Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sosiohumaniora

FAKTOR- FAKTOR YANG BERPENGARUH PEMBERDAYAAN MASYARAKAT TANI TERNAK DALAM MASA REFORMASI Lilis Nurlina; Marina Sulistyati; Wiwin Tanwiriah
Sosiohumaniora Vol 3, No 3 (2001): SOSIOHUMANIORA, NOPEMBER 2001
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.802 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v3i3.5201

Abstract

Penelitian mengenai Faktor-faktor yang Berpengaruh Terhadap Pemberdayaan Masyarakat Tani Ternak dalam Masa Reformasi ini dilakukan di Desa Cidatar Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut. Maksud dari penelitian ini adalah untuk mengetahui respon petani-peternak sapi perah terhadap setiap program pembangunan yang diintrogasikan ke pedesaan dalam masa reformasi, peran aparat (pelaksana program), serta faktor-faktor yang berpengaruh (pendorong dan penghambat) terhadap pemberdayaan masyarakat tani-ternak di pedesaan pada masa reformasi. Penelitian ini bersifat studi kasus dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Subjek dalam penelitian ini adalah petani-peternak sapi perah anggota KUD Cisurupan sebanyak 25 orang, ditambah 5 orang informan. Pengumpulan data primer dilakukan melalui wawancara mendalam dan diskusi kelompok. Model analisis data yang digunakan adalah model analisis interaktif. Data sekunder diambil dari Kantor Desa Cidatar, KUD Cisurupan dan Laporan PPL-KCD Peternakan. Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktorfaktor yang berpengaruh terhadap pemberdayaan petani holtikultura dan peternak sapi perah, untuk faktor pendukungnya berupa suhu lingkungan yang cocok untuk usaha tersebut (daerah dingin: 130C-220C), adanya KUD yang menyalurkan sarana produksi pertanian-peternakan serta menerima hasil produksinya terutama susu dan pengalaman bertani-beternak yang cukup lama (3-20 tahun). Faktor penghambat berasal dari faktor fisik/struktur pemilikan lahan yang sempit, rata-rata kurang dari 0,5 ha, faktor ekonomi dan institusional berupa kebijakan harga yang tidak berfihak kepada mereka baik dari pemerintah maupun harga susu dari KUD yang lebih rendah, Rp. 100/liter dibanding KUD lain yang terdekat dengan KUD Cisurupan dengan kualitas yang sama, serta faktor sosial/kultural berupa sikap dan mentalitas petani-peternak yang lebih berorientasi pada masa kini serta pengurus KUD yang belum melakukan transparansi penuh dalam penentuan kebijakannya. Kata kunci : Pemberdayaan masyarakat tani ternak, faktor fisik, kultural dan institusional.
DAMPAK POLA KEMITRAAN PERUNGGASAN TERHADAP POSISI TAWAR PETERNAK DI KABUPATEN BANDUNG Marina Sulistyati; Munandar Sulaeman; Siti Homzah
Sosiohumaniora Vol 6, No 2 (2004): SOSIOHUMANIORA, JULI 2004
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v6i2.5309

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk: a) menganalisis pola kemitraan perunggasan peternak ayam ras yang sedang berjalan di Kabupaten Bandung. b) menganalisis dampak pola kemitraan perunggasan terhadap posisi tawar peternak ayam ras di Kabupaten Bandung. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus dengan pendekatan kualitatif untuk mengidentifikasi pola kemitraan yang ada dan mengkaji kategori-kategori dari data kualitatif. Tujuannya untuk mengungkap secara obyektif tindakan dan makna tindakan. Pendekatan ini berorientasi pada proses dan pencarian tentang makna kasusnya dengan harapan akan memperoleh suatu generalisasi tentang apa yang menjadi dasar terjadinya kasus (Munandar, 2004). Penelitian dilakukan di Kabupaten Bandung yang ditentukan secara purposive dengan alasan Kabupaten Bandung merupakan basis kegiatan PIR perunggasan. Analisis dilakukan dengan cara interpretatif, yaitu memahami secara mendalam (verstehen) tentang simbol makna yang menjadi latar dari kegiatan usahanya. Dari hasil analisis diambil simpulan sebagai berikut: 1. Empat pola kemitraan perunggasan yang berlangsung di Kabupaten Bandung tidak secara langsung antara peternak sebagai plasma dengan industri pabrikan, tetapi dimediasi oleh suatu badan atau perusahaan yang menjembatani antara peternak dengan perusahaan sebagai inti, bahkan badan atau perusahaan tersebut juga merupakan anak perusahaan atau kepanjangan tangan dari perusahaan pabrikan. Akibatnya nilai ekonomi kontrak kerjasama kemitraan menjadi tidak efisien bagi peternak. 2. Pada umumnya pola kemitraan yang dikembangkan oleh para pengusaha pabrik menimbulkan dampak posisi tawar peternak semakin lemah apabila berhadapan dengan para pengusaha pabrik, hal ini disebabkan sistem perjanjian yang dibangunnya adalah berdasarkan kepentingan dan kemampuan daya kontrol pengusaha besar. Kata Kunci: Pola kemitraan, perunggasan, posisi tawar