Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Formulasi Eau de Parfum Berbahan Dasar Minyak Atsiri Khas Sukabumi sebagai Repellent terhadap Aedes aegypti Yuniarti, Nia; Anwar, Devi Indah; Khumaisah, Lela Lailatul
JC-T (Journal Cis-Trans): Jurnal Kimia dan Terapannya Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : State University of Malang or Universitas Negeri Malang (UM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um0260v7i22023p007

Abstract

Minyak atsiri, selain digunakan sebagai repellent (penolak nyamuk) juga digunakan sebagai bahan parfum. Tanaman penghasil minyak atsiri yang banyak tumbuh di daerah Sukabumi di antaranya adalah kapulaga (Amomum cardamomum). Pada penelitian ini dibuat formulasi parfum berbahan dasar minyak atsiri khas Sukabumi yang dapat berfungsi ganda yaitu selain sebagai pewangi tubuh juga berfungsi sebagai repellent terhadap nyamuk Aedes aegypti yang merupakan vektor penyakit demam berdarah dengue. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui tingkat kesukaan (hedonik) parfum, menganalisis komponen, evaluasi kualitas, uji keamanan, dan menganalisis formula parfum yang paling efektif sebagai repellent terhadap A. Aegypti. Parfum yang dibuat adalah Eau de Parfum F1, F2, dan F3dengan 3 variasi komponen bagian parfum yang berbeda dari minyak atsiri kapulaga (A. cardamomum), lemon (Citrus limon), sereh wangi (Cymbopogon winterianus), nilam (Pogostemon cablin), dan ekstrak vanili (Vanilla planifolia). Hasil uji hedonik terhadap warna, aroma, dan kesegaran menunjukkan F2 sebagai parfum yang paling disukai panelis. Minyak kapulaga mengandung 4 komponen utama yaitu 1,8-sineol, β-pinen, 3-sikloheksen-1-metanol, dan α-pinen. Berdasarkan analisis GC-MS parfum F1, F2, dan F3 menunjukkan adanya lebih dari 20 komponen penyusun, dengan komponen utama 1,8-sineol, limonen, β-pinen, sitronelal, dimetil asetal hidroksisitronelal, etil vanillin, δ-guaien, dan patchouli alkohol. Parfum F1, F2, dan F3 memenuhi standar kualitas SNI 16-4949-1998, tidak menimbulkan iritasi dan alergi, serta memiliki aktivitas repellent terhadap A. aegypti dengan daya proteksi tertinggi pada parfum yaitu > 90% selama 1 jam dan daya proteksi rata-rata 74.8% selama 6 jam.
Program Edukasi dan Budidaya Cecenet Di Desa Gedepangrango Kabupaten Sukabumi Anwar, Devi Indah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bangsa Vol. 1 No. 9 (2023): November
Publisher : Amirul Bangun Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59837/jpmba.v1i9.464

Abstract

Salah satu bentuk pengabdian dalam catur darma Perguruan Tinggi Muhammadiyah adalah kegiatan KKN (Kuliah Kerja Nyata) yang telah dilaksanakan LPPM Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI) tahun 2019. Dimana salah satu lokasinya terletak di Desa Gedepangrango Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi. Melalui program POSDAYA Hizbatul ‘Um, dengan tema Program Sinergi Bina Rupiah Bina Ruhiyah Menuju Desa Sejahtera Mandiri. Kesadaran masyarakat tentang pentingnya zakat ditingkatkan dengan penyuluhan tentang ZIS (Zakat, Infaq dan Shodaqoh) sebagai program bina ruhiyah, sedangkan program bina rupiah berupa edukasi dan budidaya cecenet yang diambil sebagai fokus utama program kerja KKN berdasarkan identifikasi dan potensi wilayah Desa Gedepangrango serta program kerja Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi. Metode pelaksanaan KKN berupa pemberdayaan masyarakat dengan melibatkan sivitas akademik Universitas Muhammadiyah Sukabumi  (baik mahasiswa KKN maupun dosen pembimbing lapang),  aparat desa dan tokoh masyarakat, serta dinas terkait sebagai fasilitator untuk mencapai tujuan KKN yaitu masyarakat yang sejahtera dan mandiri. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap manfaat dan khasiat cecenet sehingga meningkatkan partisipasi warga untuk melakukan budidaya cecenet di tiap rumah tangga di Desa Gedepangrango Kecamatan Kadudampit Kabupaten Sukabumi.
Pemberdayaan Masyarakat melalui Zero surface Run-off di Desa Cidahu Kabupaten Sukabumi Anwar, Devi Indah; Supendi, Arif; P, M Seva Andreas
AKM Vol 5 No 2 (2025): AKM : Aksi Kepada Masyarakat Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat - Januari 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ekonomi dan Bisnis Syariah (STEBIS) Indo Global Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36908/akm.v5i2.1287

