Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Perancangan Jaringan Akses Fiber To The Home (ftth) Menggunakan Teknologi 10-gigabit-capable Passive Optical Network (xgpon) Untuk Perumahan Benda Baru Viceroy Siregar; Kris Sujatmoko; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perumahan Benda Baru yang terletak di Jalan Cendana II, Tangerang Selatan merupakan konsep hunian yang membutuhkan layanan akses triple play yang cepat untuk mendukung kegiatan dan fasilitas yang disediakan.. PT Innovate Mas Indonesia berencana menggelar Fiber To The Home (FTTH) menggunakan teknologi 10-GigabitCapable Passive Optical Networks (XGPON) agar dapat memenuhi target tersebut. Pada Tugas Akhir ini dilakukan perhitungan untuk parameter-parameter kelayakan dan performansi sistem perancangan FTTH yang ingin diimplementasikan di Perumahan Benda Baru. Parameter-parameter tersebut adalah Link Power Budget dan Rise Time Budget untuk kelayakan sistem. Nilai parameter yang dihitung secara manual tersebut akan dibandingkan dengan hasil perhitungan menggunakan Opti System. Selain itu, ada parameter lainnya yaitu Bit Error Rate (BER) untuk performansi sistem. BER ini dapat dilihat dengan membuat simulasi perancangan jaringan FTTH pada Opti System. Hasil perhitungan manual untuk link power budget, yaitu total redaman untuk jarak terjauh adalah sebesar 25,135 dB untuk link downstream dan 26,236 dB untuk link upstream. Hasil perhitungan tersebut masih memenuhi standar yang ditentukan oleh ITU-T G.987 yaitu sebesar -28 dBm. Berdasarkan nilai total redaman pada jarak terjauh didapatkan nilai daya terima sebesar -21,135 dBm untuk link downstream dan -23,236 dBm untuk link upstream. Sedangkan untuk nilai rise time budget didapatkan nilai waktu batasan adalah sebesar 0,07 ns untuk pengkodean NRZ dan 0,035 ns untuk pengkodean RZ. Dari hasil perhitungan didapatkan nilai 𝑡𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 adalah sebesar 0,0156 ns untuk link downstream maupun link upstream. Hasil perhitungan rise time budget yang didapatkan bernilai baik karena 𝑡𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 berada lebih kecil dari batasan waktu untuk tiap pengkodean. Untuk parameter performansi sistem yaitu BER yang dihasilkan dari simulasi Opti System adalah sebesar 1,86632 x 10-21 untuk link downstream dan sebesar 0 untuk link upstream. Kedua nilai tersebut memenuhi nilai minumum BER yang ditentukan untuk optik yaitu 10−9 . Kata kunci : FTTH, XGPON, Link Power Budget, Rise Time Budget, BER Abstract Benda Baru Residence is located on the Cendana II , South Tangerang is the concept dwelling that need access triple play to support the activities of and facilities provided. PT. Innovate Mas Indonesia plans to hold Fiber To The Home ( FTTH ) using technology 10-Gigabit-Capable Passive Optical Networks (XGPON) in order to meet the target. In this final assignment, the parameters of the feasibility and performance of the system design of FTTH which will be implemented in Benda Baru Residence has been calculated. Those parameters are Link Power Budget and Rise Time Budget for the feasibility of the system. The parameters values were manually calculated and have been compared to the results of using the Opti System software. Besides, the other parameter is Bit Error Rate (BER) for the performance of the system. BER can be seen by making a simulation of a network design FTTH in Opti System. The results of the manual calculation for link power budget parameters the total attenuation for the farthest distance is 25,135 dB for downstream link and 26,236 dB for upstream link. The results of those calculations are still meet the standard which determined by ITU-T G.987 which is -28 dBm. Based on the total attenuation value for the farthest distance, the result of power receiver is -21,135 dBm for downstream link and -23,236 dBm for upstream link. For rise time budget