Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Bentuk Pertunjukan Seni Gemblak Dor di Lamongan Welly Suryandoko
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 2 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v12i2.2596

Abstract

Masyarakat Lamongan umumnya hanya mengenal seni pertunjukan Sandur dan Tayub. Selain kedua seni pertunjukan tersebut, juga terdapat seni pertunjukan Gemblak Dor yang tidak kalah menariknya. Sebagian orang mengartikan bahwa Gemblak berasal dari Ponorogo yaitu istilah yang mengacu pada peliharaan seorang warok yang dulu sebagai pelaku penunggang kuda jathilan yang ada dalam kesenian reog Ponorogo. Sedangkan Gemblak Dor di desa Slaharwotan merupakan seni pertunjukan rakyat karena tumbuh dan berkembang di lingkungan masyarakat. Istilah Gemblak Dor berasal dari kata “Mblak” yang berbunyi dari instrumen kendangnya dan “Dor” berasal dari isntrumen jidor, sehingga masyarakat desa Slaharwotan menyebutnya Gemblak Dor. Permasalah penelitian ini adalah, (1) bagaimana asal-usul pertunjukan Gemblak Dor di desa Slaharwotan? (2) bagaimana struktur pertunjukkan Gembak Dor? (3) Bagaimana fungsi seni pertunjukan Gemblak Dor di masyarakat sekitar? Tujuan penelitian, untuk mendeskripsikan asal mula munculnya seni pertunjukan Gemblak Dor di Desa Slaharwotan, bentuk pertunjukan, serta fungsi seni pertunjukan Gemblak Dor di dalam masyarakat sekitar.Metode penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif. Lokasi penelitian di desa Slaharwotan, kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah wawancara, observasi, dan dokumentasi. Analisis data yang digunakan adalah domain dan taksonomi. Validitas data yang digunakan adalah triangulasi sumber dan metode. Hasil dari penelitian ini :seni pertunjukan Gemblak Dor merupakan akulturasi budaya yang dibawa masuk ke Lamongan oleh sekelompok pengamen dari Nganjuk dan Jombang , berkembang di  desa Slaharwotan kecamatan Ngimbang kabupaten Lamongan. Seni  pertunjukan Gemblak Dor terdiri dari penari ayon-ayon, jaranan, jepaplokpentul dan tembem, dan genderuwo. Struktur pertunjukannya terdiri pembukaan, atraksi pertunjukan, dan penutup. Seni pertunjukan Gemblak Dor memiliki  fungsi primer yang terdiri dari  sarana ritual, hiburan, dan presentasi estetis. Sedangkan  fungsi sekunder terdiri dari  pengikat solidaritas kelompok masyarakat dan sarana komunikasi.Selain fungsi primer dan sekunder terdapat fungsi yaitu sebagai respon fisik yang dapat memberikan stimulus anggota jasmani. Kata kunci: Seni pertunjukan Gemblak Dor, struktur pertunjukan
Pengembangan Kampung Seni Melalui Sanggar Seni Lintas Generasi Welly Suryandoko; Agus Suwahyono
Stilistika: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol 12, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30651/st.v12i1.2444

Abstract

Pada pelaksanaan KKN-PPM ini mengutamakan penerapan teori dan praktek seni teater berupa pelatihan-pelatihan berperan dan bermain Seni Teater Tradisional Ludruk secara utuh   di sekitar desa Canggu Kecamatan Jetis Kabupaten Mojokerto wilayah yang dekat dengan  Ludruk  Karya  Budaya.  Selain  memberikan  pelatihan  ketrampilan  ludruk  untuk Sanggar Ludruk Karya Budaya, Sanggar Ludruk Remaja dan Sanggar Ludruk Anak. di  Desa Canggu.   Berawal   dari   pelatihan Seni Teater Tradisional Ludruk diharapkan warga Desa Canggu umumnya atau para peserta pelatihan tersebut dapat menjadi generasi penerus Ludruk baru yang dapat menunjang kekuatan wisata kampong seni di desa. Target dari kegiatan KKN adalah mengubah mitra atau khalayak sasaran yaitu Sanggar Ludruk Karya Budaya, Sanggar Ludruk Remaja dan Sanggar Ludruk Anak Desa Canggu Kecamatan Jetis, Mojokerto yang awalnya kurang produktif sacara ekonomi melalui pelatihan ketrampilan Seni Teater Tradisional Ludruk ini diharapkan dapat menjadi destinasi andalan Desa Canggu. Luaran (output) yang akan dihasilkan setelah kegiatan ini dilaksanakan yang utama terwujudnya Desa Wisata yang mewadai Ludruk lintas generasi andalan Desa Canggu. Senyampang mewujudkan Sanggar Seni Ludruk Lintas Generasi Tim PMM juga memberikan pelattihan untuk menghasilkan pengembangan destinasi desa wisata sebagai kampung Ludruk. Mendaftarkan Desa Canggu sebagai Kampung seni Ludruk Jawa Timur.
Cakil: Movement Creation Techniques in Pantomime Performing Arts Welly Suryandoko
International Journal of Visual and Performing Arts Vol 1, No 2 (2019)
Publisher : ASSOCIATION FOR SCIENTIFIC COMPUTING ELECTRICAL AND ENGINEERING (ASCEE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31763/viperarts.v1i2.25

