Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Perjuangan Kritis Agama Kaharingan di Indonesia Etika, Tiwi
An1mage Jurnal Studi Kultural Vol 4 No 1 (2019): An1mage Jurnal Studi Kultural
Publisher : an1mage

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (280.897 KB)

Abstract

Kaharingan adalah agama yang lahir di Pulau Kalimantan, dipegang teguh oleh orang dan beberapa suku di Dayak, Kalimantan. Dipertahankan sebagai salah satu warisan leluhur dari salah satu suku di Dayak, dibudayakan ke generasi penerusnya, generasi pengikut Agama Kaharingan, berjuang, bertumbuh, mencari jati diri secara kritis dengan tantangan yang ada sesuai zamannya untuk generasi penerus di masa depan.
PROBLEMATICS AND AFFILMATION OF KAHARINGAN RELIGION IDENTITY DURING INTEGRATION INTO HINDU DHARMA Tiwi - Etika
Penamas Vol 33 No 2 (2020): Volume 33, Nomor 2, Juli-Desember 2020
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31330/penamas.v33i2.443

Abstract

Artikel ini merupakan hasil penelitian terhadap problematika identitas agama Kaharingan pasca berintegrasi dengan Hindu Dharma. Pada masa pemerintahan orde baru (presiden Suharto) agama Kaharingan tidak termasuk dalam salah satu agama yang dilayani oleh negara. Persoalan pengakuan negara dan kemudahan memperoleh layanan sipil bagi para penganut Kaharingan menjadi alasan kuat dari para tokoh agama Kaharingan untuk mengintegrasikan Kaharingan sebagai bagian dari agama Hindu. Penelitian mengangkat permasalahan:(1) bagaimana proses integrasi agama Kaharingan ke dalam Hindu Dharma? (2) bagaimana implikasi integrasi tersebut? dan, (3) bagaimana keberadaan identitas agama Kaharingan sebagai agama asli suku Dayak pasca integrasi dengan Hindu Dharma pada masa mendatang?. Penelitian ini bertujuan memotret keberadaan agama Kaharingan selama berintegrasi ke dalam Hindu Dharma. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif-deskriptif dengan teknik pengumpulan data dengan observasi dan wawancara terhadap tokoh agama dan pengurus lembaga keagamaan, yakni MajelisBesar Agama Hindu Kaharingan (MB-AHK), serta analisis terhadap dokumen-dokumen terkait objek penelitian. Teori yang dipakai pada penelitian ini, yaitu teori ntegrasi, teori identitas dan teori lokalitas. Proses integrasi tersebut berimplikasi pada berbagai lini kehidupan, diantaranya pendidikan, sosial keagamaan, ekonomi, politik hingga kebudayaan-identitas. Tantangan masa depan Kaharingan adalah: gejolak internal, dilema distorsi dari pihakketiga dan stigmanisasi sebagai salah satu dari sekte Hindu Dharma.
PENCEGAHAN STUNTING PADA ANAK DALAM PERSPEKTIF HINDU DI DESA BANGKAL KECAMATAN SERUYAN RAYA KABUPATEN SERUYAN sarma, nyoman -; Juni Arta, I Gede Arya; Etika, Tiwi; Vedanti, Kunti Ayu; Gayatri, Kamisriati Levi
Widya Katambung Vol 15 No 2 (2024): Jurnal Widya Katambung: Filsafat Agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta dan Brahma Widya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/wk.v15i2.1327

Abstract

Stunting prevention is one of the priorities for the Indonesian government to ensure that the nation's next generation can grow well and healthily. Stunting generally occurs due to a lack of nutritional intake in children, which causes growth to be disrupted and abnormal. This can be physically observed from the child's weight and height which are not ideal for their growing age. In the long term, stunting can even cause various disorders such as decreased thinking power, and can cause chronic diseases. The participation of all components is needed to solve this problem, so a multi-disciplinary study is very necessary. This research is a field study or field research, which was carried out using a qualitative descriptive approach. Primary data was obtained through interviews with sources determined using the purposive sampling method. The aim of this research is to conduct a study of the problem of stunting among children in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency from a Hindu religious perspective. Based on the research that has been carried out, several things can be found: first, the community in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency perceives stunting in terms of beliefs and traditions, apart from being a medical problem. Second, the implementation of Hindu religious teachings in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency as an effort to prevent stunting is carried out through ceremonies for babies in the womb and after birth called nahunan in accordance with the guidance of the Veda and the Panaturan book. Third, the implications of Hindu religious teachings for preventing stunting in children in Bangkal Village, Seruyan Raya District, Seruyan Regency are: the philosophical implications of the yadnya ceremony, the philosophical implications of the 3, 7 and 9 month pregnancy ceremonies, and the philosophical implications of the nahunan ceremony.
Penguatan Dasar-Dasar Agama Hindu Melalui Kegiatan Basarah di Desa Parit Kecamatan Cempaga Hulu Kabupaten Kotawaringin Timur Puspo Renan Joyo; Kunti Ayu Vedanti; Tiwi Etika; I Gede Arya Juni Arta; Susi Susi; Rupiadi Rupiadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin Vol. 6 No. 1 (2026): Januari : Jurnal Pengabdian Masyarakat Waradin
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Pariwisata Indonesia Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56910/wrd.v6i1.931

