Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

EDUKASI KESEHATAN PENCEGAHAN RESISTENSI ANTIBIOTIK MENGGUNAKAN VIDEO ANIMASI PADA ANAK PANTI ASUHAN DI KOTA MATARAM Dian Puspita Sari; Putu Suwita Sari; Rizqa Fersiyana Deccati; Lale Justin Amelinda Elizar
Jurnal Abdi Insani Vol 10 No 2 (2023): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v10i2.960

Abstract

Secara alamiah bakteri dapat mengembangkan kemampuan untuk bertahan dari antibiotik yang sebelumnya efektif. Kondisi yang dikenal sebagai resistensi antibiotik ini terjadi semakin cepat karena penggunaan berlebihan, atau penyalahgunaan antibiotik. Resistensi antibiotik memiliki implikasi klinis dan ekonomi yang serius. Perilaku swamedikasi dengan antibiotik mempercepat terjadinya resistensi dan perilaku ini sering ditemukan di Indonesia. Faktor pengetahuan dan perilaku mencari pengobatan sendiri memengaruhi perilaku swamedikasi. Meningkatkan pengetahuan masyarakat, khususnya anak asuh di Panti Asuhan Patmos, Kota Mataram, mengenai bahaya resistensi antibiotik dan upaya pencegahannya. Pengetahuan yang benar diharapkan dapat membentuk perilaku bijak dalam penggunaan antibiotik. Edukasi disampaikan menggunakan video animasi berdurasi 4,5 menit. Video ini menjelaskan definisi antibiotik dan resistensi antibiotik; penyebab dan besarnya masalah; cara penggunaan antibiotik yang benar; cara penyebaran bakteri yang resisten; dan cara mencegah resistensi antibiotik. Dari 46 peserta kegiatan, 36 peserta mengisi pretes, 22 mengisi postes, dan 17 mengisi keduanya. Mayoritas peserta (91-100%) menjawab enam dari delapan pertanyaan dengan benar. Meski demikian, kurang dari 60% peserta yang mengetahui bahwa demam tidak selalu memerlukan antibiotik dan definisi resistensi antibiotik yang benar. Rerata skor pengetahuan sebelum (8,01) dan sesudah edukasi (8,24) tidak menunjukkan perbedaan signifikan secara statistik (p>0,05, uji Wilcoxon). Edukasi serupa di masa mendatang perlu lebih interaktif, meluruskan miskonsepsi mengenai penggunaan antibiotik pada demam, dan menjelaskan definisi resistensi antibiotik dengan akurat sehingga masyarakat memahami implikasinya terhadap risiko dan upaya bersama dalam mencegahnya. Tidak didapatkan peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah menonton video edukasi. Kegiatan ini juga mengidentifikasi miskonsepsi yang perlu diluruskan pada edukasi selanjutnya.
Health-Seeking Behavior for Occupational Diving Injuries among Traditional Fishermen: A Qualitative Study Yoga Pamungkas Susani; Wahyu Sulistya Affarah; Putu Suwita Sari; Basuki Rahmat; Dian Puspita Sari; Ni Putu Sasmita Lestari; Nurman Saputra; Alfian Muhajir
The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health Vol. 15 No. 2 (2026): The Indonesian Journal of Occupational Safety and Health
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/ijosh.v15i2.2026.152-165

Abstract

Introduction: Diving-related injuries remain a major occupational health risk among coastal fishermen. It is crucial to examine health-seeking behavior among traditional diving fishermen to improve prevention strategies and early management for this high-risk occupational group. Methods: This qualitative study used purposive sampling. The participants were 17 active or former diving fishermen and 13 healthcare workers from coastal primary healthcare centers (Puskesmas) across Lombok Island, Indonesia. Data were collected through focus group discussions and analyzed thematically using Andersen's predisposing, enabling, and perceived need framework. Results: The health-seeking behavior of traditional diving fishermen is influenced by their perception of the severity of diving-related injuries, referred to as perceived need. Predisposing factors include the normalization of occupational risks based on empirical experience, culturally influenced interpretations of symptoms, and peer support. Enabling factors include the cost of treatment, perceptions of unclear referral pathways, and previous negative experiences with primary healthcare services. Healthcare providers also acknowledged that their capacity to manage diving-related injuries remains limited. Conclusion: The interaction of occupational risk normalization, perceived need, and healthcare system barriers appears to contribute to delayed healthcare utilization among traditional diving fishermen. These factors suggest that the limited use of formal healthcare services is more likely to reflect substantial underreporting than a genuinely low incidence of diving-related injuries. These findings highlight the need for coordinated multilevel interventions to improve timely healthcare utilization in this high-risk occupational group.