Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

REFORMULASI KETATANEGARAN INDONESIA Zulkarnain Zulkarnain
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 10, No 1 (2014): ISTORIA Edisi Maret 2014, Vol. 14, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v10i1.3214

Abstract

Keinginan politik untuk melakukan perubahan atau amandemen UUD 1945 di era reformasi dilatarbelakangi oleh -pengalaman  sejarah masa lalu, baik masa Orde Lama (1959-1966) maupun pada masa Orde Baru (1966-1998). Bila kita kaji secara detail dan mendalam, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 memang dibuat dalam keadaan tergesa-gesa, sehingga mengandung segi-segi kelemahan, yang memungkinkan munculnya pemerintahan yang diktator. Konstitusi ketatanegaraan Indonesia sebelum amandemen memberikan titik berat kekuasaan kepada Presiden. Majelis Permusyawaratan Rakyat, meskipun disebut sebagai pelaksana kedaulatan rakyat dan penjelmaan seluruh rakyat, dalam kenyataannya susunan dan kedudukannya sepenuhnya di bawah kendali presiden.Keinginan untuk menata ulang kedudukan lembaga-lembaga negara agar tercipta check and balances juga terasa begitu kuatnya. Demikian pula keinginan untuk memperjuangkan tegaknya hukum dan pengakuan serta perlindungan terhadap hak asasi manusia. Keinginan untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada daerah-daerah juga demikian menguat, sehingga kewenangan-kewenangan Pemerintah Daerah juga perlu diperkuat untuk mencegah terjadinya disintegrasi Bangsa. Kata Kunci: Reformulasi, Tatanegara,  Indonesia.
REFORMULASI KETATANEGARAN INDONESIA Zulkarnain Zulkarnain
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 10, No 1 (2014): ISTORIA Edisi Maret 2014, Vol. 14, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v10i1.3611

Abstract

Keinginan politik untuk melakukan perubahan atau amandemen UUD 1945 di era reformasi dilatarbelakangi oleh -pengalaman  sejarah masa lalu, baik masa Orde Lama (1959-1966) maupun pada masa Orde Baru (1966-1998). Bila kita kaji secara detail dan mendalam, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 memang dibuat dalam keadaan tergesa-gesa, sehingga mengandung segi-segi kelemahan, yang memungkinkan munculnya pemerintahan yang diktator. Konstitusi ketatanegaraan Indonesia sebelum amandemen memberikan titik berat kekuasaan kepada Presiden. Majelis Permusyawaratan Rakyat, meskipun disebut sebagai pelaksana kedaulatan rakyat dan penjelmaan seluruh rakyat, dalam kenyataannya susunan dan kedudukannya sepenuhnya di bawah kendali presiden.Keinginan untuk menata ulang kedudukan lembaga-lembaga negara agar tercipta check and balances juga terasa begitu kuatnya. Demikian pula keinginan untuk memperjuangkan tegaknya hukum dan pengakuan serta perlindungan terhadap hak asasi manusia. Keinginan untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada daerah-daerah juga demikian menguat, sehingga kewenangan-kewenangan Pemerintah Daerah juga perlu diperkuat untuk mencegah terjadinya disintegrasi Bangsa. Kata Kunci: Reformulasi, Tatanegara,  Indonesia.
HISTORY EDUCATION CURRICULUM POLICY MASS REFORM IN HIGH SCHOOL Zulkarnain Zulkarnain
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 14, No 2 (2018): ISTORIA Edisi September 2018, Vol. 14, No.2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (871.11 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v14i2.21153