Abstract

Tingginya laju pertumbuhan penduduk ditambah dengan urbanisasi di Kawasan industri, menyebabkan peningkatan pada pemenuhan kebutuhan perumahan dan bangunan penunjang lainnya yang mengakibatkan peningkatan pada air limpasan karena banyaknya lapisan tidak tembus air dan berkurangnya jumlah lahan terbuka. Air limpasan tersebut salah satunya berasal dari air hujan yang tidak dapat tembus ke dalam tanah, melainkan langsung melimpas ke saluran drainase, sungai atau laut. Konsep surface zero run off atau biasa disederhanakan menjadi hansip (tahan dan simpan) pada kawasan rumah tinggal dan bangunan penunjang lainnya, dipandang sebagai salah satu metode pengelolaan air hujan untuk mengatasi air limpasan permukaan. Diantara kegiatan yang dilakukan berupa edukasi dan sosialisasi pembuatan sumur dan kolam resapan, pelestarian lingkungan berupa pengelolaan sampah yaitu pemisahan sampah organik, anorganik dan B3 serta daur ulang sampah dan pembersihan saluran drainase turut pula dilakukan dalam kegiatan ini untuk menunjang keberhasilan penerapan konsep surface zero run off. Desa Cidahu Kecamatan Cidahu Kabupaten Sukabumi terletak di kaki Gunung Salak, termasuk wilayah hulu di Kabupaten Sukabumi, sehingga jika air limpasan tinggi maka akan menyebabkan banjir di daerah hilir. Pemberdayaan masyarakat dilakukan melalui edukasi dan praktik langsung sehingga diharapkan dapat mengurangi air limpasan penyebab banjir ke daerah hilir.
POTENSI LIMBAH KULIT JAGUNG UNTUK ASAP CAIR SEBAGAI PENGAWET MAKANAN MELALUI METODE PIROLISIS Devi Indah Anwar; Lela Mukmilah Yuningsih; Nur Laila Arizal; Fitri Khairani Nasution
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.12420

Abstract

Kulit jagung merupakan limbah biomassa yang mengandung bahan lignoselulosa seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin. Dengan adanya kandungan bahan lignoselulosa tersebut, kulit jagung berpotensi digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan asap cair sebagai pengawet makanan melalui metode pirolisis. Asap cair merupakan produk yang diperoleh dari kondensasi uap yang dihasilkan selama pirolisis yang mengandung senyawa organik teroksidasi, seperti keton, aldehida, fenol, dan asam karboksilat. Senyawa-senyawa tersebut berperan sebagai antioksidan dan antibakteri, serta mempunyai rasa dan bau yang khas pada asap cair. Pirolisis kulit jagung dilakukan pada temperatur 75oC dan 115oC selama 2 jam, yang akan menghasilkan asap dan selanjutnya dikondensasikan menjadi asap cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan temperatur pirolisis mempengaruhi volume dan kadar asam asap cair hasil pirolisis. Pirolisis pada suhu 75oC menghasilkan 650 mL asap cair dengan kadar asam sebesar 3,3%, sedangkan pirolisis pada suhu 115oC menghasilkan 800 mL asap cair dengan kadar asam 3,8%. Berdasarkan hasil penelitian, limbah kulit jagung melalui proses pirolisis berpotensi digunakan sebagai bahan baku asap cair untuk pengawet makanan, yaitu memenuhi SNI 8985:2021 
CHARACTERIZATION OF LIQUID SMOKE FROM CORN HUSK WASTE BY PYROLYSIS AND DISTILATION METHOD Lela Mukmilah Yuningsih; Devi Indah Anwar; Nur Laila Arizal
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol 10, No 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.11125

