Claim Missing Document
Check
Articles

Efek Daun Picung (Pangium edule Rewind.) sebagai Pengawet Alami terhadap Kadar Protein Total Ikan Nila (Oreochromis sp) Segar Ade Ratna Utami; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3325

Abstract

Tilapia (Oreochromis sp) is one group of fish that has high economic value. Tilapia contains protein that is easy to lysis, quickly undergoes a process of decay (perishable food). Alternatively the preventing process of preserving fish with natural ingredients is Picung leaves. The aim of study was to compare the levels of protein of fresh Tilapia before preserving with Tilapia preserved with Picung leaves (Pangium edule Rewins.) at concentrations of 5 %. This research method uses experiment with the purposive sampling with complete randomized analysis, using temperature and preservation factors with each treatment, namely 6 replications. Temperature factor that is using room temperature 28o C and temperature 18o C ( in refrigerator) and the preservation time factor is 0 hours, 12 hours, 24 hours, 36 hours, and 48 hours. Protein determination used spectrophotometric Kjedhal modification methods. The results of the average protein content of fresh Tilapia before being preserved are 19.93 %, the average protein of Tilapia is preserved at 28oC which is 13.59% and the average protein of Tilapia is preserved at 18oC which is 15.07%. The average protein of Tilapia was preserved for 12 hours, 24 hours, 36 hours and 48 hours, namely 13.22%, 13.88%, 12.78% and 11,83%. The research data was analysed by ANOVA test with result Fs Faktor A> F0.05 (1,50), meaning that there is a real effect caused by factor A (temperature factor). Fs Faktor B > F0.05 (4,50),meaning that there is real effect caused factor B (preservation time).Keywords: Tilapia, Protein, Picung Leaves and Natural PreservativeABSTRAKIkan nila (Oreochromis niloticus) adalah salah satu kelompok ikan yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan Nila mengandung protein yang mudah lisis cepat mengalami proses pembusukan (perishable food). Alternatif mencegah proses tersebut dilakukan pengawetan ikan dengan bahan alami seperti daun picung. Tujuan penelitian  yaitu membandingkan kadar protein ikan Nila segar sebelum diawetkan dan setelah diawetkan dengan daun picung (Pangium edule Rewins.) pada konsentrasi 5%. Metoda penelitian ini menggunakan percobaan dengan purposive sampling. Rancangan acak lengkap, mengunakan faktor suhu dan waktu pengawetan dengan masing-masing perlakuan yaitu 6 ulangan . Faktor suhu yaitu menggunakan suhu ruang 28o C dan suhu 18o C (dalam kulkas) dan faktor waktu pengawetan yaitu 0 jam, 12 jam, 24 jam, 36 jam dan 48 jam. Penentuan protein mengunakan metode modifikasi kjedhal spektofotometri.  Hasil rerata kadar protein ikan Nila segar sebelum diawetkan yaitu 19.93%, rerata ikan Nila yang diawetkan  pada suhu 28o C yaitu 13.59 % dan rerata kadar protein ikan Nila yang diawetkan pada suhu 18o C yaitu 15.07%. Rerata protein ikan Nila yang diawetkan selama 12 jam, 24 jam, 36 jam dan 48 berurutan yaitu 13.22%, 13.88%, 12.78% dan 11.83%. Data penelitian ini dianalisa dengan uji Anova dengan hasil  Fs Faktor A > F0.05 (1,50), artinya terdapat efek yang nyata ditimbulkan oleh faktor A (faktor suhu). Nilai Fs Faktor B  > F0.05 (4,50) , artinya terdapat efek yang nyata ditimbulkan oleh faktor B( waktu pengawetan).Kata Kunci: Ikan Nila, Protein, Daun Picung, Pengawet Alami
Pengaruh Kombinasi Bahan Pengencer Air Kelapa, Kuning Telur dan Gliserol terhadap Normalitas Spermatozoa Ikan Mas (Cyprinus carpio L) Qudrati Rohmah; Hari Santoso; Hasan Zayadi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 2 (2020)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i2.3739