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui: kebijakan kurikulum sejarah Sekolah Menengah Atas (SMA) pada masa Orde Lama. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan menggunakan pendekatan historis. Penelitian ini menggunakan studi dokumen sebagai metode utama. Studi dokumen dilakukan terhadap sumber-sumber primer maupun sekunder untuk keperluan triangulasi sumber. Selain studi dokumen, penelitian ini juga menggunakan metode wawancara sebagai metode pelengkap. Wawancara dilakukan terhadap beberapa praktisi dan akademisi pendidikan termasuk di dalamnya praktisi kurikulum sejarah Indonesia. Analisis data menggunakan model analisis interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) selama kurun waktu 1945-1951, kurikulum sejarah SMA masih menggunakan kurikulum AMS(Algemene Middelbare School) yang merupakan kurikulum warisan zaman Hindia Belanda. Sedangkan kebijakan pemerintah terhadap kurikulum sejarah masa pemerintahan Orde Lama, lebih mengarah pada kebijakan politik, dan dengan jelas orientasi materi lebih banyak  mengarah  pada doktrin  politik, ideologi bangsa, begitu juga dengan orde baru. Berbeda dengan Oral dan Orba, kurikulum sejarah pada massa reformasi di mana kajiannya adalah kurikulum 1994 suplemen GBPP 1999,kurikulum 2004,2006 dan kurikulum 2013, selain menempatkan mata pelajaran sejarah pada kelompok mata pelajaran wajib serta peminatan, mata pelajaran sejarah diberikan porsi lebih dibandingkan porsi pembelajaran pada kurikulum 2004. Penambahan jam pelajaran tersebut bertujuan agar guru memiliki waktu yang lebih leluasa untuk mengelola dan mengembangkan proses pembelajaran yang berorientasi pada pengembangan sikap spiritual, sosial, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Kata kunci: kebijakan, kurikulum sejarah masa reformasi, SMA
SERBA-SERBI TANAM PAKSA Zulkarnain Zulkarnain
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 8, No 1 (2010): ISTORIA Edisi September 2010, Vol. 8, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (856.85 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v8i1.3720

Abstract

Zaman tanam paksa adalah era paling eksploitatif dalam praktek ekonomi Hindia Belanda. Sistem tanam paksa ini jauh lebih keras dan kejam dibanding sistem monopoli VOC karena ada sasaran pemasukan penerimaan negara yang sangat dibutuhkan pemerintah. Aset tanam paksa inilah yang memberikan sumbangan besar bagi modal pada zaman keemasan kolonialis liberal Hindia-Belanda pada tahun 1835- 1940. Di atas kertas, teori Cultuurstelsel memang tidak terlalu membebani rakyat, namun dalam pelaksanaannya, terbukti sangat merugikan petani terutama di Jawa, yang mengakibatkan kesengsaraan, kemiskinan, dan kematian bagi rakyat di tanah koloni. Kata kunci : penerapan, Cultuurstelsel, daerah koloni.
REFORMULASI KETATANEGARAN INDONESIA Zulkarnain Zulkarnain
ISTORIA: Jurnal Pendidikan dan Sejarah Vol 10, No 1 (2014): ISTORIA Edisi Maret 2014, Vol. 14, No.1
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (164.128 KB) | DOI: 10.21831/istoria.v10i1.3612

Abstract

Keinginan politik untuk melakukan perubahan atau amandemen UUD 1945 di era reformasi dilatarbelakangi oleh -pengalaman  sejarah masa lalu, baik masa Orde Lama (1959-1966) maupun pada masa Orde Baru (1966-1998). Bila kita kaji secara detail dan mendalam, dapat dikatakan bahwa UUD 1945 memang dibuat dalam keadaan tergesa-gesa, sehingga mengandung segi-segi kelemahan, yang memungkinkan munculnya pemerintahan yang diktator. Konstitusi ketatanegaraan Indonesia sebelum amandemen memberikan titik berat kekuasaan kepada Presiden. Majelis Permusyawaratan Rakyat, meskipun disebut sebagai pelaksana kedaulatan rakyat dan penjelmaan seluruh rakyat, dalam kenyataannya susunan dan kedudukannya sepenuhnya di bawah kendali presiden.Keinginan untuk menata ulang kedudukan lembaga-lembaga negara agar tercipta check and balances juga terasa begitu kuatnya. Demikian pula keinginan untuk memperjuangkan tegaknya hukum dan pengakuan serta perlindungan terhadap hak asasi manusia. Keinginan untuk memberikan perhatian yang lebih besar kepada daerah-daerah juga demikian menguat, sehingga kewenangan-kewenangan Pemerintah Daerah juga perlu diperkuat untuk mencegah terjadinya disintegrasi Bangsa. Kata Kunci: Reformulasi, Tatanegara,  Indonesia.
The Role of Jambi Malay Traditional Institutions in the Seloko Oral Traditions of the Jambi Culture in Maintaining the Advancement of Culture Muhammad Dwi Kurniadi; Zulkarnain Zulkarnain
Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education (BirLE) Journal Vol 4, No 1 (2021): Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education, Februa
Publisher : BIRCU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birle.v4i1.1721

