening therapy, Produksi ASI
Penerapan Balutan Kompresi Pada Ulkus Kaki: Literature Review Shanty Chloranyta; Kadek Yuke Widyantari; Tiara Rica Dayani
Malahayati Nursing Journal Vol 4, No 3 (2022): Volume 4 Nomor 3 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (251.365 KB) | DOI: 10.33024/mnj.v4i3.6012

Abstract

ABSTRACT Common chronic wounds are foot ulcers. Foot ulcers that do not heal most often result from venous insufficiency. The treatment that can be applied to treat chronic wounds caused by damage to the veins is by reducing distension of the leg veins and accelerating venous blood flow. The purpose of this review article is to determine the appropriate application of compression dressings on foot ulcers based on previous studies. In this review article, the author uses three databases, namely Ebscohost, Google scholar, and Pubmed. From the search results, articles are selected based on their suitability to the specified topic and keywords. From the search results, articles are selected based on their suitability to the specified topic and keywords. The inclusion criteria were articles discussing venous le ulcers, compression bandaging, randomized control trials and systematic reviews or meta-analyses for the search year 2016-2021, and full-text journals. The exclusion criteria were that the article was not in full text, not in accordance with the research objectives. The findings from this article review are the analysis of the appropriate dressing used on venous ulcers due to venous insufficiency is a four-layer compression bandage. 4 layer compression dressing can increase wound healing time and reduce wound size. The healing time of leg ulcers due to venous insufficiency with four-layer compression increased wound healing time with an average healing time of 73.6 ± 14.64 days in the four-layer group and decreased wound size from 5 to 10 cm 2 . Compression dressings are effectively applied to venous leg ulcers. Keywords: 4 layer compression, venous leg ulcer, wound healing time ABSTRAK Luka kronis umumnya yang terjadi yakni ulkus kaki. Ulkus kaki yang tidak sembuh sebagian besar dapat diakibatkan oleh insufisiensi vena. Upaya yang dapat diterapkan untuk mengobati luka kronis akibat kerusakan vena adalah dengan mengurangi distensi vena tungkai dan memperlancar aliran darah vena. Tujuan dari review artikel ini adalah untuk mengetahui penerapan balutan kompresi yang tepat pada ulkus kaki berdasarkan penelitian-penelitian yang sudah dilakukan sebelumnya. Dalam review artikel ini, penulis menggunakan tiga database yaitu Ebscohost, Google cendekia, dan Pubmed. Dari hasil penelusuran, dipilih  artikel berdasarkan   kesesuaian dengan topik dan kata kunci yang ditetapkan. Kriteria inklusi yakni artikel yang mendiskusikan tentang vena leg ulcer, compression bandaging, random control trial dan systematic review atau meta analysis tahun pencarian 2016-2021, dan jurnal fulltext. Kriteria eksklusi yakni artikel tidak fullteks, tidak sesuai dengan tujuan penelitian.   Temuan dari review artikel ini adalah analisis balutan yang tepat digunakan pada ulkus vena akibat insufisiensi vena yakni balutan kompresi 4 layer. Balutan kompresi 4 layer dapat meningkatkan waktu penyembuhan luka dan menurunkan ukuran luka. Waktu penyembuhan luka ulkus kaki akibat insfisiensi vena dengan kompresi 4 layer meningkatkan waktu penyembuhan luka dengan rentang waktu rerata penyembuhan adalah 73,6 ± 14,64 hari pada kelompok 4 lapis dan menurunkan ukuran luka dari 5 hingga 10 cm2. Balutan kompresi 4 lapis lebih efektif diterapkan pada ulkus vena kaki. Kata kunci: kompresi 4 layer, venous leg ulcer, waktu penyembuhan luka
Pengaruh Kombinasi Pijat Punggung dan Listening Theraphy terhadap Produksi Air Susu Ibu Pada Ibu Pasca Salin di Yogyakarta Kadek Yuke Widyantari; Djaswadi Djaswadi; Menik Sri Daryanti
Jurnal Ilmu Kesehatan Indonesia Vol 3, No 1 (2022): JURNAL ILMU KESEHATAN INDONESIA (JIKSI)
Publisher : Univeristas Mitra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pemberian Air Susu Ibu (ASI) bisa menjadi tidak mudah bagi seorang ibu, produksi ASI sangat dipengaruhi oleh faktor kejiwaan karena perasaan ibu dapat menghambat pengeluaran hormon oksitosin yang berperan dalam prosuksi ASI, bila ibu dalam keadaan tertekan, sedih, kurang percaya diri dan berbagai bentuk ketegangan emosional dapat menurunkan produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kombinasi pijat punggung dan Listening Therapy terhadap produksi ASI ibu pasca salin. Dengan desain penelitian quasi experimental with post test-only non equivalent group design. Jumlah sampel adalah 40 ibu postpartum, dibagi kedalam dua kelompok, kelompok kontrol (20) dan kelompok intervensi (20). Temuan dari penelitian ini, pada analis bivariat ditemukan bahwa intervensi kombinasi pijat punggung dan listening therapy tidak berpengaruh signifikan secara statistik dengan produksi ASI (p0,05) RR 3,273. Namun pada analisis multivariat ditemukan pengaruh yang signifikan antara pemberian intervensi dengan produksi ASI (p0,05) RR 13,790. Frekuensi menyusui dan paritas merupakan confounding terhadap kelancaran produksi ASI, AOR frekuensi menyusui 9,289 dan AOR paritas 4,750. Simpulan dari penelitian ini, pemberian intervensi kombinasi pijat punggung dan listening therapy memiliki peluang 13,8 kali untuk terjadinya ASI lancar dibandingkan dengan intervensi pijat punggung saja, kemudian frekuensi menyusui dan paritas berkontribusi terhadap kelancaran produksi ASI ibu postpartum. Diharapkan Puskesmas dapat membuat suatu kebijakan mengenai pemberian terapi komplementer untuk membantu ibu postpartum yang berkaitan dengan produksi ASI, terutama bagi ibu postpartum yang beresiko memiliki ASI tidak lancar.Kata Kunci : Pijat punggung, Listening therapy, Produksi ASI
Faktor-faktor yang Berhubungan dengan Kejadian Hipertensi pada Ibu Hamil Tiara Rica Dayani; Kadek Yuke Widyantari
Journal of Language and Health Vol 4 No 1 (2023): Journal of Language and Health
Publisher : CV. Global Health Science Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37287/jlh.v4i1.1611