Abstract

Cryopreservation semen is one of the techniques used to defend the life-cell storage technique and the structural intact network in the long term at very low temperatures, but the use of improper diluent solutions in Cooling may cause abnormalities in the cells. The purpose of this research is to analyze the influence of the immaturity of spermatozoa clotting combination of coconut water, egg yolks, and glycerol against a goldfish's spermatozoa abnormality (Cyprinus carpio L.) with two different storage times. The research method of using spermatozoa thinners with the treatment of 3 variant combinations namely: A1 (70% coconut water: 20% egg yolks: 10% glycerol); A2 (60% coconut water: 30% egg yolks: 10% glycerol); A3 (50% coconut water: 40% egg yolks: 10% glycerol) each stored for 24 hours and 48h, with 4 x repeats. The research material is a goldfish spermatozoa (Cyprinus carpio L.) taken from a mature gonads. A test of spermatozoa abnormalities is performed using five points of view for each sample, calculated by the abnormalities of spermatozoa with the formula of abnormalities, and analyses using the One Way ANOVA test. The results showed that the combination of the 24 hour shelf life of A1 was not significantly different to the fresh sperm abnormalities. In the introduction of the A2 combination, and A3 indicates significantly different with the sig (0.022); Long storage time affects the abnormality of spermatozoa with sig (0.001) This suggests that the longer the Spermatozoa storage in a combination of thinners occurs increased abnormalities of the goldfish spermatozoa (Cyprinus carpio L).Keywords: abnormalities, spermatozoa, glycerol, Cyprinus carpio LABSTRAKKriopreservasi semen merupakan teknik untuk mempertahakan penyimpanan sel hidup dan jaringan yang utuh secara struktural dalam jangka panjang di suhu sangat rendah, larutan pengencer yang tidak tepat dalam pendinginan dapat menyebabkan abnormalitas pada sel. Tujuan penelitian ini untuk menganalisa pengaruh pemberian pengencer pembekuan spermatozoa kombinasi air kelapa, kuning telur, dan gliserol terhadap abnormalitas spermatozoa ikan mas (Cyprinus carpio L.) pada dua waktu penyimpanan yang berbeda. Metode penelitian menggunakan pengencer spermatozoa dengan perlakuan 3 varian kombinasi yakni :A1 (70% air  kelapa : 20% kuning telur : 10% gliserol); A2(60% airkelapa : 30% kuning telur : 10% gliserol); A3 (50% air kelapa : 40% kuning telur : 10% gliserol) yang masing-masing disimpan selama 24 jam dan 48jam, dengan 4 x ulangan. Bahan penelitian adalah spermatozoa ikan mas(Cyprinus carpio L.) diambil dari gonad yang matang. Uji abnormalitas spermatozoa dilakukan menggunakan lima lapang pandang untuk masing-masing sampel, dihitung abnormalitas spermatozoa dengan rumus abnormalitas, dan dianalisis menggunakan uji One Way Anova. Hasil penelitian menunjukkan  bahwa pemberian kombinasi A1 masa simpan 24jam tidak berbeda secara signifikan terhadap abnormalitas sperma segar. Pada pemberian kombinasi A2, dan A3 menunjukkan berbeda signifikan dengan sig (0,022); lama waktu penyimpanan berpengaruh terhadap abnormalitas spermatozoa dengan sig (0,001) hal ini menunjukkan bahwa pemberian kombinasi pengencer yang tepat dapat digunakan  dalammempertahakan nilai normalitas pada pengawetan spermatozoa ikan mas (Cyprinus carpio L).Kata kunci :Abnormalitas, spermatozoa, gliserol, Cyprinus carpio L
Analisis Kerusakan Jaringan Insang Ikan Mas (Cyprinus carpio L.) Setelah Terpapar Pestisida Klorpirifos Viki Amaliyah; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 4, No 2 (2022)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v4i2.11255

