Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

CREATIVE ENVIRONMENTAL ENERGY TECHNOLOGY ASSESSMENT HYDROELECTRIC POWER PLANT (CASE STUDY OF WONOGIRI RESERVOIR) Feby Hidayani; Yohanes Sardjono; Chafid Fandeli; Rukmini A.R
Indonesian Journal of Physics and Nuclear Applications Vol 2 No 3 (2017)
Publisher : Fakultas Sains dan Matematika Universitas Kristen Satya Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1077.663 KB) | DOI: 10.24246/ijpna.v2i3.101-110

Abstract

Hydroelectric power plants in Indonesia are widely developed. This is because the water supply in Indonesia is quite abundant. Several large reservoirs in Indonesia, in addition to being used for water reservoirs, are used to produce electricity. Wonogiri is a region that is located in Central Java province, where most of the region is arid land that cannot be planted in the dry season. In the rainy season the abundance of water plants to die and the soil is such that in the dry season crops do not grow well. Plans for the construction of Gajah Mungkur started in 1964, and it is designed to be a multipurpose dam project that aim to control floods, supply water for irrigation and hydropower in the Solo River valley. The master development plan was formulated in 1972-1974 with the help of Overseas Technical Cooperation of Japan. The results of this study include the completion of flooding problems along the Solo River, the increase in agricultural output in Winton community with irrigation facilities and good infrastructure, availability of electricity for communities around the dam and improving the local economy as the development of inland fisheries and tourism sectors.
Aplikasi Natrium Hipokhlorit Sebagai Oksidator Limbah Cair Rumah Pemotongan Ayam Ningrum DD. Apsari; Radjali Amin; Chafid Fandeli; Rukmini Aliman; Djoko Soetrisno
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.122 KB) | DOI: 10.21776/ub.jsal.2019.006.02.1

Abstract

Pertumbuhan jumlah Rumah Potong Ayam (RPA) kurang diiringi dengan pengelolaan limbah cair yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek larutan natrium hipoklorit (NaOCl) dan waktu endap terhadap kadar BOD, COD, TSS, minyak dan lemak, NH3-N dan pH pada limbah cair RPA.Penelitian ini menggunakan variasi dosis larutan NaOCl 0 ml L-1, 0.003 ml L-1, 0.006 ml L-1, dan 0.009 ml L-1 dan waktu endap 0 menit, 30 menit, 60 menit, dan 90 menit. Pada setiap perlakuan dilakukan uji toksisitas menggunakan ikan nila hitam (Oreochromis niloticus Bleeker) dengan waktu pajan 24 jam, 48 jam, 72 jam dan 96 jam. Penelitian dilakukan dengan pengulangan sebanyak 3 kali.Hasil terbaik dicapai oleh dosis larutan NaOCl 0.009 ml L-1 dan waktu endap 90 menit dengan nilai BOD 106.56 mg L-1, COD 226.61 mg L-1, TSS 229 mg L-1, minyak lemak 62 mg L-1, NH3-N 0.69 mg L-1, pH 6.1, dan 53% mati ikan nila hitam. HOCl yang terbentuk dari reaksi NaOCl dan air mengoksidasi bahan organik dalam limbah sehingga menurunkan kadar pencemarnya. Uji toksisitas ikan nila hitam menunjukkan bahwa limbah RPA bersifat toksik dan larutan NaOCl terbukti mampu menurunkan toksisitas limbah RPA. Walaupun demikian, penelitian ini belum berhasil membawa parameter uji memenuhi standar baku mutu limbah cair yang ditentukan oleh Pemerintah.
PENGARUH UKURAN PARTIKEL, ZAT AKTIVATOR, WAKTU AKTIVASI DAN WAKTU SERAP ADSORBEN FLY ASH UNTUK MENGURANGI KADAR KADMIUM (Cd) PADA AIR LINDI DI TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR PURWOREJO, JAWA TENGAH Rizqa Puspitarini; Arinto Kurniawan SN; Rukmini AR
Jurnal Sains dan Terapan Kimia Vol 13, No 2 (2019)
Publisher : Program Studi Kimia, Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.685 KB) | DOI: 10.20527/jstk.v13i2.6459

