Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Teknologi Perbanyakan Beberapa Isolat Cendawan Antagonis Trichoderma spp. Melalui Pengembangan Metode Inokulasi dan Pemanfaatan Limbah Jagung Erawati, Dyah Nuning; Aziza, Pasha Nur; Usken Fisdiana; Ramadhan Taufika; Purwandarini, Anggi Arsy
Agriprima : Journal of Applied Agricultural Sciences Vol 9 No 1 (2025): MARCH
Publisher : Politeknik Negeri Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25047/agriprima.v9i1.715

Abstract

Trichoderma spp. adalah mikroba tanah yang memiliki kemampuan antagonis yang tinggi terhadap patogen tanaman. Karakteristik spesifik isolat Trichoderma sangat bergantung pada jenis inang dan lokasi asal isolat sehingga memerlukan metode perbanyakan massal yang efektif untuk menjaga ketersediaan inokulum di lapang. Tongkol jagung dapat dimanfaatkan sebagai media tanam Trichoderma spp. karena mengandung kandungan nutrisi yang cukup untuk mendukung pertumbuhannya serta dapat mengurangi limbah pasca panen jagung. Penelitian bertujuan untuk a) menganalisis pengaruh asal isolat Trichoderma spp. terhadap pertumbuhan dan produksi konidia, b) menganalisis metode inokulasi terhadap pertumbuhan dan produksi konidia Trichoderma spp., c) menganalisis interaksi antara asal isolat Trichoderma spp. dan metode inokulasi terhadap potensi pertumbuhan dan produksi konidia yang paling optimal. Kegiatan dilakukan pada bulan Juni – November 2024 dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial yang terdiri atas 2 faktor. Faktor pertama adalah asal isolat Trichoderma spp. dan faktor kedua adalah metode inokulasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Asal isolat Trichoderma spp. yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap produksi konidia dengan kerapatan konidia tertinggi terdapat pada isolat yang diisolasi dari tanah kebun kopi Laboratorium Puslit Kopi dan Kakao Jember dengan nilai rata-rata 1.74 x 109 konidia/ml pada 14 hsi; 2) Metode inokulasi Trichoderma spp. yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap produksi konidia dengan kerapatan konidia tertinggi terdapat pada metode tusuk dengan 1.28 x 109 konidia/ml pada 14 hsi; 3) Interaksi antara asal isolat Trichoderma spp. dengan metode inokulasi yang diperbanyak secara massal berpengaruh terhadap pertumbuhan yang mencapai kisaran pertumbuhan koloni 69% - 99% pada 42 hsi.
Edukasi pengendalian hama Oryctes rhinoceros Sebagai upaya mendukung pertanian berkelanjutan di Desa Menampu Kecamatan Gumukmas Kabupaten Jember Taufika, Ramadhan; Erawati, Dyah Nuning; Fisdiana, Usken; Hartatie, Dian
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 3 (2025): May
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i3.30873

Abstract

Abstrak Produksi kelapa di Indonesia mengalami fluktuasi. Penyebab fluktuasi produksi kelapa yaitu mayoritas petani di Indonesia belum melakukan budidaya tanaman kelapa berbasis Good Agriculture Practice (GAP). Budidaya tanaman kelapa berbasis GAP masih belum optimal diimplementasikan karena petani belum mampu melakukan pemilihan dan seleksi benih, persemaian benih, pembibitan, serta cara pemeliharaan tanaman kelapa. Kecamatan Gumukmas merupakan salah satu daerah dengan penghasil buah kelapa yang rendah dibandingkan dengan daerah lain di Kabupaten Jember. Minimnya pengetahuan dan ketrampilan mitra dikarenakan masih minimnya tingkat pendidikan pada anggota mitra. Solusi untuk menyelesaikan permasalahan mitra yaitu memberikan informasi dan pengetahuan kepada mitra. Tahap kegiatan meliputi koordinasi rencana kegiatan, Go Desa dan Course Day, serta evaluasi dan monitoring. Hasil dari pelaksanaan kegiatan pengabdian adalah pengetahuan mitra mengenai pengendalian hama Oryctes rhinoceros meningkat. Hal ini dilihat dari sesi tanya jawab serta hasil pretest dan post test mitra pada saat pengabdian. Hasil akhir pengabdian ini mitra memiliki motivasi kuat untuk melakukan pengendalian hama O. rhinoceros berbasis GAP. Kata kunci: kelapa; pengendalian; pengetahuan; produksi. Abstract Coconut production in Indonesia fluctuates. The cause of the fluctuation in coconut production is that the majority of farmers in Indonesia have not yet cultivated coconut plants based on Good Agriculture Practice (GAP). GAP-based coconut cultivation has not been optimally implemented because farmers have not been able to select and select seeds, seed nurseries, nurseries, and how to maintain coconut plants. Gumukmas District is one of the areas with low coconut production compared to other areas in Jember Regency. The lack of knowledge and skills of partners is due to the low level of education among partner members. The solution to solving partner problems is to provide information and knowledge to partners. The activity stages include coordination of activity plans, Go Desa and Course Day, as well as evaluation and monitoring. The results of the implementation of community service activities are that partner knowledge regarding Oryctes rhinoceros pest control has increased. This can be seen from the question and answer session and the results of the partner's pretest and posttest during the community service. The final result of this community service is that partners have strong motivation to carry out GAP-based O. rhinoceros pest control. Keywords: coconut; control; knowledge; production.
Edukasi budidaya kelapa (Cocos nucifera L.) menggunakan teknik good agriculture practice di kecamatan Gumukmas kabupaten Jember Taufika, Ramadhan; Fisdiana, Usken; Humaida, Siti; Rahmawati, Dwi; Erawati, Dyah Nuning
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 8, No 1 (2024): March
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v8i1.21619