parameters, the result of limitation time is 0,07 ns for NRZ coding and 0,035 for RZ coding. Based on the calculation, the results of 𝑡𝑠𝑦𝑠𝑡𝑒𝑚 is 0,0156 ns for both downstream and upstream link. The results of rise time budget considered to be good because the tsystem smaller than the limitiation time for each coding. For the parameter of the performance of the system, BER, which is simulated in Opti System, the result for the downstream link is 1,86632 x 10-21 and for the upstream link is zero (0). Both values are meet the minimum value of BER that is determined for optic which is 10−9 . Keywords : FTTH, XGPON, Link Power Budget, Rise Time Budget, BER
Perencanaan Dan Analisa Fronthaul Fiber Optik Untuk Komunikasi Radio Pada Jaringan Lte Muhammad Hawary; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Saat ini kota Pekanbaru sudah terdapat jaringan akses LTE, akan tetapi masih ada beberapa wilayah yang masih belum tercakupi untuk jaringan LTE, sehingga perlu adanya perancangan jaringan telekomunikasi yang tepat agar mendapatkan layanan komunikasi yang baik. Pada saat ini PT.Tri Indonesia sudah menyediakan layanan jaringan LTE untunk wilayah kota Pekanbaru, solusi yang sudah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menambah site existing untuk melayani layanan LTE di wilayah kota Pekanbaru. Akan tetapi solusi tersebut masih belum sepenuhnya mencakupi seluruh kota Pekanbaru. Pada tugas akhir ini telah dilakukan analisis perencanaan fronthaul optic fiber menggunakan komunikasi fiber optic. Fronthaul fiber optik merupakan transmisi antara BBU yang berada pada eNodeB site existing menuju RRH yang berada pada new site. Untuk menganalisa perancangan akses data yang mencakupi area perencanaan, dilakukan perancangan fiber optic link, variasi daya dan jenis kabel jaringan LTE. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, dengan Bit rate sebesar 10 Gbps dan spesifikasi perangkat yang digunakan untuk parameter OLT sebesar 1490, 1510, 1530 dan 1550 nm daya terima sebesar 3 - 8 dBm. Mendapatkan hasil seluruh link fronthaul fiber optic mencapai attenuation 0.22 dB/km , hal ini disebabkan oleh nilai daya terima tiap site. Kemudian dari hasil perencanaan, daya terima pada kabel SMF sebesar -18.05 dBm dan NZDSF sebesar -17.054 dBm, dengan demikian simulasi perencanaan denang parameter pada kabel SMF dan NZDSF di katakan berhasil karna termasuk dalam kondisi cukup bagus. Kata kunci : C-RAN, RRH, BBU, Fronthaul,Fiber Optic, BTS, Prx, Q Factor, BER. Abstract Nowdays, in Pekanbaru city already has a LTE access network, but there are some areas not covered for the LTE network, so that need a planning telecommunication network design to get good communication service. Now, Tri Indonesia company has a provide LTE netwotk service to Pekanbaru area, the solution already done to resolve that problem is add the site existing to serve LTE services in Pekanbaru areas. But that solution can’t covered all Pekanbaru areas. In this essay (last task) had been planning analysis Fronthaul Optic Fiber using Fiber Optic communication. Fronthaul fiber optic is transmission between BBU in eNodeB site existing towards RRH in new site. To analysis the design of data access to covered the planning area, doing the design fiber optic link, potency variations and LTE network cable types. Based on calculation and simulation, with a Bit rate of 10 Gbps and device specifications used for OLT parameters of 1490, 1510, 1530 and 1550 nm receiving power of 3 - 8 dBm. Getting the results of all fiber optic fronthaul links reaches attenuation 0.22 dB / km, cause receiving value potency power of each site. From result design, receiving potency in SMF cable of 18.05 dBm an NZDSF of -17 dBm, By somulation design with parameter in SMF cable and NZDSF is succes because included in good enough condition. Keywords : C-RAN, RRH, BBU, Fronthaul,Fiber Optic, BTS, Prx, Q Factor, BER.