Abstract

Proses penimbunan sampah secara terus-menerus di daerah Tempat Pembuangan Akhir (TPA) menghasilkan pencemar berupa air lindi. Unsur logam berat yang sering ditemukan dalam air lindi adalah arsen, besi, kadmium, kromium, merkuri, nikel, seng, tembaga, dan timbal. Sumber air tanah yang terkontaminasi oleh zat kimia akan menyebabkan terganggunya kelangsungan hidup masyarakat disekitar TPA. Kadar pencemar yang terkandung dalam air lindi terutama kandungan logam berat dapat dilakukan dengan pemanfaatan limbah abu terbang batubara (fly ash) sebagai adsorben. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui besarnya ukuran partikel, zat aktivator dan waktu aktivasi dan waktu penyerapan yang efektif   terhadap kinerja adsorben limbah abu terbang batubara (fly ash) untuk mendegradasi logam Kadmium (Cd) dalam air lindi. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini antara lain pencucian abu terbang, pembuatan zat aktivator, aktivasi dengan penambahan zat aktivator, pembuatan larutan standar, analisis logam berat pada air lindi sebelum penambahan fly ash, uji kapasitas adsorben fly ash. Berdasarkan hasil penelitian dapat  diambil kesimpulan bahwa ukuran partikel 90 µ memiliki daya serap tinggi fly ash dalam menyerap logam kadmium dalam air lindi. Waktu aktivasi optimum terjadi pada waktu 180 menit pada proses aktivasi. Zat aktivator NaOH yang memiliki daya serap tinggi  fly ash dalam menyerap logam kadmium pada air lindi.  Waktu serap 90 menit memiliki daya serap yang tinggi fly ash  dalam menyerap logam kadmium pada air lindi. Daya serap fly ash dalam menyerap logam kadmium optimum dalam lindi pada perlakuan ukuran partikel 90 µ, zat aktivator NaOH 3M, waktu aktivasi 180 menit dan waktu serap 90 menit.
Analisis Pengolahan Limbah Cair Dengan Fitoremediasi Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) di Pabrik Kopi, Ermera, Timor Leste José Cardoso; Kiki Syaputri Handayani; Rukmini Aliman; Chafid Fandeli
Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan Vol 9, No 2 (2022)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jsal.2022.009.02.3

