Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Efektivitas Pemberian Serbuk Daun Sirih Merah (Piper crocatum) Terhadap Mortalitas Kutu Beras (Sitophilus oryzae L.) Muhammad Yunidra Rahman; Dewi Fitriyanti; Lyswiana Aphrodyanti; Muhammad Indar Pramudi
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 4 No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v4i1.667

Abstract

Salah satu masalah utama dalam penyimpanan beras adalah serangan hama Sitophilus oryzae. Sejauhini upaya pengendalian yang aman bagi manusia dan efektif untuk menghambat reproduksi kutu berasmasih terus diupayakan. Salah satunya adalah dengan menggunakan pestisida nabati, oleh karena ituperlu dilakukan pengendalian yang aman bagi manusia salah satunya adalah penggunaan pestisidanabati. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas serbuk daun sirih merah (Piper crocatum)terhadap mortalitas kutu beras (S. oryzae). Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap(RAL) satu faktor 5 perlakuan dengan 4 ulangan. Parameter yang diamati yaitu mortalitas kutu beras,efikasi serbuk daun sirih merah dan persentase kerusakan beras. Hasil penelitian menunjukkan bahwapemberian perlakuan serbuk daun sirih merah dengan berbagai dosis mampu menekan populasi S.oryzae namun serbuk daun sirih merah belum dapat dikatakan efektif, karena berdasarkanperhitunganrumus abbot (1925) rata-rata kematian tertinggi hanya mencapai 47,50%, sedangkankematian kutu beras harus mencapai 70% agar bisa dikatakan efektif. Persentase kerusakan berasterendah terdapat pada perlakuan dengan dosis 2,5 gram yaitu sebesar 0,18%. Beras yang dirusak olehS. oryzae sebagian menjadi bubuk dan ada sebagian yang masih utuh berbentuk beras namun memilikibanyak lubang akibat serangan S. oryzae.
Identifikasi Lalat Buah Pada Buah Naga Super merah (Hylocereus costaricensis) Ahmad Syarifudin; Dewi Fitriyanti; M. Indar Pramudi
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 4 No 1 (2021): Februari 2021
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v4i1.668

Abstract

Buah naga (Hylocereus sp.) merupakan buah yang tergolong ke dalam kelompok kaktus atau famili Cactoceae.Kabupaten Tanah Laut (Provinsi Kalimantan Selatan) adalah Salah satu wilayah penghasil buah naga terbesar diIndonesia. Keadaan tekstur tanah yang halus (lempung berliat hingga berliat) dan kondisi iklim daerah TanahLaut sangat mendukung untuk pengembangan bisnis kedepannya. Salah satu faktor yang dapat menurunkanproduksi buah naga yaitu lalat buah. Tujuan Penelitian ini untuk mengidentifikasi Jenis (spesies) lalat buahyang menyerang pertanaman buah naga yang berada di Desa Sungai Pinang Kecamatan Tambang Ulang danDesa Tampang Kecamatan Pelaihari Kabupaten Tanah Laut Kalimantan Selatan. Hasil penelitian inimenunjukan bahwa spesies lalat buah yang teridentifikasi di Desa Tampang Kecamatan Pelaihari antara lain:Bactrocera carambolae, Bactrocera umbrosa, Bactrocera ocipitalis, dan Bactrocera dorsalis, sedangkan diDesa Sungai Pinang Kecamatan Tambang Ulang teridentifikasi lima jenis antara lain: Bactrocera carambolae,Bactrocera umbrosa, Bactrocera dorsalis, Bactrocera ocipitalis, dan Drosophilla melanogaster.
Eksplorasi Cendawan Rizosfer Asal Taman Hutan Raya Sultan Adam yang Berpotensi Sebagai Antagonis untuk Mengendalikan Jamur Akar Putih (Rigidoporus Lignosus) Elfirdha Anas Mufidah; Yusriadi Marsuni; Dewi Fitriyanti
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 4 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v4i2.766