Simulasi Jaringan Radio Over Fiber (rof) Dengan Mengimplementasikan Orthogonal Frequency Division Multiplexing (ofdm) Pada Arsitektur Pon Winda Ika Syukrina; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Sistem komunikasi serat optik mengalami perkembangan yang sangat pesat begitu juga dengan sistem komunikasi nirkabel, perpaduan antara Radio over Fiber (RoF) dan Ortogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) dapat menghasilkan data rate yang tinggi dengan bandwidth yang rendah dalam teknologi jaringan nirkabel.Pada Tugas Akhir ini perancangan sistem mencakup tiga bagian utama yaitu bagian transmitter, link transmitter dan bagian receiver yang disimulasikan menggunakan perangkat lunak simulator. Didalam penelitian ini analisis dilakukan hanya pada sisi downstream dengan bitrate sebesar 10Gbps, modulasi yang digunakan 4 - QAM dengan menggunakan radio frekuensi sebesar 7,5 GHz sinyal radio dimodulasi menggunakan Mach Zehnder Modulator (MZM) dengan jarak maksimum link sistem ditransmisikan sejauh 100 Km menggunakan serat Single Mode Fiber(SMF). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa jarak serat optik dan variasi Power Splitter (PS) mempengaruhi performansi, dimana semakin panjang jarak dan besarnya jumlah variasi PS maka nilai BER semakin besar. Dimana hasil simulasi menggunakan PS 1:2 dengan nilai BER 5,3x10-9 memenuhi sampai pada jarak 60 km, PS 1:4 dengan nilai BER 7,645x10-13 memenuhi sampai pada jarak 40 km, PS 1:8 dengan nilai BER 1,49x10-14 memenuhi sampai pada jarak 20 km, PS 1:16 dengan nilai BER 1,8x10-9 memenuhi sampai pada jarak 20 km. Diagram konstelasi mengalami penurunan amplitudo dan penyebaran simbol pada nilai Real (Q) dan Imajiner (I) dalam setiap penambahan jarak. Kata kunci : RoF, OFDM , PON ABSTRACT Fiber optic communication systems are experiencing rapid growth, as well as wireless communication systems. The combination of Radio over Fiber (RoF) and Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) can generate high data rate with low bandwidth in the latest wireless network technology. In this Final Project, the system design includes three main parts, namely transmitter section, link transmitter and receiver section which are simulated using simulator software. In this study analysis is carried out only on the downstream side with a bitrate of 10Gbps, the modulation used by 4-QAM using a radio frequency of 7.5 GHz, radio signals modulated using Mach Zehnder Modulator (MZM) with a maximum link distance system transmitted as far as 100 Km using Single Mode Fiber (SMF) fiber. Based on the results of the study it can be concluded that the distance of optical fibers and variations in Power Splitter (PS) affect performance, where the longer the distance and the number of variations of PS, the greater the BER value. Where the simulation results using PS 1: 2 with a BER value of 5.3x10-9 meets up to a distance of 60 km, PS 1: 4 with a BER value of 7.645x10-13 meets up to a distance of 40 km, PS 1: 8 with a BER value of 1, 49x10-14 meets up to a distance of 20 km, PS 1:16 with a BER value of 1.8x10-9 meets up to a distance of 20 km. The constellation diagram has a decrease in the amplitude and spread of symbols in the Real (Q) and Imaginary (I) values in each additional distance. Keywords: RoF, OFDM, PON
Pengaruh Penggunaan Kompensator Dispersi Fiber Bragg Grating (fbg) Pada Sistem Komunikasi Optik Long Haul Muhamad Rizky Darmawansyah; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 5, No 3 (2018): Desember 2018