Abstract

The use of chlorpyrifos pesticide as an agricultural pest exterminator if excessive and carried out continuously can have a large negative impact on biotic and abiotic life. Fish as one of the environmental bioindicators of pesticide contamination, because the gill organs will receive chemical effects in taking oxygen in pesticide-contaminated water ponds. The purpose of this study was to analyze the level of damage to the gill tissue of carp (Cyprinus carpio) exposed to the pesticide chlorpyrifos at various concentration levels. This research was carried out at the Punten Freshwater Cultivation Installation, Batu City, East Java. Using the experimental method with concentrations of acute toxicity treatment (LC50) namely K1 0.25 ppm, K2 0.30 ppm, K3 0.35 ppm, K4 0.40 ppm, K5 0.45 ppm. The research data were analyzed descriptively in the form of tables and graphs. The results of the preliminary acute toxicity test (LC50) were in the range of K1 0.25 ppm and K2 0.30 ppm. Furthermore, Alizarin Red staining was performed to give color to the gills. The results of acute toxicity test (LC50) Total percentage of damage at a concentration of 0.25 ppm 22.28% and a concentration of 0.30 ppm 77.54%. Damage to gill tissue exposed to the pesticide chlorpyrifos showed an acute level occurred at a concentration of 0.30ppm, where the higher the concentration, the higher the gill damage.Keywords: Chorphyrifos Pesticide, Cyprinus carpio,  Precentage of DamageABSTRAKPenggunaan pestisida klorpirifos sebagai pembasmi hama pertanian bila berlebihan dan dilakukan secara terus menerus dapat menimbulkan dampak negatif yang besar bagi kehidupan biotik dan abiotik. Ikan sebagai salah satu bioindikator lingkungan tercemar pestisida, karena organ insang akan menerima efek kimiawi dalam mengambil oksigen pada kolam perairan yang tercemar pestisida. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis tingkat kerusakan jaringan insang ikan mas (Cyprinus carpio) yang terpapar pestisida klorpirifos pada berbagai level konsentrasi. Penelitian ini dilaksanakan di Instalasi Budidaya Air Tawar Punten, Kota Batu, Jawa Timur. Menggunakan metode eksperimen dengankonsentrasi perlakuan toksisitas akut (LC50) yaitu K1 0,25 ppm, K2 0,30 ppm, K3 0,35 ppm, K4 0,40 ppm, K5 0,45 ppm. Data penelitian dianalisis secara deskriptif dalam bentuk Tabel dan Grafik. Hasil uji pendahuluan toksisitas akut (LC50) berada pada kisaran K1 0,25 ppm dan K2 0,30 ppm. Selanjutnya dilakukan pewarnaan Alizarin Red untuk memberi warna pada insang. Hasil uji toksisitas akut (LC50) Total presentase kerusakan pada konsentrasi 0,25 ppm 22,28% dan konsentrasi 0,30 ppm 77,54%. Kerusakan jaringan insang yang terpapar pestisida klorpirifos memperlihatkan tingkat akut terjadi pada perlakuan konsentrasi 0,30ppm, dimana semakin tinggi konsentrasi akan semakin tinggi kerusakan insang.Kata kunci : Pestisida Klorpirifos, Cyprinus carpio, Kerusakan Insang.
Efek Daun Picung (Pangium edule Reinw) sebagai Pengawet Ikan Nila Merah (Oreochromis sp.) Isma Fauzilah; Hari Santoso; Hasan Zayadi
Jurnal SAINS ALAMI (Known Nature) Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : FMIPA UNISMA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/j.sa.v2i1.3326