Abstract

Asap cair merupakan cairan berwarna hitam maupun coklat berasal dari biomassa melalui proses pirolisis. Tujuan utama penelitian ini untuk mengetahui kerakteristik asap cair yang dihasilkan dari proses pirolisis dan distilasi. Bahan baku dari kulit jagung. Metode pirolisis pada temperatur 75℃ dan 115℃, dimurnikan dengan metode distilasi dengan variasi temperatur 80℃-100℃ fraksi I, 101℃-125℃ fraksi II, 126℃-150℃ fraksi III, dan 151℃-180℃ fraksi IV. Asap cair hasil pirolisis dan distilasi di uji warna, nilai pH, asam asetat dan Fenol. Berdasarkan hasil pengujian asap cair temperatur 75℃ berwarna coklat, pH 3,06, asam asetat 3,3%, Fenol 0,3173%; pada temperatur 115℃ berwarna coklat, pH 2,96, asam asetat 3,8%, Fenol 0,1564%. Asap cair temperatur 75℃ hasil distilasi berwarna kuning; pH fraksi I 2,34, fraksi II 2,25, fraksi III 2,21, fraksi IV 2,18; asam asetat fraksi I 1,9%, fraksi II 2,9%, fraksi III 3,3%, fraksi IV 4,6%; Fenol fraksi I 0,1537%, fraksi II 0,2274%, fraksi III 0,2844%, fraksi IV 0,3014%. Asap cair temperatur 115℃ hasil distilasi berwarna kuning; pH fraksi I 3,11, fraksi II 3,04, fraksi III 2,98, fraksi IV 2,74; asam asetat fraksi I 1,6%, fraksi II 1,8%, fraksi III 1,9%, fraksi IV 2,2%; Fenol fraksi I 0,1867%, fraksi II 0,1905%, fraksi III 0,2558%, fraksi IV 0,2586%. Karakteristik hasil pirolisis dan distilasi memenuhi SNI 8985:2021 dan masuk kategori grade 2. Asap cair hasil distilasi dengan urutan asam aserara dan Fenol yang paling kuat adalah fraksi IV>III>II>I . Kata kunci: Asap cair, distilasi, kulit jagung, pirolisis, Fenol.
CHARACTERIZATION OF LIQUID SMOKE FROM CORN HUSK WASTE BY PYROLYSIS AND DISTILATION METHOD Lela Mukmilah Yuningsih; Devi Indah Anwar; Nur Laila Arizal
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.12548

Abstract

Asap cair merupakan cairan berwarna hitam maupun coklat berasal dari biomassa melalui proses pirolisis. Kulit jagung merupakan salah satu sumber limbah pertanian yang melimpah di Indonesia dan belum dimanfaatkan secara optimal. Kandungan selulosa yang dimiliki kulit jagung menjadikan kulit jagung memiliki potensi sebagai bahan pembuatan asap cair. Dengan memanfaatkan kulit jagung sebagai bahan baku asap cair, penelitian ini berpotensi mengurangi limbah pertanian dan mendukung upaya inovasi dalam pengelilaan sumber daya alam. Tujuan penelitian untuk mengetahui kerakteristik asap cair yang dihasilkan dari proses pirolisis dan distilasi. Metode pirolisis pada suhu 75℃ dan 115℃, di distilasi dengan suhu 80℃-100℃ fraksi I, 101℃-125℃ fraksi II, 126℃-150℃ fraksi III, dan 151℃-180℃ fraksi IV. Pengujian meliputi uji warna, nilai pH, asam asetat dan Fenol. Hasil pengujian asap cairterbaik hasil pirolisis pada suhu 115o C berwarna coklat, pH 2,96; asam asetat 3,8%; Fenol 0,1564%. Hasil distilasi berwarna kuning; pH fraksi I 3,11; fraksi II 3,04; fraksi III 2,98; fraksi IV 2,74; asam asetat fraksi I 1,6%; fraksi II 1,8%; fraksi III 1,9%; fraksi IV 2,2%; Fenol fraksi I 0,1867%; fraksi II 0,1905%; fraksi III 0,2558%; fraksi IV 0,2586%. Karakteristik hasil pirolisis dan distilasi memenuhi SNI 8985:2021 dan masuk kategori grade 2.
POTENSI LIMBAH KULIT JAGUNG UNTUK ASAP CAIR SEBAGAI PENGAWET MAKANAN MELALUI METODE PIROLISIS Devi Indah Anwar; Lela Mukmilah Yuningsih; Nur Laila Arizal; Fitri Khairani Nasution
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i1.12551

