Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : JURNAL HUTAN TROPIS

PEMANFAATAN LIMBAH PELEPAH DAN DAUN KELAPA SAWIT (Elaeis guineensis Jacq) SEBAGAI PUPUK KOMPOS Utilization Of Waste District And Palm Oil Leaves (Elaeis guineensis jacq) As Composted Fertilizers Daryono Daryono; Taufiq Rinda Alkas
Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.793 KB) | DOI: 10.20527/jht.v5i3.4785

Abstract

Pelepah daun kelapa sawit yang selama ini kurang dimanfaatkan oleh masyarakat dan lebih bersifat limbah biasanya pelepah ini hanya ditumpuk disekitar pohon saja. Pelepah daun sawit ini berpotensi untuk digunakan sebagai bahan kompos.Penelitian ini terdiri dari 3 perlakuan yaitu: P1 : 25 kg pelepah dan daun kelapa sawit + 6 kg kotoran ayam + 1 kg dedak + 200 ml EM-4 + 20 l air + gula merah 2 kg, P2 : 25 kg pelepah dan daun kelapa sawit +  8 kg kotoran ayam + 2 kg dedak  + 300 ml EM-4 + 30 l air + gula merah 3 kg, P3 : 25 kg pelepah dan daun kelapa sawit + 10 kg kotoran ayam + 3 kg dedak + 400 ml Em-4 + 40 l air + gula merah 4 kg. Dari hasil pengamatan fisik pada penelitian ini untuk suhu,warna, bau, tekstur ,pH dan waktu lama pengomposan terbaik pada Perlakuan P2, P3 dan P1. Untuk perlakuan P2 44 hari, perlakuan P3 49 hari dan perlakuan P1 52 hari dilihat dari stabilnya suhu dan pH. Untuk warna, bau dan tekstur pada perlakuan P2 35 hari, perlakuan P3 40 hari dan perlakuan P1 43 hari.Sedangkan kimia kompos yang memenuhi Standar Mutu Pupuk Organik berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian No. 70 /Permentan / SR.140 / 10 / 2011 yaitu Kadar air koreksi pada P2 sebesar 23.82 dan C-Organik Pada P1=29.96, P2=31.30,P3=30.03,mikro Fe pada P1=0.154,P2=0.106,P3=0.187dan C/N Rasio pada P1=9.46,P2=9.54,P3 =8.56.Kata Kunci: Pelepah dan daun kelapa sawit; Kotoran ayam; dedak; EM-4; gula merah dan airThe leaves of palm leaf that has been underused by the community and more waste is usually stacked only around the tree.This leaves of palm leaf has the potential to be used as compost material.This study consisted of 3 treatments: P1: 25 kg midrib and palm leaf + 6 kg chicken dung + 1 kg bran + 200 ml EM-4 + 20 l water + brown sugar 2 kg, P2: 25 kg midrib and coconut leaf sawit + 8 kg chicken manure + 2 kg bran + 300 ml EM-4 + 30 l water + brown sugar 3 kg, P3: 25 kg midrib and palm leaf + 10 kg chicken manure + 3 kg bran + 400 ml Em-4 + 40 l water + brown sugar 4 kg.From the physical observation in this research to temperature, color, odor, texture, pH and long time of best composting on Treatment P2, P3 and P1.For treatment of P2 44 days, treatment P3 49 days and treatment P1 52 days seen from stable temperature and pH. For the color, odor and texture of the P2 35 days, P3 40 days and P1 43 days.While compost chemistry that meets the Organic Fertilizer Quality Standard based on Regulation of Minister of Agriculture no. 70 / Permentan / SR.140 / 10/2011 Water content correction at P2 of 23.82 and C-Organic At P1 = 29.96, P2 = 31.30, P3 = 30.03, Fe micro at P1 = 0.154, P2 = 0.106, P3 = 0.187 and C / N Ratio at P1 = 9.46, P2 = 9.54, P3 = 8.56.
KOMBINASI MIKROORGANISME LOKAL SEBAGAI BIOAKTIVATOR KOMPOS Combination of Local Microorganism as Compose Bioactivators Riama Rita Manullang; Rusmini Rusmini; Daryono Daryono
Jurnal Hutan Tropis Vol 5, No 3 (2017): JURNAL HUTAN TROPIS VOLUME 5 NOMER 3 EDISI NOVEMBER 2017
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v5i3.4793

