Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : Culture

Modal Sosial Orang Rimba Bagi Pendidikan Formal Anak Purwasih, Murni; Fitriani, Erda
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i4.39

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan modal sosial Orang Rimba pada pendidikan formal tepatnya pada anak-anak Orang Rimba yang sekolah di SDN 89/VII Desa Pulau Lintang Kecamatan BathinVIII Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi. Teori yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini ialah teori modal sosial yang dikemukakan oleh Putnam. Menurut Putnam modal sosial adalah jaringan-jaringan, nilai-nilai, dan kepercayaan. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif dengan tipe studi kasus serta teknik pemilihan informan yaitu snowball sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dokumentasi dengan teknik analisis data dari Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan modal sosial yang dimiliki Orang Rimba untuk meyekolahkan anak-anak pada pendidikan formal yaitu (1). Jaringan, dimana dengan adanya hubungan sosial yang sudah dijalin masyarakat Orang Rimba dengan pemerintah dan guru nonformal maka membuka wawasan pengetahuan mereka untuk menyekolahkan anak mereka ke pendidikan formal; (2). Nilai dan Norma, nilai yang dianut Orang Rimba yaitu nilai kesopanan, nilai saling menghargai dan nilai saling tolong menolong; (3). Kepercayaan, kepercayaan Orang Rimba dengan hubungan sosial yang sudah terjalin antara Orang Rimba dengan pemerintah, guru pendidikan nonformal dan pendeta; Jenis modal sosial yang ada pada masyarakat Orang Rimba adalah jenis modal sosial bonding dan bridging.
Respon Orang Minangkabau Terhadap Kasus Kawin Sasuku Khairani, Rizka; Fitriani, Erda
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i4.40

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan respon orang Minangkabau terhadap kasus kawin sasuku di Nagari Sako Utara Pasia Talang. Kawin sasuku merupakan sesuatu yang dilarang secara adat Minangkabau, akan tetapi di nagari ini kawin sasuku terjadi. Teori yang digunakan dalam menganalisis penelitian ini ialah Teori Pertukaran oleh Peter M. Blau. Metodelogi yang dipakai dalam penelitian ini ialah pendekatan kualitatif dengan menggunakan tipe studi kasus serta teknik pemilihan informan purposive sampling. Dalam pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan Miles dan Huberman. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa respon orang Minangkabau terhadap kasus kawin sasuku pada masyarakat Nagari Sako Utara Pasia Talang Kecamatan Sungai Pagu Kabupaten Solok Selatan yaitu : 1) Respon positif karena perilaku ini tidak dilarang dalam agama; 2) Respon positif karena perilaku ini dapat menghindari zina; 3) Respon negatif karena tidak sesuai dengan aturan adat; 4) pelaku mendapat sanksi adat berupa dikucilkan dalam masyarakat; 5) hubungan pelaku dengan warga masyarakat menjadi tidak harmonis.
Peran Urang Sumando dalam Baralek di Kalumbuk Kecamatan Kuranji Kota Padang Sumatera Barat Mutiara, Mutiara; Fitriani, Erda; Mardhiah, Desy
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i4.41

Abstract

Artikel ini membahas tentang peran urang sumando dalam baralek di Kalumbuk. Urang sumando ikut berpartisipasi pada saat sebelum menikah, pada saat baralek sampai sesudah baralek. Penelitian ini dianalisis dengan teori fungsionalisme struktural oleh Radcliffe-Brown. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan tipe penelitian etnografi. Hasil penelitian mengungkapkan adanya peran urang sumando dalam baralek di Kalumbuk Kecamatan Kuranji Kota Padang Sumatera Barat. Urang sumando yang memiliki peran saat acara baralek bukan hanya urang sumando dari pihak keluarga tetapi seluruh urang sumando yang ada di Kalumbuk akan ikut berpartisipasi pada saat acara baralek mulai dari sebelum menikah, pada waktu baralek dan sesudah baralek. Adapun peran urang sumando pada saat baralek di Kalumbuk yaitu mulai dari sebelum menikah yaitu, mancaliak minantu, mambuek hari, maagiah gala. Peran urang sumando pada waktu baralek yaitu, manjapuik marapulai, manunggu manjapuik marapulai, malakek kain dan manatiang dan peran urang sumando sesudah baralek yaitu, manjapuik marapulai malam dan manunggu manjapuik marapulai malam.
Nanjoak Umoah: Upacara Adat Penyembuhan Luka Bakar di Desa Pulau Tengah Kerinci Andrianus, Andrianus; Fitriani, Erda; Syafrini, Delmira
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i4.42

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menjelaskan makna dari upacara Nanjoak Umoh di Desa Pulau Tengah Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci. Penelitian ini dianalisis dengan teori interpretativisme simbolik oleh Clifford Geertz. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian etnografi. Pemilihan informan secara purposive sampling sebanyak 29 orang. Pengumpulan data dilakukan dengan wawancara mendalam, dan observasi partisipasi, dianalisis dengan model interaktif. Hasil penelitian mengungkapkan makna Upacara Nanjoak umoh di desa Pulau Tengah Kecamatan Keliling Danau Kabupaten Kerinci secara emik yaitu (1) menghukum orang dan keluarga korban luka bakar atas kelalaiannya, (2) sebagai wujud maaf kapada seluruh para pengurus adat Desa Pulau Tengah dan kepada masyarakat sekitar tempat tinggalnya, (3) untuk meminta do’a kesembuhan kepada seluruh peserta upacara tradisi Nanjoak Umoh. Selain dari itu juga peneliti menemukan makna Nanjoak Umoh secara Etik yaitu adanya (1) Keyakinan bahwa Nanjoak Umoh obat yang ampuh menyembuhkan luka bakar;(2) Sebagai pembelajaran; (3) Memperkuat Solidaritas Sosial; (4) Menunjukkan Identitas.
Ritual Ngunggah Beras dalam Acara Ewoh Orang Jawa di Dharmasraya Walinda Sari, Lipah; Amri, Emizal; Fitriani, Erda
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 1 No 4 (2020): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (June 2020)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v1i4.45