Abstract

Rigidoporus lignosus atau yang sering kita sebut Jamur Akar Putih adalah penyakit utama yang sangat merugikan pada tanaman karet, menyebar melalui tanah (penyakit tular tanah), R. lignosus menular melalui akar tanaman sakit dan basidiospora yang dibawa melalu angin yang menyebabkan pohon mati dan kerugian produksi yang besar. Penelitian sebelumnya melaporkan biofungisida trico atau pengendalian hayati mampu mengendalikan Jamur Akar Putih. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan plasma nutfah pada tanah Taman Raya Sultan Adam Mandiangin (Tahura) yaitu cendawan antagonis dan mengetahui cendawan rizosfer asal tahura yang berpotensi dalam menekan pertumbuhan R. lignosus secara in vitro. Penelitian ini menggunakan uji antagonis terhadap patogen R. lignosus dengan RAL 1 faktor dan diulang 3 kali. Hasil penelitian ini menunjukan 6 cendawan pada rizosfer mampu menekan pertumbuhan R. lignosus secara in vitro dari 10 yang didapat. Berdasarkan persentase daya hambat >50% dan kemampuan kompetisi ruang di dapat isolat uji Trichoderma spp. sebesar (66.00%).
Eksplorasi Cendawan Rizosfer Asal Tahura Sultan Adam Yang Dapat Bersifat Sebagai Agens Antagonis Terhadap Fusarium Oxysporum Secara In Vitro Irfan Irfan; Yusriadi Marsuni; Dewi Fitriyanti
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 4 No 2 (2021): Juni 2021
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v4i2.767

Abstract

Tanah adalah suatu susunan yang mengandung mikroba di dalamnya. Rizosfer adalah komponen tanah yang berkaitan dengan sistem akar tanaman dan umumnya jumlah penghuni rizosfer lebih dominan dibandingkan dengan tanah bukan rizosfer. Mikroorganisme dalam tanah khususnya rizosfer, mempunyai manfaat yang besar bagi tanaman dan berpotensi sebagai agen hayati. Eksplorasi cendawan telah dilakukan pada rizosfer asal TAHURA SA dengan tujuan untuk mendapatkan mikroorganisme yang bersifat antagonis yang dapat menekan penyakit layu Fusarium (Fusarium oxysporum) secara in vitro. Metode penelitian saat di lapangan yaitu metode eksploratif kemudian dilanjutkan dengan kegiatan di laboratorium yang meliputi isolasi, pemurnian, uji antagonis berdasarkan persentase daya hambat, pengamatan mekanisme interaksi dan identifikasi cendawan antagonis. Penelitian ini disusun dengan RAL satu faktor yaitu agens antagonis. Hasil eksplorasi didapatkan 10 isolat cendawan asal rizosfer tarap dan meranti putih. Pada hasil uji antagonis berdasarkan daya hambat hanya empat isolat yang terpilih sebagai agens antagonis yaitu I1T, I2T, I5T dan I3M dengan masing - masing daya hambat 75,66%, 72,66%, 63,33% dan 69,66%. Cendawan antagonis menghambat cendawan patogen dengan mekanisme interaksi kompetisi ruang dan parasitisme. Hasil pengamatan makroskopis dan mikroskopis menunjukkan cendawan tersebut berasal dari Trichoderma sp., dan Aspergillus.
Uji Ketahanan Beberapa Varietas Cabai (Capsicum sp.) Terhadap Penyakit Antraknosa (Colletotrichum sp.) yang Berasal Dari Desa Hiyung Kabupaten Tapin Afridha Laila Adhni; Dewi Fitriyanti; Elly Liestiany
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 5 No 1 (2022): Edisi 5(1): Februari 2022
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v5i1.1035

Abstract

The purpose of this study was to test the resistance of four chili varieties (Capsicum sp.) to anthracnose (Colletotrichum sp.). The research was carried out at the Phytopathology Laboratory and in the Phytopathology Greenhouse Land, Faculty of Agriculture, Lambung Mangkurat University, Banjarbaru. This study used 4 varieties, namely Taruna variety, Hiyung variety, CF-291 variety and Tanjung variety with 5 replications. The Tanjung variety has the longest incubation period of 10 days, while the CF-291 variety has the fastest incubation period of 7.5 days. The CF-291 variety showed a susceptible variety with a percentage of 41.3% while the Taruna, Hiyung and Tanjung varieties showed a moderate variety with a percentage of 34.1%, 23.1 and 32.7%, respectively.
MEKANISME KETAHANAN KENTANG (SOLANUM TUBEROSUM) TERHADAP NEMATODA SISTA KUNING (GLOBODERA ROSTOCHIENSIS) Dewi Fitriyanti, Mulyadi, dan Christanti Sumardiyono .
Jurnal Hama dan Penyakit Tumbuhan Tropika Vol. 9 No. 1 (2009): MARET, JURNAL HAMA DAN PENYAKIT TUMBUHAN TROPIKA
Publisher : Universitas Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (227.093 KB) | DOI: 10.23960/j.hptt.1946-53

