Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Problematika Dakwah Humor: Antara Daya Tarik Dan Dangkalnya Substansi (Tinjauan Epistimologis Terhadap Teologi Transformatif Dan Retorika Populer) Ayu Trysnawati; Suf Kasman; Ramsiah Tasruddin
Jurnal Ilmu Bahasa, Sastra, dan Budaya Vol. 2 No. 2 (2026): BASADYA - Juli
Publisher : CV. SINAR HOWUHOWU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70134/basadya.v2i2.1911

Abstract

This The phenomenon of humorous da’wah (religious outreach) in a contemporary context reveals a significant shift in religious communication practices, particularly amidst the dominance of popular culture and digital media. This article aims to analyze the issues surrounding humorous da’wah from an epistemological perspective, highlighting the tension between popular rhetorical appeal and the depth of theological substance within the framework of transformative theology. Employing a qualitative approach and descriptive-analytical library research, the study examines scholarly literature on contemporary da’wah, humor, and religious communication published over the last five years. The finding indicate that humor in da’wah has transformed from a mere rhetorical technique into a communication paradigm that shapes the construction of religious knowledge. Humor serves as an effective mechanism for cognitive and affective simplification, bridging the gap between complex theological teachings and the audience's reality. However, the dominance of humor also triggers an epistemological shift, wherein the validity of the message is determined more by audience response than by substantive depth. Furthermore, humorous da’wah has become integrated into the logic of the digital cultural industry, leading to commodification that threatens to shift the orientation of da’wah from education to entertainment. This phenomenon implies a trend of theological de-substantiation, where religious messages become superficial due to the dominance of popular rhetoric. Consequently, this study emphasizes the importance of formulating ethical communication guidelines for the use of humor in da’wah. Humor must be positioned as an instrument rather than a primary goal, while remaining grounded in prophetic values ​​that foster liberation and critical awareness. Thus, a synthesis between transformative theology and popular rhetoric can be achieved by balancing communicative appeal with theological depth.  
Intersection of Religions: Relations between Muslims and Non-Muslims in Tridana Mulia Village, Landono Sub-district, South Konawe Regency, Southeast Sulawesi Province Akhmad Sukardi; Abd. Rasyid Masri; Suf Kasman; Arifuddin Tike
Jurnal Mamangan Vol 12, No 2 (2023): Special Issue
Publisher : LPPM Universitas PGRI Sumatera Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22202/mamangan.v12i2.10142

Abstract

This study examines the harmony between religious communities in Tridana Mulia Village, Landono District, South Konawe Regency, Southeast Sulawesi, which is inhabited by Muslims, Christians, and Hindus. The purpose of the research is to describe the form of Muslim and non-Muslim relations in social life by emphasizing the aspect of harmony that exists in the midst of diversity. The research uses field research methods using phenomenological and sociological approaches. The results of the study show that harmony is built through positive interactions that are divided into daily relationships consisting of relationships between fellow Muslims and relationships with Muslims. Relations with non-Muslims are established in five main aspects: First, Economy, through the practice of buying and selling and business cooperation without religious discrimination; Second, Communication and social, through open dialogue, solidarity, and mutual cooperation; Third, Politics and government, with an inclusive and meritocratic pattern of political participation; Fourth, Education, through the implementation of multicultural education and religious moderation in schools; and Fifth, Culture, through joint celebrations, mutual cooperation, and respect for interfaith traditions. The associative relationship can be seen in the form of productive cooperation in cross-faith farmer groups. These findings confirm that differences in beliefs are not barriers, but rather a force to build social cohesion. The harmony created in Tridana Mulia Village can be a model for other multicultural regions in developing harmony, tolerance, and cooperation between religious communities.
Tipologi Dam Karakteristik Komunikasi Organisasi Kemasyarakatan (Ormas) Islam Di Era Kekinian: Transfnrmasi, Otoritas, Dan Tantangan Digital Noor Aziziah Bt. Adam; Ramsiah Tasruddin; Suf Kasman
Jurnal Ilmu Agama Indonesia Vol. 2 No. 2 (2026): JIGAMNA - Juli
Publisher : CV. SINAR HOWUHOWU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70134/jigamna.v2i2.1784

Abstract

The digital era has transformed the communication landscape of Islamic mass organizations (ormas Islam) in Indonesia. This study aims to map the typologies and characteristics of contemporary Islamic organizations' communication in response to information technology disruption. Using a descriptive qualitative method based on library research, this article analyzes literature from books and national journals. The results indicate three main typologies of contemporary Islamic organization communication: (1) the Traditional-Transformative Typology, (2) the Modernist-Symbolic Typology, and (3) the Digital-Populist Typology. Present-day communication characteristics are marked by a shift in religious authority, the utilization of social media algorithms, a reliance on visual-interactive content, and efforts to engage Generations Z and Alpha through more inclusive or fragmented approaches. The implications of this research emphasize the importance of digital literacy adaptation for Islamic organizations to maintain public relevance and counter social polarization in the digital space.
Tolong-Menolong Terkait Rumah Ibadah Lain: Helping Each Other Regarding Other Houses of Worship Ramli; Suf Kasman
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 1: Januari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i1.6789

