Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

Potensi Pseudomonas fluorescens strain KTSS untuk bioremediasi merkuri di dalam tanah The Potential use of Pseudomonas fluorescens KTSS strain formercury bioremediation in the soil Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 77, No 2: Desember 2009
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (166.781 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v77i2.100

Abstract

AbstractHeavy metals are widespread pollutants insoil and become environmental concern as theyare non-degradable and highly persistent. Solidand/or liquid wastes containing toxic heavymetals may be generated in various industrial ormining processes. A heavy metal resistantbacterium may be present in the soil and miningsite. As they already preconditioned by abundantheavy metals contaminant, the use of thesebacterium is assumed to be effective in improvingmetals reduction. To obtain bacterial isolateshighly capable of mercury (Hg) reduction,isolation activities have been conducted atselected sites of mining locations in SouthSumatera. The highly potential bacteriapossessing mercury reducing capability has beenisolated from this site i.e. Pseudomonasfluorescens KTSS strain. Inoculating of 25%(v/w) suspension of P. fluorescens KTSS strain insoil material added 5000 ppb of mercury, couldreduced about 53.3% of mercury soil contents.Best vegetative growth performance of cocoaseedlings was shown by the application of 15-15-15 NPK conventional fertilizers in combinationwith the addition of 1.6 – 3.25 g of P. fluorescensKTSS bio-ameliorant/seed. A Greenhouseexperiment results of cocoa seedlings were inconcordance with those obtained from field trialsof paddy.AbstrakLogam berat merupakan jenis polutan yangterdistribusi secara luas di dalam tanah danmendapat perhatian secara khusus karena sifatnyayang tidak dapat terdegradasi serta dapat bertahanlama di dalam lingkungan. Limbah padatdan/atau cair yang dihasilkan dari berbagai prosesindustri dan pertambangan mengandung logamberat toksik. Jenis bakteri yang resisten terhadaplogam berat mungkin berada di dalam tanah dandi lokasi tambang. Apabila bakteri tersebut dapatberadaptasi pada lingkungan dengan tingkatkontaminasi logam berat yang tinggi, makadiasumsikan bahwa penggunaan bakteri tersebutsangat efektif dalam meningkatkan reduksi logamberat. Untuk memperoleh isolat bakteri yangmemiliki kemampuan mereduksi merkuri (Hg),maka satu rangkaian kegiatan isolasi telahdilakukan di lokasi tambang terpilih di SumateraSelatan. Bakteri potensial pereduksi merkuri yangtelah diisolasi dari lokasi ini diidentifikasisebagai Pseudomonas fluorescens strain KTSS.Inokulasi sebanyak 25% (v/b) suspensi P. fluore-scens strain KTSS ke dalam bahan tanah yangtelah ditambah dengan 5000 ppb merkuri, dapatmereduksi sekitar 53,3% kandungan merkuri didalam tanah. Pertumbuhan terbaik dari bibitkakao diperoleh dari perlakuan pupuk NPK 15-15-15 yang dikombinasikan dengan 1,6 – 3,25 gbioamelioran P. Fluorescens strain KTSS/bibit.Pengujian bioamelioran P. fluorescens strainKTSS di lapang pada tanaman padi memberikanpola keefektifan yang sama dengan hasilpengujian terhadap bibit kakao yang dilakukan dirumah kaca.
Peningkatan kemantapan agregat tanah mineral oleh bakteri penghasil eksopolisakarida Aggregate stability improvement of mineral soil by exopolysaccharide-producing bacteria Laksmita Prima SANTI; Ai DARIAH; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 2: Desember 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (217.254 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v76i2.85

