Andi Susilawaty
Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Studi Kualitas Fisik Kimia Sumur Gali Dusun Lassang-Lassang Desa Arungkeke Kec. Arungkeke Kab. Jeneponto Sitti Raodhah; Andi Susilawaty; Muhammad Syamsul Bachri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 1 No 2 (2015): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (594.749 KB)

Abstract

 Groundwater contamination can cause serious problems, since groundwater is a source of wa-ter that is used by most of the population to meet the drinking water needs. Discuss the specific wa-ter chemistry requirements, so it is important because many chemical content of water which cause bad effect on health because it is not in accordance with the biochemical processes of the body. This study aims to determine the physical and chemical quality of water dug wells located in the hamlet village Lassang-Lassang Arungkeke Arungkeke Jeneponto the District in 2014, with a descriptive ap-proach. The study used purposive sampling method, with the criteria that health complaints observa-tion using a questionnaire, and the Field Test Laboratory tests to show the water content of dug wells. The survey results revealed that for the physical parameters of the existing color proofing 4 (40.0%) samples of well water were eligible and 6 (60.0%) were not eligible, for examination of the smell, there are 9 (90.0%) were qualified and 1 (10.0%) were not eligible, and for examination taste 4 (40.0%) were eligible and 6 (60.0%) are not eligible. Dug well water quality of the chemical parame-ters of Iron (Fe) all (100.0%) did not qualify that exceeds the maximum allowable limit of 1.0 mg / L. and Manganese (Mn) (100%) were allowed to meet the requirements of 0.5 mg / L, while the use of health complaints dug well water contained 31 (57.4%) who experienced health complaints and 24 (42.6%) were not experiencing health complaints. To maintain water quality dug well, the public can expect to pay more attention and get used to the cooking water to a boil.Keywords : dug wells, Manganese (Mn), Iron (Fe), color, smell and Taste.
Analisis Spasial Kejadian Tuberkulosis di Daerah Dataran Rendah Kabupaten Gowa Mutassirah Mutassirah; Andi Susilawaty; Irviani Anwar Ibrahim
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 3 No 3 (2017): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1400.39 KB)

Abstract

Berdasarkan data World Health Organization (WHO) pada tahun 2015 terdapat 20.4 juta kasus baru tuberculosis di seluruh dunia, (World Health Organization, 2016). Lingkungan Fisik rumah yang tidak memenuhi syarat ,seperti suhu, kelembaban, kepadatan hunian, luas ventilasi, dan kondisi dinding dapat menjadi pemicu terjadinya penyakit Tuberkulosis. Dalam Al-qur’an Surah Asy-syura (42:30), Allah SWT Berfirman yang terjemahnya bahwa apa saja yang menimpa kamu adalah karena perbuatan tanganmu sendiri. Sehingga manusia harus selalu menjaga kebersihan lingkungan rumah agar terhindar dari penyakit dan bisa tetap sehat.Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kejadian tuberculosis di daerah dataran rendah Kabupaten Gowa tahun 2017. Jenis penelitian yang di gunakan adalah Penelitian Kuantitatif dengan rancangan Observaisonal deskriptif dengan menggunakan pendekatan Sistem Infromasi Geografi (SIG), dengan jumlah populasi sebanyak 423 orang dan jumlah sampel sebanyak 99 orang. Teknik Pengambilan sampel yang digunakan yaitu random sampel.Analisis data spasial menggunakan Quantum GIS dan untuk analisis deskriptif menggunakan SPSS 17.0.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kepadatan hunian dalam rumah kurang dari 9 m2/orang adalah 29,3%, Luas ventilasi kurang dari 10% luas lantai 21,2%, kondisi dinding yang tidak kedap air 32,3%, lantai yang tidak kedap air 19,2%, kelembaban ruangan dalam rumah (< 40% dan > 70%) hanya 1,0%, suhu udara dalam rumah (> 300C)  yaitu 100% tidak memenuhi syarat dan terdapat 12,1% rumah penderita yang menggunakan AC sedangkan untuk jarak rumah penderita yang dekat dari pelayanan kesehatan sebanyak 82 rumah (82.8%) dan sebanyak 17 rumah (17.2%) yang jarak rumahnya jauh dari pusat pelayanan kesehatan . Kata Kunci : Analisis Spasial, Tuberkulosis, Dataran rendah kondisi fisik lingkungan rumah
Kondisi Sanitasi Lingkungan Pondok Pesantren di Kota Makassar Tahun 2018 Nurfadillah Sudirman; Muhammad Saleh; Andi Susilawaty; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 5 No 1 (2019): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1490.517 KB)