Abstract

Red tilapia fish are one of the types of fish in fresh water cultivation by having good enough prospects to be developed. In the effort of processing and preserving fish in order to improve the quality of power as well as durable a product of fisheries post-harvest done at various events. It is generally performed by the society amongst others with low temperature, high temperature, fermentation or formalin. This research aims to know the influence of leaf picung on temperature and long preservation against organ changes eyes, gills, the texture and the smell of red tilapia fish. In the method this research uses experimental on the 4 treatment and 5 of repetition by observing organ eyes, gills, texture and smell. Data analysis techniques using friedman test followed by multiple comparison test. Based on the results of the research, leaves stew picung effect on temperature and long preservation in reduction organoleptic red tilapia fish. Organoleptic reduction on red tilapia fish known from the is eyeballs are sunken with a cloudy cornea and his pupils are grayish, the gills are gray accompanied by clotted brown mucus, the texture is rather soft with a little less elastic, it smells very foul. Long preservation of the slowest on the red tilapia fish soaked with the decoction of leaves picung with temperatures of 18 oC goes up to 56 hours.Keywords: Red tilapia fish, Leaf picung, Preserving, OrganolepticABSTRAKIkan nila merah adalah salah satu dari jenis ikan pada budidaya air tawar dengan memiliki prospek yang cukup baik untuk dapat dikembangkan. Dalam usaha pengolahan dan pengawetan ikan guna meningkatkan kualitas serta daya awet suatu produk perikanan pada pasca panen dilakukan berbagai acara. Umumnya yang dilakukan oleh masyarakat antara lain dengan suhu rendah, suhu tinggi, fermentasi atau formalin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh daun picung pada suhu dan lama pengawetan terhadap perubahan organ mata, insang, tekstur dan bau ikan nila merah. Metode pada penelitian ini menggunakan eksperimen pada 4 perlakuan dan 5 ulangan dengan mengamati organ mata, insang, tekstur dan bau. Teknik analisis data menggunakan uji friedman dilanjut dengan uji perbandingan ganda. Berdasarkan hasil penelitian rebusan daun picung berpengaruh terhadap suhu dan lama pengawetan pada penurunan mutu organoleptik ikan nila merah. Penurunan mutu organoleptik pada ikan nila merah dapat diketahui dari bola matanya cekung dengan kornea keruh dan pupilnya keabu-abuan, insangnya berwarna abu-abu disertai lendir coklat yang bergumpal, teksturnya agak lunak dengan sedikit kurang elastis, baunya sangat busuk. Lama pengawetan yang paling lambat pada ikan nila merah direndam dengan rebusan daun picung dengan suhu 18 oC bertahan hingga 56 jam. Kata kunci: Ikan nila merah, Daun picung, Pengawetan, Organoleptik
Efek Pemberian Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl) Dans Terhadap Total Kolesterol Tikus Wistar Secara Subkronik Dea Fatimatu Zahroh; Nour Athiroh AS; Hari Santoso
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 3 No 1 (2017): Lingkungan dalam dan luar tubuh makhluk hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.789 KB)

Abstract

Cholesterol is an essential structural of component that makes up the cell membrane and external layer of plasma lipoproteins. This research was conducted to find out the influence of Methanolic Extract of Scurrula atropurpurea (Bl) Dans (MESA) against female wistar rats cholesterol levels (Rattus norvegicus) for 28 days (exposure to subchronic). This research is experiment that is True Experimental Design with Complete Random Design. MESA presented in rats 5 times in 1 week for 28 days, the animals try to mice used is rat females totalled 20 rats and divided into 4 groups. First, control group and second a treatment group with 3 different doses of 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW, and 1000 mg/KgBW. The inspection is carried out at regular intervals and at the end of the treatment period, all rats were sacrificed to do an examination of total cholesterol in serum of rats. Data analysis using SPSS 17.0 Statistics examination and results of average is significant differences with one-way analysis of variance. MESA does not have an effect on cholesterol levels of female rats through Clinical Biochemistry test of total cholesterol (p > 0.05). Comparison between treatment groups and groups who were denied treatment (not being MESA) is not real so that different stated MESA with a dose of 250 mg/KgBW, 500 mg/KgBW, and 1000 mg/KgBW no effect on cholesterol levels. Keywords : Cholesterol, Sub-Chronic, Loranthus tea ABSTRAK Kolesterol merupakan komponen struktural yang esensial dan membentuk membran sel serta lapisan eksternal lipoprotein plasma. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh Ekstrak Metanolik Scurrula atropurpurea (Bl) Dans (EMSA) terhadap kadar kolesterol tikus wistar betina (Rattus norvegicus) selama 28 hari (paparan subkronik). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yaitu True Experimental Design dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL). EMSA dipaparkan pada tikus 5 kali dalam 1 minggu selama 28 hari, Hewan coba tikus yang digunakan adalah tikus betina yang berjumlah 20 ekor dan dibagi menjadi 4 kelompok, 1 kelompok kontrol dan 3 kelompok perlakuan dengan dosis yang berbeda yaitu 250 mg/KgBB; 500 mg/KgBB; 1000 mg/KgBB. Pemeriksaan dilakukan secara berkala dan pada akhir periode perlakuan, semua tikus dikorbankan untuk dilakukan pemeriksaan total kolesterol pada serum tikus. Analisis Data menggunakan SPSS Statistic 17.0, dan hasil pemeriksaan menunjukkan perbedaan signifikan rata-rata dengan analisis anava satu arah. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa EMSA tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol tikus betina melalui uji biokimia klinis total kolesterol (p>0,05). Jika dibandingkan antara kelompok perlakuan dan kelompok yang tidak diberi perlakuan (tidak dipapar EMSA) tidak berbeda nyata sehingga dinyatakan EMSA dengan dosis 250 mg/KgBB, 500 mg/KgBB, dan 1000 mg/KgBB tidak berpengaruh terhadap kadar kolesterol. Kata kunci : Kolesterol, Subkronik, Benalu Teh
Uji Kandungan Albumin Ikan Gabus (Channa striata ) dalam Perbedaan Lingkungan Air Mukhlisul Fuadi; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 3 No 1 (2017): Lingkungan dalam dan luar tubuh makhluk hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (490.004 KB)