Abstract

Summary Pseudomonas fluorescens PG7II.1, Flavobacterium sp. PG7II.2, and  Pseudomonas diminuta PG7II.9 have a potential to produce exopolysaccharide which help the  formation and stabilization of soil aggregate. These bacteria have been isolated from the rhizosphere of Saccharum officinarum.  Exopolysaccharide production in ATCC 14 liquid medium with sucrose was higher than that obtained from glucose, lactose, and 4-hydroxyphenil acetic acid       (4-HAA) as a carbon sources. Producing of exopolysaccharide from these bacteria were 8.04 (P. fluorescens PG7II.1), 2.0 (Flavo-bacterium sp. PG7II.2) and 1.82 mg/mL (P. diminuta PG7II.9). Aggregate Stability Index (ASI) of mineral soil material was 114 when inoculated by these isolates after 60 days incubation period at ambient temperature. The ASI value of inoculated mineral soil material significantly different with uninoculated. The optimum of bacterial suspension to increase aggregate stability of mineral soil material was 12.5% (v/w) consisted of 109 CFU per mL.  Ringkasan          Pseudomonas fluorescens PG7II.1, Flavobacterium sp. PG7II.2, dan Pseudomonas diminuta PG7II.9, memiliki potensi dalam menghasilkan eksopolisakarida untuk pem-bentukan dan kemantapan agregat tanah. Ketiga bakteri tersebut diisolasi dari rhizosfer Saccharum officinarum. Sukrosa merupakan sumber karbon terbaik untuk produksi eksopolisakarida di dalam medium cair ATCC 14 apabila dibandingkan dengan glukosa, laktosa, dan 4-hydroxyphenil acetic acid  (4-HAA). Eksopolisakarida yang dihasilkan dari ketiga bakteri tersebut masing-masing 8,04 (P. fluorescens PG7II.1); 2,0 (Flavobacterium sp. PG7II.2) dan 1,82 mg/mL (P. diminuta PG7II.9). Inokulasi ketiga isolat tersebut ke dalam bahan tanah mineral memberikan indeks stabilitas agregat (ASI) sebesar 114 setelah 60 hari inkubasi pada suhu ruang. Nilai indeks ini berbeda secara nyata apabila dibandingkan dengan bahan tanah mineral tanpa inokulan. Jumlah suspensi bakteri yang diperlukan untuk meningkatkan nilai indeks stabilitas agregat di dalam bahan tanah mineral secara optimum ialah 12,5% (v/b), dengan jumlah populasi bakteri 109 CFU   per mL. 
Pengaruh pemberian inokulan Burkholderia cenocepacia dan bahan organik terhadap sifat fisik tanah berpasir Effect of the inoculation of Burkholderia cenocepacia and organic materials on physical properties of a sandy soil Laksmita Prima SANTI; . SUDARSONO; Didiek Hadjar GOENADI; Kukuh MURTILAKSONO; Dwi Andreas SANTOSA
E-Journal Menara Perkebunan Vol 78, No 1: Juni 2010
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (136.841 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v78i1.74

Abstract

AbstractSoil aggregation is a dynamic and very important factor for the development of agricultural soil functions. Unstable soil aggregation in a sandy soil type is a limiting factor for plant growth. The aim of this study was to investigate theinfluence of a exopolysaccharide-producing bacterium and organic material on some physical properties of a sandy soil. A highly potential bacterium for exopolysaccharides production, i.e Burkholderia cenocepacia, was isolated froma sandy soil located at Kotawaringin Barat, Central Kalimantan. The isolated bacterium is capable on improving aggregate’s stability of a soil with about 60% sand fraction [medium sand fraction (MSF)]. Interaction between available water and electric conductivity with aggregate stability index has significant correlation in medium sand fraction inoculated by 109 CFU of B. cenocepacia suspension, i.e. r = 0.806* and r=0.966**, respectively. Organic materials and its combination with the addition of 108 CFU B. cenocepacia suspension treatments could increase the aggregate stability index but have no effects on bulk density and total pore space values in an artificial condition of medium sand fraction. AbstrakAgregasi tanah bersifat dinamis dan merupakan faktor penting untuk pengembangan fungsi tanah pertanian. Ketidakstabilan agregat tanah pada jenis tanah berpasir merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan tanaman.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh eksopolisakarida bakteri dan bahan organik terhadap beberapa sifat fisik bahan tanah berpasir. Satu bakteri potensial penghasil eksopolisakarida yaitu Burkholderia cenocepacia telah berhasil diisolasi dari bahan tanah berpasir asal Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Bakteri ini dapat meningkatkan kemantapan agregat bahan tanah dengan kandungan fraksi pasir sekitar 60% [fraksi pasir sedang (FPS)]. Hubungan antara air tersedia dan konduktivitas elektrik terhadap indeks kemantapan agregat sangat nyata pada bahan tanah FPS yang diinokulasi dengan 109 CFU suspensi B. cenocepacia masing-masing r = 0,806* dan = 0,966**. Perlakuan bahan organik dan kombinasinya dengan penambahan 109CFU suspensi B. cenocepacia dapat meningkatkan indeks kemantapan agregat tetapi tidak mempengaruhi nilai kerapatan lindak dan total ruang pori di dalam fraksi pasir sedang.
Pemanfaatan bio-char sebagai pembawa mikroba untuk pemantap agregat tanah Ultisol dari Taman Bogo-Lampung The use of bio-char as bacterial carrier for aggregate stabilization in Ultisol Soil from Taman Bogo-Lampung Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 78, No 2: Desember 2010
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.341 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v78i2.64