Abstract

ABSTRAK Pengolahan limbah cair pabrik kopi PT Cooperativa Cafe Timor (CCT) di Suco  Railaco, Ermera, Timor Leste sebanyak 54,000 m3 diproses secara kimia dengan menggunakan kapur. Kurangnya  waktu tinggal  dalam membentuk flok untuk mengendapkan bahan organik  pada  proses koagulan menyebabkan limbah  cair masih menimbulkan bau busuk.  Sehingga, diperlukan upaya menurunkan bahan organik limbah cair yaitu dengan teknik fitoremediasi eceng gondok Eichhornia crassipes dan dicampur kapur. Untuk mendapatkan perlakuan terbaik pada penelitian ini, pengujian dilakukan selama 5 hari untuk penurunan kadar Biochemical Oxygen Demand, 5 days (BOD5), Chemical Oxygen Demand (COD), dan Total Suspended Solid (TSS). Pengolahan  limbah padat eceng gondok secara anaerobik untuk pembuatan kompos organik dengan metode Takakura dengan bantuan aktivator berupa efektif mikroorganisme (EM-4) (100 ml) dan mikroorganisme lokal (MOL) (100 ml) adalah selama 14 hari. Hasil penelitian menunjukkan pengaruh perlakuan 20 rumpun eceng gondok dan 600 g kapur (CaO) memiliki tingkat kemampuan terbaik pada BOD5 sebesar 12.53 mg.L-1 (33.56%), COD sebesar 26.96 mg.L-1 (28.65%), dan TSS sebesar 34.66 mg.L-1 (55.36%). Sedangkan kompos eceng gondok memiliki C/N rasio sebesar 72.93, dan belum memenuhi persyaratan SNI19-7030-2004 akibat pengaruh suhu dan ketinggian timbunan kompos sehingga kemampuan mikroorganisme pada  aktivator  lebih dominan dalam perombakan bahan yang mengandung protein (N-Organik) jika dibandingkan dengan merombak bahan yang mengandung karbohidrat (C-Organik). Kata kunci: eceng gondok, fitoremediasi, kapur tohor, kompos, limbah cair kopi ABSTRACT The wastewater treatment of coffee factory PT CCT in Suco Railaco, Ermera, Timor Leste as much as 54,000 m3 is chemically processed using CaO. The lack of time in forming flocs to precipitate organic matter in the coagulant process caused the wastewater had a foul odor. Therefore, alternative ways are required to reduce the organic matter of wastewater, by phytoremediation with water hyacinth and CaO. To obtain the best treatment to reduce levels of BOD5, COD, and TSS was for 5 days. Anaerobic treatment of water hyacinth waste for organic composting by the Takakura method with the activators in the form of EM-4 (100 ml) and MOL (100 ml) was for 14 days. The results showed that the treatment effect of 20 clumps of water hyacinth and 600 g of CaO had the best level of ability at BOD5 was 12.53 mg.L-1 (33.56%), COD was 26.96 mg.L-1 (28.65%), and TSS was 34.66 mg.L-1 (55.36%). Meanwhile, water hyacinth compost had a C/N ratio of 72.93, and it was under the requirements of SNI19-7030-2004 due to the influence of temperature and height of the compost pile so that the ability of microorganisms in the activator was more dominant in the reshuffle of materials containing protein (N-Organic) when it compared to overhauling materials containing carbohydrates (C-Organic).Keywords: eichornia crassipes, phytoremediation, calcium oxide, compost, coffee wastewater
Menakar Tingkat Kepuasan Wisatawan: Kunci Keberhasilan Pengembangan Amenitas Pantai Slili sebagai Destinasi Wisata Bahari Jussac Maulana Masjhoer; Rukmini A.R.; Trisagia Mokodongan
PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif) Vol. 1 No. 1 (2024): PANUNTUN (Jurnal Budaya, Pariwisata, dan Ekonomi Kreatif)
Publisher : CV. Kurnia Grup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61476/9jv5v406

Abstract

Tourist satisfaction serves as a crucial indicator of successful tourism development. It is imperative for managers to periodically assess the tourism facilities to gauge the destinations' quality through the visitors' perspective. Therefore, this study endeavors to assess the level of tourist satisfaction regarding the tourism facilities at Slili Beach. A total of 100 respondents participated in the questionnaire, which was subsequently analyzed using descriptive quantitative methods. The findings revealed that tourists exhibited dissatisfaction with public toilet facilities and trash bins, with percentages of 42.25% and 38.75%, respectively. Conversely, tourists expressed contentment with rest area facilities, parking, and places of worship, with percentages of 51.34%, 47.71%, and 45.5%, respectively. However, the availability of disabled facilities left 61.5% of tourists significantly dissatisfied. These findings underscore the need for managers to address the discrepancies between tourists' expectations and the actual offerings at Slili Beach. Consequently, there is a pressing need for managers to enhance the quality of tourism facilities to ensure and bolster tourist satisfaction. Furthermore, future research endeavors could explore the correlation between tourist satisfaction and the inclination to revisit, providing managers with compelling reasons to continually improve the quality of facilities at marine tourism destinations.
PEMANFAATAN KULIT BUAH ALPUKAT (Persea americana Mill.) SEBAGAI CAMPURAN PEMBUATAN BIO HAND SANITIZER Rizky Bagus Anjana; Rukmini; Dewi Rahyuni; Nur Iswanto
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 25 No. 2 (2025)
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/jrl.v25i2.442