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Dispersi merupakan salah satu faktor yang dapat menurunkan performansi dari komunikasi optik khususnya di komunikasi yang jaraknya jauh (long haul). Hal tersebut mengakibatkan kualitas komunikasi yang buruk dan dapat menyebabkan kegagalan komunikasi. maka dari itu dibutuhkan tindakan untuk mengatasi hal tersebut. Di dalam ilmu teknik telekomunikasi ada beberapa tekhnik kompensasi untuk menaggulangi dispersi, dan salah satu yang bisa digunakan adalah teknik penggunaan kompensator dispersi Fiber Bragg Grating (FBG). Penggunaan metode Fiber Bragg Grating (FBG) pada penelitian ini menjadi salah satu solusi untuk menanggulangi dispersi di komunikasi optik. Penelitian ini dilakukan pada komunikasi long haul optik dengan jarak komunikasi sejauh 100 km – 300 km dengan bit rate 10 Gbps. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah perbandingan jaringan sebelum dan sesudah ditambahkan kompensator dispersi Fiber Bragg Grating (FBG). Dengan penelitian pada 3 jarak yang berbeda yaitu 100 km, 200 km, dan 300 km dengan bit rate 10 Gbps. Hasil dari jarak terjauh yaitu 300 km, sebelum nilai performasnsi-nya adalah BER= 0,486, Q-factor= 1,64, dan setelah ditambahkan kompensator dispersi Fiber Bragg Grating (FBG) hasil nilai performansi-nya adalah BER = 1,62x10 -91, dan Q-factor-nya = 20,26. Kata kunci: Komunikasi Longhaul, Dispersi, Kompensator, FBG, BER, Q-factor. ABSTRACT Dispersion is one of the factors that reduce the performance of fiber optic communication, especially in long haul communication which results in poor communication quality and can lead to communication failure. In the field of telecommunications engineering, there are several compensation techniques for preventing dispersion. The use of the Fiber Bragg Grating (FBG) method in this study is one solution to overcome dispersion in optical communication. This research was conducted on optical communication with a distance of 100 km - 300 km with a 10 Gbps bit rate. The Fiber Bragg Grating (FBG) compensator is added. By using 3 different distances, 100 km, 200 km and 300 km with 10 Gbps bit rate. The sample from the farthest distance is 300 km with the results before its performance is BER = 0,486, Q-factor = 1,64, and after adding the compensator of the Fiber Brag Grating dispersion (FBG) the performance result is BER = 1,62x10 -91, and the Q-factor = 20,26. Keywords: Longhaul Optic, Dispersion, FBG, BER, Q-factor
Perancangan Dan Realisasi Antena Biquad Yagi Dan Antena Biquad Omnidirectional Sebagai Repeater Pasif Untuk Meningkatkan Daya Terima Sinyal Wcdma Fakhrana Dhaifina; Bambang Setia Nugroho; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 3 (2017): Desember, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangunan BTS (Base Transceiver Station) untuk jaringan WCDMA (Wideband Code Division Multiple Access) atau jaringan generasi ketiga (3G) pada saat ini sudah lebih merata hingga ke daerah pedesaan. Akan tetapi, masih terdapat daerah-daerah di pedesaan yang level daya terimanya rendah, seperti daerah yang terdapat banyak sawah ataupun hutan dengan pepohonan besar (daerah rural). Salah satu penyebab level daya terima yang rendah yaitu jarak pelanggan yang cukup jauh dari BTS sehingga dapat memperbesar pathloss dan tentunya akan menurunkan level daya terima di pelanggan. Dan untuk mengatasi kendala tersebut dapat ditambahkan penggunaan repeater pada sisi penerima. Repeater terdiri dari dua jenis yaitu repeater aktif dan repeater pasif, dimana hal yang membedakannya yaitu dalam hal kebutuhan akan catuan dan ada tidaknya komponen aktif (amplifier). Jika repeater aktif membutuhkan catuan dan komponen aktif (amplifier), maka repeater pasif tidak membutuhkan catuan dan komponen aktif (amplifier). Pada tugas akhir ini dilakukan perancangan dan realisasi antena serta pengujian repeater pasif terhadap penguatan sinyal radio pada frekuensi WCDMA pada ruangan indoor di daerah rural. Berdasarkan hasil pengukuran dari antena outdoor yang direalisasikan yaitu antena biquad yagi 10 elemen, antena bekerja pada frekuensi 2,02 GHz, gain sebesar 8,09 dBi, VSWR sebesar 1,182 dan pola radiasi unidirectional. Sedangkan berdasarkan hasil pengukuran dari antena indoor yang direalisasikan yaitu antena biquad omnidirectional, antena juga bekerja pada frekuensi 2,02 GHz, gain sebesar 1,39 dBi, VSWR sebesar 1,301 dan pola radiasi omnidirectional.Kata Kunci: Repeater Pasif, Antena Biquad Yagi, Antena Biquad Omnidirectional.
