Claim Missing Document
Check
Articles

The Relationship Between Parenting Style and Emotional Maturity of Adolescents from Single-Parent Families Jane, Febe; Ambarwati, Krismi Diah
Analitika: Jurnal Magister Psikologi UMA Vol. 17 No. 1 (2025): ANALITIKA JUNE
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/analitika.v17i1.13262

Abstract

One form of family disharmony is the presence of a single parent, which often results from divorce. This condition can impact adolescent development, particularly emotional maturity. This study aims to examine the relationship between parenting style and emotional maturity among adolescents from single-parent families. A quantitative approach with a correlational design was employed. The participants consisted of 52 adolescents aged 12–18 years from single-parent families due to divorce. The instruments used were the Parenting Styles and Dimensions Questionnaire (PSDQ) to measure parenting style and the Emotional Maturity Scale (EMS) to assess emotional maturity. Data were analyzed using Pearson’s correlation test. The results revealed a significant positive relationship between general parenting style and adolescents’ emotional maturity (r = 0.420; p = 0.001). However, no significant correlation was found between authoritarian or permissive parenting styles and emotional maturity. These findings suggest that certain parenting styles play an important role in shaping the emotional development of adolescents from single-parent families.
Parenting in Improving the Ability of Self-Care in Children with Autism Spectrum Disorder Sukardi, Sharon Gagat Raina; Ambarwati, Krismi Diah
Philanthropy: Journal of Psychology Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/philanthropy.v9i1.10973

Abstract

Autism is not only a deficit in communication and behavior, but it also experiences limitations of self-care. This causes them to require appropriate parenting to develop their ability in self-care in order to create a more independent life. This study aims to explore parenting patterns in improving the ability of self-care in children with ASD using the parenting dimension theory by Baumrind. This study used the qualitative method with a phenomenology approach. Data collection was carried out by interviews and observation. Informants consisted of two families who have children with ASD with an age range of 6-12 years old. This study demonstrated that authoritative parenting is effective parenting because it prioritizes a balance between freedom and guidance. This can form the ability for self-care, especially in children with ASD.
Kualitas Hidup dan Perbandingan Sosial Wanita Dewasa Awal yang Mengalami Body Dissatisfaction Vinsensia Ela Anjela; Krismi Diah Ambarwati
Jurnal Penelitian Psikologi Vol. 13 No. 2 (2022): Jurnal Penelitian Psikologi
Publisher : Program Studi Psikologi Fakultas Psikologi dan Kesehatan Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29080/jpp.v13i2.768

Abstract

Fenomena wanita dewasa awal yang mengalami body dissatisfaction telah banyak terjadi di Indonesia, salah satu faktor yang memengaruhi individu mengalami body dissatisfaction adalah perilaku membanding-bandingkan penampilan fisik dan bentuk tubuhnya dengan wanita yang dianggap lebih menarik. Berdasarkan perilaku membanding-bandingkan yang dapat membuat wanita dewasa awal mengalami body dissatisfaction, hal tersebut juga berdampak pada kualitas hidup individu itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan gambaran kualitas hidup dan proses perbandingan sosial wanita dewasa awal yang mengalami body dissatisfaction. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan desain penelitian fenomenologi. Metode pengumpulan data dilakukan dengan wawancara dan observasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa wanita dewasa awal yang mengalami body dissatisfaction secara umum terjadi karena melakukan perbandingan akan penampilan fisik dengan wanita yang lebih menarik, hal tersebut berakibat menurunnya kualitas hidup dari individu tersebut yaitu individu merasa kurang bahagia dan kurang puas dalam menjalani hidup.
Surviving Academic Difficulties: Spirituality and Its Relationship to Resilience in Migrating Final-Year Students Pinasthika, Terrymoza Demas; Ambarwati, Krismi Diah
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 12, No 3 (2024): Volume 12, Issue 3, September 2024
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v12i3.14992

