Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

VISI DAN STRATEGI KEPEMIMPINAN KRISTEN Missa, Antonius
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 1 (2024): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.6, No.1, December 2024)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v6i1.212

Abstract

Dasar kepemimpinan Kristen adalah berlandaskan ajaran Kitab Suci. Secara khusus, premis mengenai pemimpin dalam kepemimpinan. Kepemimpinan Kristen didasarkan atas premis utama, yaitu bahwa Tuhan, oleh kehendak-Nya yang berdaulat, menetapkan serta memilih setiap individu dalam konteks pelayanan menjadi pemimpin Kristen. Namun di era milenial ini kepemimpinan Kristen seolah hilang influensanya, oleh karena tidak memiliki visi dan strategi yang benar berdasarkan Kitab Suci, sehingga tidak heran apabila terjadi degradasi yang tajam. Para pemimpin pun tidak memiliki moral yang sesuai dengan standar Tuhan. Dalam penelitian ini untuk memperoleh hasil dari permasalahan ini digunakan metode kualitatif kepustakaan untuk mengumpulkan teori dan dapat merumuskan visi dan strategi kepemimpian dalam sebuah organisasi Kristen yang baik dan benar.
Implikasi Teologis Pelayan Tahbisan Perempuan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Gatotan Surabaya: The Theological Implications of Female Ordination in the Pentecostal Church of Surabaya Central (GPPS) Gatotan Surabaya Mauk, Yedida; Simangunsong, Amran; Missa, Antonius
Journal of Religious and Socio-Cultural Vol 6 No 1 (2025): Journal of Religious and Socio-Cultural Vol.6 No.1 (April 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Widya Agape dan Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/jrsc.v6i1.275

Abstract

The Church is rooted in life and proclamation through the events of Jesus' death, resurrection, and the sending of the Holy Spirit to the disciples. The sending of the disciples after Pentecost established various ministries within the church, such as prophets, apostles, evangelists, pastors, and teachers. These ministries are integrated into the role of the pastor, also referred to as the ordained minister. Ordained ministers are chosen by the church or synod if they have received the sacrament of Holy Communion, been baptized, and meet the church's requirements. Ordained ministry is open to both genders, men and women. However, churches have often adopted a patriarchal view, considering men as the suitable candidates for ordained ministry due to their role as the first creation of God, with authority and a direct reflection of God's image and glory. This perspective was previously upheld by the Pentecostal Church of Surabaya Central (GPPS) Gatotan, where patriarchy was prioritized, making it difficult for women to serve as ordained ministers. Feminist theology critiques this patriarchal dominance, particularly in the context of ordained ministry within the church, focusing on GPPS Gatotan. Through a hermeneutic analysis of official church documents, GPPS Gatotan recognized the importance of the role of female ordained ministers as part of the inclusive message of the Gospel. This research contributes to understanding how feminist theology can challenge patriarchal structures and promote gender inclusivity in church leadership, especially within Pentecostal contexts. Gereja berakar dari hidup dan pewartaan melalui peristiwa kematian Yesus, kebangkitan-Nya, dan pengutusan Roh Kudus kepada para murid. Pengutusan para murid setelah Pentakosta membentuk berbagai jawatan dalam gereja, seperti nabi, rasul, penginjil, gembala, dan pengajar. Kelima jawatan ini termasuk dalam jabatan gereja yang disebut dengan Pelayan Tahbisan. Pelayan Tahbisan dipilih oleh gereja atau Sinode Gereja setelah memenuhi syarat sakramen Perjamuan Kudus, baptisan, dan persyaratan gereja lainnya. Jabatan ini terbuka untuk kedua gender, baik laki-laki maupun perempuan. Namun, gereja sering kali memandang jabatan ini melalui kacamata patriarki, dengan anggapan bahwa laki-laki lebih layak karena dianggap sebagai manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, memiliki wibawa, dan menggambarkan kemuliaan Allah secara langsung. Pandangan ini diterapkan di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Gatotan, yang memprioritaskan patriarki, sehingga peran perempuan sebagai Pelayan Tahbisan sulit diterima. Teologi feminis hadir untuk mengkritisi dominasi patriarki dalam pelayanan tahbisan di gereja, khususnya di GPPS Gatotan. Melalui analisis hermeneutik terhadap dokumen resmi gereja, GPPS Gatotan menyadari pentingnya peran pelayan tahbisan perempuan sebagai bagian dari pesan Injil yang inklusif. Penelitian ini berkontribusi dalam memahami bagaimana teologi feminis dapat menantang struktur patriarki dan mendorong inklusivitas gender dalam kepemimpinan gereja, khususnya dalam konteks gereja Pantekosta.
Allah, Al-Ilah, and Allahumma: The Arabic Language Usage before the 9th century AD in the Christian-Muslim Middle Eastern Bulan, Susanti Embong; Prihantoro, Yogi; Missa, Antonius; Putrawan, Bobby Kurnia
Wawasan: Jurnal Ilmiah Agama dan Sosial Budaya Vol 8 No 2 (2023)
Publisher : the Faculty of Ushuluddin, UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jw.v8i2.13896