Perencanaan Fronthaul Microwave Untuk Radio Komunikasi Pada Jaringan 4g Aries Priyadi Ramadhan; Arfianto Fahmi; Muhammad Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 4, No 2 (2017): Agustus, 2017
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Saat ini kota bandung sudah terdapat jaringan akses LTE, akan tetapi masih ada beberapa wilayah yang masih belum tercakupi untuk jaringan LTE, sehingga perlu adanya perancangan jaringan telekomunikasi yang tepat agar mendapatkan layanan komunikasi yang baik. Pada saat ini PT.Tri Indonesia sudah menyediakan layanan jaringan LTE untunk wilayah kota bandung, solusi yang sudah dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan menambah site existing yang kemudian dikuatkan kembali dengan menggunakan repeater untuk melayani layanan LTE di wilayah kota bandung. Akan tetapi solusi tersebut masih belum sepenuhnya mencakupi seluruh kota bandung. Pada tugas akhir ini telah dilakukan analisis perencanaan fronthaul microwave menggunakan komunikasi microwave. Fronthaul microwave merupakan transmisi antara BBU yang berada pada eNodeB site existing menuju RRH yang berada pada new site. Untuk menganalisa perancangan akses data yang mencakupi area perencanaan, dilakukan perancangan microwave link, coverage planning dan capacity planning jaringan LTE. Selanjutnya disimulasikan menggunakan software pathloss 5.0 untuk microwave link dan atoll untuk coverage planning. Berdasarkan hasil perhitungan dan simulasi, dengan frekuensi kerja sebesar 70 Ghz dan spesifikasi perangkat yang digunakan untuk gain antenna sebesar 40,6; 43,0 dan 50,0 dBi dan daya terima minimum sebesar -75 dBm. Mendapatkan hasil seluruh link fronthaul microwave mencapai avaibility sebesar > 99,99 % dengan nilai fade margin sebesar 28 dB sampai 45 dB , hal ini disebabkan oleh nilai daya terima tiap site lebih besar dari nilai daya terima minimum perangkat. Kemudian dari hasil perencanaan coverage pada salah satu wilayah perencanaan, menghasilkan nilai rata-rata RSRP sebesar - 82.48 dBm dan rata-rata SINR sebesar 6.07 dB dengan demikian simulasi perencanaan coverage parameter RSRP dan SINR di katakan berhasil karna termasuk dalam kondisi cukup bagus. Kata kunci : RRH, BBU, Fronthaul, Link Microwave, nilai daya terima,RSRP, SINR.