Abstract

One of the most challenging phases in college is the phase when working on a thesis. Moreover, as a student who is far from home, of course, you will have your own difficulties. To be able to face the difficulties in working on a thesis, of course, you must have a resilient nature in yourself, namely the ability to deal with pressure. Resilience is influenced by several factors, one of the factors that influences resilience is spirituality. This study aims to determine the relationship between spirituality and resilience in students who are working on their thesis. Participants in this study were 155 students from Satya Wacana Christian University. This study used an accidental sampling technique to obtain respondents. This study used the Resilience Quotient Test measuring instrument by Reivich and Shatte in 2002 with a reliability score of .916 and The Daily Spiritual Experience Scale (DSES) by Underwood in 2006 with a reliability score of .872. The normality test used in this study is the Kolmogorov-Smirnov test, the linearity test used is the Anova test, the hypothesis test that will be used in this study is by using the Pearson's product moment correlation technique, and there is also a partial test for each aspect of spirituality. The results of this study indicate a positive relationship between spirituality and resilience in migrant students who are working on their thesis, the Pearson Correlation value is 0.305 (Sig = 0.000). Therefore, the higher a person's level of spirituality, the higher their level of resilience.Salah satu fase paling menantang dalam perkuliahan adalah fase ketika sedang mengerjakan skripsi. Apalagi sebagai mahasiswa perantau yang jauh dari rumah tentu akan memiliki kesulitannya sendiri. Untuk dapat menghadapi kesulitan dalam pengerjaan skripsi tentunya harus memiliki sifat resilien dalam diri yaitu kemampuan untuk menghadapi tekanan. Resiliensi dipengaruhi oleh beberapa faktor  salah satu faktor yang mempengaruhi resiliensi adalah spiritualitas. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengetahui hubungan antara spiritualitas dan resiliensi pada mahasiswa perantau yang sedang mengerjakan skripsi. Partisipan dalam penelitian ini adalah 155 mahasiswa perantau Universitas Kristen Satya Wacana. Penelitian ini menggunakan teknik accidental sampling untuk mendapatkan responden. Penelitian ini menggunakan alat ukur Resilience Quotient Test milik Reivich dan Shatte tahun 2002 dengan skor reliabilitas .916 dan The Daily Spiritual Experience Scale (DSES) milik Underwood tahun 2006 dengan skor reliabilitas .872 .  Uji normalitas yang digunakan dalam penelitian ini adalah uji Kolmogorov-Smirnov, Uji linearitas yang digunakan adalah uji Anova, uji hipotesis yang akan digunakan pada penelitian ini adalah dengan menggunakan teknik korelasi Pearson’s product moment, dan ada juga uji parsial untuk tiap aspek Spiritualitas. Hasil dari penelitian ini menunjukan adanya hubungan yang positif antara spiritualitas dengan resiliensi pada mahasiswa perantau yang sedang mengerjakan skripsi nilai Pearson Correlation 0.305 (Sig=0.000). Oleh karena itu semakin tinggi tingkat spiritualitas seseorang maka semakin tinggi pula tingkat resiliensinya.
Hubungan Body Image dengan Penerimaan Diri pada Remaja Pengguna Tiktok atau Instagram Kristano, Andreas Dwi; Ambarwati, Krismi Diah
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 4 No. 3 (2024): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v4i3.10815

Abstract

Belakangan ini, konten atau postingan yang terkait dengan penampilan tubuh semakin marak dijumpai di media sosial, khususnya TikTok dan Instagram. Hadirnya konten atau postingan tersebut nampaknya tidak hanya memberikan dampak positif, tetapi juga menimbulkan dampak negatif terhadap pengguna yang melihatnya. Selain itu, terdapat pengaruh yang ditimbulkan dari penggunaan media sosial terhadap penerimaan diri penggunanya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara body image dengan penerimaan diri pada remaja pengguna TikTok atau Instagram. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan jenis penelitian korelasional. Partisipan dalam penelitian ini adalah 100 remaja pengguna TikTok atau Instagram yang berusia 15 sampai 18 tahun. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi dari skala yang disusun oleh Itani (2011) berdasarkan Multidimensional Body Self Relations Questionnaire (MBSRQ) dan Child and Adolescent Survey of Self-Acceptance yang disusun oleh Bernard (2013). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara body image dengan penerimaan diri pada remaja pengguna TikTok atau Instagram dengan koefisien korelasi sebesar 0,227 dan sig. 0,011 (p<0,05).
PSYCHOLOGICAL WELL BEING PADA MANTAN NARAPIDANA PENGEDAR NARKOBA Fatmawati, Dinda Putri; Ambarwati, Krismi Diah
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v6i1.9202