Abstract

Hipertensi pada ibu hamil merupakan peningkatan tekanan darah yang menyebabkan komplikasi pada kehamilan. Penyakit ini sering disebut The Silent Killer karena merupakan pembunuh tersembunyi dan menyebabkan berbagai komplikasi terhadap beberapa penyakit lain. Faktor-faktor yang menyebabkan hipertensi pada ibu hamil diantaranya faktor umur, paritas, dan riwayat persalinan yang lalu. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi terhadap ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Pekalongan Lampung Timur. Metode penelitian ini menggunakan analitik kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian sebanyak 168 ibu hamil dengan teknik simple random sampling secara acak dengan cara undian dengan sampel 118 responden. Dari analisa data univariat didapatkan proporsi ibu hamil dengan hipertensi (66%), proporsi usia ibu hamil beresiko (77%), proporsi paritas beresiko (75%), dan riwayat hipertensi (69%). Hasil uji statistik chi square menunjukkan hubungan antara usia ibu hamil dengan kejadian hipertensi dengan (ρ=0,003), hubungan antara paritas ibu hamil dengan kejadian hipertensi (ρ= 0,010), dan hubungan antara riwayat hipertensi pada ibu hamil dengan kejadian hipertensi (ρ = 0,000). Kesimpulan penelitian ini menunjukkan adanya hubungan antara usia, paritas, dan riwayat hipertensi dengan kejadian hipertensi pada ibu hamil dengan hasil uji p value ≤ α (0,05) sehingga Ho ditolak dan Ha diterima.
SCOPING REVIEW: PENGARUH KEBERADAAN PELAYANAN OBSTETRI NEONATAL EMERGENCY KOMPREHENSIF (PONEK) TERHADAP DERAJAT KESEHATAN IBU Kadek Yuke Widyantari; Tiara Rica Dayani
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 10, No 4 (2023): Volume 10 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v10i4.9733

