Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pengaruh Penggunaan Permainan Puzzle dalam Pendidikan Agama Kristen untuk Meningkatkan Kemampuan Kognitif pada Anak Berkebutuhan Khusus Kase, Adelsi; Malau, Maya; Liantoro, Liantoro; Soukotta, Dunant F.
Indonesian Journal of Religious Vol. 4 No. 2 (2021): Indonesian Journal of Religious, Vol.4, No.2 (October 2021)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v4i2.4

Abstract

In today's life we ​​know that in the development of children with special needs have obstacles and cognitive aspects are one of the delays so that it affects concentration disorders. Children with special needs are children who have emotional, physical, mental, intellectual, social and growth disorders compared to other children of the same age so that they need special attention. In the learning process of children with special needs, concentration disorders are very important so that with fun games they will have the intention to learn while playing. The purpose of this paper is to find out what the effect of games on the cognitive abilities of autistic children. Christian Religious Education has a goal which is to sponsor people towards a mature Christian faith as a living reality. We are now able to describe the characteristics of such a life of faith and the educational task they provide. The method used is a qualitative method with the type of literature study carried out by reading and taking notes and collecting data from books and journals. Teachings from PAK have a good impact on every child who is educated because the material in PAK makes the character of a child more formed so that when children grow up they will have good character even though there are some who have not applied CRE in their lives.   Kehidupan saat ini kita tahu bahwa dalam perkembangannya anak berkebutuhan khusus memiliki hambatan dan aspek kognitif merupakan salah satu keterlambatan sehingga berpengaruh dengan adanya gangguan konsentrasi. Anak berkebutuhan khusus adalah anak-anak yang mempunyai kelainan baik itu emosional, fisik, mental, intelektual, sosial dan pertumbuhan mereke dibandingkan dengan anak-anak lain yang sama umurnya sehingga mereka memerlukan perhatian khusus. Dalam proses belajar anak berkebutuhan khusus, gangguan konsentrasi merupakan yang sangat penting sehingga dengan adanya permainan yang menyenangkan akan membuat mereka memiliki niat untuk belajar sambil bermain. Tujuan dari tulisan ini adalah untuk mengetahui apa pengaruh permainan bagi kemampuan kognitif anak autis. Pendidikan Agama Kristen memiliki tujuan yaitu adalah untuk mensponsori orang-orang ke arah iman Kristen yang dewasa sebagai realitas yang hidup. Kita sekarang berada pada posisi untuk mengambarkan ciri-ciri kehidupan iman yang demikian dan tugas pendidikan yang mereka berikan. Metode yang digunakan yaitu metode kualitatif dengan jenis studi pustaka yang dilakukan dengan cara membaca dan mencatat serta mengumpulkan data dari buku maupun jurnal. Ajaran dari PAK memberikan dampak baik bagi setiap anak yang dididik karena materi yang ada di dalam PAK membuat karakter seorang anak akan semakin terbentuk sehingga ketika anak-anak tumbuh mereka akan memiliki karakter yang baik meskipun ada sebagian yang belum mengaplikasikan PAK dalan kehidupannya.
Peran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Pembentukan Karakter Siswa Menurut H.A.R. Tilaar Anderson Ndolu; Malau, Maya; Manik, Novida Dwici Yuanri; Iswahyudi, Iswahyudi
Indonesian Journal of Religious Vol. 5 No. 1 (2022): Indonesian Journal of Religious, Vol.5, No.1 (April 2022)
Publisher : LPPM - Sekolah Tinggi Teologi Indonesia Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ijr.v5i1.14