Abstract

Abstrak Mantan narapidana membutuhkan psychological well-being yang baik agar mereka tetap mengembangkan diri yang positif dan menerima keadaan yang sekarang. Tujuan dalam penelitian ini adalah mengetahui psychological well-being mantan narapidana narkoba. Metode kualitatif fenomenologi merupakan desain dalam penelitian ini. Metode  pengumpulan data menggunakan wawancara dan dokumentasi. Penelitian ini menggunakan sebanyak dua sampel yang dipilih secara purposive sampling dengan karateristik individu yaitu merupakan mantan narapidana dengan kasus pengedar narkoba. Analisis data yang digunakan merupakan teknik analisis tematik. Psychological well-being mantan narapidana pengedar narkoba dapat dilihat dari tema-tema yang terlibat, diantaranya; penerimaan diri, hubungan positif dengan sesama manusia, mampu mandiri dalam mengambil suatu keputusan dikehidupannya, penguasaan lingkungan di masyarakat, pengembangan pribadi, dan adanya tujuan hidup ingin dicapai. Terdapat pula faktor yang memengaruhi psychological well-being kedua partisipan mempunyai dukungan keluarga, sehingga mereka dapat bangkit dari rasa penyesalan setelah keluar dari lembaga pemasyarakatan. Hasil analisis menunjukkan bahwa adanya kondisi psychological well-being terhadap mantan narapidana pengedar narkoba telah terwujud dengan baik. Hal ini dibuktikan dari salah satu tema-tema yang terlibat, seperti mampu mempunyai penerimaan diri yang baik. Oleh karena itu penting bagi mantan narapidana pengedar narkoba untuk menjaga dan meningkatkan psychological well-beingnya. Kata Kunci :  Psychological well-being, Mantan narapidana, Pengedar narkoba. AbstractEx-convicts need good psychological well-being so that they can continue to develop a positive self and accept their current situation. The purpose of this study was to determine the psychological well-being of ex-drug convicts. The phenomenological qualitative method is the design in this study. Methods of data collection using interviews and documentation. This study used two samples selected by purposive sampling with individual characteristics, namely ex-convicts with drug dealer cases. Data analysis used is thematic analysis techniques. The psychological well-being of ex-convict drug dealers can be seen from the themes that are carried out, including; self-acceptance, positive relationships with fellow human beings, being able to be independent in making decisions in life, mastering the environment in society, personal development, and having goals in life to achieve. There are also factors that affect the psychological well-being of the two participants who receive family support, so that they can recover from regrets after leaving the penitentiary. The results of the analysis show that the condition of Psychological well-being in ex-convict drug dealers has been well realized. This is evidenced from one of the themes carried, such as being able to have good self-acceptance. Therefore, psychological well-being can play an important role in promoting and maintaining high psychological well-being. Keywords: Psychological well-being, Ex-convicts, Dealers, Drugs.
HUBUNGAN PENERIMAAN DIRI DENGAN RESILIENSI PADA KELUARGA PASIEN SKIZOFRENIA Sari, Justitia Erni Fatma; Ambarwati, Krismi Diah
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v6i1.9890

Abstract

Abstrak Skizofrenia tidak hanya menimbulkan penderitaan bagi individu penderitanya, akan tetapi juga merupakan stressor berat dan cenderung dirasakan sebagai beban bagi keluarga sebagai caregiver, merawat anggota keluarga dengan gangguan skizofrenia sebagai tekanan, menjalankan peran sebagai caregiver membuat keluarga dihadapkan dengan berbagai tuntutan dan tugas untuk merawat anggota keluarga yang sakit, sehingga tuntutan dapat menimbulkan berbagai masalah atau konflik yang dapat menimbulkan ketegangan dan tekanan yang menimbulkan perasaan cemas, stress, kelelahan psikis. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan metode korelasi dengan tujuan untuk mengetahui hubungan antara penerimaan diri dengan resiliensi pada keluarga yang merawat pasien skizofrenia. Partisipan pada penelitian ini adalah 43 kelurga pendamping pasien skizofrenia di Instalasi Rawat Jalan Poli Jiwa RSJ Prof. Dr. Soerojo Magelang dengan teknik accidental sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan skala Likert, terdiri dari Self Acceptance Questionnaire diadaptasi dari teori Berger dan Shereer, dan CDRISC 25 diadaptasi dari teori Connor dan Davidson. Hasil analisis data di peroleh ada hubungan positif yang signifikan antara penerimaan diri dan resiliensi pada keluarga yang merawat pasien skizofrenia. Implikasi hasil penelitian ini dapat membantu menjelaskan  bahwa  penerimaan diri pada caregiver skizofrenia dapat meningkatkan resiliensi selama merawat pasien skizofrenia. Kata Kunci: Penerimaan Diri, Resiliensi, Skizofrenia.  AbstractSchizophrenia not only causes suffering for individual sufferers but is also a severe stressor and tends to be felt as a burden for the family as a caregiver, caring for family members with schizophrenic disorders a pressure, and carrying out the role as a caregiver makes the family faced with various demands and tasks to care for family members who are sick so that demands can lead to various problems or conflicts that can cause tension and pressure that cause feelings of anxiety, stress, psychological fatigue. This research is quantitative research with a correlation method with the aim of knowing the relationship between self-acceptance and resilience in families who care for schizophrenic patients. Respondents in this study were 43 families accompanying schizophrenia patients at the Outpatient Clinic of the Psychiatric Hospital of Prof. Dr. Soerojo Magelang with a accidental sampling technique. The data collection method was carried out using a Likert scale, consisting of a Self Acceptance Questionnaire adapted from Berger and Shereer's theory, and CDRISC 25 adapted from Connor and Davidson's theory. The results of data analysis show that there is a significant positive relationship between self-acceptance and resilience in families caring for Skizofrenia patients. The implication of the results of this study can help explain that self-acceptance of schizophrenic caregivers can increase resilience while caring for schizophrenic patients. Keywords: Self-Acceptance, Resilience, Schizophrenia.
SELF ESTEEM PADA REMAJA KORBAN CYBERBULLYING DI SMA ISLAM SUDIRMAN AMBARAWA Mashuri, Sidan Fajar; Ambarwati, Krismi Diah
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 6, No 2 (2024): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v6i2.16079