Abstract

Kulit jagung merupakan limbah biomassa yang mengandung bahan lignoselulosa seperti selulosa, hemiselulosa dan lignin. Dengan adanya kandungan bahan lignoselulosa tersebut, kulit jagung berpotensi digunakan sebagai bahan baku dalam pembuatan asap cair sebagai pengawet makanan melalui metode pirolisis. Asap cair merupakan produk yang diperoleh dari kondensasi uap yang dihasilkan selama pirolisis yang mengandung senyawa organik teroksidasi, seperti keton, aldehida, fenol, dan asam karboksilat. Senyawa-senyawa tersebut berperan sebagai antioksidan dan antibakteri, serta mempunyai rasa dan bau yang khas pada asap cair. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis hasil pirolisis limbah kulit jagung untuk asap cair sebagai pengawet makanan. Pirolisis kulit jagung dilakukan pada temperatur 75o C dan 115o C selama 2 jam, yang akan menghasilkan asap dan selanjutnya dikondensasikan menjadi asap cair. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan temperatur pirolisis mempengaruhi volume dan kadar asam asap cair hasil pirolisis. Pirolisis pada suhu 75o C menghasilkan 650 mL asap cair dengan kadar asam sebesar 3,3%, sedangkan pirolisis padasuhu 115o C menghasilkan 800 mL asap cair dengan kadar asam 3,8%. Berdasarkan hasil penelitian, limbah kulit jagung melalui proses pirolisis berpotensi digunakan sebagai bahan baku asap cair untuk pengawet makanan, yaitu memenuhi SNI 8985:2021
Effectiveness of Biolarvicide Extract and Granule Formulation of Cocok Bubu Leaves Against Aedes aegypti Hayati, Mila Nurmala; Khumaisah, Lela Lailatul; Anwar, Devi Indah
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 3 (2025): Juli-September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i3.9843

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF), transmitted by Aedes aegypti, remains a major public health concern. This study aims to evaluate the effectiveness of biolarvicides from methanol and acetone extracts of cocok bubu (Elatostema rostratum) leaves and their granule formulations. Extracts and granules were tested at concentrations of 50, 100, 200, and 400 ppm. Granule preparations met standard criteria, including organoleptic properties, active compound content, and dispersion time. The analysis included LC₅₀ and LT₅₀ determination for both extract types. The acetone extract showed greater larvicidal activity (LC₅₀ = 85.67 ppm; LT₅₀ = 51.1 hours) than the methanol extract (LC₅₀ = 112.854 ppm; LT₅₀ = 51.8 hours), both falling into the moderate-to-high toxicity category. Similarly, the granule formulations showed that acetone-based granules (LC₅₀ = 496.941 ppm; LT₅₀ = 51.1 hours) were more effective than methanol-based granules (LC₅₀ = 528.774 ppm; LT₅₀ = 57.3 hours), with moderate-to-low toxicity. These findings indicate that cocok bubu leaf extracts, particularly acetone-based, have potential as effective plant-derived larvicides. Further development of plant-based larvicides may offer safer alternatives to synthetic larvicides in vector control programs.
SINTESIS DAN KARAKTERISASI FOTOKATALIS NANO TIO2-MEMBRAN POLIURETAN BERBASIS MINYAK ALPUKAT, HDI, DAN POLYETHYLENE GLYCOL (PEG) PADA FOTODEGRADASI METIL JINGGA Arrazi, Abdul Hamid; Anwar, Devi Indah; Khumaisah, Lela Lailatul
Jurnal Inovasi Teknik Kimia Vol. 10 No. 4 (2025): October| INTEKA - Jurnal Inovasi Teknik Kimia
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31942/inteka.v10i4.14400