Abstract

The Kaharingan Hindu community represents an indigenous Dayak group residing in Central Kalimantan, distributed across fourteen districts and municipalities. One of these communities is located in Parit Village, Cempaga Hulu Subdistrict, East Kotawaringin Regency. Following its integration into Hinduism in 1980, various forms of religious guidance have been implemented; however, these efforts have not been fully optimal due to the vast geographical conditions of Central Kalimantan. This community service program conducted in Parit Village aims to strengthen the community’s śraddhā (faith) and jñāna (knowledge and understanding) of Hindu teachings. The program employed an outreach and educational approach focused on reinforcing the fundamental principles of Hinduism. Its implementation involved collaborative engagement with several partners, including the Ministry of Religious Affairs of the Republic of Indonesia (East Kotawaringin Office), the Kaharingan Hindu Council of Parit Village, and the active participation of the local Hindu community. The results indicate that many community members still lack comprehensive understanding of Hindu doctrines, partly due to limited access to sacred texts. Through the outreach activities, participants demonstrated improved comprehension of basic Hindu teachings, as evidenced by their ability to articulate and elaborate on the materials presented during the discussions.
Studi Komparasi Hari Raya Galungan di Bali dan Wijaya Dasami India Etika, Tiwi -
Dharma Duta Vol 20 No 1 (2022): Dharma Duta : Jurnal Penerangan agama Hindu
Publisher : Fakultas Dharma Duta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/dd.v20i1.778

Abstract

Galungan is a Balinese holiday, celebrating the victory of dharma (virtue) over adharma (evil). It is similar to Wijaya Dasami (Wijaya Dashami) and Durga Puja Nawaratri in India, celebrated by Hindus in other parts of the world. The word Dussehra is a variant of Dashahara which is a compound Sanskrit word meaning "ten days". Dus has the meaning "bad, evil, and sinful" and Hara means "removing, destroying", connoting "removing the bad, destroying the evil, sinful. In most of northern and western India, Dasha-Hara (literally, ten days) is celebrated in honor of Rama. Vijaya Dasami is observed after Navratri, on the tenth day, marked by a great procession where the clay statues are ceremoniously walked to a river or ocean coast for a solemn goodbye to Durga. This type of research is qualitative with a comparative study method. Collecting data using literature study, expert interviews, and Focus Group Discussion (FGD). Data analysis using Ethnographic Content Analysis (ECA). This festival is an old tradition of Hindu Dharma, though it is unclear how and in which century the festival began. Surviving manuscripts from the 14th century provide guidelines for Durga puja, while historical records suggest royalty and wealthy families were sponsoring major Durga puja public festivities since at least the 16th century. This article discusses a comparative study of Galungan Day in Bali and Wijaya Dasami in India which has the same essence, namely celebrating the victory of Dharma against Adharma. Keywords: Galungan, Wijaya Dasami, Hindu Festival Galungan adalah hari libur Bali, merayakan kemenangan dharma (kebajikan) atas adharma (kejahatan). Mirip dengan Wijaya Dasami (Wijaya Dashami) dan Durga Puja Nawaratri di India, yang dirayakan oleh umat Hindu di belahan dunia lain. Kata Dussehra adalah varian dari Dashahara yang merupakan kata majemuk Sansekerta yang berarti sepuluh hari. Dus berarti buruk, jahat, dan berdosa dan Hara berarti menghapus, menghancurkan, yang berarti menghilangkan keburukan, menghancurkan yang jahat, berdosa. Di sebagian besar India utara dan barat, Dasha-Hara (secara harfiah, sepuluh hari) adalah dirayakan untuk menghormati Rama. Vijaya Dasami dirayakan setelah Navratri, pada hari kesepuluh, ditandai dengan prosesi besar di mana patung-patung tanah liat dengan upacara berjalan ke sungai atau pantai laut untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Durga. Jenis penelitian ini adalah kualitatif dengan metode studi komparasi. Pengumpulan data menggunakan studi kepustakaan, wawancara ahli dan Focus Group Discussion (FGD). Analisis data menggunakan Ethnographic Content Analysis (ECA). Festival ini adalah tradisi lama Hindu Dharma, meskipun tidak jelas bagaimana dan di abad mana festival dimulai. Manuskrip yang bertahan dari abad ke-14 memberikan pedoman untuk puja Durga, sementara catatan sejarah menunjukkan bahwa bangsawan dan keluarga kaya mensponsori perayaan umum puja Durga sejak setidaknya abad ke-16. Artikel ini membahas studi komparasi Hari Raya Galungan di Bali dan Wijaya Dasami di India yang memiliki esensi yang sama yaitu merayakan kemenangan Dharma melawan Adharma. Kata kunci : Galungan, Vijaya Dasami, Hari Raya Hindu