Leli Nisfi Setiana
Prodi Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Sultan Agung, Semarang, Indonesia

Published : 15 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Menumbuhkan Budaya Literasi Anak Sejak Dini melalui Pelatihan Mendongeng Bagi Ibu-Ibu Kelompok Dawis Kacang Tanah III, Kecamatan Genuk, Kota Semarang Meilan Arsanti; Oktarina Puspita Wardani; Evi Chamalah; Aida Azizah; Leli Nisfi Setiana; Turahmat Turahmat
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 8, No 1 (2024): April 2024
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v8i1.3659

Abstract

ABSTRACT Storytelling is a very beneficial activity for children because it can teach children about morals, like language, help achieve development in emotional learning, improve the learning atmosphere, and introduce new values and cultural values to children. Apart from that, storytelling can also foster an interest in reading in children from an early age so that it can foster a culture of literacy in Indonesia. Therefore, storytelling skills are very important for parents, especially mothers who have children under five. To foster a culture of literacy in children, it must be done from an early age and starting from the family environment. Therefore, this PKM was carried out to provide storytelling skills training to the women of the Dawis Kacang Tanah III group in Bangetayu Kulon Village, Genuk District, Semarang City. This training was attended by 13 members of the Dawis Kacang Tanah III group. The method used is training with four stages, namely 1) planning, 2) implementing actions, 3) observation and evaluation, and 4) reflection. The results obtained from the training include mothers who have 1) knowledge about the benefits of fairy tales for young children, 2) storytelling skills using storybooks and finger puppets, and 3) a growing love of storytelling in young children.  Keywords: storytelling, literacy culture, early childhood  ABSTRAK Mendongeng merupakan aktivitas yang sangat bermanfaat bagi anak karena dapat mengajarkan anak tentang moral, menyukai bahasa, membantu pencapaian perkembangan dalam pembelajaran emosi, meningkatkan suasana belajar, dan mengenalkan nilai-nilai baru serta nilai-nilai budaya pada anak. Selain itu, mendongeng juga dapat menumbuhkan minat baca pada anak sejak dini sehingga mampu menumbuhkan budaya litersi di Indonesia. Oleh karenanya keterampilan mendongeng sangat penting dimiliki oleh orang tua khususnya ibu yang memiliki anak balita. Untuk menumbuhkan budaya literasi pada anak harus dilakukan sejak dini dan dimulai dari lingkungan keluarga. Oleh karena itu, PKM ini dilaksanakan untuk memberikan pelatihan keterampilan mendongeng pada ibu-ibu kelompok Dawis Kacang Tanah III di Kelurahan Bangetayu Kulon, Kecamatan Genuk, Kota Semarang. Pelatihan ini diikuti oleh anggota kelompok Dawis Kacang Tanah III sebanyak 13 orang. Metode yang digunakan adalah pelatihan dengan empat tahapan, yaitu 1) perencanaan, 2) pelaksanaan tindakan, 3) observasi dan evaluasi, dan 4) refleksi. Adapun hasil yang diperoleh dari hasil pelatihan tersebut antara lain ibu-ibu telah memiliki 1) pengetahuan tentang manfaat dongeng bagi anak usia dini, 2) keterampilan mendongeng dengan media buku cerita dan boneka jari, dan 3) tumbuhnya rasa suka terhadap mendongeng pada anak usia dini.      Kata Kunci: mendongeng, budaya literasi, anak usia dini
Pendampingan Penyusunan Modul Ajar Kurikulum Merdeka bagi MGMP Bahasa Indonesia Madrasah Aliyah di Kabupaten Demak Evi Chamalah; Aida Azizah; Meilan Arsanti; Leli Nisfi Setiana; Oktarina Puspita Wardani; Turahmat Turahmat
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol 8, No 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v8i2.4853