Abstract

Snakehead or kuthuk fish needed to be cultivated through technological engineering methods so as to minimize the wild capture of the current rampant. Snakehead had more albumin protein than other fish. As a source of albumin, Snakehead could be an expensive alternative to albumin. This study aimed to determine the level of Snakehead albumin as well as compared between brackish water fish Maduran Lamongan District and fresh water Yosowilangun Lumajang District. The research method was an experimental research with purposive sampling and analysis technique of mean of two populations. This study used snakehead samples. Repeat 3x and two at each position of samples of meat samples near the heads and tails. Precipitation of albumin using 10% NaOH to increase pH up to 11.5; H2SO4 10% to decrease pH down to 5.5. Determination of albumin quantity was done by Biuret-spectrophotometer method at 540 nm wave length with duplo for each sample aliquot. The analysis used two average test techniques of two data populations with distribution. Based on the results of the study, the albumin level of snakehead that lived in brackish water was higher than in freshwater. Keywords: Snakehead (Channa striata), Albumin, Brackish Water, Fresh Water ABSTRAK Ikan gabus atau ikan kuthuk perlu dibudidayakan melalui metode rekayasa teknologi sehingga dapat meminimalisir penangkapan liar yang marak terjadi saat ini. Ikan gabus memiliki protein albumin yang lebih banyak dibandingkan dengan ikan lainnya. Sebagai sumber albumin, ikan gabus dapat dijadikan alternatif albumin yang mahal harganya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar albumin ikan gabus serta membandingkan antara ikan gabus air payau Kecamatan Maduran Lamongan dan air tawar Kecamatan Yosowilangun Lumajang. Metode penelitian merupakan penelitian eksperimen dengan purposive sampling dan teknik analisis uji rerata dua populasi. Penelitian ini menggunakan sampel ikan gabus. Dilakukan ulangan 3x dan masing-masing pada dua posisi cuplikan sampel daging di dekat kepala dan ekor. Pengendapan albumin menggunakan NaOH 10 % untuk menaikkan pH hingga 11,5; H2SO4 10 % untuk menurunkan pH hingga 5,5. Penentuan kuantitas albumin dikerjakan dengan metode Biuret-spektrofotometer pada panjang gelombang 540nm dengan duplo untuk setiap cuplikan sampel. Analisis menggunakan teknik uji dua rerata dari dua populasi data dengan sebaran. Berdasarkan hasil penelitian, kadar albumin ikan gabus yang hidup di air payau lebih tinggi dibandingkan dengan hidup di air tawar. Kata kunci :Ikan gabus (Channa striata), Albumin, Air Payau, Air Tawar
Aktivitas Jamur Trichoderma viride Pada Substrat Pasta Tepung Kulit Buah Rambutan (Nephelium lappaceum) Menggunakan Tolok Ukur Glukosa Rukhil Lailah; Ahmad Syauqi; Hari Santoso
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 3 (2017): Edisi Khusus: Manfaat Metabolit dan Aktivitas Interaksi Makhluk Hidup
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (208.513 KB)