Abstract

Christian religious education has a goal, namely, to enable people to live as Christians, namely, to live according to the Christian faith. The role of Christian religious educators is to lead people out of darkness into the Kingdom of God in Jesus. In the scriptures we find a vision of God's own plan for all mankind and creation, greetings to which Jesus the great teacher teaches His good news. It is hoped that Christian religious education teachers can carry out their duties with a sense of responsibility in accordance with educational goals and create a generation that has noble character, is responsible and has the character of Christ. The role of this Christian religious education teacher also raises a big theme in character education written by the nation's educator H.A.R. Tilaar who provides character education to strengthen the character of local culture. The purpose of this study was to determine the extent of the role of Christian religious education teachers in shaping the character of students according to H.A.R. Tilaar. Christian teachers form good characters to live in God. Living in God is not just an outward appearance, but living in God through living characters, works and thoughts that lead to God's words. The implication of a character who loves God is directly related to the character-building role of Christian education.   Pendidikan agama Kristen memiliki tujuan yaitu untuk memampukan orang-orang hidup sebagai umat Kristen, yakni hidup sesuai iman Kristen. Peran pendidik agama Kristen adalah untuk menuntun orang-orang keluar dari kegelapan menuju Kerajaan Allah di dalam Yesus. Dalam kitab suci kita mendapatkan visi rencana Allah sendiri bagi seluruh manusia dan ciptaan, salam kesinambungannya Yesus sang guru agung mengajarkan kabar baik-Nya. Diharapkan guru pendidikan agama Kristen mampu melaksanakan tugasnya dengan rasa tanggung jawab sesuai dengan tujuan pendidikan dan menciptakan generasi yang berakhlak mulia, bertanggungjawab dan memiliki karakter Kristus. Peran guru pendidikan agama Kristen ini juga mengangkat tema besar dalam pendidikan karakter yang dituliskan oleh pendidik bangsa H.A.R. Tilaar yang memberikan pendidikan karakter menguatkan karakter budaya lokal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui sejauh mana peran guru pendidikan agama Kristen dalam pembentukan karakter peserta didik menurut H.A.R. Tilaar. Guru Kristen membentuk karakter yang baik untuk hidup dalam Tuhan. Hidup dalam Tuhan bukan hanya sekadar penampakan luar, tetapi hidup dalam Tuhan melalui karakter hidup, karya serta pemikiran yang mengarah pada firman Tuhan. Implikasi dari karakter yang mengasihi Tuhan secara langsung terkait pada peran membangun karakter dari pendidikan Kristen.
Implementasi Teori Kognitif Dan Spiritualitas Dalam Sekolah Tinggi Teologi Lentjang , Sofiah; Malau, Maya; Krisdiantoro, Andreas Bayu; Soukotta, Dunant F.; Winda, Winda
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 1 No. 1 (2023): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Humanities (November 2023)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/ptaki.v1i1.4

Abstract

Education that only emphasizes cognitive theory but only prioritizes spirituality in the Theological College, students will become spiritually dry. Of course he will probably master all the theory in the lesson but not have a good moral spirituality. A student who does not understand the purpose of spirituality in his life will not be able to develop the knowledge they get. As we know science without good spirituality, namely not following the example of Jesus Christ and not obeying God's Word, unable to practice a good spiritual life in daily life will be blind and paralyzed. As students at the Theological College, the Lord Jesus wants us to do the right thing by following his example so that we become like Him. Considering the current decline in the spiritual life of Christians, the emphasis on spirituality based on God's word needs to be increased. So this journal was created so that teachers or lecturers, pastors and prospective pastors in Christian religious education at the Theological College prioritize the spiritual life of their students in the Christian education process.   Pendidikan yang hanya mementingkan teori kognitif tetapi hanya sedikit mengutamakan spiritualitas dalam Sekolah Tinggi Teologi, maka peserta didik akan menjadi kering kerohaniannya. Tentunya dia mungkin akan menguasai semua teori dalam pelajaran namun tidak memiliki moral spiritualitas yang baik. Seseorang peserta didik yang tidak memahami tujuan spiritualitas dalam hidupnya maka tidak akan mampu mengembangkan pengetahuan yang mereka dapat. Seperti yang kita ketahui ilmu tanpa adanya spiritualitas yang baik yaitu tidak mengikuti teladan Yesus Kristus dan tidak mentaati Firman Tuhan, tidak dapat mempraktikkan kehidupan spiritualitas yang baik dalam kehidupannya sehari-hari maka akan buta dan lumpuh. Sebagai peserta didik di Sekolah Tinggi Teologi, Tuhan Yesus ingin kita melakukan perbuatan yang benar dengan mengikuti teladannya agar kita menjadi sama seperti Dia. Mengingat kehidupan spiritualitas orang Kristen saat ini semakin menurun, maka penekanan spiritualitas yang berlandaskan firman Tuhan perlu ditingkatkan. Maka jurnal ini dibuat agar para guru atau Dosen, gembala dan calon gembala dalam pendidikan agama Kristen di Sekolah Tinggi Teologi lebih mengutamakan kehidupan rohani peserta didiknya dalam proses pendidikan Kristen.
Pengaruh Konsep Diri, Kecerdasan Emosional dengan Moral Naradidik SMA Swasta Kristen Kota Tangerang Selatan Hutabarat, Ade Raja; Malau, Maya; Duryadi, Martinus
MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social Vol. 2 No. 2 (2025): MODERATE: Journal of Religious, Education, and Social (May 2025)
Publisher : Perkumpulan Teolog Agama Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46362/moderate.v2i2.23