Abstract

This research investigates the usage of the terms Allah, Al-Ilah, and Allahumma in the Christian-Muslim Middle Eastern context before the 9th century AD. The aim of this study is to trace the historical development and theological implications of these terms within Arabic-speaking Christian and Muslim communities. The research method employed is a literature review, focusing on historical documents and inscriptions. The findings reveal that these terms were used in both religious traditions, indicating a shared linguistic and cultural heritage. Generalising these unique terms across both religions has been a major source of misunderstanding. This discussion remains relevant, not only in the context of Christian and Islamic religious language but also in the general use of Arabic within churches that use the Arabic language today, such as the Syrian and Coptic Churches in the Middle East. This article elucidates that Arab Christian communities are considered a missing link between the Christian and Islamic worlds. The research shows that the same ritual words—Allah, Al-Ilah, and Allahumma—were used before the advent of Islam. Through these Arab Christian communities, various points of contact and examples of tolerance and understanding can be clearly developed. This study contributes to a foundational theological understanding shared between Christianity and Islam, fostering interfaith dialogue and mutual respect.
STUDI KOMPARATIF TENTANG KEMESIASAN YESUS DALAM PERSPEKTIF YUDAISME, DITINJAU DARI KITAB YESAYA 53:1-12 Payer, Maria; Yewangoe, A.A.; Missa, Antonius
Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol. 6 No. 2 (2025): Didache: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen (Vol.6, No.2, June 2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Moriah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55076/didache.v6i2.379

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep Mesias dalam tradisi Yudaisme yang diinterpretasikan melalui teks Yesaya 53:1-12, serta melihat perbandingan interpretasi konsep Mesias tersebut dengan Kekristenan. Dengan menggunakan metode komparatif, Penelitian ini membandingkan berbagai tafsiran rabinik terhadap Yesaya 53 dengan doktrin kemesiasan Yesus seperti yang tercermin dalam Injil-Injil Perjanjian Baru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun ada kesamaan dalam aspek-aspek tertentu dari sifat dan peran Mesias, terdapat perbedaan mendasar dalam cara kedua tradisi memahami konteks dan makna dari nubuat tersebut. Dalam tradisi Yudaisme, Yesaya 53 sering diartikan sebagai referensi kepada Israel sebagai “Hamba Tuhan” dan bukan individu Mesias. Sebaliknya, Kekristenan melihat Yesus sebagai penggenapan nubuat tersebut melalui perannya sebagai penyelamat dan pembebas umat manusia. This thesis examines the Messiahship of Jesus from the perspective of Judaism with a focus on Isaiah 53:1-12. This research aims to analyze how the concept of Messiah in the Judaic tradition is interpreted through the text of Isaiah 53, as well as how this interpretation compares with the understanding of Jesus' messiahship in Christianity. Using the comparative method, this thesis compares the various rabbinic interpretations of Isaiah 53 with the doctrine of Jesus' messiahship as reflected in the New Testament Gospels. The results show that while there are similarities in certain aspects of the nature and role of the Messiah, there are fundamental differences in the way the two traditions understand the context and meaning of the prophecy. In the Judaic tradition, Isaiah 53 is often interpreted as a reference to Israel as the "Servant of the Lord" and not the individual Messiah. In contrast, Christianity sees Jesus as the fulfillment of the prophecy through his role as the savior and liberator of humanity.
Refleksi Teologis Matius 5:31-32 Dalam Memahami dan Mengkontekstualisasi Perceraian dan Pernikahan Kembali di Jemaat GBI Moriah Rote Sina, Rolan Marthin; Yewangoe, Andreas; Missa, Antonius
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 5 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i5.15836

Abstract

Tujuan Penelitian ini adalah untuk merefleksikan pengaruh ajaran Matius 5:31-32 terhadap pemahaman jemaat dan praktik perceraian dan pernikahan kembali di GBI Moriah Rote. penelitian ini sangat urgen karena banyak kasus yang terjadi ketika jemaat bercerai dan ingin menikah lagi, namun ditolak oleh gereja dengan berbagai alasan, sehingga mengakibatkan jemaat terlantar tanpa arah yang jelas. Akibat lain jika tidak di nikahkan kembali, maka akan terjadi perzinahan, pemerkosaan, hamil di luar nikah dan akibat yang paling fatal adalah jemaat bisa berpindah keyakinan, karena tidak diperhatikan oleh gereja. Untuk itu, peneliti menjadi salah satu perpanjangan tangan Tuhan di bumi, maka peneliti melihat bahwa perlu di adakan penelitian lapangan untuk menggali permasalahan lebih mendalam mengenai perceraian dan pernikahan kembali di dalam GBI Moriah Rote. Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan ini adalah metode kualitatif dan eksegese yang meliputi metode pengumpulan data, waktu dan lokasi penelitian, informan penelitian, instrumen penelitian, Eksegese serta teknis analisa data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa agama Kristen menolak perceraian dan pernikahan kembali karena melanggar norma agama, namun secara sosial peneliti menemukan bahwa perceraian dan pernikahan kembali diperbolehkan karena terjadi pelanggaran serius seperti perzinahan, pengabaian tanggung jawab secara ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga dan sebagainya. oleh karena itu, perceraian dan pernikahan kembali sebagai solusi bagi korban untuk menghindari pelanggaran sosial yang baru.
Memetakan Tantangan Pendidikan Kristiani bagi Remaja Menghadapi Gaya Hidup Era Society 5.0 Saputro, Joko; Missa, Antonius; Sitinjak, Abraham Pontius
Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 7, No 2: September 2022
Publisher : Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/rfidei.v7i2.145