Abstract

Resistance mechanism of potato (Solanum tuberosum) to golden cyst nematode (Globodera rostochiensis). The research was conducted from June 2005 to May 2006 in Kepuhharjo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta. The aims of the research were to find the resistance status of 20 potato varieties, role of chlorogenic acid and caffeic acid in the resistance mechanism and histopathological differences between resistant and susceptible potato varieties to G. rostochiensis. The results showed that two varieties were resistant to G. rostochiensis, i.e, Hertha and Manohara. Thirteen varieties were moderately resistant, i.e; No.30, No.44, No. 5, No.19, Batang Hitam, Agria, Desiree, Berolina, Atlantik, No.095, Cipanas, FLS and Colombus, and five varieties were susceptible, i.e; Kikondo, Granola, Erika, LBR, and Fries. The presence of chlorogenic acid and caffeic acid in Hertha (resistant variety) and in Granola (susceptible variety) were analized by TLC. In Hertha chlorogenic acid was detected at 4, 5, and 6 days after inoculation (DAI), whereas in Granola it was detected at 1 and 6 DAI. It was assumed that the presence of chlorogenic acid for 3 successively week in Hertha, caused it more resistant than Granola. Cell lignification inhibited G. rostochiensis grow well inside the root tissue of Hertha, whereas in Granola only a few cell was lignified as indicated by less absorption of red colour (safranin) in infected areas. Caffeic acid was not detected either in uninoculated or inoculated of both potato varieties. It indicated that caffeic acid might not be naturally present in Hertha and Granola and nematode infection could not stimulate the production of this compound.
Pemberian Mol Bonggol Pisang Diperkaya Dalam Menekan Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum) Pada Tanaman Tomat Lisna Erliana; Yusriadi Marsuni; Dewi Fitriyanti
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 5 No 2 (2022): Edisi5(2): Juni 2022
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v5i2.1254

Abstract

Produktivitas tomat (Lycopesicum esculentum Mill.) perlu ditingkatkan untuk memenuhi permintaan tersebut, baik dari segi kuantitas dan kualitas, hal ini karena serangan penyakit layu bakteri Ralstonia solanacearum. Serangan penyakit layu bakteri R. solanacearum hingga saat ini masih menjadi salah satu penyebab menurunnya produktivitas tanaman tomat upaya pengendalian yang ramah lingkungan menjadi pilihan yang bijak salah satunya adalah dengan memanfaatkan MOL (mikroorganisme lokal). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pemberian MOL bonggol pisang diperkaya dalam menekan penyakit layu bakteri R. solanacearum pada tanaman tomat. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Fitopatologi Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan dan Lahan di Desa Jingah Habang Ilir Kec. Karang Intan Kab. Banjar. Lingkupnya dari bulan Agustus sampai bulan November 2021 yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari 5 perlakuan dengan 4 ulangan, yaitu MOL bonggol pisang (kontrol positif), MOL bonggol pisang + larutan rendaman cangkang telur, MOL bonggol pisang + larutan rendaman jeroan ikan nila, MOL bonggol pisang + larutan rendaman kulit udang, MOL bonggol pisang + larutan rendaman keong mas. Hasil penelitian menunjukan bahwa MOL bonggol pisang yang diperkaya dengan larutan rendaman keong mas menunjukkan perlakuan terbaik karena mampu menekan intensitas serangan layu bakteri (rata-rata intensitas serangan 0%).
Pengendalian Penyakit Moler (Fusarium oxysporum) Pada Bawang Merah dengan Serbuk Kulit Jengkol (Pithecellobium jiringa) di Lahan Gambut Emeliawati Emeliawati; Salamiah Salamiah; Dewi Fitriyanti
JURNAL PROTEKSI TANAMAN TROPIKA Vol 5 No 2 (2022): Edisi5(2): Juni 2022
Publisher : www.ulm.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jptt.v5i2.1255