Abstract

Pantomime is the art of creating illusions by making the body a means of art communication. The body speaks and tells very emotionally; expressions are created through bodily movements. The movement brings silence to the wordless story. Pantomime also has many-body techniques and can be taken from any source. The purpose of this study is to make the Cakil movement technique in Javanese puppets. The Cakil movement is analyzed and used as a source of ideas of creation. These movements include Ngasak or Asakan, Ceklekan, Kelitan (ngelit), Ngancap. This technique is processed, and the results are used as a medium of expression in the art performance of mime. The results showed that the Cakil movement technique could produce new dynamic movements with strong character and be able to form a movement model that is based on the Cakil movement.
Monolog Musikal Pendekatan Teori dan Praktek Welly Welly Suryandoko
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 1 No 1 (2018)
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v1n1.p61-65

Abstract

AbstrakMonolog musikal merupakan jenis pertunjukan teater monolog yang dimainkan oleh satu orang pemain dengan menggunakan teknik musikal dalam aspek pertujukannya. Praktik monolog ini memaksimalkan keaktoran dengan berbagai spektrum dalam pertunjukan monolog musikal. Keaktoran, menari, bernyanyi dan kemampuan musik. Konsentrasi aktor lebih kompleks pada jenis ini sebab selain kemampuan keaktoran yang kuat juga unsur penguat lain yang telah disebut diatas diolah dengan baik oleh aktor saat melakukan eksplorasi secara berkelanjutan. Tujuan kajian monolog musikal dengan pendekatan teori dan praktik ini agar penulis dapat mensekemakan secara teoritik dan praktik monolog musikal, sebagai jenis pertunjukan monolog yang tidak diperhatikan di Jawa Timur bahkan di Indonesia. Monolog musikal dikaji secara mendalam dalam sebuah pendekatan teoritik yang meliputi esensi monolog musikal, spektrum monolog musikal, dan naskah monolog musikal. Sedangkan, pendekatan praktek monolog musikal terdiri dari, aktor monolog dan keaktoran, aktor monolog dan nyanyian, dan aktor dan tarian. Dua dimensi pendekatan teori dan praktik monolog musikal ini melihat pada pertunjukan monolog musikal yang dilakukan oleh penulis pada pementasan monolog. Terdapat dua macam pertunjukan monolog musikal yang dikaji dalam pendekatan praktek monolog musikal ini yaitu monolog musikal berjudul Selamat Ulang Tahun dan Minto, keduanya merupkan karya naskah dan pertunjukan monolog musikal dipentaskan pada Tahun 2017 dan 2018. Hasil pada teori dan praktik monolog musikal melalui analisis mendalam terhadap dua karya tersebut menghasilkan pendekatan praktik yang tertuang diatas dengan melampirkan dokumentasi pertunjukan monolog musikal ini sebagai penguat kajian.Kata kunci: monolog musikal, teori, praktik
IMPROVISASI TEATER: MATERI KESIAPAN AKTOR indar sabri; autar abdillah; arif hidajad; Welly Suryandoko
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 4 No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v4n2.p1-14