Abstract

Bio hand sanitizer adalah cairan atau gel yang berfungsi untuk membunuh kuman, bakteri, dan virus pada tangan tanpa memerlukan air dan sabun, namun mengandung alkohol berkisar 60%. Kulit buah alpukat (Persea americana Mill) mengandung senyawa flavonoid, saponin, alkaloid dan tanin yang sangat bermanfaat untuk bahan tambahan pembuatan bio hand sanitizer karena bersifat sebagai antibakteri, dan antivirus alami. Tujuan penelitian adalah untuk menganalisis dosis terbaik ekstrak kulit buah alpukat, menganalisis perbandingan kualitas bio hand sanitizer ekstrak kulit buah alpukat beraroma serai dapur (Cymbopogon citratus) dengan satu merk bio hand sanitizer yang beredar di pasaran. Penelitian ini dilaksanakan pada skala laboratorium, dengan variabel bebas dosis ekstrak kulit buah alpukat, yang terdiri dari 0 ml/200 ml, 10 ml/200 ml, 20 ml/200 ml dan 30ml/200 ml. Sedangkan variabel terikatnya meliputi uji antibakteri Staphylococcus aures, dan antibakteri Escherichia coli, serta pH. Data penelitian dianalisis menggunakan Anova α 5%, dan dilanjutkan uji LSD α 5%. Berdasar analisis keragaman dan uji LSD α 5% diperoleh dosis ekstrak kulit buah alpukat yang menghasilkan bio hand sanitizer dengan kualitas terbaik yaitu 10 ml//200 ml. Zona hambat antibakteri Staphylococcus aureus sebesar 20,3 mm, dan zona hambat antibakteri Escherichia coli sejauh 0 mm, dengan pH 4,29. Berdasar hasil uji perbandingan terhadap satu merk bio hand sanitizer yang beredar di pasaran, maka bio hand sanitizer dengan campuran ekstrak kulit buah alpukat layak dipasarkan.
Kebutuhan Material Kuari dan Upaya Efisiensi Pemanfaatannya Di Desa Mamuya, Kecamatan Galela, Kabupaten Halmahera Utara Zulfikar Hi Jalil; Rukmini
Environmental Insight Journal Vol 2 No 1 (2026): January
Publisher : Postgraduate Faculty, Yogyakarta Institut of Technology, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/eij.v2i1.394

Abstract

Penambangan kuari di Desa Mamuya mulai beroperasi tahun 2008, untuk pemanfaatan pembuatan fondasi rumah dan pembangunan lainnya. Tujuan penelitian, menghitung proyeksi kebutuhan, mengidentifikasi kecukupan pasokan, dan menyusun strategi efisiensi pemanfaatan material kuari. Metode penelitian adalah metode kuantitatif dan kualitatif. Data sekunder jumlah penduduk Desa Mamuya tahun 2015-2024 berasal dari BPS, untuk menghitung rata-rata laju pertumbuhan penduduk. Data primer, peneliti melakukan observasi, dan wawancara sebanyak 42 responden, serta melakukan pengukuran fondasi rumah. Data wawancara dan data sekunder tentang perkembangan populasi penduduk, dihitung menggunakan rumus geometri, diperhitungkan untuk menentukan kebutuhan material kuari pada tahun 2025-2029. Pengukuran pasokan material kuari mengunakan alat total station untuk mengetahui ketersedian pasokan kuari pada tahun 2025. Analisis SWOT untuk penambangan, penjualan dan pemanfaatan. Hasil penelitian menunjukan bahwa proyeksi pertumbuhan penduduk pada tahun 2025-2029 mencapai 5990 jiwa. Pasokan material kuari 679.682 m³, kebutuhan pembuatan fondasi rumah 480 m³, sisa pasokan material kuari 679.202 m³. Material kuari masih mencukupi untuk pembangunan fondasi rumah hingga tahun 2029. Analisis SWOT kebutuhan material kuari memilik kekuatan dan peluang sangat baik, namun perlu beberapa strategi untuk mengatasi kelemahan dan ancaman agar bisa meningkatkan efisiensi pemanfaatannya.  
PEMANFAATAN KARBON AKTIF KULIT PISANG KEPOK (MUSA PARADISIACA) SEBAGAI ADSORBEN ZAT WARNA CONGO RED DALAM LIMBAH CAIR INDUSTRI TEKSTIL Riska Septiana; Dewi Rahyuni; Rukmini AR
Jurnal Rekayasa Lingkungan Vol. 26 No. 1 (2026): Jurnal Rekayasa Lingkungan
Publisher : Institut Teknologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37412/jrl.v26i1.517