Abstract

Abstract A series of research was carried out with the objective to meet the challenge and determine the direction and strategy required for overcoming highly weathered Ultisol soil that impact to low productivity. Selected ameliorating materials, i.e. bio-char, compost, and peat were examined their physical characteristics to determine the best combination of them as bioameliorant carrier materials for aggregate stability bacteria.  Bio-char was found to be the most suitable carrier material as it has highest total pore spaces and available water content.  Microbial population obtained from the granular forms of bioameliorant was 107 CFU/gram of the sample until 12 months life time periods. Best vegetative growth performance of maize Bisma var. in Ultisol soil of Experiment Station (KP) Taman Bogo was shown by the application of 100% standard dosage of NPK conventional fertilizers in combination with the addition of 4.2 g/plant of bioameliorant. Yield of dry grain of maize was higher (+15.7 %) by application of 100 % standard dosage and  2.1g bioameliorant/plant (112 kg/ha) than that obtained by standard dosage of conventional fertilizer.  Abstrak Satu rangkaian kegiatan penelitian telah dilakukan untuk menjawab tantangan, arah dan strategi dari berbagai aspek yang terkait erat dengan masalah pelapukan lanjut dan berdampak pada rendahnya produktivitas tanah Ultisol.  Beberapa bahan terpilih seperti arang pirolisis (bio-char), kompos, dan gambut dianalisis secara fisik untuk menetapkan kombinasi terbaik sebagai bahan pembawa bioamelioran dengan bahan aktif bakteri pemantap agregat.  Bio-char memiliki keunggulan dalam hal total ruang pori dan  kapasitas air tersedia yang lebih tinggi.  Sampai dengan 12 bulan masa simpan, populasi bakteri pada bioamelioran granul dengan bahan pembawa bio-char berjumlah 107 CFU/gram contoh. Pertumbuhan terbaik tanaman jagung varietas Bisma pada tanah Ultisol diperoleh dari perlakuan 100 % pupuk NPK tunggal yang dikombinasikan dengan   4,2 g bioamelioran/tanaman. Sementara itu, perlakuan 100 % dosis pupuk NPK tunggal yang dikombinasikan dengan 2,1 g bioamelioran/tanaman (112 kg/ha) menghasilkan bobot pipilan kering jagung yang lebih tinggi (+15,7 %) apabila dibandingkan dengan perlakuan 100% dosis pupuk NPK tunggal saja. 
Pupuk organo-kimia untuk pemupukan bibit kelapa sawit Organo-chemical fertilizer for oil palm seedling fertilization Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 76, No 1: Juni 2008
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (181.053 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v76i1.94

