Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Review: Aktivitas Biologis Tanaman Bandotan (Ageratum conyzoides Linn.) sebagai Terapi Luka Terbuka YUNISTYA DWI CAHYANI; SORAYA RATNAWULAN MITA
Farmaka Vol 16, No 2 (2018): Suplemen Agustus
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.003 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i2.17641

Abstract

Tanaman bandotan (Ageratum conyzoides Linn.) dikenal sebagai salah satu tanaman liar yang berasal dari familia Asteraceae dan memiliki berbagai aktivitas biologis dan farmakologis. Salah satu aktivitas farmakologis yang menjadi fokus utama para peneliti adalah sebagai terapi luka. Penggunaan berbagai bagian tanaman bandotan dalam terapi luka terbuka sudah dimulai sejak beberapa tahun silam dan masih sering digunakan sampai saat ini. Berdasarkan penelitian sebelumnya, tanaman bandotan memiliki beberapa senyawa metabolit sekunder dengan aktivitas biologis spesifik berperan dalam terapi luka terbuka. Studi kali ini akan membahas kandungan senyawa dan aktivitas biologis ekstrak tanaman bandotan sebagai terapi luka terbuka, beserta mekanisme kerja setiap golongan senyawa metabolit sekunder tersebut.Kata kunci: tanaman bandotan, Ageratum conyzoides, aktivitas biologis, terapi luka terbuka.
ANALISIS (BAHAN KIMIA OBAT) BKO DALAM JAMU MENGGUNAKAN STRIP INDIKATOR SITI NURROHMAH; Soraya Ratnawulan MIta
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.442 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13248

Abstract

Profil Permeasi In Vitro Gel Mata Kloramfenikol pada Membran Kornea Mata Kelinci dengan Metode Sel Difusi Franz Marline Abdassah; Fanni Syawli Omandra; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 13, No 4 (2015): FARMAKA
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (364.266 KB) | DOI: 10.24198/jf.v13i4.12107

Abstract

Gel mata merupakan pengembangan dari sediaan mata konvensional yang sudah ada, seperti salep mata dan tetes mata. Tujuan dari penelitian ini yaitu menentukan kualitas sediaan dan membuat profil permeasi in vitro gel kloramfenikol. Menentukan kualitas sediaan gel mata kloramfenikol dengan melakukan pengamatan selama 28 hari pada pengujian organoleptis, pH, Viskositas, kadar kloramfenikol dalam sediaan dan uji sterilitas. Profil permeasi in vitro gel mata kloramfenikol dilakukan uji sel difusi Franz dengan membran kornea mata kelinci selama 8 jam. Hasil pengamatan sediaan gel mata kloramfenikol pada pengujian organoleptis, pH, Viskositas, kadar kloramfenikol dalam sediaan dan uji sterilitas, menunjukkan hasil yang baik, dan hasil uji difusi gel mata kloramfenikol menunjukkan kadar terpermeasi sebesar 1,513% selama 8 jam. Kata kunci: gel mata, kloramfenikol, sel difusi franz
PENGARUH PENAMBAHAN TWEEN 80 SEBAGAI ENHANCER DALAM SEDIAAN TRANSDERMAL BETHARY KESUMAWARDHANY; SORAYA RATNAWULAN MITA
Farmaka Vol 14, No 2 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.397 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i2.9293

Abstract

Penghantaran obat secara transdermal merupakan metode efektif untuk distribusi obat secara sistemik. Peningkatan permeasi dapat dilakukan secara kimia dengan penambahan enhancer yang aman dan tidak iritatif yaitu golongan surfaktan nonionik contohnya tween 80. Tween 80 sebagai enhancer dapat meningkatkan absorpsi dengan menginduksi fluidisasi lipid pada stratum korneum sehingga permeasi obat meningkat. Permeasi obat diuji melalui uji in vitro pada membran kulit hewan uji dengan metode difusi sel menggunakan dapar fosfat dan uji konsentrasi sediaan dengan spektrofotometer atau kromatografi. Tween 80 dinyatakan sebagai enhancer yang efektif pada sediaan gel yang mengandung berbagai zat aktif, namun tidak memberikan pengaruh yang signifikan pada sediaan patch.
Efek Penggunaan Tunggal dan Kombinasi Asam Oleat sebagai Peningkat Penetrasi pada Sediaan Transdermal NUR RAHAYU; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Farmaka
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (458.111 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.8616