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini adalah memperoleh gambaran tentang self-esteem pada korban cyberbullying khususnya yang terjadi di daerah Ambarawa. Metode yang digunakan oleh peneliti menggunakan metode kualitatif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara semi struktur supaya peneliti ingin mengungkap informasi spesifik seseorang. Penelitian ini menggunakan dua sampel yang dipilih secara purposive sampling dengan mempunyai karakteristik self-esteem yang ada pada diri partisipan yang menjadi korban cyberbullying. Peneliti menggunakan analisis data dengan teknik tematik. Self-esteem pada korban cyberbullying oleh remaja di Ambarawa dapat dilihat dari beberapa tema yang terlibat, tersebut diantaranya; self competence (kompetensi diri), self liking (menyukai diri sendiri), significance (keberartian), power (kekuatan), virtue (kebajikan). Faktor yang mempengaruhi self esteem pada remaja terdapat diantaranya; yang pertama terdapat faktor lingkungan keluarga, pengaruh dari keluarga sangat berperan penting dikarenakan keluarga tempat pertama kita bersosialisasi, kedua faktor lingkungan sosial, lalu faktor kondisi fisik, faktor intelegensi, dan yang terakhir faktor jenis kelamin. Hasil analisis menunjukkan bahwa kedua partisipan yang menjadi subjek penelitian mempunyai permasalahan self esteem akibat cyberbullying yang tampak dalam bentuk erilaku menutup diri dan menjahui teman temannya karena rasa ketidaknyamanan. Hasil penelitian ini member implikasi terhadap pentingnya menangani korban cyberbullying terutama terkait dengan keberhargaan diri. Kata Kunci: Self-Esteem, Remaja, Cyberbullying. AbstractThe purpose of this study is to obtain an overview of self-esteem in cyberbullying victims, especially those that occur in the Ambarawa area. The method used by researchers using qualitative methods. The technique of data collection in this research uses semi-structured interviews so that the researcher wants to reveal someone's specific information. This study used two samples selected by purposive sampling with self-esteem characteristics that existed in participants who were victims of cyberbullying. Researchers used data analysis with thematic techniques. Self-esteem for victims of cyberbullying by teenagers in Ambarawa can be seen from the several themes involved, including; self competence, self liking, significance, power, virtue. Factors that influence self-esteem in adolescents include; the first is the family environment factor, the influence of the family plays a very important role because the family is the first place we socialize, the second is the social environment factor, then the physical condition factor, the intelligence factor, and finally the gender factor. The results of the analysis show that the two participants who are the research subjects have self-esteem problems due to cyberbullying. This can be seen from the behavior of the two students at school by showing that they behave in isolation and avoid their friends because of a sense of discomfort. The result of this stufy have implication for the importance of dealing eith victims of cyberbullying, especially regarding self esteem. Keywords: Self-Esteem, Teenager, Cyberbullying
HUBUNGAN ANTARA LONELINESS DENGAN SMARTPHONE ADDICTION PADA MAHASISWA Tjoa, Brilliant Liesky Tjoandra; Ambarwati, Krismi Diah
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v6i1.9624