Abstract

SummaryThe availability of high quality and quantity of oil palm seedling needs consistent support of fertilization programs for economic production.  Organo-chemical fertilizer with rock phosphate and urea added was initiated to increased economic value of agriculture and estate crops residues. The prototype of organo-chemical fertilizer has 10% organic C, 11% N, 8% P, 1% K and 4% humic acid respectively. Based on greenhouse experiments, organo-chemical fertilizer treated to oil palm seedlings tends to provide a better vegetative growth of the seedlings.  Dry weights of leave, stem, and root of the seedlings applied with 100 g organo-chemical  fertilizer plus 10 g KCl to each seedling were significantly different compared to the standard dosage conventional fertilizer. This organo-chemical fertilizer could be applied as conventional fertilizer substitute.Ringkasan        Ketersediaan bibit kelapa sawit ber-kualitas dengan kuantitas yang terus meningkat memerlukan dukungan program pemupukan yang konsisten untuk mencapai tingkat produksi yang ekonomis.  Pembuatan pupuk organo-kimia dengan penambahan  batuan fosfat dan N ditujukan untuk meningkatkan nilai ekonomi limbah pertanian dan perkebunan.  Prototipe pupuk organo-kimia ini mengandung 10% C-organik, 11% N, 8% P, 1% K dan 4% asam humik.  Pemberian 100 g pupuk organo-kimia yang ditambah 10 g KCl per bibit menghasilkan berat kering daun, batang, dan akar yang lebih baik dan berbeda nyata apabila dibandingkan dengan peng-gunaan pupuk konvensional dosis standar.  Berdasarkan hasil tersebut, prototipe pupuk organo-kimia ini dapat digunakan sebagai substitusi pupuk konvensional untuk pemupuk-an bibit kelapa sawit.    
Uji potensi Burkholderia cenocepacia strain KTG sebagai bahan aktif pembenah hayati pada tanah tekstur berpasir di Kalimantan Tengah The potential test of Burkholderia cenocepacia KTG strain as an active ingredient of bio-ameliorant in sandy-textured soil at Central Kalimantan Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 81, No 1: Juni 2013
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.809 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v81i1.52

Abstract

AbstractOil palm plantation at Central Kalimantan hasbeen expanded to those areas with sandy-textured soil.This type of soil has limiting factors for plant growth, i.e.unstable soil aggregation and weak organic complexbond that restrain root development and yield. However,efforts to solve this problem are very limited. Theresearch aimed to develop technology to improve theinteractions for promoting a stable soil aggregate ofsandy-textured soil. The use of exopolysaccharideproducing bacteria as a soil bio-ameliorant to mediatesandy soil micro aggregate formation by bio-augmenta-tion technique has become an accepted practice. A highlypotential endophytic bacterium for exopolysaccharidesproduction was isolated from a sandy soil located atKotawaringin Barat-Central Kalimantan. The bacteriumwas identified as Burkholderia cenocepacia KTG strain.The field experiment has been organized according to themethod of randomized complete blocks design with seventreatments of fertilizer in combination with bio-ameliorant and replicated three times. Fertilizer and bio-ameliorant application has been done in November 2009- November 2011. Field trial was evaluated based on theproduction of mature oil palm during January 2010-December 2011 periods. The data obtained indicate thatapplication of bio-ameliorant combined with reduceddosage of N-P-K 16-4-25 was not significantly differentto that of full dosage of N-P-K 16-4-25 treatment.AbstrakPengembangan perkebunan kelapa sawit diKalimantan Tengah telah masuk ke wilayah dengan tanahtekstur berpasir. Jenis tanah ini memiliki faktor pembatasbagi pertumbuhan tanaman seperti ketidakstabilan agregattanah serta ikatan organik kompleks yang lemah,sehingga perkembangan akar tanaman akan mengalamihambatan dan pada akhirnya produktivitas menjadi suboptimal. Bagaimanapun juga, upaya untuk memecahkanmasalah tersebut masih sangat terbatas. Penelitian inibertujuan mengembangkan teknologi untuk meningkat-kan kemantapan agregat tanah tekstur berpasir. Pem-bentukan mikro agregasi tanah dengan memanfaatkanbakteri penghasil eksopolisakarida sebagai pembenahhayati melalui teknik bioaugmentasi merupakan teknologiyang dapat diterapkan secara praktis di lapang. Bakteriendofitik penghasil eksopolisakarida potensial telah ber-hasil diisolasi dari tanah tekstur berpasir, di daerahKotawaringin Barat, Kalimantan Tengah. Bakteri ini di-identifikasi sebagai Burkholderia cenocepacia strainKTG. Tujuh perlakuan yang diuji merupakan kombinasipupuk dan pembenah tanah hayati dengan tiga ulangan.Aplikasi pupuk dan pembenah tanah hayati ini dilakukanselama periode Nopember 2009 - Nopember 2011.Evaluasi dilakukan atas dasar tingkat produktivitaskelapa sawit yang sudah berproduksi selama 16 tahunselama periode Januari 2010 - Desember 2011. Data yangdiperoleh menunjukkan bahwa dosis pembenah tanahyang diuji yang dikom-binasikan dengan penurunan dosispupuk N-P-K 16-4-25 tidak berbeda nyata denganperlakuan penggunaan dosis penuh pupuk N-P-K 16-4-25.
Efektivitas dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat sebagai pengganti kiserit pada bibit kakao The effectiveness of activated dolomite enriched by phosphate solubilizing bacteria as kieserite substitute on cocoa seedling Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 1: Juni 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.178 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i1.40