Abstract

Abstrak: Pengaruh Keberadaan Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif (PONEK) Terhadap Derajat Kesehatan Ibu: Scoping Review. Penyediaan fasilitas PONEK diharapkan mampu menangani kasus rujukan yang tidak mampu dilakukan petugas kesehatan di tingkat layanan primer, sehingga dapat menekan morbiditas dan mortalitas maternal dan neonatal. Namun AKI di Indonesia masih cukup tinggi yaitu 305/100.000 KH. Fasilitas PONEK merupakan bagian dari sistem rujukan dalam kegawatdaruratan maternal yang sangat berperan dalam menurunkan AKI. Review ini bertujuan untuk melakukan pengkajian mengenai pengaruh keberadaan PONEK terhadap derajat kesehatan ibu di beberapa negara. Metode yang digunakan adalah scoping review ini, penulis mengidentifikasi studi yang menjelaskan pengaruh keberadaan PONEK terhadap derajat kesehatan ibu dari tiga database (PubMed, Wiley, dan Science Direct). Pencarian dibatasi pada studi yang diterbitkan dalam bahasa Inggris dan periode publikasi 2013-2023. Studi yang teridentifikasi ditinjau menggunakan PRISMA Flowchart. Dari total 9 (sembilan) artikel yang direview ditemukan dua subtema yaitu, ketersediaan PONEK yang memadai baik dari segi fasilitas dan kompetensi SDM PONEK dapat meningkatkan derajat kesehatan ibu (menurunnya mortalitas, meningkatnya persalinan di institusional, dan menurunnya angka rujukan) dan jika tersedianya PONEK tanpa fasilitas yang tidak optimal dan kompetensi SDM yang rendah dapat memperburuk derajat kesehatan maternal (meningkatnya mortalitas dan meningkatnya angka rujukan). Kesimpulan: dari ulasan ini, beberapa bukti menunjukkan bahwa keberadaan PONEK berkaitan secara signifikan terhadap derajat kesehatan ibu.Kata Kunci : Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif (PONEK), Kesehatan Maternal, Angka Kematian Ibu
Health Education Using the FGD Method to Increase Pregnant Women's Knowledge About Nutrition in Pregnancy Yuke Widyantari, Kadek; Yuliastuti Setioningsih, Fitri; Dita Hidayati, Rizka
Jurnal MIDPRO Vol 15 No 2 (2023): JURNAL MIDPRO
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/md.v15i2.681

Abstract

Maternal nutrition during pregnancy plays an important role in the survival of the baby in the future. Planning nutrition programs for pregnant women is important because planning nutrition programs is known as an effort to deal with nutrition-related problems experienced by toddlers. The 2022 Indonesian Nutritional Status Survey (SSGI) provides an overview of the nutritional status of toddlers in Indonesia. SSGI reports that the prevalence of stunting in Indonesia is 24.4%, which will decrease to 21.6% in 2022. Inadequate nutritional intake during infancy and childhood, recurrent infections and inadequate psychosocial stimulation at the first thousand days of life, greatly contribute to stunted growth and development in children. This research is a type of quasi-experimental research with a one group pretest and posttest design involving one group of subjects. The sampling technique in this research was accidental sampling and a sample of 35 respondents was obtained. P value 0.000, these results indicate that providing health education interventions through the FGD method is significant in increasing pregnant women's knowledge regarding balanced nutrition in pregnant women. There is an influence between health education through the FGD method on increasing pregnant women's knowledge regarding balanced nutrition in pregnancy.
Maternal risk factors for stunting in children aged 24-59 months Dayani, Tiara Rica; Widyantari, Kadek Yuke
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 13, No 3: September 2024
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v13i3.24156