Abstract

Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian mengenai ritual ngunggah beras dalam acara Ewoh orang Jawa di Jorong Aur Jaya Nagari Koto Padang. Dilihat dari segi pendekatannya, penelitian ini termasuk kualitatif dengan tipe etnografi. Pemilihan informan dilakukan dengan cara purposive sampling,dan data dianalisis dengan perspektif teori Interpretatif yang dikemukakan oleh Clifford Geertz. Hasil penelitian mengungkapkan, makna ritual ngunggah beras bagi masyarakat Jorong Aur Jaya mengadopsi makna; (1) penghormatan terhadap Dewi Sri dan roh nenek moyang; (2) wahana untuk menjauhkan dan melindungi masyarakat dari bahaya; (3) menunjukkan prestise bagi orang Jawa; dan (4) wujud kebersamaan, keempat temuan tersebut mengidentifikasi bahwa singkretisme di kalangan orang Jawa di Jorong Aur Jaya.
Basapa ke Gunung Bungsu: Pendidikan Surau Nagari Taeh Baruah Kabupaten Limapuluh Kota Destia, Anggun; Fitriani, Erda
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.196

Abstract

Aktivitas keagamaan di Minangkabau memperlihatkan percampuran antara agama dan tradisi. Istilah basapa merupakan tradisi tahunan masyarakat Minangkabau, khususnya Padang Pariaman Sumatera Barat, untuk mengenang jasa penyebar agama Islam, Syekh Burhanuddin di Ulakan. Aktivitas basapa di Ulakan yaitu ziarah ke makam syekh, berdoa bersama sebagai penghormatan kepada syekh. Pendidikan di surau Nagari Taeh Baruah memiliki aktivitas basapa ke Gunung Bungsu. Di bukit Gunung Bungsu, tidak terdapat makam, aktivitas anak-anak surau yaitu mengaji bersama, mengadakan perlombaan, dan makan bersama. Penelitian ini bertujuan menjelaskan pendidikan di surau melalui aktivitas Basapa ke Puncak Gunung Bungsu di Nagari Taeh Baruah Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Limapuluh Kota. Penelitian ini dianalisis menggunakan teori konstruktivisme sosial oleh Lev Vigotsky. Aktivitas Basapa yang dilakukan oleh surau pada anak-anak mengaji berfungsi untuk membentuk kognisi sosial anak-anak. Penelitian ini dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe studi kasus. Teknik pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling. Informan penelitian berjumlah 16 orang, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi partisipasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen. Teknik analisis data menggunakan model analisis dari Miles dan Huberman yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas basapa ke Gunung Bungsu yang dilakukan dalam pendidikan surau mendidik anak-anak mengaji dengan cara belajar agama dengan menyenangkan (joyful learning) sambil bertamasya dan berolahraga.
Konservasi Budaya Seni Dendang Masyarakat Serawai Sari, Manya Deptiana; Fitriani, Erda
Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Vol 7 No 2 (2025): Culture & Society: Journal of Anthropological Research (December 2025)
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/csjar.v7i2.211

Abstract

Eksistensi seni dendang masyarakat Serawai sudah mulai terancam. Era modern saat ini masyarakat sudah jarang menggunakan seni dendang sebagai hiburan di acara- acara adat seperti pernikahan, aqiqah ataupun sunat rasul serta generasi muda sudah kurang tertarik mempelajari seni dendang. Sehingga diperlukan adanya konservasi terhadap warisan budaya seni dendang masyarakat Serawai untuk pelestarian dan penyelamatan kesenian Serawai. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menjelaskan konservasi warisan budaya seni dendang yang dilakukan oleh Sanggar Tiga Serangkai di Desa Suka Bandung. Penelitian ini dianalisis dengan teori habitus dan modal budaya oleh Pierre Bourdieu. Penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif tipe penelitian studi kasus. Pemilihan informan dalam penelitian ini menggunakan teknik purposive sampling, jumlah informan dalam penelitian ini sebanyak 12 orang dengan kriteria tokoh adat, pengurus sanggar, anggota sanggar, pemerintah desa, dan tokoh masyarakat. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara mendalam, dan studi dokumen, serta menggunakan analisis data model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukan konservasi budaya yang dilakukan sanggar Tiga Serangkai agar eksistensi Seni Dendang Desa Suka Bandung tetap terjaga keberadaanya yaitu dengan: pertama mengenalkan seni dendang pada generasi penerus, kedua melatih generasi muda, ketiga melakukan pertunjukan melalui perlombaan baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten, keempat mempromosikan seni dendang di media sosial. Kelima mempersingkat waktu penampilan tanpa mengurangi makna. Implikasi penelitian ini mengusulkan agar konservasi warisan budaya seni dendang tidak hanya melibatkan generasi muda laki-laki tapi juga bisa melibatkan generasi muda perempuan.