Abstract

Abstract Magnesium (Mg) deficiency is commonly found in acid soils with high weathering intensity as widely present in tropical and sub-tropical regions, or those developed from low Mg-content parent materials. To overcome Mg deficiency, dolomite is often used to replace kieserite although the former is less reactive than the later. An activation technology by heating up to 800oC, followed by sulfic acid addition, then enriched by phosphate solubilizing bacteria is prospective to improve Mg solubility in soils. This research was aimed to enhance dolomite reactivity and to determine the effectiveness of activated dolomite enriched by phosphate solubilizing bacteria as Mg nutrient sources substituting kieserite on cocoa seedling growth. The results indicate that total and solubility in water of MgO from the prototype of activated dolomite were 26.7 and 9.2%, respectively. Using cocoa seedling as test plant, the use of activated dolomite enriched by using 109 cfu of Pseudomonas sp. at 3.85 g/seedling and combined with 100% dosages of NPK fertilizers showed the best vegetative growth and total dry mass of seedlings was significantly higher than that of 100% NPK-Mg kieserite standard dosage Abstrak Defisiensi Mg umumnya ditemukan pada tanah masam dengan tingkat pelapukan tinggi yang banyak terdapat di daerah tropik, subtropik, dan tanah yang terbentuk dari bahan induk miskin Mg. Untuk mengatasi defisiensi Mg, dolomit sering digunakan sebagai pengganti kiserit walaupun sifatnya kurang reaktif jika dibandingkan kiserit. Teknologi aktivasi dengan pemanasan mencapai 800oC, dilanjutkan dengan penambahan asam sulfat serta pengkayaan dengan bakteri pelarut fosfat diharapkan dapat meningkatkan kelarutan Mg di dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan reaktivitas dolomit serta menetapkan efektivitas dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan bakteri pelarut fosfat sebagai sumber hara Mg pengganti kieserit pada bibit kakao. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini mengindikasikan bahwa kadar MgO total dan kelarutan dalam air pada dolomit teraktivasi masing-masing 26,7 dan 9,2%. Dengan menggunakan bibit kakao sebagai tanaman uji, aplikasi 3,85 g dolomit teraktivasi yang diperkaya dengan 109 cfu Pseudomonas sp./bibit yang dikombinasikan dengan 100% dosis pupuk NPK menunjukkan pertumbuhan vegetatif paling baik dan total bobot kering bibit kakao yang secara nyata lebih tinggi jika dibandingkan dengan pemberian 100% dosis standar NPK-Mg kiserit. 
The potential use of bio-activated potassium-bearing mineral from East Java for K fertilizer Potensi mineral pembawa kalium asal Jawa Timur yang dibio-aktivasi sebagai pupuk K Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
E-Journal Menara Perkebunan Vol 80, No 2: Desember 2012
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (218.584 KB) | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.33

