Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Peningkatan Literasi Awal Anak Usia 4-5 Tahun Melalui Strategi Deep Learning di Tk Hayatul Kamila Siti Maria Ulfah; Lia Kurniawaty; Delina Kasih
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 2 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i2.3461

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi awal anak usia 4–5 tahun di TK Hayatul Kamila melalui penerapan strategi deep learning. Literasi awal mencakup kemampuan membaca, menulis, berbahasa lisan, serta pemahaman informasi yang menjadi fondasi penting bagi perkembangan kognitif, sosial, dan emosional anak. Observasi awal menunjukkan bahwa sebagian besar kegiatan literasi di TK Hayatul Kamila masih bersifat klasikal, dengan keterlibatan individual yang minim, penggunaan media konvensional, serta rendahnya stimulasi berpikir kritis. Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) model Kemmis & McTaggart yang dilaksanakan dalam dua siklus. Setiap siklus meliputi tahap perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi. Strategi deep learning yang diterapkan menekankan meaningful, mindful, dan joyful learning melalui kegiatan interaktif, berbasis proyek, dan pemanfaatan media kreatif. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan signifikan pada indikator kemampuan literasi awal, meliputi pengenalan huruf, kesadaran fonologis, kemampuan menulis sederhana, serta minat baca anak. Penerapan strategi deep learning tidak hanya meningkatkan aspek teknis membaca dan menulis, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif, kemampuan berpikir kritis, serta sikap positif anak terhadap kegiatan literasi. Penelitian ini merekomendasikan integrasi prinsip deep learning dalam pembelajaran PAUD sebagai upaya membentuk fondasi literasi yang kuat, menyenangkan, dan bermakna sejak dini.
Peningkatan Kreatifitas Melalui Permainan Lego Pada Kelompok A di TKIT Mutiara Pelangi Arsiyah Arsiyah; Lily Yuntina; Delina Kasih
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3500

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas anak usia dini melalui kegiatan bermain Lego pada Kelompok A di TKIT Mutiara Pelangi. Kreativitas merupakan aspek penting dalam perkembangan anak yang harus distimulasi sejak dini agar anak dapat bereksplorasi, berimajinasi, dan mengekspresikan diri secara optimal. Stimulasi yang tepat akan membantu anak mengembangkan potensi mereka sehingga mampu menghadapi tantangan di masa depan. Metode penelitian yang digunakan adalah Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan model Kemmis dan McTaggart. Penelitian ini dilaksanakan dalam dua siklus, di mana setiap siklus terdiri dari empat tahap utama, yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Tahapan ini dilakukan secara berkesinambungan untuk memastikan adanya peningkatan dalam setiap tindakan yang diberikan kepada anak. Pelaksanaan kegiatan bermain Lego dilakukan dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk bebas berkreasi menyusun berbagai bentuk sesuai imajinasi mereka. Guru berperan sebagai fasilitator yang mendampingi, memberikan arahan ringan, serta memotivasi anak agar berani mencoba ide-ide baru. Dengan pendekatan ini, anak tidak hanya bermain, tetapi juga belajar melalui pengalaman langsung yang menyenangkan. Hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan kreativitas yang signifikan pada anak setelah diterapkannya permainan Lego. Anak-anak terlihat lebih berani dalam mengungkapkan ide, menciptakan bentuk baru, serta menampilkan hasil karyanya dengan penuh percaya diri. Selain itu, mereka juga mulai menunjukkan sikap mandiri dan kemampuan bekerja sama saat menyusun Lego bersama teman-temannya. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa kegiatan bermain Lego merupakan alternatif model pembelajaran yang efektif dalam menstimulasi kreativitas anak usia dini. Aktivitas ini tidak hanya mengembangkan aspek kognitif, tetapi juga melatih keterampilan sosial, motorik halus, serta kemampuan berkomunikasi. Oleh karena itu, guru PAUD disarankan untuk memanfaatkan permainan Lego sebagai strategi pembelajaran yang inovatif dan menyenangkan.
Peran Orang Tua dalam Pencegahan Stunting Melalui Penerapan Kebiasaan Pola Makan Sehat Anak Pada Usia 5-6 Tahun di Paud KB Al-Farizqi Adisti Parlina; Lia Kurniawaty; Delina Kasih
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3838

Abstract

Dalam pencegahan stunting bukan hanya pemerintah yang perlu menangani hal tersebut tetapi memerlukan peran orang tua, terutama melalui pembiasaan pola makan sehat sejak usia dini. penelitian ini bertujuan mendeskripsikan peran orang tua dalam pencegahan stunting melalui kebiasaan makan sehat terutama pada anak usia 5-6 tahun di PAUD KB Al-Farizqi. Pada penelitian ini peneliti menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi dengan subjek orang tua wali murid di PAUD KB Al-Farizqi dan juga satu pendidik, subjek dipilih melalui purposive sampling dimana subjek dipilih berdasarkan pertimbangan peneliti, bukan secara acak. Data dikumpulkan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian peneliti menganalisis secara deskriptif. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar orang tua memahami stunting sebatas anak yang bertumbuh pendek, padahal stunting juga berdampak pada perkembangan gizi, kognitif, dan kesehatan mental anak. Dalam pelaksanaannya, ibu yang lebih sering menyiapkan makanan rumah seperti nasi, lauk, sayur, buah, dan susu, serta menghindari jajanan instan. Adapun kendala yang dihadapi cukup beragam antara lain anak sulit makan sayur, cepat bosan dengan menu, serta terbatasnya variasi makanan. Dalam hal pembiasaan makan sehat sekolah juga mendukung melalui jadwal bekal harian, walaupun begitu keterlibatan orang tua tetap menjadi kunci utama. Peran orang tua sangat penting dalam pencegahan stunting melalui kebiasaan pola makan sehat. Diperlukan edukasi berkelanjutan agar orang tua memiliki pemahaman lebih luas tentang stunting ataupun makanan bergizi dan mampu menciptakan variasi makanan untuk anak.
Peran Orang Tua dalam Meningkatkan Status Gizi Anak Melalui Bekal Makanan Di Kelompok B Pos Paud Aster Nurul Oktaviani Rahayu; Delina Kasih; Ajeng Priendarningtyas
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3839