Abstract

Teater modern merupakan jenis teater yang tumbuh dan berkembang di tengah keramaian kota dengan adanya pengaruh dari teori Barat. Cerita yang dipentaskan bersumber dari sebuah karya sastra atau peristiwa sehari-hari. Dewasa ini teater modern sedang aktif berinovasi dalam pertunjukannya karena sadar akan adanya kekurangan dalam pertunjukannya. improvisasi dalam metode pelatihan keaktoran yang dilakukan pada proses pelatihan adalah salah satu kekurangan teate modern sehingga membutuhkannya dalam metode pealtihannya. Sejak awal kemunculannya, teater tradisional Indonesia menggunakan teknik improvisasi. Dalam berimprovisasi, pemain berpedoman pada cerita yang sederhana dan mengembangkan menjadi sebuah pertunjukan. Ludruk adalah salah satu bentuk pertunjukan teater tradisional yang meggunakan metode improvisasi didalamnya. Metode pelatihan Ludruk ada empat yaitu nyebeng, sepelam, tedean dan ngelmu. Metode-metode tersebutlah yang digunakan oleh seorang sutradara ludruk untuk berproses dan latihan dalam sebuah pertunjukan Ludruk. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Pendekatan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah fenomenologi. Studi fenomenologi adalah studi yang berupaya mendeskripsikan pemaknaan umum dari sejumlah individu terhadap berbagai pengalaman hidup mereka terkait dengan konsep atau fenomena. Sedangkan tujuan utama dari fenomenologi adalah untuk mereduksi pengalaman individu pada fenomena menjadi deskripsi tentang esensi atau makna universal. Hasil penelitian menunjukan sebagai berikut. Ludruk dengan teknik bermain secara improvisasi merupakan teknik yang dipelajari melalui pengalaman ketika pementasan berlangsung dan ketika sedang berlatih dengan metodenya. Metode pelatihan ludruk ada empat kalsifikasinya nyebeng, sepelan, tedean dan ngelmu. Secara tidak langsung menggunakan improvisasi di dalamnya. Kata Kunci: Teater modern, Ludruk, Improvisasi, Pelatihan Ludruk
Estetika Paduan Suara Drama Musikal Abu Dzar Al Ghifari Welly Suryandoko
Virtuoso: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Musik Vol. 1 No. 2 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/vt.v1n2.p25-31

Abstract

Unsur Drama Musikal terdiri dari drama tari dan musik. Masing-masing variabel tersebut menjadi dimensi penguat dalam pertunjukan Drama Musikal. Termasuk musik, selain instrumen yang dapat menghasilkan musik ilustrasi pada adegan tertentu atau suasana adengan tertentu. Paduan suara dalam Drama Musikal Abu Dzar Al Ghifari sebagai penggerak plot. Peranan paduan suara dalam pertunjukan ini adalah a) Dimensi peran paduan suara terbagi menjadi empat hal 1) paduan suara sebagai aktor, 2) paduan suara sebagai penguat peristiwa, 3) paduan suara sebagai penonton ideal, 4) paduan suara dan gerak tari. b) Estetika paduan suara terbagi menjadi lima hal 1) solois dalam paduan suara, 2) lagu pembuka paduan suara, 3) lagu adengan suasana, 4) lagu klimaks, dan 5) lagu penutup drama musikal. Perspektif diatas dikaji menggunakan kajian estetika untuk menganalisis Paduan Suara Drama Musikal Abu Dzar Al Ghifari yang menceritakan kisah heroik tokoh dimasa Rosulullah Muhammad SAW. Melalui analisis tersebut akan dihasilkan spektrum estetika Paduan Suara dalam Drama Musikal.Kata kunci: estetika, paduan suara, drama musikal
SANDUR ANTARA TONTONAN DAN TUNTUNAN Arif Hidajad; Autar Abdillah; Indar Sabri; Welly Suryandoko
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 5 No 2 (2022): Oktober 2022
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research tries to express analytically a phenomenon of transformation era with it’s influence and result. The influence relates to value. This new value of selenium can change life of social in structure, and also arranges implementation of public. Artistry of public as stripper public culture product, more or less experiencing friction of either in function and also its existence. This research using sociological theatre tries to analyzes the product existence with modern culture product. Modern idea that producing practical patterned thinking, individualist as a result of system value which transform. The friction is aspect function of from solidarity and emancipation of supporter public to different value. Artistry existence of public as social institute sub hardly determines continuous tradition of the past. Ledok Kulon as a outskirts of course also has arranging value. Influence of television as a product of transformation era of course also brings as result of other in arranging value. Existence of Sandur as public culture product has meaning in transformation era with its globalization. Economic and other social element science of course related to causality generated. Presence of public theatre of Sandur in the middle of public is being experiences friction of the value, be a real interesting study to be expressed. Artistry of public that is full value expressed through phonetic symbol in artistry, returns to emerging and deflecting stays in change to arrange value. Existence of Sandur public theatre is reasoning of importance of value in this transformation era, of course television becomes side effect as media and also as influence to value. Importance function and collective life of public becomes reasoning of this art, in form and also philosophy.
Developing of Android Application "Ku Pantomime" for Junior High School Students Welly Suryandoko; Heru Setyono; Rudloffudin Jindan
AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan Vol 15, No 1 (2023): AL-ISHLAH: Jurnal Pendidikan
Publisher : STAI Hubbulwathan Duri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35445/alishlah.v15i1.3503