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi sanitasi lingkungan pondok pesantren yang berada di Kota Makassar tahun 2018, yang meliputi bagian dari penyedian air bersih, sarana pembuangan tempat sampah, saluran pembuangan  air limbah, saluran pembuangan air limbah (SPAL), kondisi dapur,kepadatan hunian (asrama santri), ketersediaan Toilet. Jenis penelitian ini adalah penelitian observasional dengan pendekatan deskriptif.Sampel yang diambil merupakan sampel untuk lokasi penelitian adalah Pesantren Immim Makassar, Pesantren Ummul Mukminin, Pesantren Darul Aman.Hasil penelitian yang diperoleh untuk kondisi sanitasi lingkungan Pondok Pesantren di Kota Makassar dari beberapa variabel yang digunakan antara lainPenyediaan Air Bersih untuk Pesantren IMMIM Makassar 80%, Pesantren Darul Aman 80%, Pesantren Ummul Mukminin 90%. Sarana Pembuangan Tempat Sampah untuk Pesantren IMMIM Makassar 80%, Pesantren Darul Aman 30%, Pesantren Ummul Mukminin 90%. Saluran Pembuangan Air Limbah  untuk Pesantren IMMIM Makassar 70%, Pesantren Darul Aman 60%, Pesantren Ummul Mukminin 60%. Dapur untuk Pesantren IMMIM Makassar 66%, Pesantren Darul Aman 86%, Pesantren Ummul Mukminin 73%. Kepadatan Hunian (Ruang Tidur) untuk Pesantren IMMIM Makassar 73%, Pesantren Darul Aman 73%, Pesantren Ummul Mukminin 80%. Toilet untuk Pesantren IMMIM Makassar 80%, Pesantren Darul Aman 86%, Pesantren Ummul Mukminin 86%. Kondisi Sanitasi Lingkungan secara keseluruhan dari enam variabel untuk Pesantren IMMIM Makassar 75%, Pesantren Darul Aman 71%, Pesantren Ummul Mukminin 83%.Berdasarkan hasil penelitian ini penulis menyarankan kepada pihak Pondok Pesantren yang berada di Kota Makassar lebih memperhatikan tingkat kondisi sanitasi lingkungan. Sehingga mampu memberikan tingkat kesehatan yang baik untuk santri juga keadaan lingkungan yang bersih di Pondok Pesantren. Kata Kunci : Sanitasi Lingkungan, Pondok Pesantren
Analisis Risiko Paparan Karbon Monoksida (CO) Terhadap Anak Sekolah Di SD Negeri Kakatua Kota Makassar Tahun 2017 Sherli Wahyuni; Andi Susilawaty; Emmi Bujawati; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 5 No 1 (2019): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1490.486 KB)