Perbandingan Bit Error Rate Dari Line Code Rz Dan Nrz Pada Ng-pon2 Mohammad Bima Putra Brayoga; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada era digitalisasi ini kebutuhan manusia akan layanan super cepat merupakan prioritas utama untuk dapat bersaing di pasar dunia. Layanan tersebut adalah kayanan untuk komunikai jarak jauh maupun dekat. Pertumbuhan pencakar langit pada kota besar membuat komunikasi radio frecuency menjadi tidak efektif untuk digunakan. NGPON2 merupakan pengembangan teknologi optik PON yang distandarisasikan oleh ITU-T pada tahun 2015. Teknologi ini dapat melakukan transfer data hingga 40Gbps. Teknologi broadband ini sangat cocok untuk melayani kebutuhan layanan voice, video, dan data dengan kualitas yang tinggi. Salah satu hal penting yang harus diperhatikan dalam mewujudkan layanan ini adalah memilih teknik modulasi atau line code yang tepat dan meminimalisir jumlah Bit Error yang mungkin terjadi pada proses pengirimannya. Penelitian ini akan dibuat beberapa skenario peneltian dimana Skenario 1 dibuat untuk menentukan sistem jaringan NG-PON2 yang akan dianalisa performansinya, skenario menggunakan bitrate total 40Gbps dengan menggunakan OLT 4 lambda, kemudian dari jaringan tersebut dibuatkan 2 skenario simulasi dengan jenis line code berbeda guna melihat pengaruh perbedaan penggunaan jenis line code terhadap performansi Bit Error Rate-nya. Penelitian ini menghasilkan jenis line code NRZ yang bekerja dengan optimal digunakan untuk NG-PON2 dengan jarak tranmit maksimal 60km dengan BER yang kecil sesuai dengna standar yang telah ditetapkan ITU-T. Sedangkan RZ hanya bekerja optimal pada 20km saja. Kata kunci : NG-PON2, ITU-T, Line code, NRZ, RZ, BER, OLT, PON. Abstract In this digitalization era, the community's need for super-fast service is a top priority to be able to compete in the world market. These services are the ability to communicate long and near. Producing skyscrapers in big cities makes radio frecuency communication ineffective to use. NG-PON2 is the development of PON optical technology standardized by ITU-T in 2015. This technology can transfer data up to 40Gbps. This broadband technology is very suitable to serve the needs of high quality voice, video and data services. One important thing that must be considered in realizing this service is choosing the right modulation technique or line code and minimizing the number of Bit Errors that might occur in the sending process. This study will make several research scenarios where Scenario 1 is made to determine the NG-PON2 network system that will analyze its performance, the scenario uses a total bitrate of 40Gbps using OLT 4 lambda, then two scenarios are created from this network with different types of line codes to the Bit Error Rate performance. This research produces NRZ line code that works optimally to be used for NG-PON2 with a maximum transmit distance of 60 km with a small BER corresponding to the standards set by ITU-T. While the RZ only works optimally at 20km. Keywords: NG-PON2, ITU-T, Line Code, NRZ, RZ, BER, OLT, PON.
Simulasi Radio Over Fiber Menggunakan Gelombang Milimeter Frekuensi 60 Ghz Untuk Penggunaan Home Access Network Zehan Zulkarnaen; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 1 (2019): April 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Pada saat ini penggunaan teknologi pada berbagai perangkat dan aplikasi membutuhkan kecepatan tinggi dan mobilitas yang fleksibel, teknologi wireless-fidelity dapat menjadi solusi dari kebutuhan tersebut. Pada penelitian ini dilakukan analaisa jaringan home area network dengan menggunakan topologi jaringan Radio over Fiber - Wavelength Division Multiplexing pada tiga standar wifi, yakni standar IEEE 802.11n yang menggunakan frekuensi kerja 2.4 GHz dengan kecepatan data 300Mbit/s, standar IEEE 802.11ac yang menggunakan frekuensi kerja 5 GHz dengan kecepatan data 1350Mbit/s, dan standar IEEE 802.15.3c yang menggunakan frekuensi kerja 60 GHz dengan kecepatan data 6000 Mbit/s yang masing-masing skema simulasi tersebut diukur pada jarak 5 kilometer, 10 kilometer, 15 kilometer dan jarak terjauh 20 kilometer sesuai standar access network. Hasil yang diperoleh dari perhitungan ketiga skema tersebut adalah pada jarak terjauh yakni 20 km, pada standar IEEE 802.11n nilai BER yang diperoleh 7,987×10-44 dan Q-factor sebesar 13,834. Pada standar IEEE 802.11ac nilai BER yang diperoleh 7,987×10-44 dan Q-factor sebesar 13,834. Dan terakhir pada standar IEEE 