Abstract

Enhancer merupakan senyawa yang dapat meningkatkan penetrasi obat ke dalam kulit. Salah satu jenis enhancer kimia yang termasuk ke dalam kelompok asam lemak adalah asam oleat. Asam oleat bekerja dengan cara membentuk lapisan lipid baru bersama lapisan lipid stratum korneum untuk menurunkan kapasitas fungsi sawar kulit. Selain digunakan sebagai enhancer tunggal, asam oleat dapat digunakan bersama enhancer kimia lain sebagai kombinasi untuk memperbaiki penetrasi obat. Penggunaan asam oleat secara tunggal maupun kombinasi dapat meningkatkan penetrasi obat ke dalam kulit lebih baik dibandingkan enhancer kimia lainnya seperti seperti DMSO, span 20, asam laurat, caprylic acid, capric acid dan sebagainya. Kombinasi enhancer yang sering digunakan adalah asam oleat dengan propilen glikol karena dapat meningkatkan penetrasi obat dengan optimal.Kata Kunci: Enhancer, asam oleat, penggunaan tunggal, penggunaan  kombinasi.
Identifikasi Bahan Kimia Obat dalam Obat Tradisional Stamina Pria dengan Metode Kromatografi Lapis Tipis FIKAMILIA HUSNA; SORAYA RATNAWULAN MITA
Farmaka Vol 18, No 2 (2020): Farmaka (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i2.25955

Abstract

Obat tradisional adalah campuran bahan alami yang digunakan untuk pengobatan berdasarkan pengalaman, salah satu bentuk obat tradisional adalah jamu. Obat tradisional di Indonesia dilarang mengandung bahan kimia obat karena dapat berdampak buruk bagi kesehatan. Bahan kimia obat yang sering ditambahkan ke dalam jamu dengan klaim khasiat stamina pria adalah Sildenafil Sitrat, Tadalafil, Vardenafil HCl, Yohimbin HCl, dan Kofein. Identifikasi bahan kimia obat bertujuan untuk mengetahui bahwa sediaan yang beredar di pasaran tidak mengandung bahan kimia obat. Sampel yang digunakan adalah jamu stamina pria yang diambil secara acak dari tempat penjualan jamu yang ada di Kota Bandung dengan jumlah 5 sampel jamu. Identifikasi bahan kimia obat dalam obat tradisional dilakukan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis dengan eluen etil asetat – asetonitril – ammonia 25% untuk identifikasi Sildenafil Sitrat, Tadalafil, Vardenafil HCl, Yohimbin HCl, sedangkan eluen yang digunakan untuk idenifikasi Kofein adalah etil asetat – metanol – ammonia 25%. Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa sampel obat tradisional yang diperiksa memenuhi persyaratan karena tidak mengandung bahan kimia obat.Kata kunci : Sildenafil Sitrat, Tadalafil, Vardenafil HCl, Yohimbin HCl, Kofein, KLT.
Review : Herban Bandotan (Ageratum conyzoides L.) Sebagai Pengobatan Luka Terbuka SALMA ALAINA ATISHA; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 16, No 3 (2018): Suplemen (September)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (49.006 KB) | DOI: 10.24198/jf.v16i3.17419

Abstract

AbstrakAgeratum conyzoides atau lebih dikenal sebagai bandotan merupakan tanaman yang banyak tumbuh di daerah subtropis dan tropis seperti Indonesia. Ageratum conyzoides telah  banyak dimanfaatkan sebagai obat tradisional untuk mengobati luka. Senyawa aktif yang terdapat pada Ageratum conyzoides antara lain alkaloid, flavonoid, tannin, glikosida, dan terpenoid yang bekerja sebagai antibakteri baik gram positif maupun gram negatif penyebab luka terbuka. Review ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengobatan luka terbuka dengan menggunakan tanaman bandotan dan senyawa aktif yang terkandung dalam bandotan yang dapat menghasilkan efek antibakteri sebagai pengobatan pada luka terbuka.Kata Kunci    : Ageratum conyzoides, luka terbuka, antibakteriAbstractAgeratum conyzoides or well known as Bandotan is a plant that grows in subtropics and tropics region like Indonesia. Ageratum conyzoides has been widely utilized as herbal medicine for wound healing. Active compound present in this plant include alkaloids, flavonoids, tannins, glycosides, and terpenoids that works as antibacterial to positive or negative strain bacteria that causes  of the wound. This review is expected to give information about wound healing used bandotan plant and active compound that can produce antibacterial effect used to wound healing in this plant.Keywords       : Ageratum conyzoides, wound healing, antibacteri
Pengaruh Natural Binder pada Hasil Granulasi Parasetamol NADYA NUR KUSUMO; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 14, No 1 (2016): Supplement
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.799 KB) | DOI: 10.24198/jf.v14i1.10777