Abstract

The purpose of writing this scientific article is to gain an understanding of the oral tradition of the Javanese traditional seloko adat used in Javanese Malay weddings, whose problem formulation includes: (1) What is the oral tradition? (2) What is Jambi adat seloko? (3) How are the efforts of the Jambi provincial customary institutions to maintain the advancement of culture? To answer these three problems the writer used a qualitative approach with the literature study method that collected several articles from previous research and conducted interviews with several cultural figures in Jambi Province. From this research, it was found that one of the 10 elements of culture, namely the oral tradition, is found in Jambi under the name Seloko where it is an oral tradition that contains advice, guidelines for life.
The Values of Character Education in "Terempoh" Silaturahmi Tradition of Malay Society in Sintang City Ropita Dewi Sartika; Saefur Rochmat; Zulkarnain Zulkarnain
Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education (BirLE) Journal Vol 4, No 2 (2021): Budapest International Research and Critics in Linguistics and Education, May
Publisher : BIRCU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birle.v4i2.1855

Abstract

The Terempoh tradition is a hereditary tradition of the Sintang Malay community. This tradition is still being carried out today. The Terempoh tradition is usually carried out during Eid al-Fitr and Eid al-Adha as a tradition of gathering the Sintang Malay community. Even though it is a long tradition, this Terempoh Tradition contains character values which when properly applied in education will provide many lessons and benefits to students in social life. The purpose of this article is to describe the Terempoh as a Sintang Malay Community Gathering Tradition. The formulation of the problem / purpose of writing this article is to describe the Terempoh as a tradition of hospitality for the Malay community in the city of Sintang and the values contained in this tradition which can be used as lessons and guidelines for community life for the people of the city of Sintang. The method used in writing this article is qualitative. Meanwhile, the data collection techniques used in the writing of this article were interviews and literature studies.
The emergence and development history of Demak Bintoro Kingdom M Nur Rokhman; Lia Yuliana; Zulkarnain Zulkarnain
Journal of Social Studies (JSS) Vol 12, No 2 (2016): Journal of Social Studies (JSS)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jss.v12i2.11637

Abstract

This research is aimed to find the emergence and development of Demak kingdom. This research used the five stages historical research method according to Kuntowijoyo, which are topic selection, heuristic, verification, interpretation and writing. Kasultanan Demak is the first Islamic kasultanan in Java which was founded by Raden Patah in 1478. Demak area covers Jepara, Semarang, Tegal, Lembang, Jambi, islands among Kalimantan and Sumatera and some areas in Kalimantan islands. The glory era was in Sultan Trenggana administration who ruled from 1521-1546 M. After the death of Sultan Trenggana, there was power seizure in Demak Kingdom. This seizure occured between the Prince of Sekar Seda ing Lepen and Sunan Prawata who was the only son of Sultan Trenggana. Thus, there was murder conducted by Sunan Prawata towards the Prince of Sekar Seda ing Lepen. The son of Prince of Sekar Seda ing Lepen whose name was Arya Panangsang from Jipang avenged his father’s death by murdering Sunan Prawoto. One of dukes who fighted againts Arya Panangsang was Joko Tingkir. He was one of Sultan Trenggono’s son-in-law and ruled in Pajang. Reputedly, Joko Tingkir had purebred line of Majapahit that is Brawijaya V who was expelled by Girindrawardhana and subserved in Demak Kingdom.   Keywords: maket, administration, and Islam Mataram
"Be a Scientist" Learning media using adobe flash CS3 program containing the materials of the influence of islamic religion and culture in Indonesia for Grade X of vocational school Ajat Sudrajat; Lantip Diat Prasojo; Zulkarnain Zulkarnain
Journal of Social Studies (JSS) Vol 14, No 1 (2018): Journal of Social Studies (JSS)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/jss.v14i1.21656