802.15.3c diperoleh hasil dengan nilai BER 4,154×10-39 dan Q-factor sebesar 13,03. Ketiga skema simulasi tersebut memperoleh nilai parameter yang memenuhi standar BER yakni 10-9 dan Q-factor sebesar 6. Kata kunci : Radio over Fiber, wifi, Serat Optik, Sinyal Radio. Abstract Nowadaysthe use of technology in various devices and applications requires high speed and flexible mobility, wireless-fidelity technology can be a solution to those needs. In this study, there was an analysis of home area network networks using Radio over Fiber network topology - Wavelength Division Multiplexing on three WiFi standards, the IEEE 802.11n standard that uses a 2.4 GHz frequency with a data speed of 300Mbit/s, IEEE 802.11ac standard that uses 5 GHz frequency with data rates of 1350Mbit/s, and the IEEE 802.15.3c standard that uses a 60 GHz frequency with a data rate of 6000 Mbit/s, each of scheme is measured at a distance of 5 kilometers, 10 kilometers, 15 kilometers and the farthest distance 20 kilometers according to the standard access network. The results obtained from the calculation of the three schemes are at the farthest distance of 20 km, in the IEEE 802.11n standard the BER value is 7.987 × 10-44 and Q-factor is 13.834. In the IEEE 802.11ac standard, the BER value is 7.987 × 10-44 and Q-factor is 13.834. And the IEEE 802.15.3c standard the BER value is of 4.154 × 10-39 and Q-factor 13.03. The three simulation schemes have obtained parameter values that meet the BER standard of 10-9 and Q-factor of 6. Keywords: Radio over Fiber, wifi, Fiber Optic, Radio signal.
Analisis Perbandingan Migrasi Jaringan 4g Ke 5g Dengan Menggunakan Model Konfigurasi 3a Dan 7a Doni Bima Saputra; Uke Kurniawan Usman; M Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Migrasi terhadap jaringan 4G ke 5G merupakan sebuah perkembangan/kemajuan dari teknologi telekomunikasi saat ini. Terdapat beberapa opsi konfigurasi pada migrasi jaringan tersebut antara lain opsi 3a dan 7a. Kedua opsi tersebut merupakan model dari Non-standalone (NSA). Pada penelitan ini simulasi perbandingan yang dilakukan adalah untuk mengetahui mana yang terbaik dari kedua opsi tersebut pada saat dilakukan simulasi dengan menggunakan software matlab simulink. Analisa perbandingan ini dilakukan dengan cara merancang arsitektur jaringan pada model NSA opsi 3a dan opsi 7a dengan mengandalkan parameter-parameter yang sudah di tetapkan pada Release 15 3GPP. Perbandingan yang di dapatkan dari hasil simulasi adalah ketika di berikan nilai frekuensi 2300 MHz dan 27500 MHz pada tiap opsi, nilai yang dihasilkan dari simulasi pada simulink sudah sesuai dengan standar, untuk hasil nilai dari SNR memiliki kategori baik yaitu >10,9 dB dan keduanya memiliki nilai yang sama. Kemudian hasil dari parameter lain seperti jitter sudah menunjukan hasil dalam kategori baik yaitu <75 ms dan nilai paling baik adalah 33 ms, sedangkan delay dan troughput dalam kategori sangat baik yaitu pada troughput memiliki nilai >100 bps dan memiliki nilai paling baik sebesar 333.6 bps dan delay bernilai <150 ms yaitu hasil paling baik adalah 2.3 ms. Kata Kunci: Kajian migrasi jaringan 5G, EPC, 5G core, Non-standalone dan Release 15. Abstract Migration to 4G to 5G networks is a development / advancement of the current telecommunications technology. There are several configuration options for the network migration including options 3a and 7a. Both of these options are Non-Standalone (NSA) models.In this research, the comparative simulation carried out is to find out which is the best of both options at the time of simulation using matlab simulink software. This comparative analysis is done by designing the network architecture in NSA model options 3a and option 7a by relying on the parameters set in Release 15 3GPP.The comparison obtained from the simulation results is when given a frequency value of 2300 MHz and 27500 MHz for each option, the value generated from the simulink simulation is conform with the standard, for the results of the value of the SNR has a good category that is> 10, 9 dB and both have the same value. Then the results of other parameters such as jitter have shown results in the good category that is <75 ms and the best value is 33 ms, while the delay and throughput in the very good category that is throughput has a value> 100 bps and has the best value of 333.6 bps and delay <150 ms, the best result is 2.3 ms. Keywords: Study of 5G network migration, EPC, 5G core, Non-standalone and Release 15.
