Claim Missing Document
Check
Articles

Risk-based predictive maintenance of medium voltage network switching equipment using analytical hierarchy process as an analytical tool Gumilang, Erick Satriyo; Hudaya, Chairul; Sudiarto, Budi; Husnayain, Faiz
SINERGI Vol 30, No 1 (2026)
Publisher : Universitas Mercu Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22441/sinergi.2026.1.011

Abstract

Predictive maintenance has become crucial for enhancing the reliability and efficiency of electrical systems, especially for Medium Voltage Network (MVN) switching equipment, which plays a key role in electricity distribution. This study aimed to develop a risk-based predictive maintenance model for MVN switching equipment using the Analytical Hierarchy Process (AHP) for maintenance prioritization, along with Z-score and Monte Carlo simulation methods to evaluate risk likelihood and impact. The Z-score method assessed the probability of risks occurring, revealing a probability exceeding 90% for specific equipment, such as UP2D.2025.C4, at 93.12%. The Monte Carlo simulation assessed the potential impact of these risks, showing severe consequences for various types of equipment. For example, UP2D.2025.C1 had a mean of 28.51 and a standard deviation of 3.50, while UP2D.2025.C8 had a standard deviation of 33.17, with an impact of over 61.53%. AHP was used to assign priority weights to components based on criteria such as equipment age, operational condition, and failure history. The analysis indicated that the Lightning Arrester had the highest maintenance priority at 26.04%, followed by the Fuse Cutout at 20.62% and the Pole-Mounted Circuit Breaker at 11.15%. This research was expected to significantly contribute to the development of more efficient and effective maintenance strategies for electrical systems, particularly in the electricity distribution sector.
Analisis Harga Pembelian Tenaga Listrik yang Optimal untuk Pembangkit Listrik Energi Terbarukan di Kawasan Timur Indonesia Supriadi, Supriadi; Sudiarto, Budi
Jurnal Energi Baru dan Terbarukan Vol 6, No 3 (2025): Oktober 2025
Publisher : Program Studi Magister Energi, Sekolah Pascasarjana, Universitas Diponegoro, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jebt.2025.26933

Abstract

Kawasan Timur Indonesia memiliki potensi energi terbarukan yang besar. Akan tetapi, pemanfaatannya belum maksimal dan masih mengandalkan energi fosil. Salah satu penyebabnya adalah harga pembelian tenaga listrik dari pembangkit energi terbarukan yang tidak kompetitif sehingga menghambat investasi swasta. Disisi lain jika harga pembelian terlalu tinggi maka dapat membebani keuangan PLN dan meningkatkan Biaya Pokok Penyediaan (BPP). Oleh karena itu, diperlukan analisis untuk menentukan harga pembelian tenaga listrik optimal yang menguntungkan bagi PLN sebagai pembeli sekaligus tetap memberikan tingkat pengembalian investasi yang layak bagi swasta sebagai pengembang. Analisis harga pembelian tenaga listrik dilakukan berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) 112 Tahun 2022, dengan pendekatan perhitungan Net Present Value (NPV) dan Internal Rate of Return (IRR) untuk menilai kelayakan proyek. Dari sisi finansial PLN dilakukan dengan menghitung penghematan yang diperoleh dari selisih BPP pembangkitan energi terbarukan dengan BPP Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa jika menggunakan harga patokan tertinggi yang ditetapkan Pemerintah, hanya pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) yang tidak layak untuk dikembangkan. Harga optimal untuk PLTP seharusnya diatas 13,32 ¢/kWh. Sementara Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) adalah yang paling layak untuk dikembangkan karena memiliki nilai IRR paling tinggi diantara pembangkit lainnya dengan kisaran harga optimal 9,36 – 10,91 ¢/kWh dan potensi penghematan PLN dari pembangkit ini sebesar 2,17 – 3,99 triliun rupiah per tahun.
Medium Voltage Cable Health Index Integrating Diagnostic Data and Feeder Load for Reliability Assessment Negara, Pande Putu Priyanithi Dharsania; Sudiarto, Budi
International Journal of Electrical, Energy and Power System Engineering Vol. 9 No. 1 (2026): The International Journal of Electrical, Energy and Power System Engineering (I
Publisher : Electrical Engineering Department, Faculty of Engineering, Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/ijeepse.9.1.25-38

Abstract

Reliable operation of medium-voltage (MV) distribution networks depends strongly on the condition of XLPE-insulated cable systems. However, existing diagnostic methods, including Partial Discharge (PD), Tan Delta (TD), and Very Low Frequency (VLF) testing, are typically interpreted in isolation, limiting their relevance to operational decision-making. This study develops a unified Health Index (HI) framework that integrates these three diagnostic parameters with feeder loading data under real field conditions. Using Min–Max normalization and dual weighting schemes, the model was applied to 33 cable segments in a tropical MV distribution network. HI values were statistically correlated with the System Average Interruption Duration Index (SAIDI) and Energy Not Supplied (ENS). Results show that the dielectric-oriented weighting scheme yields stronger correlation with SAIDI (r = 0.967, p < 0.05), while equal weighting enhances sensitivity to ENS. Although feeder loading contributes to degradation exposure, intrinsic insulation condition remains the primary determinant of health classification. High-risk segments are consistently identified under both schemes, confirming the structural robustness of the model. The proposed framework provides an empirically validated foundation for condition-based and risk-based asset management in MV distribution systems.
STUDI OPTIMASI EXCESS POWER PLTA BALAMBANO 110 MW UNTUK MEMASOK BEBAN DI PLN ULP MALILI Fariz Dzaky Faishal; Budi Sudiarto
Jurnal Impresi Indonesia Vol. 4 No. 7 (2025): Jurnal Impresi Indonesia
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/jii.v4i7.6792