Abstract

This research examines the moral degradation among Indonesian teenagers, especially Christian students in South Tangerang Christian High School. Although Indonesia is known for its natural wealth and the friendliness of its people, various criminal acts such as violence, drug abuse, free sex, corruption, and juvenile crime continue to increase. Data shows a significant increase in juvenile criminal behavior from 695 cases in 2011 to 1,434 cases in 2018. This research is field and library research with a regression approach to investigate the influence between self-concept, emotional intelligence, and adolescent morale. The research sample consisted of 100 private high school students in South Tangerang City who were selected using simple random sampling technique. Data analysis was conducted using multiple linear regression. The results showed that the influence of the self-concept variable on the morale of naradidik had a regression coefficient of 0.698 and a significance of 0.000, showing a significant effect with a calculated t value of 8.425 greater than the t table of 1.975. The influence of the emotional intelligence variable on the morals of naradidik has a regression coefficient of 0.278 and a significance of 0.000, showing a significant effect with a t value of 3.991 greater than the t table 1.975. The results of the F test showed a calculated f value of 82.241 and a significance of 0.000, indicating that self-concept and emotional intelligence have a simultaneous effect on the morals of student. The findings highlight the importance of the role of parents and the school environment in shaping adolescents' morals, as well as how self-concept and emotional intelligence contribute to their moral behavior. This research underscores the importance of synergy between home and school education and the need to strengthen moral education in the school curriculum to address the morality issues faced by Indonesia's youth.   Contribution: This research contributes the significant impact of self-concept and emotional intelligence on the moral behavior of Christian high school students in South Tangerang. It emphasizes the importance of positive self-concept, emotional intelligence, and the synergy between family and school in shaping adolescent morals.   Penelitian ini mengkaji degradasi moral di kalangan remaja Indonesia, khususnya pelajar Kristen di SMA Kristen Tangerang Selatan. Meskipun Indonesia dikenal karena kekayaan alam dan keramahan penduduknya, berbagai tindakan kriminal seperti kekerasan, penyalahgunaan obat, seks bebas, korupsi, dan kejahatan remaja terus meningkat. Data menunjukkan peningkatan signifikan dalam perilaku kriminal remaja dari 695 kasus pada 2011 menjadi 1.434 kasus pada 2018. Penelitian adalah penelitian Lapangan dan Pustaka menggunakan pendekatan pengumpulan dan analisis data pendekataan kuantitatif dengan  Regresi untuk menyelidiki pengaruh antara konsep diri, kecerdasan emosional, dan moral naradidik. Populasi SMA di Tangerang Selatan, sampel penelitian terdiri dari 100 peserta didik  yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Analisis data dilakukan menggunakan regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengaruh variabel konsep diri terhadap moral naradidik memiliki koefisien regresi 0,698 dan signifikansi 0,000, menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai t hitung 8,425 lebih besar dari t tabel 1,975. Pengaruh variabel kecerdasan emosional terhadap moral naradidik memiliki koefisien regresi 0,278 dan signifikansi 0,000, menunjukkan pengaruh signifikan dengan nilai t hitung 3,991 lebih besar dari t tabel 1,975. Hasil uji F menunjukkan nilai f hitung 82,241 dan signifikansi 0,000, yang mengindikasikan bahwa konsep diri dan kecerdasan emosional berpengaruh simultan terhadap moral naradidik. Temuan  menyoroti pentingnya peran orang tua dan lingkungan sekolah dalam membentuk moral remaja, serta bagaimana konsep diri dan kecerdasan emosional berkontribusi terhadap perilaku moral naradidik. Penelitian ini menggaris-bawahi pentingnya sinergi antara pendidikan di rumah dan sekolah serta perlunya memperkuat pendidikan moral dalam kurikulum sekolah untuk mengatasi masalah moralitas yang dihadapi oleh generasi muda Indonesia.   Kontribusi: Penelitian ini berkontribusi menunjukkan pengaruh signifikan konsep diri dan kecerdasan emosional terhadap perilaku moral siswa SMA Kristen di Tangerang Selatan. Penelitian ini menekankan pentingnya konsep diri yang positif, kecerdasan emosional, dan sinergi antara keluarga dan sekolah dalam membentuk moral remaja.
Sumbangsih Pendidikan Israel Kuno Dalam Pendidikan Agama Kristen Pada Anak Singal, Youke L.; Tanasyah, Yusak; Malau, Maya; Bulan, Susanti Embong
Harati: Jurnal Pendidikan Kristen Vol 3 No 1 (2023): HaratiJPK: April
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Kristen IAKN Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/harati.v3i1.126

