Wahid Nurcahyono
Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

TRANSFORMASI PERTUNJUKAN WAYANG BEBER JAKA KEMBANG KUNING MENJADI PERTUNJUKAN TEATER PANGGUNG nurcahyono, wahid
Tonil: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 14, No 1 (2017): MENYOAL PENCIPTAAN TEATER
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Visually traditional Wayang Beber becomes unattractive when compared with the puppet, puppet show, or other stage plays. This is the reason why Wayang Beber need to get a good touch broadly on the form and meaning of the play contained therein. Theatrical action, song and music, color and composition are used as a means of said stories provide a wider opportunity for the emergence of imagination in the audience. The entire string of performances will form a separate text with an open and straightforward meaning. Active role of the viewer is needed in order to create a strong braid between the artist, the copyrighted work as well as the audience. It takes the efforts to invite more radical audience to be part of an artwork intact. Breakthroughs such as involving the viewer to enter into the process or the show can be a separate option in the lifestyles of people who are too lazy to visit the venue. Invites viewers into direct contact with the expected performances more intimate communication. Key word : Wayang Beber, unattractive, intimate communication 
Pementasan Teater Lingkungan “Sirna Ilang Kertaning Bumi” Refleksi Konflik Horizontal di Indonesia Wahid Nurcahyono
Resital: Jurnal Seni Pertunjukan (Journal of Performing Arts) Vol 13, No 1 (2012): Juni 2012
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/resital.v13i1.496

Abstract

Bentuk teater lingkungan merupakan sebuah karya seni yang bukan saja menghibur tetapi juga memberikan tawaran-tawaran bentuk penyajian lain dari yang lazim dipergunakan. Bentuk semacam ini diharapkan mampu mendekatkan permainan kepada penonton secara langsung karena penonton tidak perlu lagi mendatangi tempat pertunjukan akan tetapi permainanlah yang akan menjemput mereka di ruang-ruang publik di luar panggung. Aksi dan interaksi secara langsung antara penonton dan permainan mengajak peran serta aktif penonton untuk merasakan langsung teks-teks yang disampaikan pemain. Meskipun bentuk-bentuk kesenian yang melibatkan penonton secara aktif telah dimiliki oleh masyarakat, misalnya upacara adat dan seremoni yang lain, akan tetapi hal tersebut jarang dilakukan pembaharuan dan hanya bersifat warisan atau tradisi saja. Maka dalam proses inisutradara mencoba menghadirkan bentuk teater lingkungan dalam sebuah ruang ‘Rumah Makan’ yang mengambilcerita rakyat masa lalu yang diolah dan disesuaikan dengan masyarakat saat ini. Kemampuan sutradara untuk mengarahkan serta memberi ruang dalam berkreasi bagi pemainnya sangatlah penting. Sementara itu pemain yangmemiliki kecakapan di bidangnya harus siap melakukan improvisasi untuk menghadapi aksi dan interaksi secaraspontan dengan penonton.Kata kunci: teater lingkungan, ruang publik, sirna ilang, interteks.ABSTRACTPerforming Environment Theatre “Sirna Ilang Kertaning Bumi”. A Refl ection on the Horizontal Confl ict in Indonesia.The form of environmental theater is a work of art which is not only entertaining but also providing a way of presenting different forms than that commonly used. This form is expected to bring the theatre to a live audience because the audience does not need to go to the venue but the theatre will meet them in public spaces outside stage. Action and direct interaction between the audience and the theatre invite active participation of the audience to feel directly the texts presented by the actors. Although the art forms involving the audience actively have been owned by the community, such as custom ceremonies and other ceremonies, those are rarely renewed, and they remain as customs and tradition. Therefore, inthis process the director tried to present the form of environment theater in a space of “Restaurant” presenting a folklore which had been processed and adapted to today’s society. The ability of the director in directing and providing room for the players to be creative was very important. While players who have skill in their art, they must be ready to confront improvised acts and spontaneous interaction with the audience.Keywords: environmental theater, public space, sirna ilang, intertex.
TRANSFORMASI PERTUNJUKAN WAYANG BEBER JAKA KEMBANG KUNING MENJADI PERTUNJUKAN TEATER PANGGUNG Wahid Nurcahyono
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 14, No 1 (2017): Juni 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v14i1.3301