Abstract

AbstractPotassium (K) is an essential macro-nutrient for crops to support their development, especially in the early stage of growth. Potassium is found in soils and K-bearing minerals but mainly in an unavailable form. The development of an efficient technique in improvement of K solubilization of K-bearing minerals was very strategic to reduce imported conventional K fertilizers, mainly muriate of potash (MOP). The so-called Bio-Kalium (Bio-K) product was constructed by using locally available K-bearing mineral from East Java. The objective of this research was to determine the efficiency and rational dosage of bio-activation K-bearing mineral in comparison with K conventional fertilizer on the growth of cocoa and oil palm seedlings in greenhouse experiment. The strong technical alkaline solution was used to activate K-bearing mineral. The results showed that the application of 4.2 g/cocoa seedling or 6.4 g/oil palm seedling of bio-activated K bearing mineral containing 108 cfu/gram of Burkholderia vietnamiensis Zeo3 strain (Bio-K)  significantly increased of height, leaf number, and stem diameter of the four and six-month-old cocoa and oil palm seedlings respectively.Abstrak Kalium (K) merupakan unsur hara makro esensial yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman khususnya pada tahap awal perkembangannya. Kalium terdapat di dalam tanah dan mineral pembawa K, tetapi pada umumnya dalam bentuk yang tidak tersedia. Teknik pengembangan untuk meningkatkan kelarutan K dari mineral pembawa K yang efisien sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk K import, khususnya muriate of potash (MOP). Pupuk Bio-Kalium (Bio-K) dikembangkan dengan menggunakan mineral pembawa K lokal yang terdapat di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan efisiensi dan dosis rasional dari mineral pembawa K yang di aktivasi dan diperkaya dengan bakteri (bio-aktivasi) dibandingkan dengan pupuk K konvensional terhadap pertumbuhan bibit kakao dan kelapa sawit di rumah kaca. Larutan  basa kuat teknis digunakan untuk meng-aktivasi mineral pembawa K. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aplikasi mineral pembawa K yang diaktivasi dan mengandung 108 cfu/g Burkholderia vietnamiensis strain Zeo3 (Bio-K) sebanyak 4,2 g/bibit kakao atau 6,4 g/bibit kelapa sawit dapat meningkatkan masing-masing tinggi, jumlah daun, dan diameter batang bibit kakao umur empat bulan dan kelapa sawit umur enam bulan secara signifikan.
Penilaian mutu tanah secara cepat berdasarkan faktor penentu aktivitas biologinya Rapid assessment of soil quality as based on its biology activity determining factors Didiek Hadjar GOENADI
Menara Perkebunan Vol. 82 No. 2: 82 (2), 2014
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v82i2.24

Abstract

Abstract  Agricultural practices are still heavily dependent on the use those socalled marginally-suitable soils with low soil fertility level.  On the other hand, fertilization has been long known offering fertility solution, but it is indicative that its efficiency is low without soil amelioration.  The conditions have been intensified by climatic change phenomena particularly increased atmospheric CO2 concentration which widely affects the soilbiological activity and crop performance as well.  This review tries to discuss a thought to find the right method to assist management in determining the right solution for the problems encountered in the field based on soil and plant indicators.  The method should be simple, fast, and reliable to express close relationship between soil characteristics and plant performance.  The indicators should be those of very important soil characteristics determining soil biological activities as a measure for its fertility.  Moreover, the indicators used must have highly sensitive to climatic change, anthropogenic activities, and their impacts on soil biological activity are significant. Soil organic matter (chemistry), bulk density, soil texture, and infiltration rate(physics), and worm population and soil respiration (biology) are main characters related to whole soil pro-ductivity. In addition, chlorophyll content and root density are the most potentiallyrelated indicators to crop performanceAbstrakKegiatan pertanian masih banyak tergantung pada pe-manfaatan tanah-tanah sub-optimal yang memiliki hambatan berupa rendahnya kesuburan tanah.  Di sisi lain, pemupukan telah menawarkan solusi untuk mengatasinya, tetapi pada tanah-tanah seperti itu tidak akan banyak manfaatnya jika kemampuan tanah tidak diperbaiki. Kondisi ini diperparah dengan fenomena perubahan iklim, khususnya peningkatan kadar CO2 atmosfir yang berpengaruh luas terhadap aktivitas biologi tanah dan kinerja tanaman. Tulisan ini mengulas tentang perlunya perangkat pengambilan keputusan di lapangan untuk memilih solusi praktis yang tepat untuk me-nyelesaikan hambatan pertumbuhan dan/atau produksi tanaman  dengan   memanfaatkan  indikator   tanah     dan/atau tanaman secara tepat. Metode yang dikembangkan adalah berdasarkan teknik penetapan yang mudah, cepat, dan cukup akurat dalam menggambarkan hubungan antara indikator terpilih dan kinerja tanaman.  Indikator yang dimaksud adalah sifat tanah yang paling penting dalam menentukan aktivitas biologi di dalam tanah sebagai penanda dari kesuburan-nya.Selain itu, indikator yang digunakan harus cukup peka dalam menanggapi perubahan iklim dan perlakuan budidaya dan pengaruhnya nyata terhadap aktivitas biologi di dalam tanah.  Kadar bahan organik tanah (kimia), bobot isi, tekstur tanah, dan laju infiltrasi (fisik), dan populasi cacing dan respirasi tanah (biologi) merupakan faktor tanah yang secara praktis mewakili daya dukung tanah secara keseluruhan.  Di sisi lain, indikator tanaman yang diperkirakan memiliki hubungan erat dengan pertumbuhan dan produktivitas adalah kadar khlorofil daun dan kerapatan akar.
The potential use of bio-activated potassium-bearing mineral from East Java for K fertilizer Potensi mineral pembawa kalium asal Jawa Timur yang dibio-aktivasi sebagai pupuk K Laksmita Prima SANTI; Didiek Hadjar GOENADI
Menara Perkebunan Vol. 80 No. 2: 80 (2), 2012
Publisher : INDONESIAN OIL PALM RESEARCH INSTITUTE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22302/iribb.jur.mp.v80i2.33