Abstract

The rind of rambutan (Nepehelium lappaceum) fruit there is a cellulosa high contain of 24.28%. However, the utilization of rambutan rind is still rare and tends to become agricultural waste. This research used rambutan’s rind for glucose production in fermentation with Trichoderma viride fungi. The aim of this research is to study the pH of substrate and fermentation time in producing the highest value of glucose. This research is an experimental study with Randomized Block Design with replications of fermentation time category; 0, 3,6, and 9 days and two replicates of research unit. Analyzed data with ANOVA α = 0.95% and polynomial regression test. Determination of glucose was used phenol sulphate method with UV-vis spectrophotometer technique. pH treatments do not haveeffect toward fungi activity and pH of substrate with high activity of Trichoderma viride is on pH 5. The optimum fermentation time in producing glucose is 112.104 hours produce 38.552 mg/mL. Keywords: Rind of rambutan fruit, Trichoderma viride, cellulosa ABSTRAK Selulosa yang cukup tinggi didalam kulit buah rambutan (Nephelium lappaceum) sebesar 24,28%. Namun, pemanfaatan kulit buah rambutan masih jarang dilakukan dan cenderung menjadi limbah pertanian. Penelitian ini menggunakan kulit buah rambutan untuk produksi glukosa secara fermentasi dengan jamur Trichoderma viride. Tujuan penelitian ini untuk mempelajari pH substrat dan waktu fermentasi dalam menghasilkan nilai glukosa tertinggi. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Kelompok dengan ulangan kategori waktu fermentasi; 0, 3, 6, dan 9 hari dan dan dua ulangan unit penelitian untuk masing masing perlakuan, diambil rata-rata sehingga berjumlah 12 unit penelitian. Data dianalisis dengan ANOVA α= 0,95% serta uji regresi polinomial. Penentuan kadar glukosa dengan metode sulfat fenol dengan teknik spektrofotometer UV-sinar tampak. Perlakuan pH tidak mempunyai pengaruh kepada aktivitas jamur dan pH substrat dengan aktivitas Trichoderma viride tertinggi pada pH 5. Waktu fermentasi optimum dalam menghasilkan glukosa pada jam ke 112,104 menghasilkan 38.552 mg/mL. Kata kunci: Kulit buah rambutan, Trichoderma viride, Selulosa,
Profil Bioaktif pada Tanaman Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Beluntas (Pluchea indica Less) Mutrikah Mutrikah; Hari Santoso; Ahmad Syauqi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 No 1 (2018): Sehat Lingkungan
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.976 KB)