Abstract

Bawang merah (Allium ascalonicum L.) merupakan tanaman sayuran yang memiliki banyak manfaat. Menurut BPS, produksi bawang merah Kalimantan Selatan sebanyak 1.143 ton. Dalam proses produksi tidak luput dari berbagai gangguan. Salah satunya adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman. Salah satu penyakit utama yang cukup membahayakan penyakit moler yang disebabkan oleh cendawan Fusarium oxysporum. Tanaman yang terserang F. oxysporum menyebabkan 10-15% bibit tidak tumbuh sempurna, tunas klorosis dan tanaman rebah kemudian membusuk, hal ini menyebabkan kerugian. Para petani biasanya menggunakan pestisida kimia untuk mengendalikan penyakit moler. Banyaknya penggunaan pestisida kimia memberikan efek buruk lingkungan. Penelitian ini menggunakan serbuk kulit jengkol sebagai pestisida nabati untuk menjaga lingkungan dan memanfaatkan bahan yang ada dialam. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektivitas serbuk kulit jengkol terhadap penyakit moler pada bawang merah. Penelitian dilakukan dalam dua tahap yaitu in vitro dan in vivo. Metode yang dilakukan pada in vivo adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu Kontrol (inokulasi F.oxysporum), F.oxysporum + fungisida kimia Antracol, F.oxysporum + serbuk kulit jengkol 125g/petak, 250g/petak dan 375g/petak dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan secara in vitro serbuk kulit jengkol efektif menekan pertumbuhan cendawan F.oxysporum sedangkan secara in vivo pada perlakuan F.oxysporum + sebuk kulit jengkol 375g/petak dan perlakuan F.oxysporum + fungisida kimia Antracol mampu menurunkan persentase intensitas serangan.
Aplikasi Perkembangan Stadia Hidup Nematoda Puru Akar (Meloidogyne spp.) Mulai Dari Fase Telur Sampai Dewasa pada Pertanaman Tomat (Solanum lycopersicum L.) di Kota Banjarbaru Raihana Raihana; Dewi Fitriyanti; Zairin Zairin
Agroekotek View Vol 1, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/agtview.v1i2.682

Abstract

Meloidogyne spp. is the cause of dwarf symptoms, yellowing, wilting and the formation of bumps on the roots of tomatoes which leads to decreased production of quality and quantity of tomatoes. Observation of nematode life cycle is important to design an effective and efficient control strategy, by knowing the life cycle of Meloidogyne spp. can be known how to control and when the right application time to control the parasite Meloidogyne spp. Inoculation of nematode eggs is done by pouring a suspension containing 300 nematode eggs around tomato roots. Observation of the life cycle of nematodes in the roots was done by the method of tissue staining Byrd et al, (1983). Temperature was measured to determine its effect on the length or length of development of live stages of Meloidogyne spp. the. Long development of live stadia Meloidogyne spp. starting from the egg phase, L2, L3 + L4 and adult male / female.on tomato plants in Banjarbaru is 14 days with temperature range 22.6 ⁰C - 33.6 ⁰C.
Identifikasi Nematoda pada Lahan Kebun Raya Banua Banjarbaru, Kalimantan Selatan Auliya Hanifa Permata; Dewi Fitriyanti; Abdul Gafur
Bioscientiae Vol 18, No 2 (2021): Bioscientiae Volume 18 No 2
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (232.173 KB) | DOI: 10.20527/b.v18i2.4160

Abstract

This research is to identify soil nematodes in Kebun Raya Banua in the province of South Kalimantan. Soil samples were taken to a depth of 0-20 cm. Nematodes extraction were conducted using Whitehead and Hemming method. Nematodes were killed by hot formaline. Permanent slides were prepared using Seinhorst (1962) method. Identification was carried out using a microscope with up to 1000x magnification. Two genera of the Order Dorylaimida (Aporcelaimellus and Xiphinema), one genus of the Order Monochida (Iotonchus), and one genus of the order Tylenchida (Criconema) were found.