Abstract

This research aims at investigating the needs for image media of "be a scientist" developed using Adobe Flash CS3 program containing the materials of the influence of religion and Islamic culture in Indonesia for learning History of grade X Vocational School and examining the feasibility of "be a Scientist" media developed using Adobe Flash CS3 program containing the materials of the influence of religion and Islamic culture in Indonesia which was developed to be used in the process of learning the history for grade X of Vocational school. This research employed Research and Development (R D) method. The product developed is in the form of "be a scientist" image media using Adobe Flash CS3 program that is appropriate for a learning resource in History subjects. The stages of research include: (1) the preliminary stage, (2) the planning stage of the model as the development of the initial product form, (3) the testing, evaluation and revision stages, and (4) the implementation stage or effectiveness test. Data were colected using FGD (Focus Group Discussion), questionnaires, interviews, observations, and documentation techniques. The validity of the instrument is achieved through expert judgement, while the validity of qualitative data is carried out using source triangulation techniques, theories and methods. Quantitative data analysis was performed using descriptive analysis techniques and qualitative data was carried out using an interactive models. The results show that: Adobe Flash CS 3 media images were needed in vocational schools for the development of history learning. The results of the assessment performed by the experts on material and media indicate that  "be a scientist" image media using Adobe Flash CS3 program for history learning in Vocational High Schools has a good level of feasibility. This shows that the  "be a Scientist" media using the Adobe Flash CS3 program contaiing the material of religious influence and Islamic culture in Indonesia is suitable for history learning in Vocational High Schools grade X.
MODERNISASI: SUKABUMI DALAM ARUS PERUBAHAN SOSIAL EKONOMI ERA KOLONIAL BELANDA Dimas Aldi Pangestu; Zulkarnain Zulkarnain
ISTORIA Jurnal Pendidikan dan Ilmu Sejarah Vol 16, No 2 (2020): ISTORIA Edisi September, Vol. 16. No. 2
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/istoria.v16i2.35601

Abstract

Tujuan penulisan artikel ini adalah mengetahui bagaimana sejarah Sukabumi pada era kolonial Belanda dan mengetahui bagaimana faktor, klasifikasi dari perubahan sosial ekonomi, dna modenisasi di masyarakat Sukabumi di era kolonial Belanda. Metode dalam penulisan artikel ini adalah metode sejarah dari Kuntowijoyo yang mempunyai tahapan pemilihan topik, heuristic, kritik sumber, interpretasi dan histroriografi. Sejak masa VOC hingga kolonial Belanda Sukabumi merupakan tempat budidaya komoditi perkebunan yang baik. Kopi dan teh adalah penghasil utama selain kina, karet, getah perca dan kapas. Penerapan Priangan Stelsel, Culturrstelsel dan Agrariaschnwet di Sukabumi, tidak dapat terlepas dari perkebunan. Dampak positif dalam hal tersebut adalah memicu perubahan sosial ekonomi dan modernisasi. Faktor utama perubahan sosial ekonomi adalah kesuburan tanah dan suhu (faktor alam); penemuan baru (budidaya perkebunan); dan teknologi (kereta api). Sukabumi mengalami perubahan sosial dalam bentuk struktural, kultural dan interaksional. Sedangkan proses modernisasi pada penduduk Sukabumi dalam bidang budaya, politik, ekonomi, sosial dan life style