Abstract

“Temulawak” (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) is one of the raw materials to makes traditional medicine that many spreads in Indonesia and many had been cultivated by society. Utilization of “temulawak” empirically that is one of them as an appetite enhancer. “Beluntas” (Pluchea indica Less) is one of plants in Indonesia that is able to used as herbal medicine from generation to generation used as drug relief body odor. Bioactive contained in the plants is the active compounds are utilized in the field of health, particularly Pharmacology. The research aim to know the active compound that is in the combination of” temulawak” and” beluntas”, and to know the correlation between the compounds in the correlation test. The research method in this research study is experimental laboratory by complete random design by scale of the value of the ring Newton upside down. The data analyzed by Pearson correlation testing. The qualitative result for the active compound test by variety combinations between “temulawak” (Curcuma xanthorriza Roxb) and “Beluntas” (Pluchea indica Less) was positive and contain alkaloid, flavonoid, and kuinon. Tannin and saponin were undetected. The results of the correlation test showed a positive relationship in alkaloid Mayer 1:1; dragondroff 2:1 alkaloid and alkaloid Meyer 2:1; alkaloid meyer 1:2. The alkaloids 2:1 and dragondroff 1:1 flavonoids; dragendroff 1:2 alkaloids and flavonoids 1:2; Quinones and 1:2 and alkaloids dragendroff 1:2 shows a negative relationship. Keywords: Temulawak, Beluntas, bioactive ABSTRAK Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) merupakan salah satu bahan baku obat tradisional yang banyak tersebar di Indonesia dan telah banyak dibudidayakan oleh masyarakat. Pemanfaatan temulawak secara empiris yaitu salah satunya sebagai penambah nafsu makan. Beluntas (Pluchea indica Less) merupakan salah satu tanaman Indonesia yang dapat dimanfaatkan sebagai obat herbal yang secara turun temurun dimanfaatkan sebagai obat penghilang bau badan. Bioaktif yang terkandung dalam tanaman tersebut merupakan senyawa aktif yang dimanfaatkan dalam bidang kesehatan, khususnya farmakologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kandungan atau bioaktif yang terkandung dalam kombinasi temulawak dan beluntas serta mengetahui hubungan antar senyawa dalam uji korelasi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimental laboratorik dengan Rancangan Acak Lengkap (RAK) dengan menggunakan skala nilai cincin newton terbalik. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil analisis fitokimia pada kombinasi antara Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb) dan Beluntas (Pluchea indica Less) menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan positif mengandung alkaloid, flavonoid dan kuinon. Sedangkan tanin dan saponin tidak terdeteksi. Hasil uji korelasi menunjukkan adanya hubungan positif yaitu pada alkaloid mayer 1:1 ; alkaloid dragondroff 2:1 dan alkaloid meyer 2:1 ; alkaloid meyer 1:2. Alkaloid dragondroff 2:1 dan flavonoid 1:1; alkaloid dragendroff 1:2 dan flavonoid 1:2; dan Kuinon 1:2 dan alkaloid dragendroff 1:2 menunjukkan hubungan yang negatif. Kata Kunci : Temulawak, Beluntas, bioaktif
Analisis Faktor Determinan Vaginosis Bakterial secara Retrospektif di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang Tahun 2012-2016 Anna Fathiah; Nour Athiroh; Hari Santoso
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 No 1 (2018): Sehat Lingkungan
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (542.158 KB)

Abstract

Most of the world's female population suffers from Bacterial Vaginitis characterized by changes in the normal vaginal flora replaced by anaerobic bacteria and facultative bacteria. Bacterial vaginitis increases the risk of STIs, abortion events, preterm labor, low birth weight, premature rupture of membranes and postpartum endometritis. It takes a retrospective study to determine the determinant factors that affect the population of Bacterial Vaginosis. The method this research using descriptive epidemiology and using retrospective approach, with observational research design. Secondary data were obtained from medical records of Obgyn Outpatient, with supporting data from Vulvovaginal Preparation Test. The place of research is done in the Medical Record Section. The population was all patients enrolled in the Obgyn of Outpatient Care Unit. The study sample was taken from patients diagnosed Bacterial Vaginitis in the period January 2012-December 2016. The results of the study, there were 50 cases of Bacterial Vaginitis. Determinant factors affecting Bacterial Vaginitis population in are age factor with range of 25-44 years (62%), patients with high school education status (16%), then patients with employment status as private workers and married status (88% ). Keywords : Bacterial vaginitis, Determinant Factor, Retrospective ABSTRAK Sebagian besar populasi wanita di dunia menderita Vaginosis Bakterial yang ditandai dengan perubahan flora normal vagina diganti dengan bakteri anaerob dan bakteri fakultatif.Vaginosis Bakterial meningkatkan resiko infeksi menular seksual, kejadian abortus, persalinan prematur, berat bayi lahir rendah, ketuban pecah dini dan endometritis postpartum. Sehingga diperlukan penelitian retrospektif untuk mengetahui faktor determinan yang berpengaruh terhadap populasi Vaginosis Bakterial. Metode penelitian ini adalah epidemiologi deskriptif menggunakan pendekatan retrospektif, dengan desain penelitian observasional. Data sekunder diperoleh dari catatan rekam medik pasien Unit Rawat Jalan Obgyn, dengan data pendukung dari hasil Tes Vulvovaginal Preparat. Populasi ialah semua pasien yang terdaftar dalam Unit Rawat Jalan Poliklinik Obgyn. Sampelpenelitian diambil dari pasien yang didiagnosis Vaginosis Bakterial pada periode Januari 2012-Desember 2016. Dari hasil penelitian ditemukan kejadian vaginosis bakterial sebanyak 50 kasus. Faktor determinan yang berpengaruh terhadap populasi yaitu faktor umur dengan kisaran 25-44 tahun (62%), pasien dengan status pendidikan tingkat SMA (16%), kemudian pasien dengan status pekerjaan sebagai pekerja swasta dan pasien berstatus telah menikah (88%). Kata kunci : Faktor Determinan,Vaginosis Bakterial, Retrospektif
Konsumsi Pakan Pada Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) Di Kandang Sebelum Dilepasliarkan Di Kondang Merak Kabupaten Malang Nur Istiqomatu Rosidah; Hari Santoso; Hasan Zayadi
Jurnal Ilmiah Biosaintropis (Bioscience -Tropic) Vol 4 No 2 (2019): Ekstrak dan Nutrisi
Publisher : Fakultas Matematika & Ilmu Pengetahuan Alam - Universitas Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.414 KB)