Abstract

Tanaman pisang cocok tumbuh di Indonesia yang beriklim tropis, sehingga hampir dijumpai di seluruh wilayah di Indonesia. Mayoritas masyarakat Indonesia hanya memanfaatkan buahnya saja, sedangkan kulit pisang menjadi limbah. Kulit pisang mengandung sejumlah unsur, diantaranya ialah asam galakturonat merupakan gugus fungsi gula karboksil yang diduga mampu mengadsorpsi zat warna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persen teradsorpsinya zat warna Congo Red, dan ekonomi karbon aktif kulit pisang kepok. Pembuatan karbon aktif kulit pisang kepok menggunakan aktivator H2SO4 yang direndam selama 1,5 jam. Zat warna Congo Red berasal dari limbah simulasi dengan konsentrasi 25 ppm. Variabel bebas berupa massa karbon aktif (0,04 ; 0,06 ; 0,08 , dan 0,10 g) dan waktu kontak (30, 60, 90, dan 120 menit). Variabel terikatnya yaitu persen teradsorpsi karbon aktif kulit pisang kepok, dan analisis ekonominya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persen teradsorpsi karbon aktif kulit pisang kepok tertinggi terjadi pada massa 0,1 g dengan waktu kontak 120 menit, dengan nilai 99.70%. Pada kondisi ini, analisis ekonomi menunjukkan biaya treatment sebesar Rp 1.716.000 sedangkan nilai R/C ratio yaitu pendapatan karbon aktif kulit pisang kepok untuk produksi setiap hari sejumlah Rp 564.600,00 dengan nilai R/C ratio 1,23 sehingga kriteria R/C ratio >1, maka karbon aktif tersebut efisien dan menguntungkan apabila diusahakan.
From Beliefs to Action: Structural Pathways Influencing Household Waste Sorting Behavior in Pontianak City, Indonesia Muhammad Sami Al Haddad; Rukmini A.R; Silviani Silviani; Radjali Amin; Agus Suyanto
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 5 No. 9 (2026): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v5i9.6101

Abstract

Household waste sorting is a critical behavioral component of sustainable urban waste management; however, its adoption often depends on complex interactions among beliefs, perceptions, social influences, and individual intentions. This study examines the structural pathways through which social, psychological, and environmental factors influence household waste sorting behavior in Pontianak Kota District, Indonesia. Grounded in an Extended Theory of Planned Behavior framework, this study employed a quantitative explanatory design involving 395 household respondents. Data were analyzed using Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS) with bootstrapping to assess the significance of structural relationships. The findings show that intention is the strongest direct predictor of household waste sorting behavior, with a path coefficient of 0.775 and a T-statistic of 33.613. Behavioral beliefs significantly influenced both perception and attitude, while normative beliefs strongly shaped social norms. Social norms, perception, and attitude were also found to significantly influence intention, indicating that household waste sorting behavior emerges through interconnected cognitive and social pathways. Knowledge significantly influenced attitude but did not directly strengthen intention, suggesting that information-based interventions alone may be insufficient without motivational and social reinforcement. These findings highlight the importance of transforming beliefs into positive attitudes, perceived benefits, supportive norms, and strong behavioral intentions. The study contributes to the pro-environmental behavior literature by clarifying how belief-based constructs translate into household waste sorting actions within an urban Indonesian context.