Abstract

This paper describes the impact of the emergence of Society 5.0, a new civilization in the information age. Today humans are faced with a completely new situation in the arena of history. With the presence of Society 5.0, it is hoped that the community can solve various social challenges and problems by utilizing various innovations born in the Industrial Revolution 4.0. This is a new civilization, a new world, a time in which a human-centered society balances economic progress with the resolution of social problems by a system that integrates cyberspace and physical space. Society 5.0 will balance economic development and solve social problems. Then, is it true that Society 5.0 will bring progress for the benefit of many people? Civilization Society 5.0 is an answer as well as new challenges that have emerged as a result of the era of the Industrial Revolution 4.0, which was accompanied by disruption marked by a world full of turmoil, uncertainty, complexity, and ambiguity, of course, it is a new hope for families to educate their children so as not to experience disruption. This research method is the theological method in Christian religious education. Through this paper, the authors put conceptual ideas for Christian religious education, especially in building a harmonious family, and several solutions to the challenges of the civilization of Society 5.0.  AbstrakDengan kehadiran Society 5.0 diharapkan masyarakat dapat menyelesaikan berbagai tantangan dan permasalahan sosial dengan memanfaatkan berbagai inovasi yang lahir di era Revolusi industri 4.0. Inilah sebuah peradaban dunia baru, sebuah masa di mana masyarakat berpusat pada manusia yang menyeimbangkan kemajuan ekonomi dengan penyelesaian masalah sosial oleh sistem yang mengintegrasikan ruang dunia maya dan ruang fisik. Lalu, apakah benar bahwa Society 5.0 akan membawa kemajuan bagi kemaslahatan orang banyak? Tulisan ini bertujuan mengurai dampak yang ditimbulkan akibat dari kemunculan Society 5.0 yang merupakan peradaban baru di era informasi. Metode penelitian ini adalah metode analitis teologis bidang pendidikan agama Kristen. Melalui tulisan ini penulis menaruh gagasan konseptual bagi Pendidikan agama Kristen khususnya dalam membangun keluarga harmonis, serta beberapa solusi dalam menyambut tantangan yang didapat dari peradaban Society 5.0. Hasil penelitian ini adalah Peradaban Society 5.0 merupakan jawaban sekaligus tantangan baru yang muncul akibat era Revolusi Industri 4.0 yang dibarengi disrupsi yang ditandai dunia yang penuh gejolak, ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas, tentu saja itu merupakan harapan baru bagi keluarga-keluarga untuk mendidik anak-anaknya agar tidak mengalami disrupsi. Society 5.0 menyeimbangkan pembangunan ekonomi dan menyelesaikan masalah sosial. 
ANALISIS ETIS TEOLOGIS KEPEMIMPINAN EVANGELIKAL DALAM MERESPON KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN DI KALANGAN PEMIMPIN GEREJA DI BANTEN Maitri, Rico Pratama; Missa, Antonius; Singal, Youke; Malau, Maya; Lumintang, Ramly D.
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.29287

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meresponi kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Gembala dan Pelayan Tuhan terhadap Jemaat khususnya perempuan terlebih yang masih di bawah umur di lingkungan Gereja di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif. Pengumpulan data dengan studi pustaka dan wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan kepada Para Pendeta yang berperan sebagai Gembala Jemaat, Pembimas Kristen Banten yang mewakili unsur pemerintah, dan juga Pelayan Tuhan yang tidak berjabatan sebagai Gembala atau Pendeta Jemaat, serta Jemaat biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Gereja-Gereja di Banten pada umumnya menerapkan kepemimpinan Evangelikal, dengan prinsip dasar takut akan Tuhan. Ini dibuktikan dengan sikap hidup Gembala yang menjaga kekudusan. Gereja tidak mentolerir tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Gembala. Gembala harus memakai kehendak bebasnya untuk memuliakan Tuhan. Secara etis teologis, Gembala yang melakukan kekerasan seksual itu merusak gambar Allah, sehingga tidak layak memegang jabatan kependetaan. Jadi Gembala atau Pendeta yang melakukan kekerasan seksual, maka jabatan kependetaannya harus ditanggalkan. Dengan kesadarannya, ia dapat mengakui kesalahannya, melakukan pertobatan, menerima sanksi hukum dan adat yang berlaku, serta menyediakan diri untuk digembalakan.