Abstract

Gas CO sebagian besar berasal dari pembakaran fosil dengan udara berupa gas buangan kendaraan yang lebih banyak dihasilkan dari padatnya lalu lintas. Selain itu, Gas CO dapat pula dihasilkan dari proses industri.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besaran risiko paparan CO pada anak sekolah di SD Negeri Kakatua Kota Makassar.Jenis rancangan pada penelitian ini adalah jenis penelitian kuantitatif dengan metode Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan (ARKL).Dengan jumlah populasi 222 responden dan sampelnya sebanyak 143 responden.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah Multi Stage Sampling yang dilakukan dengan 2 tahap pengambilan sampel. Hasil penelitian menunjukkan  rata-rata konsentrasi CO dalam udara ambien di Sekitar SD Negeri Kakatua tahun 2017 yaitu 968,11 µg/Nm3. Nilai laju asupan udara anak sekolah di SD Negeri Kakatua yaitu paling tinggi 3,0 m3/hari dan paling rendah 2,4 m3/hari. Nilai durasi paparan anak sekolah di SD Negeri Kakatua yaitu paling tinggi 6 tahun dan paling rendah 4 tahun. Rata-rata berat badan anak sekolah di SD Negeri Kakatua yaitu 33,12 kg. Rata-rata besaran risiko (RQ) CO pada anak sekolah di SD Negeri Kakatua yaitu RQ < 1. Nilai RQ < 1 yang artinya anak sekolah di SD Negeri Kakatua belum terjadi risiko paparan Karbon Monoksida yang terkandung di udara ambient, meskipun paparan CO anak sekolah masih belum terjadi risiko tetapi perlu mendapatkan perhatian. Diharapkan kepada semua pihak baik pemerintah, pihak sekolah dan anak sekolah untuk selalu menjaga lingkungan sekitar utamanya yang dekat jalan raya misalnya dengan menanam pohon yang dapat meminimalisir pencemaran udara sekitar. Kata Kunci : Karbon Monoksida, ARKL, Risk Quotient (RQ)
Efektivitas Penurunan Kadar Besi (Fe) dan Kekeruhan pada Air Tanah dengan Penambahan Media Kulit Ubi Kayu (Manihot esculenta crantz) Hendra Wijaya Sumakul; Andi Susilawaty; Habibi Habibi
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6 No 1 (2020): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1656.135 KB)

Abstract

Since water is second most essential element in life after oxygen, the need of clean water never ceases. Clean water must meet certain criteria such as the chemical, physical and biological requirements. The iron content (Fe) in the water is one of the most crucial factors that determines whether the water is safe for use. Most of the residents of Lembo Sub district in Tallo District of Makassar City own wells from which they take the water for their daily use. Apparently, the water contains high level of iron (Fe) and turbidity. Some studies suggest that cassava peels (Manihot esculenta crantz) contain natural substances that can reduce the iron (Fe) content and turbidity of well water. For that reason, this research aims to examine the efficacy of cassava peels (Manihot esculenta crantz) in reducing the iron (Fe) content and turbidity of well water. In investigating the issue, this research used quasi experimental design with Completely Randomised Design (CRD) as the method. The results of statistical analysis suggest that cassava peels can significantly reduce the iron (Fe) content and turbidity of well water, as indicated by significance value of 0.022<0.05 and 0.015<0.05 respectively. The findings show the following statistics. The iron content in the well water before treatment is 5.59 mg/l. After a 15 cm cassava peel treatment, the iron content decreases to 0.03 mg/l on average (99.5%). After a 30 cm cassava treatment, the iron content decreases to 0.046 mg/l on average (99.2%), After a 60 cm cassava peel treatment, the iron content decreases to 0.28 mg/l on average (92%). As for the water turbidity, a 15 cm cassava peel treatment reduces the turbidity level by 1.18 NTU (97.4%), a 30 cm cassava peel treatment reduces the turbidity level by 3.6 NTU (92%), and a 60 cm cassava peel treatment reduces the turbidity level by 1.79 NTU (96.1%). Therefore, this research concludes that cassava peels significantly reduces the iron (Fe) content and turbidity of well water. Keywords: cassava peels, Iron content, turbidity, groundwater
Efektivitas Ekstrak Daun Sidaguri (Sida Rhombifoli L) Terhadap Kematian Larva Aedes aegypti Rezki Rahmatullah; Andi Susilawaty; Habibi Habibi; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6 No 1 (2020): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1656.146 KB)

Abstract

Aedes aegypti is a vector that transmits dengue virus and causes Dengue Haemorrhagic Fever (DHF). The increasing number of DHF case has caused major fatality annually. The use of chemical larvicide is not entirely environmentally friendly. On the contrary, plant based larvicide has been proven to be effective in controlling larvae while subduing the negative impacts of larvicide use to environment. This research investigates the efficacy of arrowleaf sida extract (Sida rhombifolia L) as a larvicide in killing Aedes aegyti larvae. It uses quantitative approach with true experiment method in testing the hypothesis. The research samples consist of 500 larvae which are divided into four groups with different treatments (0.25%, 0.50%, 0.75% dan 1%) and four reapplications within a time span of 1440 minutes. The findings show that the average percentage of Aedes aegypti larvae death with 0.25% concentration is 6.25%, 0,50% concentration is 12,25%, 0,75% concentration is 15,25%, and 1% concentration is 18,25%. The result of ANOVA test is p-value = 0.001 (p= <0.05) which further indicates the correlation between the death of larvae and arrowleaf sida extract intervention. This research hopes that the research findings can contribute to the success of Aedes aegypti larvae eradication program.Keywords: Aedes aegypti larvae, arrowleaf sida extract, the death of larvae
Uji Daya Tolak Ekstrak Daun Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi) Terhadap Lalat Rumah (Musca domestica) Fira Fitranillah; Andi Susilawaty; Nurdiyanah Syarifuddin
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6 No 1 (2020): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1656.141 KB)