Abstract

The main purpose of this study is the development of the Android application "Ku Pantomime" to strengthen knowledge and pantomime skills in junior high school students. Android application "Ku Pantomime" is an interactive learning feature for Mime's knowledge and skills. Development research with the Addie model approach consists of five stages of implementation. The research implementation stage reaches the product development stage. This research instrument is a guideline for interviews, expert validation instruments, questionnaires, and observation sheets. Data were analysed using the mixed method. This research successfully developed an interactive, effective, and practical "Ku Pantomime" Android application. The results of this study are the answers to the problem of scarcity of learning media pantomime and teacher competencies in the field of Pantomime. As well as answering online learning design challenges by providing online learning media innovations at home.
TEATER MONOLOG TRADISIONAL: BENTUK PERTUNJUKAN, NILAI, DAN KEHIDUPAN JALANAN Welly Suryandoko
GETER : Jurnal Seni Drama, Tari dan Musik Vol 6 No 1 (2023): April 2023
Publisher : Jurusan Sendratasik FBS Unesa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/geter.v6n1.p51-63

Abstract

Teater Tradisional Monolog adalah pertunjukan tunggal yang mengeksplorasi pertunjukan jalanan di kota-kota besar Indonesia di tengah modernisasi, menghidupkan tradisi dengan melibatkan penonton secara langsung di area publik. Artikel ini mengkaji kesulitan mengembangkan drama yang dilakukan oleh karakter dengan keterlibatan ruang publik, penonton, dan karakteristik bentuk, berdasarkan skenario aktual dalam penelitian dan data yang diperoleh. Teater Tradisional Monolog mengkaji dan mengembangkan pola pertunjukan jalanan, serta memperkenalkannya kepada seluruh komunitas di Indonesia, dengan menggunakan materi sejarah dan kebangkitan.  
Pengembangan Lembar Kerja Mahasiswa Mata Kuliah Praktek Tata Teknik Pentas Dan Cahaya Welly Suryandoko; I Nengah Mariasa; Eko Wahyuni Rahayu
CandraRupa : Journal of Art, Design, and Media Vol. 1 No. 1 (2019): Vol.1 No.1 (2019)
Publisher : Universitas Dinamika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37802/candrarupa.v1i1.32

Abstract

Based on observations. Some lecturers have used MFIs and other lecturers not to use MFIs because the use of printed books is enough to be used by students in understanding the material taught. Seeing the facts, all lecturers from the concentration in the department stated that there was a need for the development of MFIs. This is the basis of the problem statement 1) How is the Development Process of Eye and Light Engineering MFIs? 2) How is the Quality of Development of Eye MFIs for Stage and Light Engineering? The research method used in the development of this MFI is research and development or Research and Development (R & D). Sukmadinata (2015) states that research and development or Research and Development (R & D) is a research method or approach to produce new products or improve existing products. Based on the results of the process of developing stage and light engineering MFIs for the 6th semester students of the 2015 UNESA FBS study program, the percentage scale obtained was 90%, 85% and 74%. The percentage scale obtained belongs to the good category. Quality aspects consist of: the accuracy of the contents of the book validator I gets a scale of 92% and validator II gets a scale of 83%. For the benefit aspect the book validator I got a scale of 83% and validator II got a scale of 83%. For completeness aspects, validator I gets a scale of 100% and validator II gets 93%. For linguistic aspects, validator I got a scale of 100% and validator II got a scale of 93%. With the scale obtained from these 4 aspects, it can be concluded that the product does not need to be revised. The researcher hopes that this product can be disseminated and used by lecturers and students extensively to improve the ability of lecturers in the arts, especially the practice of TTPC.