Abstract

Abstrak Produksi kelapa di Kabupaten Jember setiap tahun mengalami fluktuasi karena beberapa faktor. Salah satu penyebab yaitu mayoritas petani di Indonesia belum melakukan teknik budidaya kelapa menggunakan aplikasi Good Agriculture Practice (GAP). Kecamatan Gumukmas merupakan salah satu daerah dengan penghasil kelapa yang rendah dibandingkan dengan daerah lain di Kabupaten Jember. Hasil analisis situasi melalui wawancara dengan Ketua Gapoktan Jaya Makmur di Desa Menampu, Kecamatan Gumukmas diketahui permasalahan yang terjadi terkait produksi kelapa yang rendah adalah mitra memiliki pengetahuan yang rendah terkait budidaya kelapa. Informasi lain yang diperoleh dari mitra Gapoktan Jaya Makmur Desa Menampu Kecamatan Gumukmas, mulai dari tahun 1990 sejak introduksi kelapa di Kecamatan Gumukmas, budidaya kelapa yang dilakukan oleh mitra secara mandiri dan tidak ada edukasi dari pihak terkait. Solusi untuk menyelesaikan permasalahan mitra antara lain memberikan informasi dan pengetahuan kepada mitra. Langkah tersebut dilaksanakan oleh tim pengabdi dengan memberikan edukasi tentang budidaya Kelapa Dalam menggunakan aplikasi GAP mulai dari tahap persemaian benih, pembibitan, serta pemeliharaan kelapa pada fase Tanaman Menghasilkan. Tahap kegiatan meliputi koordinasi rencana kegiatan, edukasi budidaya kelapa menggunakan teknik GAP, serta evaluasi. Hasil dari pelaksanaan kegiatan pengabdian adalah pengetahuan mitra mengenai budidaya kelapa meningkat. Hal ini dilihat dari sesi tanya jawab serta hasil pretest dan post test mitra pada saat pengabdian. Hasil akhir pengabdian ini mitra berkeinginan untuk budidaya kelapa dengan teknik GAP. Kata kunci: budidaya; edukasi; kelapa; pengetahuan; permasalahan Abstract Coconut production in Jember Regency fluctuates every year due to several factors. One of the reasons is that the majority of farmers in Indonesia have not implemented coconut cultivation techniques using the Good Agriculture Practice (GAP) application. Gumukmas District is one of the areas with low coconut production compared to other areas in Jember Regency. The results of the situation analysis through interviews with the Chair of Gapoktan Jaya Makmur in Menampu Village, Gumukmas District revealed that the problem that occurs related to low coconut production is that partners have low knowledge regarding coconut cultivation. Other information obtained from partners of Gapoktan Jaya Makmur, Menampu Village, Gumukmas District, starting from 1990 since the introduction of coconut in Gumukmas District, coconut cultivation was carried out by partners independently and there was no education from related parties. Solutions to resolve partner problems include providing information and knowledge to partners. This step was carried out by the service team by providing education about Deep Coconut cultivation using the GAP application starting from the seed sowing, nursery and coconut maintenance stages in the Producing Plants phase. The activity stage includes coordination of activity plans, education on coconut cultivation using the GAP technique, and evaluation. The result of implementing community service activities is that partners' knowledge regarding coconut cultivation increases. This can be seen from the question and answer session as well as the results of the partners' pretest and posttest during the service. The final result of this service is that partners wish to cultivate coconuts using the GAP technique. Keywords: cultivation; coconuts; education; knowledge; problems