Abstract

Diare merupakan penyakit berbasis lingkungan.Penularan penyakit diare dapat terjadi secara fekal-oral, melalui makanan dan minuman yang terkontaminasi agen yang berasal dari air yang tercemar maupun dari tinja yang terinfeksi. Tinja yang telah terinfeksi mengandung virus dan bakteri dalam jumlah yang besar. Bila tinja tersebut dihinggapi oleh vektor seperti lalat, kemudian lalat tersebut hinggap di makanan dan minuman maka akan menularkan diare kepada orang yang memakannya. Salah satu cara mengendalikan lalat rumah yaitu dengan penggunaan insektisida nabati yang ramah lingkungan. Peneliti menggunakan insektisida yang berasal dari bagian tumbuhan yaitu daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi), tujuan peneltian ini adalah untuk mengetahui daya tolak ekstrak daun belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi) terhadap lalat rumah (Musca domestica). Jenis penelitian ini adalah penelitian Kuantitatif dengan metode Eksperimen sungguhan (True Experiment). Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kesehatan Lingkungan UIN Alauddin Makassar, sampel dalam penelitian ini adalah lalat rumah sebanyak 180 ekor yang dibagi ke dalam empat kelompok, masing-masing berisi 15 ekor lalat dengan perlakuan (0%, 10%, 15% dan 20%) dan dilakukan 3 kali replikasi dengan waktu pengamatan selama 60 menit. Dari hasil penelitian rata-rata hinggapan lalat konsentrasi 0% yaitu 14 ekor, Pada konsentrasi 10% yaitu 4 ekor, Pada konsentrasi 15% yaitu 2 ekor dan Pada konsentrasi 20% yaitu 1 ekor. Perlakuan terbaik dalam mencegah hinggapan lalat adalah pada konsentrasi 20% dengan daya tolak 95,55%. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu alternatif pengendalian vektor khususnya lalat rumah sebagai insektisida nabati yang ramah lingkungan. Kata Kunci: lalat rumah, ekstrak daun belimbing, daya tolak
Penilaian Risiko Kesehatan Lingkungan dari Personal Hygiene dan Sanitasi Terhadap Keluhan Penyakit Kulit di Pulau Badi Kabupaten Pangkep Wahyu Alfat; Andi Susilawaty; Fatmawaty Mallapiang; Munawir Amansyah; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 6 No 1 (2020): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3362.085 KB)