Abstract

Abstrak Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif korelasional. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui hubungan loneliness dengan smartphone addiction pada mahasiswa aktif di kota Salatiga. Partisipan pada penelitian ini adalah 344 mahasiswa aktif di kota Salatiga yang menggunakan smartphone lebih dari 3 jam setiap hari. Peneliti menggunakan teknik probability sampling dalam menentukan sampel terpilih dari keseluruhan populasi. Alat ukur yang dipakai adalah loneliness versi 3 (UCLA LS) (α = .897) dan smartphone addiction scale (SAS) (α = .909) yang telah diadaptasi kedalam bahasa Indonesia. Data penelitian di uji dengan menggunakan uji korelasi product moment dari Karl Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara loneliness dengan smartphone addiction, yang berarti semakin tinggi loneliness maka semakin tinggi smartphone addiction, begitu pun sebaliknya. Implikasi hasil penelitian ini yaitu penelitian ini dapat membantu menjelaskan bahwa loneliness dapat meningkatkan penggunaan smartphone bagi individu khususnya mahasiswa yang dapat mengakibatkan smartphone addiction. Kata kunci: Loneliness; Smartphone Addiction; Mahasiswa   AbstractThis research is a correlational quantitative research. The purpose of this study is to determine the relationship loneliness with smartphone addiction active students in the city of Salatiga. Participants in this study were 344 active students in the city of Salatiga who used smartphone more than 3 hours every day. Researchers use techniques probability sampling in determining the selected sample of the entire population. The measuring instrument used is loneliness version 3 (UCLA LS) (α = .897) and smartphone addiction scale (SAS) (α = .909) which has been adapted into Indonesian. The research data was tested using a correlation test product moment from Karl Pearson. The results showed that there was a significant positive relationship between loneliness with smartphone addiction, which means higher loneliness then the higher smartphone addiction, vice versa. The implication of the results of this study is that this research can help explain that loneliness can increase consumption smartphone for individuals, especially students that can result smartphone addiction. Keywords: Loneliness; Smartphone Addiction; Student
HUBUNGAN ANTARA PERFECTIONISM DENGAN KECENDERUNGAN BODY DYSMORPHIC DISORDER PADA KOMUNITAS DUTA WISATA Putri, Imelda Aurelia; Ambarwati, Krismi Diah
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v6i1.9882

Abstract

Abstrak Duta wisata adalah kontes dibidang beauty pageant untuk mengembangkan potensi diri dalam sektor pariwisata. Perfectionism adalah sikap untuk mencapai standar kesempurnaan disertai dengan evaluasi kritis dan bersifat multidimensional. Evaluasi terhadap penampilan dapat menimbulkan rasa ketidakpuasan terhadap bentuk tubuh yang akan berkembang menjadi kecenderungan body dysmorphic disorder. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan antara masing-masing aspek dari perfectionism dengan kecenderungan body dysmorphic disorder pada komunitas Duta Wisata Kab. Semarang. Partisipan penelitian ini berjumlah 33 orang. Skala yang digunakan adalah multidimentional perfectionism scale dan body dysmorphic sympthoms scale brazillian-portuguesse version. Penelitian dilakukan dengan teknik analisis korelatif korelasional moment Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat masing-masing aspek dari perfectionism maka semakin tinggi tingkat kecenderungan body dysmorphic disorder, begitu juga sebaliknya. Implikasi penelitian ini dapat membantu menggambarkan bahwa sikap perfectionism terhadap penampilan pada seseorang dapat mengarah pada kecenderungan body dysmorphic disorder. Sumbangan efektif perfectionism terhadap kecenderungan body dysmorphic disorder adalah 34%. Kata Kunci: Perfectionism, Kecenderungan Body Dysmorphic Disorder, Duta Wisata   AbstractTourism Ambassador is a contest of beauty pageant to develop self-potential in tourism sector. As an ambassador, being attractive is an important. Perfectionism is a personal tendency to strive for perfection, which is accompanied by critical evaluation and it has multidimensional character. Evaluation of appearance can be lead to dissatisfaction with body shape, which develops into tendency for body dysmorphic disorder. This study aims to determine the relationship between each aspect of perfectionism with tendency for body dysmorphic disorder on community of Tourism Ambassadors in Semarang Regency. Participants in this study were 33 people. The scales used in this study were the multidimensional perfectionism scale and the Brazilian-Portuguesse version of the body dysmorphic symptom scale. This study uses correlative analysis technique Pearson moment. The results showed that the higher level of each aspect of perfectionism, the higher tendency for body dysmorphic disorder, vice versa. Implications of this research can help illustrate that perfectionism towards one's appearance can lead to tendency for body dysmorphic disorder. Perfectionism's effective contribution to the tendency of body dysmorphic disorder is 34%. Keywords: Perfectionism, Body Dysmorphic Disorder Tendency, Tourism Ambassador