Abstract

Javan loris is a protected animal whose population decreases. One way of preservation is to release the livestock Java pet and confiscated into their natural habitat. A research has been conducted to determine the type of feed and the level of preference for the type of feed of Kukang Jawa (Nycticebus javanicus) in rehabilitation and adaptation cage before it is released in Protected Forest Kondang Merak of Malang Regency. This research is conducted by providing feed that is adapted to the needs of loris. Type of feed given consists of Insects, Gum (Gum arabica), Carrots, Potatoes, Ubi, Siam Pump, Nuts, and Cucumber. The method used is observation of four male and female lorises placed in two cages measuring 2 x 2 m. Observation of feed intake was done for twelve days, and weighing the feed before giving and after feeding to know palatabititasnya. Abiotic factors measured are temperature and humidity. The results showed that the level of preference to feed based on the percentage of consumptive amount was 18.7%, Siam Pump 17.2%, Carrot 15.5%, Sweet Potatoes 15.5%, Beans 9,3%, Cucumber 9% and Potatoes 7.7%, while the lowest is Insect that is 7%. The feeding rate is not related to the temperature and humidity in the rehabilitation and adaptation cages based on the correlation test using SPSS version 22. Keywords: Nycticebus javanicus,feed, palatability, cage ABSTRAK Kukang Jawa merupakan satwa dilindungi yang populasinya semakin menurun.Salah satu cara pelestariannya adalah melepaskan KukangJawapeliharaan dan sitaan ke habitat alamnya.Telah dilakukan penelitian yang bertujuan untuk menentukan jenis pakan dan tingkat kesukaan terhadap jenis pakan KukangJawa (Nycticebus javanicus) di kandang rehabilitasi dan adaptasi sebelum dilepasliarkandi Hutan Lindung Kondang Merak Kabupaten Malang.Penelitian ini dilakukan dengan memberikan pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan Kukang. Jenis pakan yang diberikan terdiri dari Serangga, Getah (Gum arabica), Wortel, Kentang, Ubi, Labu Siam, Kacang Panjang, dan Mentimun. Metode yang digunakan adalah Observasi terhadap empat ekor Kukang Jawa betina dan jantan yang ditempatkan di dalam dua kandang berukuran 2 x 2 m. Pengamatan konsumsi pakan dilakukan selama dua belas hari, dan dilakukan penimbangan pakan sebelum pemberian dan sesudah pemberian pakan untuk mengetahui palatabititasnya.Faktor abiotik yang diukur yaitu suhudan kelembaban. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat kesukaan terhadap pakan berdasarkan persentase jumlah konsumsinya berturut-turut adalah Getah 18.7%, Labu Siam 17,2%, Wortel 15,5%, Ubi 15,5%, Kacang Panjang 9,3%, Mentimun 9%, dan Kentang 7,7%, sedangkan terendah adalah Serangga yaitu 7%.Tingkat kesukaan terhadap pakan tidak berhubungan dengan suhu dan kelembaban di kandang rehabilitasi dan adaptasi berdasarkan uji korelasi menggunakan SPSS versi 22. Kata kunci: Nycticebus javanicus, pakan, palatabilitas, kandang