Abstract

Environmental Health Risk Asessment (EHRA) adalah sebuah studi partisipatif untuk memahami kondisi fasilitas sanitasi dan higinitas serta perilaku-perilaku masyarakat pada skala rumah tangga. Data yang diperoleh dari studi EHRA akan digunakan untuk menentukan wilayah yang berisiko terhadap penyakit berbasis lingkungan. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif observasional, dilakukan di Pulau Badi Kecamatan Liukkang Tupabbiring Kabupaten Pangkep. Dengan jumlah populasi 618 Kepala Keluarga, Teknik pengambilan sampel pada penelitian ini adalah Multi stage sampling dimana metode ini menggabungkan beberapa metode random sampling yang digunakan seefisien dan seefektif mungkin yaitu proporsional stratified random sampling untuk menentukan sampel disetiap wilayahnya, serta menggunakan metode pengambilan sampel yang kedua yaitu simple random sampling dimana untuk memilih rumah tangga sebagai responden. sehingga jumlah sampel yang diperoleh sebanyak 64 responden. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah yang berisiko sangat tinggi (kategori 4) berada pada wilayah RW I dan RW V, untuk yang berisiko sedang (kategori 2) berada pada wilayah RW II dan RW IV, dan yang berisiko rendah berada pada wilayah RW III. Sedangkan untuk keluhan Penyakit Kulit dari 64 (100%) responden, yang mengalami kulit kering seperti sisik dan terkelupas 30 (47%) responden, gatal dengan frekuensi berulang 20 (31%) responden, Bentol kemerahan 8 (13%) responden, dan bercak kemerahan 6 (9%) responden. Berdasarkan hasil penelitian maka disarankan bagi kader-kader posyandu serta tenaga kesehatan di Pulau Badi dapat memberikan informasi lebih lanjut tentang keluhan-keluhan penyakit kulit melalui penyuluhan, dan bagi penduduk perlu meningkatkan kebersihan diri dan menjaga kebersihan lingkungan agar terhindar dari penyakit kulit. Kata Kunci : EHRA, Penyakit Kulit, Personal Higiene
The Effect Of Concentration Of Liquid Acid Solution And Length Of Damaging On The Lowering Of Leading Metals (Pb) In Meat Shells ( Anadara granosa) In The Coastal Area Of Makassar City Alim Syam; Andi Susilawaty; Syarfaini Syarfaini; Munawir Amansyah
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7 No 1 (2021): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (440.349 KB)

Abstract

Shellfish is one of the marine biota that is often consumed by humans. The content of lead heavy metals in Anadara granosa shellfish found in the coastal area of Makassar city is already above the threshold value. Consuming seafood such as shellfish containing heavy metals has a negative effect on humans. One effort that can be done to minimize the content of heavy metals in the body of the shell is by soaking in a solution of lime asama ( Citrus autrantifolia ). Lime acid solution is used because it contains organic compounds that have the ability as chelators (metal binders). The purpose of this study was to see the effect of lime acid solution and soaking time on the reduction of lead levels in the meat of the shellfish. This study uses a Quasi Laboratory Experimental method with a Pre and Post Test with Control Group Design research design . In this study variations in the concentration of lime acid solution used were 50%, 75%, 100% concentration, and 0% concentration as a control. While the variation of soaking time used is 15 minutes, 30 minutes and 60 minutes. The results showed that the treatment dose of 0% of lime acid solution showed a decrease in the levels of lead (Pb) the lowest, namely at the time of treatment for soaking for 60 minutes as much as 0.0467 mg / kg . Whereas the treatment dose of 100 % and soaking time for 60 minutes showed the most effective treatment in reducing lead levels in shellfish meat, which was 1,1600 mg / kg. Keywords: Anadara granosa , Pb  , Citrus autrantifolia 
The Relationship Between Dengue Hemorrhagic Fever and Climate Change in Wajo District 2015-2019 Nurfadhillah Nurfadhillah; Andi Susilawaty; Muhammad Rusmin; Abdul Majid HR. Lagu; Syahrul Basri
HIGIENE: Jurnal Kesehatan Lingkungan Vol 7 No 1 (2021): Kesehatan Lingkungan
Publisher : Public Health Department, Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (485.555 KB)

Abstract

Dengue Hemorrhagic Fever (DHF) is an acute febrile disease caused by the dengue virus which enters human circulation through the bite of the aedes aegypti mosquito. Significant climate change that occurs over a certain period of time. In other words, climate change is also defined as changes in temperature, rainfall, wind speed and so on. This study aims to determine the relationship between the incidence of dengue hemorrhagic fever and climate change in Wajo Regency. This type of research is an analytical study with a correlation design in which to see the relationship between one variable and another. The results of this study indicate that there is a significant relationship between air temperature, rainfall, humidity and the incidence of dengue bleeding (p = 0.001 and r = -0.403), (p value = 0.001 and r = 0.403), (p value = 0.002 and r = 0.533) and there was no significant relationship between wind speed and the incidence of dengue hemorrhagic fever (p value = 0.632 and r = 0.057). It is hoped that in future studies using different designs, data sources, locations and variables and using all other climate variables that are thought to have a relationship with the incidence of dengue hemorrhagic fever. And secondary data used is longer. Keywords : Dengue Haemorrhagic Fever occurrence, air temperature, rainfall, humidity, wind speed