Abstract

                                                          ABSTRACTCurriculum changes are a challenge felt by all educational institutions, especially Madrasah Aliyah (MA). The Independent Curriculum gives teachers the freedom to develop teaching tools, both in the form of Learning Implementation Plans (RPP) and teaching modules. However, the complexity of teaching modules, which are sometimes more detailed than lesson plans, often becomes an obstacle for teachers in designing learning tools. This obstacle is especially felt by Indonesian language teachers who are members of the Indonesian Language Subject Teacher Conference (MGMP). Some of the problems that arise include: (1) lack of knowledge regarding the preparation of Indonesian language teaching modules in MA in the context of the Independent Curriculum; (2) Indonesian Language MGMP MA Demak Regency has never participated in mentoring activities related to the preparation of Indonesian Language teaching modules in the Independent Curriculum; (3) the unavailability of Indonesian language teaching modules in MA according to the needs and characteristics of the school. To overcome this problem, several solutions are proposed, namely: (1) organizing mentoring activities regarding the preparation of Indonesian language teaching modules for the Indonesian Language MGMP Independent Curriculum MA Demak Regency; (2) implementation of learning and training activities related to the preparation of Indonesian language teaching modules for the Indonesian Language Independent Curriculum MGMP MA Demak Regency; (3) preparation of Indonesian language teaching modules in the Independent Curriculum MA in accordance with the needs and characteristics of the school.Keywords: mentoring, preparation of teaching modules, independent curriculum                                                           ABSTRAKPerubahan kurikulum menjadi suatu tantangan yang dirasakan oleh seluruh lembaga pendidikan, khususnya Madrasah Aliyah (MA). Kurikulum Merdeka memberikan kebebasan kepada guru untuk menyusun perangkat ajar, baik berupa Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) maupun modul ajar. Namun, kompleksitas modul ajar, yang kadang lebih rinci daripada RPP, sering menjadi hambatan bagi guru dalam merancang perangkat pembelajaran. Kendala ini khususnya dirasakan oleh guru Bahasa Indonesia yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Bahasa Indonesia. Beberapa permasalahan yang muncul antara lain: (1) minimnya pengetahuan tentang penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia di MA dalam konteks Kurikulum Merdeka; (2) MGMP Bahasa Indonesia MA Kabupaten Demak belum pernah mengikuti kegiatan pendampingan terkait penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka; (3) belum tersedianya modul ajar Bahasa Indonesia di MA sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, beberapa solusi diajukan, yakni: (1) penyelenggaraan kegiatan pendampingan tentang penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia pada Kurikulum Merdeka untuk MGMP Bahasa Indonesia MA Kabupaten Demak; (2) pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan pelatihan terkait penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia Kurikulum Merdeka untuk MGMP Bahasa Indonesia MA Kabupaten Demak; (3) penyusunan modul ajar Bahasa Indonesia di MA pada Kurikulum Merdeka yang sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik sekolah.Kata Kunci: pendampingan, penyusunan modul ajar, kurikulum merdeka
Pengembangan Model Supervisi Akademik pada Sekolah Menengah Kejuruan di Kota Semarang Andi Maulana; Turahmat Turahmat; Leli Nisfi Setiana; Ulil Albab
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 10 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v10i1.5322

Abstract

ABSTRACT The development of effective academic supervision is essential to improve the quality of learning in Vocational High Schools (SMK), particularly in Semarang City, which has dynamic vocational education demands. This community service activity aimed to develop a systematic, reflective, and technology-based academic supervision model to enhance teachers’ professionalism and performance. The implementation method employed a participatory developmental approach, including needs assessment, model design, training, limited implementation, and evaluation stages. The results indicated improvements in supervision planning, classroom observation, reflective feedback, and follow-up actions. Furthermore, there was a significant increase in teachers’ pedagogical and professional competencies after the model implementation. Teachers’ responses to the developed model were positive, particularly regarding reflective dialogue and structured documentation systems. Although challenges such as time constraints and digital literacy were identified, the academic supervision model proved practical and sustainable. Therefore, this developed supervision model contributes to improving instructional quality and teacher professionalism in vocational high schools in Semarang City.   Keywords: Academic Supervision, Teacher Professionalism, Teacher Performance, Vocational High School, Community Service.   ABSTRAK Pengembangan supervisi akademik yang efektif menjadi kebutuhan mendesak dalam meningkatkan mutu pembelajaran di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), khususnya di Kota Semarang yang memiliki dinamika pendidikan vokasi yang tinggi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk mengembangkan model supervisi akademik yang sistematis, reflektif, dan berbasis teknologi guna meningkatkan profesionalisme dan kinerja guru. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan partisipatif berbasis pengembangan model melalui tahapan analisis kebutuhan, perancangan model, pelatihan, implementasi terbatas, serta evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pada kualitas perencanaan supervisi, observasi kelas, umpan balik reflektif, dan tindak lanjut pembinaan. Selain itu, terjadi peningkatan signifikan pada kompetensi pedagogik dan profesional guru setelah penerapan model supervisi. Respon guru terhadap model yang dikembangkan berada pada kategori positif, terutama pada aspek dialog reflektif dan sistem dokumentasi yang lebih terstruktur. Meskipun terdapat hambatan seperti keterbatasan waktu dan literasi digital, model supervisi akademik ini terbukti aplikatif dan berpotensi diterapkan secara berkelanjutan. Dengan demikian, pengembangan model supervisi akademik ini berkontribusi terhadap peningkatan mutu pembelajaran dan profesionalisme guru di SMK Kota Semarang.   Kata kunci: Supervisi akademik, profesionalisme guru, kinerja guru, SMK, pengabdian masyarakat
Pelatihan Penulisan Naskah Drama berbasis Artificial Intelligence (Chat Gpt): Pendekatan Konseptual Turahmat Turahmat; Andi Maulana; Puguh Ardianto Iskandar; Leli Nisfi Setiana; Ulil Albab
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 10 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v10i1.5323