Abstract

Tablet merupakan sediaan padat dengan ada atau tanpa adanya bahan pengisi. Salah satu bahan tambahan untuk pembuatan tablet adalah binder. Pembuatan tablet tergantung dengan sifat zat aktif yang digunakan. Parasetamol merupakan zat aktif yang memiliki sifat alir dan daya kompresibilitas yang buruk sehingga diperlukan binder dan metode pembuatan tablet secara granulasi basah agar dapat meningkatkan fluiditas dan kompresibilitas yang baik. Binder dibagi menjadi binder sintetik dan alam. Review ini bertujuan untuk membandingkan pengaruh dari natural binder terhadap granul parasetamol melalui pengujian angle of repose, carr’s index dan hausners quotient. Binder orange peel pectin memiliki hasil evaluasi nilai angle of repose terbaik sebesar 21-28°, carr’s index 4-14%, dan hausners quotient sebesar 1,13.Kata Kunci: Parasetamol, natural binder, granulasi basah, angle of repose, carr’s index, hausners quotient 
MEDICATION ERRORS PADA TAHAP PRESCRIBING, TRANSCRIBING, DISPENSING DAN ADMINISTERING Siti Sahirah Ulfah; Soraya Ratnawulan Mita
Farmaka Vol 15, No 2 (2017): Suplemen
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1436.104 KB) | DOI: 10.24198/jf.v15i2.13318

Abstract

PEMBERIAN PEMAHAMAN MENGENAI PENGGUNAAN OBAT ANALGESIK SECARA RASIONAL PADA MASYARAKAT DI ARJASARI KABUPATEN BANDUNG Soraya Ratnawulan Mita; Patihul Husni
Dharmakarya Vol 6, No 3 (2017): September
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (250.769 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v6i3.14873

Abstract

Pemerintah telah menetapkan kebijaksanaan dalam upaya pelayanan kesehatan yaitu Primary Health Care (PHC) sebagai suatu strategi untuk mencapai Indonesia sehat pada tahun 2020. Peran serta dan partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan kebijakan PHC adalah dengan menjaga kesehatan dan berpelilaku hidup sehat. Pemerintah Provinsi Jawa barat sebagai perpanjangan tangan dari pemerintah mendukung dan menunjang program PHC ini dengan berusaha meningkatkan indeks pembangunan manusia Jawa barat. Pendidikan kesehatan merupakan bagian dari seluruh upaya kesehatan, yang menitikberatkan pada upaya untuk meningkatkan perilaku sehat dan peningkatan kemampuan masyarakat dalam penanganan penyakit sederhana dengan memanfaatkan obat yang sederhana bahkan menggunakan bahan dari alam. Pengetahuan mengenai obat-obatan sangatlah bermanfaat besar, karena obat selain bisa sebagai penyembuh dari sakit juga bisa berpotensi untuk mendatangkan malapetaka. Banyak kasus penyalahgunaan obat analgetik yang terjadi di masyarakat, contohnya methadone yang termasuk dalam golongan obat analgetik. Selain itu, obat analgetik golongan narkotik seperti opium dan morfin juga sering digunakan bukan untuk tujuan pengobatan, padahal obat-obat tersebut dapat mengakibatkan ketergantungan. Oleh karena itu, perlu dilakukan program untuk meningkatkan pemahaman dan  pengetahuan masyarakat akan penggunaan obat analgesik yang benar dan rasional.Kata kunci: analgesik, methadone, opium, morfin