Abstract

AbstractPotassium (K) is an essential macro-nutrient for crops to support their development, especially in the early stage of growth. Potassium is found in soils and K-bearing minerals but mainly in an unavailable form. The development of an efficient technique in improvement of K solubilization of K-bearing minerals was very strategic to reduce imported conventional K fertilizers, mainly muriate of potash (MOP). The so-called Bio-Kalium (Bio-K) product was constructed by using locally available K-bearing mineral from East Java. The objective of this research was to determine the efficiency and rational dosage of bio-activation K-bearing mineral in comparison with K conventional fertilizer on the growth of cocoa and oil palm seedlings in greenhouse experiment. The strong technical alkaline solution was used to activate K-bearing mineral. The results showed that the application of 4.2 g/cocoa seedling or 6.4 g/oil palm seedling of bio-activated K bearing mineral containing 108 cfu/gram of Burkholderia vietnamiensis Zeo3 strain (Bio-K)  significantly increased of height, leaf number, and stem diameter of the four and six-month-old cocoa and oil palm seedlings respectively.Abstrak Kalium (K) merupakan unsur hara makro esensial yang diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman khususnya pada tahap awal perkembangannya. Kalium terdapat di dalam tanah dan mineral pembawa K, tetapi pada umumnya dalam bentuk yang tidak tersedia. Teknik pengembangan untuk meningkatkan kelarutan K dari mineral pembawa K yang efisien sangat strategis untuk mengurangi ketergantungan terhadap pupuk K import, khususnya muriate of potash (MOP). Pupuk Bio-Kalium (Bio-K) dikembangkan dengan menggunakan mineral pembawa K lokal yang terdapat di Jawa Timur. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan efisiensi dan dosis rasional dari mineral pembawa K yang di aktivasi dan diperkaya dengan bakteri (bio-aktivasi) dibandingkan dengan pupuk K konvensional terhadap pertumbuhan bibit kakao dan kelapa sawit di rumah kaca. Larutan  basa kuat teknis digunakan untuk meng-aktivasi mineral pembawa K. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa aplikasi mineral pembawa K yang diaktivasi dan mengandung 108 cfu/g Burkholderia vietnamiensis strain Zeo3 (Bio-K) sebanyak 4,2 g/bibit kakao atau 6,4 g/bibit kelapa sawit dapat meningkatkan masing-masing tinggi, jumlah daun, dan diameter batang bibit kakao umur empat bulan dan kelapa sawit umur enam bulan secara signifikan.