Analisis Performansi Pengaruh Non Linearitas Four Wave Mixing (fwm) Pada Sistem Komunikasi Jarak Jauh Berbasis Dwdm Tiara Mustika; Akhmad Hambali; M. Irfan Maulana
eProceedings of Engineering Vol 6, No 2 (2019): Agustus 2019
Publisher : eProceedings of Engineering

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak Perkembangan Sistem Komunikasi Serat Optik (SKSO) terus mengalami kemajuan dari tahun ke tahun. Teknologi dari sistem komunikasi serat optik yang berkembang sangat pesat adalah teknologi Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM). DWDM mempunyai beberapa kelebihan dibandingkan dari teknologi terdahulu. Akan tetapi dibalik kelebihan yang dimiliki DWDM, terdapat kekurangan yang sangat mempengaruhi kinerja teknologi tersebut seperti efek non linearitas fiber yaitu Four Wave Mixing (FM). Pada pembuatan tugas akhir ini, dibuat pemodelan link DWDM pada perangkat lunak untuk mengetahui pengaruh dari FWM tersebut, dan terdapat dua skenario simulasi. Pada skenario pertama, variabel-variabel input yang dirubah adalah bitrate link dan jarak link. Pada skenario kedua yang dirubah adalah daya transmitter. Bitrate 10 Gbps dengan jarak dengan jarak 200 km memiliki performansi terbaik dengan q-Factor 3. Bitrate 40 Gbps dengan jarak 100 km memiliki performansi Q-factor 3,224. Bitrate 100 Gbps bahwa performansi terbaik pada jarak 100 km. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 10 Gbps memiliki performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 3,37157. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 40 Gbps , Perubahan pada daya transmitter pada link yang mengalami performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter 0 dBm dengan daya q-factor sebesar 4,0113. Pengaruh daya transmitter pada bitrate 100 Gbps, performansi terbaik pada skenario sebelumnya bahwa performansi terbaik pada link dengan daya transmitter -2.9 dBm dengan daya q-factor sebesar 2,43272. Kata Kunci : Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Qfactor Abstract Nowadays, The development of the Optical Fiber Communication Systems (SKSO in indonesian) continued to progress from year to year. Dense Wavelength Division Multiplexing (DWDM) is one of technology of optical fiber communication systems which grows so fast. DWDM also has several advantages over previous technology. Besides the advantages of DWDM, there are deficiencies which greatly affect the performance of these technologies such as nonlinearity effects Four Wave Mixing (FWM). In this final assigment, there is a modelling of DWDM link was made from software that use the determine the effect of the FWM. And there are also two simulation scenario. In first scenario, the variable input that are changed is the bitrate links and link distance. The second scenario, the variable that is changed is the transmitter power. A 10 Gbps bitrate with a distance of 200 km has the best performance with q-Factor 3. A 40 Gbps bitrate with a distance of 100 km has a Q-factor performance of 3,224. Bitrate of 100 ISSN : 2355-9365 e-Proceeding of Engineering : Vol.6, No.2 Agustus 2019 | Page 3451 2 Gbps that the best performance at a distance of 100 km. The effect of transmitter power on 10 Gbps bitrate has the best performance in the previous scenario that the best performance on a link with 0 dBm transmitter power with q-factor power of 3.37157. Effect of transmitter power at 40 Gbps bitrate, Changes in transmitter power on the link that experiences the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is 0 dBm with a q-factor power of 4.0113. The effect of transmitter power on 100 Gbps bitrate, the best performance in the previous scenario that the best performance on the link with transmitter power is -2.9 dBm with q-factor power of 2.43272. Keyword: Dense Wavelength Division Multiplexing, Four Wave Mixing, Bit Error Rate, Q-fact