Abstract

Abstrak: Secara visual, Wayang Beber tidak lagi memiliki tampilan yang menarik bagi masyarakat saat ini. Hal tersebut menjadi dasar penelitian ini yang bertujuan untuk menyajikan pertunjukan Wayang Beber yang dapat diterima dan diapresiasi keindahannya oleh masyarakat. Wayang Beber perlu diadaptasi menurut standar hiburan saat ini untuk membuatnya menarik bagi masyarakat sekarang. Adaptasi ini dilakukan dengan cara  re-interpretasi isi cerita untuk menyajikan konten yang lebih relevan dan mudah untuk diterima. Dengan menggunakan bentuk pertunjukan Teater Terlibat (Immediate Theatre) yang melibatkan komunikasi secara intim dengan penonton dalam pementasannya, akan dihasilkan sebuah pertunjukan Wayang Beber yang lebih mengakomodasi selera masyarakat saat ini. Kata Kunci: Wayang Beber, tidak menarik, komunikasi intim Abstract: Wayang Beber is no longer visually attractive for the society these days. This becomes the reason for this research's aim to present a more appealing Wayang Beber performance which the aesthethics can be appreciated even by current society. In order to do so, Wayang Beber needs to be adapted according to the recent entertainment standard so it may be well-received. This adaptation is done through re-interpretation of the story that leads to telling a more relevant and easier content for the society. Using Immediate Theatre form, in which audience is directly involved in the stageplay to incite an intimate communication, will result in a Wayang Beber performance that is more accomodating to the society. Key Words: Wayang Beber, unattractive, intimate communication
PENCIPTAAN PERTUNJUKAN TEATER BANOWATI SANG PELAKOR: SEBUAH IMPLEMENTASI METODE PENYUTRADAAN AUGUSTO BOAL Wahid Nurcahyono
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 16, No 1 (2019): 2019
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v16i1.3128

Abstract

Abstrak: Penciptaan pertunjukan teater ini dilatari oleh fenomena pelakor yang dewasa ini terasa marak. Penciptaan karya ini menggunakan pendekatan teori interteks dan feminis dalam mengolah kisah naskah. Pemahaman secara intertekstual bertujuan untuk menggali secara bebas makna-makna yang terkandung dalam sebuah teks kisah asmara Putri Banowati kepada Raden Arjuna. Metode dalam proses penciptaan ini menggunakan metode penciptaan yang dikembangkan oleh Boal (2000), yang secara unik merubah penonton (objek) menjadi pemain (subjek). Proses penciptaan ini terbukti mampu menciptakan komunikasi yang unik antara partisipan, aktor, dan pengamat. Hal tersebut bisa dimanfaatkan untuk mendalami sebuah persoalan sosial di masyarakat yang mungkin sulit  diungkapkan terutama pada isu yang berbenturan dengan nilai-nilai dan dianggap tabu pada suatu lingkungan. Kata kunci: Teater, pelakor, Boal, interteks, feminisme Abstract: The creation of this theatre performance is based on issues of people in that has spiked up recently. This creation uses intertext and feminism theoretical approach in arranging the playscript. Intertextual understanding aims to search deeper on the implicit meaning within the romance of Putri Banowati and Raden Arjuna. The method used in the art creation process is the method developed by Boal (2000) that uniquely changes the audience (the object) into actors (the subject). This art creation process is proven to be able to create a unique communication between participant, actors, and observers. Such relationship can be made use for analyzing the social problem in the society that might have been too risque to be openly discussed, especially in the issues considered taboo in a community. Key word: Theatre, affair, Boal, intertext, feminism
Analisis Struktur, Tekstur dan Permasalahan Politis Wayang Beber Jaka Kembang Kuning Wahid Nurcahyono
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 17, No 2: September, 2020
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v17i2.4457

Abstract

Abstrak: Hasil penelitian ini berguna untuk melihat bentuk pementasan serta persoalan yang melingkupi sebuah bentuk kesenian bernama Wayang Beber Panji Jaka Kembang Kuning yang berada di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Dari penelitian ini kita berharap agar  keberadaan kesenian ini tidak akan hilang meski harus mengikuti perkembangan selera masyarakat yang terus berubah. Salah satu usaha yang ditempuh adalah menuliskan struktur dan tekstur pertunjukan ini. Dengan mengetahui struktur dan tekstur serta persoalan lain yang melingkupi, maka generasi penerus pertunjukan ini tidak terbentur pada persoalan yang  menyebabkan pertunjukan ini semakin dijauhi masyarakat. Dalang atau penyaji pertunjukan bisa menggunakan hasil penelitian ini sebagai pedoman untuk menciptakan pertunjukan yang lebih menarik agar tidak selalu terjebak pada bentuk pertunjukan yang membosankan. Akibatnya penonton akan lebih mudah menikmati dan memahami pertunjukan seni tersebut. Akhirnya Wayang Beber sebagai pertunjukan akan tetap eksis karena mampu hadir dalam konteks masyarakatnya.Kata kunci : Struktur, tekstur, stagnasi, wayang beber, konteks. Abstract: The results of this study are useful for observing the form of performances and issues surrounding an art form called Wayang Beber Panji Jaka Kembang Kuning in Pacitan Regency, East Java.  From this research we hope that the existence of this art will not be lost even though we have to keep up with the changing tastes of society.  One of the efforts taken was to write down the structure and texture of this performance.  By knowing the structure and texture as well as other problems that surround it, the next generation of this show will not run into problems that cause this show to be increasingly shunned by the public.  The puppeteers or performance presenters can use the results of this research as a guideline for creating more interesting performances so they don't always get stuck in boring performances.  As a result, the audience will find it easier to enjoy and understand the art performance.  Finally, Wayang Beber as a show will still exist because it is able to be present in the context of its society.Keyword: structure, texture, stagnation, Wayang Beber, context.
Penciptaan Teater “Jaka Kembang Kuning” Wahid Nurcahyono
Journal of Urban Society's Arts Vol 4, No 2 (2017): October 2017
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/jousa.v4i2.2164