Abstract

Penelitian ini dilakukan di wilayah kerja PLN ULP Malili, Kabupaten Luwu Timur, dengan tujuan menganalisis pemanfaatan excess power dari PLTA Balambano 110 MW milik PT Vale Indonesia. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya pemanfaatan daya yang tersedia, di mana hanya 1,18 MW dari 4,5 MW yang terpakai, serta kebijakan efisiensi anggaran pemerintah yang mendorong optimalisasi sumber daya. Tujuan penelitian adalah membandingkan dua skenario distribusi daya (melalui GI Malili dan GH Balambano) dari segi teknis dan ekonomi, termasuk analisis tegangan jatuh, losses, serta keandalan jaringan (SAIDI, SAIFI, ENS). Metode penelitian menggunakan simulasi teknis dengan ETAP 19.0.1 dan analisis ekonomi kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Skenario B (GH Balambano) memiliki losses lebih tinggi (77,6 kW) dibanding Skenario A (52,4 kW), namun secara ekonomi lebih efisien dengan keuntungan bersih mencapai Rp9,63 miliar per tahun. Implikasi penelitian ini memberikan rekomendasi untuk mengadopsi Skenario B sebagai solusi optimal, mengingat keunggulan ekonominya meskipun secara teknis sedikit lebih rendah. Temuan ini menjadi dasar pertimbangan bagi PLN dan pemerintah daerah dalam meningkatkan pendapatan dan efisiensi operasional.
Studi Pengaruh Pemilihan Rasio CT Terhadap Arus Hubung Singkat dan Potensi Saturasi pada Penyulang 20 kV Gardu Induk New Jakabaring Yogi Sepatra Paulus; Budi Sudiarto
Jurnal Surya Energy Vol. 10 No. 1 (2025)
Publisher : Teknik Elektro, Universitas Muhammadiyah Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/jse.v10i1.774

Abstract

Sistem proteksi pada jaringan distribusi tegangan menengah sangat bergantung pada akurasi transformator arus (CT) dalam mendeteksi gangguan dan mengoperasikan relay proteksi. Saat terjadi gangguan hubung singkat, CT berpotensi mengalami saturasi magnetik yang menyebabkan representasi arus sekunder tidak akurat, sehingga mengganggu kinerja proteksi. Penelitian ini mengevaluasi karakteristik saturasi CT pada penyulang 20 kV dan mengidentifikasi konfigurasi rasio yang paling andal saat arus ekstrem. Metode yang digunakan menggabungkan pengujian lapangan di GI 150 kV New Jakabaring dengan pemodelan simulasi berbasis data teknis aktual. Parameter yang diuji meliputi burden, tahanan lilitan, dan tegangan titik lutut (knee point voltage). Hasil menunjukkan bahwa CT dengan rasio rendah seperti 300/5 A lebih cepat mengalami saturasi, sementara CT dengan rasio tinggi seperti 400/1 A dan 600/5 A menunjukkan performa lebih stabil dan linier terhadap gangguan. Tegangan lutut yang tinggi dan arus eksitasi yang rendah terbukti meningkatkan ketahanan terhadap saturasi. Temuan ini menegaskan pentingnya pemilihan rasio CT yang sesuai berdasarkan hasil pengujian langsung untuk meningkatkan keandalan dan selektivitas sistem proteksi.
Spatial Clustering of Electricity Consumption Patterns in Indonesian Higher Education Institutions Rahardjo, Imam Arif; Garniwa, Iwa; Sudiarto, Budi; Jan, Pidanic
ELKHA Vol. 18 No.1 April 2026
Publisher : Faculty of Engineering, Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/elkha.v18i1.104516

Abstract

Higher education institutions represent a significant contributor to electricity consumption in the public sector, particularly in developing countries such as Indonesia. This study aims to identify spatial patterns and provincial disparities in electricity consumption across Indonesian higher education institutions. This research method uses spatial autocorrelation analysis with Moran's I and hierarchical clustering based on Ward’s method. The results show that the observed Moran’s I (0.5129679) is higher than the expected Moran’s I (-0.03030303), and the spatial pattern of electricity consumption by higher education institutions is clustered. This result is confirmed by the negligible p-value (0.0003618787 < 0.05), indicating a strong clustered spatial pattern. Hierarchical clustering was used to identify three groups of provinces representing the level of electricity consumption. The findings highlight significant regional disparities in electricity consumption patterns and provide a quantitative basis for energy management strategies and sustainable higher education policy planning in Indonesia.