Abstract

Stunting is a problem of growth and development disorders in children which is related to nutritional problems in the world. In 2022, 21.6% of children aged under five years in Indonesia were stunted. Several factors influence stunting, including environmental (social), household factors, maternal and child factors. The aim of this study was to determine maternal risk factors for stunting in children aged 24 to 59 months. This research, with a case control study design, involved 191 participants (91 stunted children and 100 non-stunting children). The results found that maternal factors associated with stunting in children aged 24-59 months included maternal height (P<0.005, OR 2.025), birth spacing (P<0.005, OR 1.912), gestational age (P<0.005, OR 2.622), history of illness during pregnancy (P<0.005, OR 2.453), and consumption of iron tablets during pregnancy (P<0.001, OR 7.600). In the multivariate analysis, consumption of iron tablets and maternal height were the factors identified as being most related to the incidence of stunting in children aged 24-59 months.
Breastfeeding Practices During The First 1000 Days And Their Long-Term Association With Stunting In Children Under Five: A Systematic Literature Review Widyantari, Kadek Yuke; Fatriani, Rully; Sari, Nirma Lidia; listiana, Akma
JKM (Jurnal Kebidanan Malahayati) Vol 11, No 7 (2025): Volume 11, Nomor 7 Juli 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkm.v11i7.21055

Abstract

Latar Belakang: Stunting merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih bertahan di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, dengan dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik dan perkembangan kognitif anak. Praktik menyusui selama 1000 Hari Pertama Kehidupan telah diidentifikasi sebagai faktor penting yang memengaruhi pertumbuhan linear, meskipun hasil penelitian sebelumnya menunjukkan temuan yang beragam.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk meninjau secara sistematis bukti terkini mengenai hubungan antara praktik menyusui selama 1000 HPK dengan risiko stunting pada anak di bawah usia lima tahun.Metode: Tinjauan literatur sistematis dilakukan mengikuti pedoman PRISMA. Pencarian dilakukan pada database PubMed, ScienceDirect, dan ProQuest, dengan batasan tahun terbit 2020–2025. Seleksi artikel menggunakan kerangka PICOS, dan penilaian kualitas menggunakan instrumen dari Joanna Briggs Institute.Hasil: Sebanyak 12 artikel memenuhi kriteria inklusi. ASI eksklusif secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko stunting. Inisiasi menyusui dini bersifat protektif, sementara menyusui lebih dari 12 bulan pada keluarga berpenghasilan rendah dikaitkan dengan peningkatan risiko stunting akibat rendahnya keberagaman makanan. MP-ASI yang tidak memadai, berat badan lahir rendah, dan infeksi berulang turut memperburuk risiko.Kesimpulan: Praktik menyusui yang optimal selama 1000 HPK sangat penting untuk mencegah stunting. Keberhasilan menyusui perlu didukung oleh pendidikan ibu, pemberian MP-ASI yang sesuai, serta intervensi multifaktorial.Saran: Diperlukan program edukasi yang berkelanjutan bagi ibu mengenai praktik menyusui dan pemberian MP-ASI yang tepat, serta kebijakan yang mendukung intervensi lintas sektor untuk menanggulangi faktor risiko stunting secara komprehensif. Kata Kunci: menyusui, stunting, 1000 hari, MP-ASI, nutrisi dini, pertumbuhan anak ABSTRACT Background: Stunting remains a persistent public health issue in low- and middle-income countries, with long-term consequences for children's physical and cognitive development. Breastfeeding during the first 1000 days has been identified as a critical factor influencing linear growth, though previous studies have yielded mixed findings.Objective: This study aims to systematically review recent evidence on the relationship between breastfeeding practices during the first 1000 days and the risk of stunting among children under five.Methods: A systematic literature review was conducted using the PRISMA framework. Articles were retrieved from PubMed, ScienceDirect, and ProQuest, limited to studies published between 2020 and 2025. The PICOS model guided the inclusion criteria, and the Joanna Briggs Institute checklist was used for quality appraisal.Results: Twelve articles met the inclusion criteria. Exclusive breastfeeding was consistently associated with reduced stunting risk. Early initiation of breastfeeding had a protective effect, whereas prolonged breastfeeding beyond 12 months in poor households increased stunting risk, likely due to poor dietary diversity. Inadequate complementary feeding, low birth weight, and recurrent infections further compounded the risk.Conclusion: Optimal breastfeeding during the first 1000 days significantly reduces the risk of stunting. However, successful breastfeeding requires maternal education, appropriate complementary feeding, and multifactorial interventions.Suggestion: Sustainable maternal education programs and integrated policy support are essential to promote optimal feeding practices. Multisectoral interventions addressing nutrition, healthcare access, food security, and sanitation are recommended to effectively reduce stunting rates in vulnerable populations. Keywords: breastfeeding, stunting, 1000 days, complementary feeding, early nutrition, child growth
Peningkatan Kapasitas Kader Posyandu melalui Program KP-SEMAI Berbasis Edukasi Gizi 1000 HPK di Desa Sinar Harapan, Pesawaran Widyantari, Kadek Yuke; Jasa, Novi Eniastina; Ravidea, Radella
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol. 8 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Universitas Baiturrahim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v8i1.1034