Abstract

Kesenian Wayang Beber yang terdapat di desa Kedompol, kecamatan Donorojo, kabupaten Pacitan Jawa Timur kurang mendapat sentuhan artistik, sehingga tidak mempunyai kepekaan terhadap konteks zamannya. Kondisi tersebut menjadikan masyarakat Pacitan khususnya, tidak mampu menikmati pertunjukan tersebut secara intens. Selain konteks dan selera yang berubah, pola kerjasama masyarakat juga bergeser dari semangat kebersamaan di pedesaan berubah menjadi pola kerja yang individualis seperti perkotaan. Hal tersebut menjadi salah satu penghalang bagi kesenian ini untuk berkembang sebab hanya dipertunjukkan dalam acara-acara ritual tertentu misalnya bersih desa atau selamatan saja.Untuk itu terobosan perlu dilakukan diantaranya adalah dengan menjemput penonton di ruang publik untuk menyaksikan pertunjukan tradisional ini. Selain itu perlu ada usaha-usaha tertentu untuk memperkenalkan kesenian ini agar tetap mengikuti konteks zamannya. Meskipun berlatarbelakang cerita masa lalu, namun harus mampu diterima oleh masyarakat sebagai bagian mereka sesuai zamannya dengan mengambil beberapa idiom serta peristiwa kekinian.Penciptaan teater Jaka Kembang Kuning adalah usaha untuk mengangkat kembali sebuah ide cerita yang semula disajikan dengan bertutur secara tradisional dalam bentuk pergelaran Wayang Beber yang memiliki berapa kelemahan terutama jika dilihat dari dinamika pertunjukannya yang lemah. Hal tersebut menjadikan kesenian ini tidak bisa menopang kehidupan kebutuhan hidup masyarakat pendukungnya dari sisi ekonomi maupun sosial. Untuk itu perlu adanya beberapa terobosan kreatifitas untuk mempertahankan eksistensinya, diantaranya adalah dengan membuka diri terhadap konteks pemirsanya.Beberapa usaha tersebut diantaranya adalah adengan memasukkan aksi teatrikal, tembang serta musik, warna agar memberikan peluang yang lebih luas bagi munculnya imajinasi di penonton dan rasa ketertarikan mereka pada kesenian ini. Seluruh rangkain pertunjukan akan membentuk teks tersendiri dengan pemaknaan yang terbuka dan lugas. Peran aktif pemirsa sangat dibutuhkan agar tercipta sebuah jalinan yang erat antara seniman, karya cipta serta penikmatnya. Dibutuhkan usaha-usaha yang lebih radikal semisal mengajak penonton menjadi bagian dari sebuah karya seni yang utuh agar menumbuhkan rasa memiliki terhadap kesenian ini.  Creation theater Jaka Kembang Kuning is an attempt to revive an original story idea presented in the form traditionally tells Wayang Beber performances that have how many flaws, especially when viewed from the dynamics of the show. Visually traditional Wayang Beber becomes unattractive when compared with the puppet, puppet show, or other stage plays. This is the reason why Wayang Beber need to get a good touch broadly on the form and meaning of the play contained therein.Theatrical action, song and music, color and composition are used as a means of said stories provide a wider opportunity for the emergence of imagination in the audience. The entire string of performances will form a separate text with an open and straightforward meaning. Active role of the viewer is needed in order to create a strong braid between the artist, the copyrighted work as well as the audience. It takes the efforts to invite more radical audience to be part of an artwork intact. Breakthroughs such as involving the viewer to enter into the process or the show can be a separate option in the lifestyles of people who are too lazy to visit the venue. Invites viewers into direct contact with the expected performances more intimate communication. 
Gaya Rococo Punk Sebagai Dasar Penciptaan Tata rambut dalam pertunjukan Marie Antoinette Karya David Adjmi Ericha Nur Cholifatin; Nanang Arisona; Wahid Nurcahyono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gaya rococo punk merupakan salah satu bentuk fashion yang menggabungkan era rococo dan era punk generasi awal. Gaya rococo punk menjadi ide dasar dalam penciptaan tata rambut untuk mewujudkan nilai estetika.Tata rambut dalam pertunjukan teater memiliki fungsi untuk mewujudkan karakter tokoh.Naskah Marie Antoinette karya David Adjmi adalah pilihan yang tepat untuk menciptakan tatanan rambut gaya rococo punk. Jenis tata rambut yang digunakan adalah fantasy style