Abstract

This study explores the contribution of education in ancient Israel and its application to Christian education for children today. The study begins by examining the education system in ancient Israel, including the role of parents, religious leaders, and formal institutions in imparting knowledge and moral teachings. Taking lessons from the ancient Israelites, the study then explores how these principles can be applied to Christian education today. It examines the role of parents, teachers, and the church community in fostering a nurturing and holistic educational environment. It also investigates the use of Scripture, prayer, worship, and ministry to engage children in their faith journey. The purpose of this study emphasizes the value of integrating educational wisdom and practices in ancient Israel into modern Christian education. By adopting a holistic approach that combines Scripture, experiential learning, community engagement, and character building, Christian educators can provide a solid foundation for children to develop lifelong faith, moral values, and a living relationship with God. This study used a literature review research method that investigated books and journals related to ancient Israeli education. Studi ini mengeksplorasi kontribusi pendidikan di Israel kuno dan penerapannya pada pendidikan Kristen untuk anak-anak saat ini. Studi dimulai dengan mengkaji sistem pendidikan di Israel kuno, termasuk peran orang tua, pemimpin agama, dan lembaga formal dalam menyampaikan pengetahuan dan ajaran moral. Mengambil pelajaran dari bangsa Israel kuno, penelitian ini kemudian mengeksplorasi bagaimana prinsip-prinsip ini dapat diterapkan pada pendidikan Kristen saat ini. Ini mengkaji peran orang tua, guru, dan komunitas gereja dalam membina lingkungan pendidikan yang mengasuh dan holistik. Itu juga menyelidiki penggunaan Kitab Suci, doa, ibadah, dan pelayanan sebagai sarana untuk melibatkan anak-anak dalam perjalanan iman mereka. Tujuan dari penelitian ini menekankan nilai integrasi kebijaksanaan dan praktik pendidikan di Israel kuno ke dalam pendidikan Kristen modern. Dengan mengadopsi pendekatan holistik yang menggabungkan Kitab Suci, pengalaman belajar, keterlibatan masyarakat, dan pembentukan karakter, pendidik Kristen dapat memberikan landasan yang kokoh bagi anak-anak untuk mengembangkan iman seumur hidup, nilai-nilai moral, dan hubungan yang hidup dengan Tuhan. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kajian pustaka yang menyelidiki buku-buku dan jurnal yang berkaitan dengan pendidikan Israel kuno.
ANALISIS ETIS TEOLOGIS KEPEMIMPINAN EVANGELIKAL DALAM MERESPON KEKERASAN SEKSUAL TERHADAP PEREMPUAN DI KALANGAN PEMIMPIN GEREJA DI BANTEN Maitri, Rico Pratama; Missa, Antonius; Singal, Youke; Malau, Maya; Lumintang, Ramly D.
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.29287

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meresponi kasus kekerasan seksual yang dilakukan oleh Gembala dan Pelayan Tuhan terhadap Jemaat khususnya perempuan terlebih yang masih di bawah umur di lingkungan Gereja di Indonesia. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif. Pengumpulan data dengan studi pustaka dan wawancara mendalam. Wawancara mendalam dilakukan kepada Para Pendeta yang berperan sebagai Gembala Jemaat, Pembimas Kristen Banten yang mewakili unsur pemerintah, dan juga Pelayan Tuhan yang tidak berjabatan sebagai Gembala atau Pendeta Jemaat, serta Jemaat biasa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Gereja-Gereja di Banten pada umumnya menerapkan kepemimpinan Evangelikal, dengan prinsip dasar takut akan Tuhan. Ini dibuktikan dengan sikap hidup Gembala yang menjaga kekudusan. Gereja tidak mentolerir tindakan kekerasan seksual yang dilakukan oleh Gembala. Gembala harus memakai kehendak bebasnya untuk memuliakan Tuhan. Secara etis teologis, Gembala yang melakukan kekerasan seksual itu merusak gambar Allah, sehingga tidak layak memegang jabatan kependetaan. Jadi Gembala atau Pendeta yang melakukan kekerasan seksual, maka jabatan kependetaannya harus ditanggalkan. Dengan kesadarannya, ia dapat mengakui kesalahannya, melakukan pertobatan, menerima sanksi hukum dan adat yang berlaku, serta menyediakan diri untuk digembalakan.