Abstract

Synthetic dyes such as methyl orange are classified as persistent pollutants that are difficult to degrade biologically, thus requiring effective and sustainable treatment technologies. This study develops a photocatalytic membrane based on polyurethane (PU) synthesized from avocado seed oil, hexamethylene diisocyanate (HDI), and polyethylene glycol (PEG) for immobilizing TiO₂ nanoparticles. PEG was used as a dispersing additive to prevent TiO₂ agglomeration and enhance the membrane's hydrophilicity. XRD characterization revealed that the TiO₂ nanoparticles were predominantly in the anatase phase, with a characteristic diffraction peak at 2θ = 25.2740°. FTIR analysis confirmed the successful synthesis of PU through the identification of characteristic functional groups, including –NH, –C=O (urethane carbonyl), and –C–O–C (ether) from PEG, as well as Ti–O and Ti–O–Ti vibrations indicating the presence of TiO₂. SEM observations showed a semi-globular morphology of TiO₂ particles that were homogeneously dispersed within the PU matrix without significant agglomeration. Photodegradation performance tests under UV-A irradiation (265 nm) at an irradiation distance of 11 cm demonstrated a maximum degradation efficiency of 91.165% at pH 4, with good reusability stability, achieving 91.173% efficiency after repeated cycles. The high effectiveness is attributed to electrostatic interactions between the positively charged TiO₂ surface and negatively charged methyl orange molecules, which accelerate the generation of reactive radical species during the photocatalytic process.
Pemanfaatan Sampah Organik untuk Pupuk Kompos dan Budidaya Maggot Sebagai Pakan Ternak mulyani, Reni; Anwar, Devi Indah; Nurbaeti, Neneng
Jurnal Pemberdayaan Masyarakat Vol 6 No 1 (2021): Mei
Publisher : Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jpm.v6i1.4911

Abstract

Organic waste that comes from daily food leftovers in the community has not been used properly, people still put together organic waste and non-organic waste which is then burned, this results in the environment being exposed to carbon dioxide from burning garbage. In Nyalindung Village, many of the people make a living as breeders and farmers, where farmers buy their agricultural crops from Sukabumi City, which is quite far from Nyalindung Village, as well as breeders who buy chicken feed from cities which are quite far and expensive. To reduce organic waste, this community service will conduct training on how to process organic waste into compost so that it can be used by farmers, and the use of organic waste for magot cultivation so that it can be used by chicken breeders as high protein feed. The target output of this community service is the community, farmers and breeders can make fertilizer and animal feed based on magot Keywords: waste, organic, magot, compost Abstrak Sampah organik yang berasal sisa makanan sehari-hari di masyarakat belum dimanfaatkan dengan baik, masyarakat masih mennyatukan sampah organik dan sampah non organik yang kemudian dibakar, hal tersebut mengakibatkan Lingkungan terpapar karbon dioksida dari pembakaran sampah. Di Desa Nyalindung Masyarakatnya banyak berpencaharian sebagai peternak dan petani, Dimana para petani untuk memupuk tanaman pertaniannya membeli dari Kota Sukabumi yang jaraknya cukup jauh dari Desa Nyalindung, begitu pula dengan Peternak membeli pakan ayam dari kota yang jaraknya cukup jauh dan mahal. Untuk mengurangi sampah organik, pada pengabdian Masyarakat ini akan dilakukan pelatihan cara pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos agar bisa dimanfaatkan oleh petani, dan pemanfaatan sampah organik untuk budidaya magot agar dapat dimanfaatkan oleh para peternak ayam sebagai pakan berprotein tinggi. Target Luaran dari pengabdian masyarakat ini adalah masyarakat, para petani dan peternak dapat membuat pupuk dan pakan ternak berbasis magot Kata Kunci: sampah, organik, magot, kompos