dengan menggunakan teori estetika sebagai landasan penciptaan tata rambut, dari segi keutuhan, penonjolan, keseimbangan yang akan mengantarkan nilai estetis secara objektif.Pencipta berhasil menemukan metode penciptaan dan menciptakan tata rambut dengan gaya rambut rococo punk dalam pertunjukan Marie Antoinette karya David Adjmi. Selain itu rambut juga berfungsi sebagai media komunikasi non-verbal yang memuat suatu bobot atau makna dalam pertunjukan untuk dapat dinikmati oleh penonton.Rococo Punk Style as a Basis for the Creation of Hairdos in the Marie Antoinette Show by David Adjmi A rococo punk style is a form of fashion that combines the rococo era and the early punk era. The rococo punk style became the basic idea in creating hairdos to create aesthetic value. Hairdos in theatrical performances have the function to embody character traits. David Adjmi's Marie Antoinette script is a great choice for creating a rococo punk hairdo. The type of hairdo used is fantasy style using aesthetic theory as the basis for creating hairdos, in terms of wholeness, prominence, and balance which will deliver aesthetic value objectively. The creators managed to find a creation method and created a hairdo with a rococo punk hairstyle in David Adjmi's Marie Antoinette show. In addition, the hair also functions as a medium of non-verbal communication that contains a weight or meaning in the show to be enjoyed by the audience.
Pemeranan Tokoh Rangda Dalam Naskah Rangda Ing Jirah Karya Jeannete Lauren Adaptasi Novel Janda Dari Jirah Karya Cok Sawitri Surya Chintya Dharma; Wahid Nurcahyono; Catur Wibono
IDEA: Jurnal Ilmiah Seni Pertunjukan Vol 17, No 1 (2023): Vol 17, No 1 (2023)
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tokoh Rangda Ing Jirah dalam naskah Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang karya Jeannete Lauren menjadi salah satu daya tarik untuk diwujudkan kedalam bentuk tokoh tiga dimensi diatas panggung karena peran yang dimainkan dalam satu karakter tokoh mengalami perkembangan dari tokoh sebagai Rangda Ing Jirah serta kemudian menjadi manifestasi Durga, di mana hal tersebut menggambarkan persona dan shadow seperti yang disampaikan Carl Jung. Pemilihan karakter tokoh Rangda sebagai karya tugas akhir keaktoran dilatar belakangi oleh sudut pandang tentang kisah Calonarang, kali ini tokoh Rangda Ing Jirah ialah tokoh protagonis. Adapun teori pemeranan dalam penciptaan tokoh Rangda Ing Jirah yang digunakkan ialah teori pemeranan representasi menurut Uta Hagen. Dalam merepresentasikannya didukung pula oleh teknik substitusi di mana menempatkan diri aktor dalam kenyataan kehidupan sendiri tanpa menggunakan kata seakan-akan. Pementasan tokoh ini bertajuk dramatari. Selain dialog tokoh, pemeranan akan didukung dengan tembang geguritan serta tarian Bali.Rangda Character Acting in Jeannete Lauren's Play “Rangda Ing Jirah”, Adaptation Of Cok Savitri’s Novel “Janda dari Jirah”The figure of Rangda Ing Jirah in the script Rangda Ing Jirah – The Legend Of Calonarang by Jeannete Lauren is one of the attractions to be embodied in the form of a three-dimensional character on stage because the role played in one character develops from a character as Rangda Ing Jirah and then becomes the manifestation of Durga, where it describes the persona and shadow as conveyed by Carl Jung. The background of the selection of the character Rangda as his final acting work is the perspective of the Calonarang story, this time the character Rangda Ing Jirah is the protagonist. The role theory used in the creation of the character Rangda Ing Jirah is the theory of representational play according to Uta Hagen. In representing it, it is also supported by substitution techniques in which the actor places himself in the reality of his own life without using the word “as if”. The performance of this character is entitled “dramatari”. In addition to character dialogue, the performance will be supported by “geguritan” songs and Balinese dances.
PROSES PENYUTRADARAAN PETANG DI TAMAN KARYA IWAN SIMATUPANG Asyari, Luqman Hakim; Arisona, Nanang; Nurcahyono, Wahid
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 21, No 1: Maret 2024
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v21i1.12424