Abstract

Peran MOL sebagai dasar komponen pupuk, mikroorganisme tidak hanya bermanfaat bagi tanaman juga bermanfaat sebagai agen dekomposer bahan organik, limbah pertanian, limbah rumah tangga dan industri. Penelitian ini dilatar belakangi dengan banyaknya limbah buah-buahan yang tidak termanfaatkan, limbah bonggol pisang yang dibiarkan menumpuk tanpa dilakukan pengolahan menjadi lebih bermanfaat, keong mas yang selalu dianggap sebagai hama pada tanaman dan rumen sapi yang terbuang begitu saja dan upaya mengatasi ketergantungan terhadap pupuk dan pestisida kimia dapat dilakukan dengan meningkatkan peranan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bioaktivator kompos dan mikroorganisme yang terdapat pada mol. bahan yang digunakan dalam pembuatan MOL adalah bonggol pisang, limbah buah-buahan , keong mas, rumen sapi, urin sapi, air kelapa , air cucian beras (leri), terasi, gula merah untuk MOL I sedangkan Untuk MOL II hanya dibedakan dengan menggunakan gula putih. Pembuatan bioaktivator dilaksanakan di Laboratoriuam Produksi Politeknik Pertanian Negeri Samarinda. Bioaktivator dibuat dengan cara difermentasikan. Fermentasi bahan-bahan MOL I dan MOL II pada hari ke sepuluh seluruh permukaan mol telah ditumbuhi oleh benang-benang berwarna putih, dan berbau aroma tape. Sedangkan hasil identifikasi mikroorganismen pada bioaktivator pada kombinasi MOL I terdapat 4 jenis bakteri, yaitu Clavibacter, Agrobacterium, Clostridium, Pseudomonas berfluorescens, sedangkan untuk MOL II terdapat 3 jenis bahteri yaitu Pseudomonas berfluorescens, Erwinia dan ClavibacterKata Kunci : Bioaktivator; mikroorganisme lokal; limbah buah-buahan; bonggol pisangThe role of MOL as a basic component of fertilizer, microorganisms not only beneficial to plants are also useful as decomposers agents of organic materials, agricultural waste, household waste and industry. This research is based on the amount of untreated fruit waste, the waste of banana hump which is left to accumulate without the processing becomes more useful, the golden snail which is always considered as a pest on crops and cattle rumen that just wasted and efforts to overcome the dependence on fertilizer and chemical pesticides can be done by increasing the role of microorganism. This study aims to produce bioactivators of compost and microorganisms found in moles. the ingredients used in the manufacture of MOL are banana sticks, fruit waste, golden snail, cow rumen, cow urine, coconut water, rice laundry water (lery), terrace, brown sugar for MOL I whereas For MOL II only differentiated by using sugar white. Preparation of bioactivators carried out in the Laboratory of Production Polytechnic of Agriculture State of Samarinda. Bioactivators are made by fermentation. Fermentation of MOL I and MOL II materials on the tenth day of the entire surface of the mole has been overgrown with white threads, and smells of tape. Fermentation of MOL I and MOL II materials on the tenth day of the entire surface of the mole has been overgrown with white threads, and smells of tape. While the results of microorganisms identification on bioactivator in combination of MOL I there are 4 types of bacteria, namely Clavibacter, Agrobacterium, Clostridium, Pseudomonas berfluorescens, while for MOL II there are 3 types of Pterudomonas fluorescens, Erwinia and Clavibacter
PENINGKATAN KUALITAS BIOAKTIVATOR KEONG MAS DENGAN PENAMBAHAN RUMEN KAMBING YANG BERBEDA Rusmini Rusmini; Daryono Daryono; La Mudi; Rusli Anwar; Ali Sadikin
Jurnal Hutan Tropis Vol 11, No 2 (2023): Jurnal Hutan Tropis Volume 11 Nomer 2 Edisi Juni 2023
Publisher : Lambung Mangkurat University-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jht.v11i2.16764

Abstract

Keong mas merupakan hama bagi tanaman padi tetapi dapat dijadikan sebagai bioaktivator.  Bioaktivator keong mas sebelumnya hanya mengandung bakteri Pseudomonas flourescens dan kandungan unsur hara masih rendah.  Rumen kambing merupakan limbah dari peternakan yang kebanyakan malah menjadi limbah yang mencemari lingungan.   Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas bioaktivator keong mas yang dikombinasikan dengan rumen kambing baik dari sifat fisik, kandungan unsur hara dan jenis mikroorganisme.  Penelitian terdiri dari dua perlakuan yaitu pembuatan bioaktivator keong mas dengan penambahan rumen kambing cair (r1),  dan pembuatan bioaktivator keong mas dengan penambahan rumen kambing padat (r2). Pembuatan bioaktivator keong mas dengan penambahan rumen kambing dengan cara difermentasi selama 18 hari. Sifat fisik bioaktivator keong mas dengan penambahan rumen kambing cair dan padat  diamati mulai dari awal pembuatan bioaktivator keong mas sampai jadi.  Uji analisa kimia bioaktivator  keong mas meliputi pH, dan kandungan unsur hara makro  N, P dan K dan uji analisa kandungan bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisik bioaktivator keong mas kombinasi rumen kambing hasil analisis unsur hara N, P, dan K untuk kedua  perlakuan bioaktivator keong mas  denga Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisik bioaktivator keong mas kombinasi rumen kambing lebih baik karena telah jadi pada hari ke-18, kandungan unsur hara bioaktivator keong mas kombinasi rumen kambing pada kedua taraf perlakuan meliputi unsur  N, P, dan K sudah memenuhi standar Pupuk Permentan No.28 Permentan/SR.130/5/2009 dan peningkatan jumlah bakteri sebanyak 7 jenis pada taraf perlakuan r1 dan 8 jenis pada taraf perlakuan r2.