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh orang tua yang memberikan bekal makanan seperti makanan instan, proces food, fast food, makanan ringan,makanan kemasan serta jajanan warung yang tidak memiliki kandungan gizi yang cukup bagi anak. Penelitian ini bertujuan untuk membahas mengenai (1)Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Status Gizi Anak Melalui Bekal Makanan Di Kelompok B Pos Paud Astter, (2) Bagaimana pemberian bekal makanan yang diberikan orang tua untuk anak di Kelompok B Pos Paud Aster?,dan (3) hambatan yang mempengaruhi pemberian gizi seimbang melalui bekal makanan kepada anak di Kelompok B Pos Paud Aster Bentuk penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Teknik pengumpulan data menggunakan observasi, wawancara, dokumentasi dan angket. Sumber data primer dari penelitian ini adalah 7 orang tua dari murid kelompok B Pos Paud Aster, guru kelas B dan Kepala Sekolah.Sedangkan sumber sekundernya berasal dari surat-surat, gambar-gambar, foto-foto, dan arsipan yang berhubungan dengan penelitian ini Hasil penelitian ini menunjukan bahwa (1) Orang tua berperan penting dalam perannya merawat dan mengasuh anak yaitu dengan menjaga pertumbuhan dan perkembangan anak, melalui pemberian gizi kepada anak. Peran orang tua dilaksanakan dengan berusaha mencukupi kebutuhan gizi anak melalui pemberian makanan dengan asupan gizi seimbang dan memantau pertumbuhan anak dengan rutin dengan memeriksakan pertumbuhan berat badan dan tinggi badan anak. (2) Bekal makanan yang diberikan orang tua haruslah yang mengandung gizi seimbang dan yang menjadi kesukaan dari anak, tapi pada kenyataan bekal makanan yang diberikan orang tua terkadang tidak mencukupi asupan gizi seimbang, masih seringnya orang tua memberikan makanan seperti nasi dengan telur , atau ayam saja atau makanan instan seperti mie, sosis, tanpa menyertakan sayuran ataupun buah buahan,(3) hambatan yang dihadapi dalam pemberian asupan gizi seimbang melalui bekal makanan yaitu dari anak dan juga keterbatasan waktu yang dimiliki oleh tua dalam menyiapkan bekal makanan dengan gizi seimbang. Implikasi dari penelitian ini diharapkan pihak sekolah semakin meningkatkan edukasi kepada para orangtua mengenai pentingnya bekal makanan dengan gizi seimbang melalui berbagai kerjas sama dengan para ahli dan pihak yang berhubungan dengan gizi anak.
Pengaruh Kegiatan Outbound Dalam Pembentukan Kepercayaan Diri Anak Usia 5-6 Tahun di Kober Anak Sholeh Maryani Maryani; Arie Widiyastuti; Delina Kasih
Journal of Innovative and Creativity Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/joecy.v5i3.3930

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan rasa percaya diri pada Anak Usia Dini melalui kegiatan bermain, khususnya melalui kegiatan outbound di Kober Anak Sholeh. Kegiatan outbound yang melibatkan permainan, seperti berjalan di atas papan titian, dirancang untuk meningkatkan rasa percaya diri serta mengasah kemampuan sosial emosional anak usia 5-6 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif dengan desain eksperimen dan ekspos facto, melibatkan teknik observasi dan dokumentasi sebagai instrumen pengumpulan data. Sampel penelitian terdiri dari 9 anak pada kelas B2. Hasil observasi pre-test menunjukkan bahwa sebelum mengikuti kegiatan outbound, 3 (30%) anak belum berkembang, 4 (40%) anak berkembang sesuai harapan, dan 2 (20%) anak berkembang sangat baik. Setelah kegiatan outbound, terjadi peningkatan signifikan pada rasa percaya diri anak, di mana 4 (40%) anak berkembang sesuai harapan dan 5 (50%) anak berkembang sangat baik. Hasil uji coba menunjukkan adanya hubungan positif dan signifikan antara kegiatan outbound dan peningkatan rasa percaya diri pada anak. Penelitian ini memperkuat pentingnya kegiatan outbound dalam mendukung pengembangan rasa percaya diri anak usia dini, sebagai salah satu faktor penunjang motivasi untuk meningkatkan potensi mereka. Hasil penelitian ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan strategi pendidikan karakter yang mendukung pendidikan anak usia dini di lingkungan PAUD.