Abstract

Petang di Taman menceritakan tentang keterasingan dan kehampaan manusia dalam menghadapi realitas kehidupannya, dibawakan oleh empat orang tokoh yang bertemu secara tidak sengaja di sebuah taman di waktu petang. Naskah Petang di taman dipilih sutradara sebab mengandung tema besar yang ingin diangkat sutradara yakni kesenjangan generasi yang diakibatkan dari problem eksistensialis dari masing-masing tokoh yang mewakili setiap generasi. Tujuan dari penulisan ini adalah menemukan metode penyutradaraan naskah Petang di taman karya Iwan Simatupang. Metode penyutradaraan yang digunakan oleh sutradara adalah metode penyutradaraan yang dikemukakan oleh Lloyd Anton Frerer yang terbagi menjadi 5 tahapan yakni : script analysis, auditions and casting, rehearsals, performances dan evaluation. Gaya pertunjukan realis dengan pendekatan representasi dipilih sebagai cara ungkap pertunjukan. Sutradara berhasil menemukan metode penyutradaraan dan mementaskan pertunjukan Petang di Taman karya Iwan Simatupang. Kata kunci: Metode Petang di Taman, Iwan Simatupang, kesenjangan generasi, eksistensialis, Lloyd Anton Frerer
PENCIPTAAN SKENARIO FILM BERTEMA ANAK AUTIS DALAM PERGAULAN SOSIAL Ginting, Della Tania; Wibowo, Philipus Nugroho Hari; Nurcahyono, Wahid
TONIL: Jurnal Kajian Sastra, Teater dan Sinema Vol 18, No 2: September, 2021
Publisher : Institut Seni Indonesia Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24821/tnl.v18i2.5718

Abstract

Abstrak: Tujuan penciptaan karya ini adalah sebuah skenario dengan tema tindak asuh pada anak penderita autisme yang dapat mengedukasi masyarakat. Proses ini diharapakan memberikan edukasi terhadap masyarakat tentang penderita autisme, terutama pada tindak asuhnya. Penderita autisme juga memiliki berbagai karakter yang unik dan kadang kala sering berubah-ubah emosinya, hal inilah yang menjadi daya tarik bagi pencipta untuk menuliskannya. Penciptaan skenario Rana Penyesalan adalah susunan yang diwujudkan dalam bentuk naskah lengkap atau skenario lepas yang berdurasi 98 menit. Penciptaan skenario film Rana Penyesalan menggunakan teori struktur tiga babak dengan metode penciptaan kreatif yang dikemukakan oleh Graham Wallas. Penciptaan skenario dengan tema tindak asuh pada anak penderita autisme dengan struktur tiga babak berusaha membuat keterikatan pada penonton, sehingga penonton mudah merasakan  dan menikmati alur cerita. Skenario film ini diharapkan dapat mengedukasi penonton terkait tindak asuh pada anak penderita autisme. Konsistensi yang kuat dalam mempertahankan gagasan awal saat proses menulis cerita menjadi penting, sebab banyak sekali ide baru yang menarik yang cenderung menggoda penulis untuk menyimpang dari gagasan utama yang diangkat. Kata kunci: skenario, edukasi, autisme, struktur tiga babak Abstract: The purpose of this work is to create a scenario with the theme of caring for children with autism that can educate the public. This process is expected to provide education to the public about people with autism, especially in their care. People with autism also have various unique characters and sometimes often change their emotions, this is what attracts the creators to write them. The creation of the Rana Penyesalan scenario is an arrangement that is realized in the form of a complete script or a 98-minutes free-lance scenario. The screenwriter of the film Rana Penyesalan uses a three-act structure theory with the creation method proposed by Graham Wallas. The creation of a scenario with the theme of caring for children with autism with a three-act structure tries to create an attachment to the audience so that the audience can easily feel and enjoy the storyline. This film scenario is expected to educate the audience regarding parenting for children with autism. Strong consistency in maintaining the initial idea during the writing process is important because there are so many interesting new ideas that tempt the writer to deviate from the main idea raised. Keywords: Scenario, education, autism, three-act structure