Abstract

Stunting remains a major nutritional problem in Indonesia that has long-term impacts on human resource quality. The limited capacity of community health volunteers (posyandu cadres) in providing nutrition education and family assistance contributes to the low effectiveness of stunting prevention programs at the community level. The KP-SEMAI Program (Kader Peduli – Sinergi Edukasi Masyarakat dan Aksi Intervensi) was implemented to enhance cadres’ knowledge and skills in nutrition education using innovative educational media. The program was conducted over three months (July–September 2025) in Sinar Harapan Village, Kedondong Subdistrict, Pesawaran Regency, involving 25 posyandu cadres and 100 families with children under two years old. The activities consisted of training using the SAYANGI module (Sadar ASI, Yakin, Andalkan, Giat Menyusui), field mentoring, and evaluation through pre- and post-tests. The results showed an increase in cadres’ average knowledge scores from 55 to 75 (a 37% improvement), along with a 23% increase in family participation in posyandu activities. In addition, the program produced several innovative outputs, including the SAYANGI module, family nutrition flipcharts, and an MP-ASI educational animation video utilized by Kedondong Primary Health Center as a continuous learning medium. The KP-SEMAI program effectively strengthened community nutrition literacy, enhanced cadres’ competencies, and supported the national stunting reduction initiative at the village level
BREASTFEEDING PRACTICES AND HISTORY OF INFECTIOUS DISEASES AS DETERMINANTS OF STUNTING AMONG CHILDREN AGED 12–59 MONTHS IN PESAWARAN REGENCY Widyantari, Kadek Yuke; Hidayati, Rizka Dita; Fatriani, Rully
Siklus : Journal Research Midwifery Politeknik Tegal Vol 15, No 1 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Politeknik Harapan Bersama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30591/siklus.v15i1.9853

Abstract

Stunting remains a public health problem in Indonesia, especially in rural areas. Breastfeeding practices and infectious diseases play an important role in child growth. This study aims to analyse the relationship between breastfeeding practices and infectious disease history with stunting in children aged 12–59 months in Pesawaran District. This study used a case-control design with 210 respondents (105 stunted, 105 not stunted) selected through purposive sampling. Data were collected through interviews and anthropometric measurements according to WHO standards. Analysis was performed using chi-square tests and multiple logistic regression. There was a significant relationship between breastfeeding practices and history of infectious diseases with the incidence of stunting (p0.05). Children who did not receive exclusive breastfeeding had a two times higher risk of stunting (AOR=2.10; 95% CI: 1.13–3.88). Children without a history of acute respiratory infections had a lower risk of stunting (AOR=0.48; 95% CI: 0.26–0.88). Exclusive breastfeeding and prevention of infectious diseases are important factors in preventing stunting. Efforts to educate on breastfeeding, improve clean and healthy living behaviours, and prevent infections need to be strengthened at the family and community levels.