Abstract

ABSTRACT The development of digital technology, particularly Artificial Intelligence (AI), has brought significant changes to the fields of education and creative literacy. One widely utilized innovation is ChatGPT, an AI-based writing aid. This community service activity aims to improve participants' competence in writing drama scripts by utilizing AI conceptually and ethically. The implementation method includes conceptual counseling, demonstrations of AI use, writing practice, and mentoring and evaluation of work. The results of the activity indicate that participants experienced an increased understanding of drama script structure, conflict development, dialogue, and effective prompting techniques in the use of AI. In addition, participants were able to produce more systematic and creative drama scripts while maintaining the originality of ideas. The conceptual approach applied emphasizes that AI functions as an assistive tool, not a substitute for human creativity. This activity contributes to strengthening digital literacy and developing technology-based creative writing skills.   Keywords: training, drama scripts, artificial intelligence, ChatGPT, digital literacy   ABSTRAK Perkembangan teknologi digital, khususnya Artificial Intelligence (AI), telah membawa perubahan signifikan dalam bidang pendidikan dan literasi kreatif. Salah satu inovasi yang banyak dimanfaatkan adalah ChatGPT sebagai alat bantu penulisan berbasis kecerdasan buatan. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kompetensi peserta dalam menulis naskah drama dengan memanfaatkan AI secara konseptual dan etis. Metode pelaksanaan meliputi penyuluhan konseptual, demonstrasi penggunaan AI, praktik penulisan, serta pendampingan dan evaluasi karya. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa peserta mengalami peningkatan pemahaman mengenai struktur naskah drama, pengembangan konflik, dialog, serta teknik prompting yang efektif dalam penggunaan AI. Selain itu, peserta mampu menghasilkan naskah drama yang lebih sistematis dan kreatif dengan tetap mempertahankan orisinalitas ide. Pendekatan konseptual yang diterapkan menekankan bahwa AI berfungsi sebagai alat bantu (assistive tool), bukan pengganti kreativitas manusia. Kegiatan ini memberikan kontribusi dalam penguatan literasi digital dan pengembangan keterampilan menulis kreatif berbasis teknologi.   Kata Kunci: pelatihan, naskah drama, artificial intelligence, ChatGPT, literasi digital
Pemberdayaan Guru SMP dalam Pemanfaatan Powtoon untuk Pengembangan Media Komik Audio Visual Aida Azizah; Evi Chamalah; Turahmat Turahmat; Oktarina Puspita Wardani; Leli Nisfi Setiana; Meilan Arsanti; Andi Maulana; Muchamad Abdul Basir; Cahyo Hasanudin
J-ABDIPAMAS (Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat) Vol. 10 No. 1 (2026): April 2026
Publisher : IKIP PGRI Bojonegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30734/j-abdipamas.v10i1.5334

Abstract

The integration of digital tools in education plays a crucial role in enhancing a more interactive and captivating learning experience. Nonetheless, the application of the Powtoon tool by educators remains insufficiently utilized due to inadequate practical training opportunities. To tackle this challenge, this community-oriented project was implemented, which involved training and coaching on how to effectively use Powtoon to create audiovisual comic materials through a collaborative approach. The outcomes of this initiative indicate that educators gained proficiency in using Powtoon, designing learning storyboards, and generating audiovisual comic materials. Furthermore, 85 percent of the attendees managed to create their own storyboards, while 80 percent effectively produced educational media. This project also motivated teachers to start incorporating digital media into their instruction, thus enhancing the engagement and interactivity of the learning experience.   Pemanfaatan teknologi digital dalam dunia pendidikan menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung proses pembelajaran yang lebih menarik dan interaktif. Namun, pemanfaatan aplikasi Powtoon sebagai media pembelajaran oleh guru masih belum optimal karena terbatasnya pelatihan yang bersifat praktis dan aplikatif. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan melalui pelatihan dan pendampingan pemanfaatan Powtoon dalam pengembangan media komik audio visual dengan pendekatan partisipatif. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa guru memperoleh keterampilan dalam mengoperasikan Powtoon, menyusun storyboard pembelajaran, serta mampu menghasilkan media komik audio visual. Selain itu, sebanyak 85% peserta mampu menyusun storyboard dan 80%  peserta berhasil menghasilkan media pembelajaran. Kegiatan ini juga mendorong guru untuk mulai memanfaatkan media digital dalam pembelajaran sehingga proses pembelajaran menjadi lebih menarik dan interaktif.