Abstract

Tolong-menolong merupakan nilai luhur yang dijunjung tinggi dalam berbagai ajaran agama, termasuk dalam konteks hubungan antarumat beragama. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji praktik tolong-menolong antar pemeluk agama dalam hal pembangunan dan pemeliharaan rumah ibadah lain, sebagai wujud toleransi dan kerukunan di tengah masyarakat multikultural. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus di beberapa daerah yang memiliki keberagaman agama tinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat lintas agama dalam membantu pembangunan rumah ibadah lain mencerminkan semangat gotong-royong, saling menghargai, dan memperkuat kohesi sosial. Praktik ini juga terbukti mampu meredam potensi konflik serta membangun jembatan komunikasi antarumat beragama. Penelitian ini merekomendasikan penguatan pendidikan multikultural dan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara untuk menciptakan harmoni yang berkelanjutan.
Memisahkan Agama dan Politik: Sebuah Tinjauan Teoretis dan Praktis: Separating Religion and Politics: A Theoretical and Practical Review Chanra M; Suf Kasman
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 2: Februari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i2.6863

Abstract

Artikel ini membahas isu pemisahan antara agama dan politik, yang telah menjadi topik perdebatan panjang dalam berbagai masyarakat di seluruh dunia. Kajian ini bertujuan untuk mengeksplorasi berbagai argumen yang mendukung dan menentang pemisahan agama dari politik, dengan menggabungkan pendekatan teoretis dan praktis. Dari sudut pandang teoretis, artikel ini meninjau pemikiran para ahli tentang bagaimana agama dan politik seharusnya berinteraksi, serta implikasi etis dan filosofis dari hubungan keduanya. Di sisi praktis, artikel ini mengkaji dampak sosial, budaya, dan hukum yang ditimbulkan oleh pemisahan atau penyatuan agama dan politik dalam kehidupan masyarakat. Penelitian ini juga menyajikan berbagai studi kasus dari negara-negara dengan pendekatan yang berbeda terhadap hubungan agama dan politik, seperti negara-negara sekuler yang memisahkan agama dari negara, dan negara-negara yang mengintegrasikan agama dalam sistem politik mereka. Dengan menggunakan analisis komparatif, artikel ini mengevaluasi kelebihan dan kelemahan dari setiap pendekatan, serta bagaimana pengaruhnya terhadap stabilitas sosial, hak asasi manusia, dan kebebasan beragama.Melalui penelitian ini, diharapkan pembuat kebijakan, akademisi, dan praktisi dapat memperoleh wawasan yang lebih mendalam mengenai hubungan ideal antara agama dan politik dalam konteks masyarakat modern, serta implikasi jangka panjang dari kebijakan yang diterapkan. Artikel ini juga mengajak pembaca untuk mempertimbangkan berbagai faktor yang perlu diperhatikan dalam merumuskan kebijakan yang adil dan inklusif terkait hubungan agama dan politik.
Humor Dalam Pesan Dakwah: Humor in Preaching Messages Muhammad Yusuf; Suf Kasman
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 8 No. 1: Januari 2025 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i1.7176

Abstract

Merujuk dari uraian sebelumnya, maka simpulan yang dapat dirumuskan bahwa humor adalah pesan verbal dan nonverbal yang disengaja yang dapat menimbulkan tawa (hiburan) dan bentuk perilaku spontan lainnya yang menunjukkan kesenangan, kegembiraan, dan atau kejutan pada penerimanya. Penggunaan humor dalam dakwah diperbolehkan karena dapat memberikan dampak positif terhadap kesehatan secara fisik, psikologis, maupun sosial dantara dai dan mad’u, mengembalikan focus atau konsentrasi madu pada materi dakwah yang disampaik da’i. Namun terdapat beberapa aturan yang harus dipahamai oleh dai dalam menyelipkan humor dalam dakwahnya. Da’i perlu memperhatikan standar humor dari dua segi yakni etis dan estetis. Etika dakwah yang hendaknya di lakukan oleh para juru dakwah dalam melakukan dakwahnya antara lain: beriman dan bertakwa, ikhlas, sabar dan tabah, ramah, tawadhu, amanah, sopan, jujur, tawakkal. dan tidak menghasut, cerdas, uswah dan qudwah hasanah dan tidak diskriminatif. Etika inilah yang harus dijunjung tinggi oleh muballigh dan menjadikannya sebagai aturan atau prinsip sehingga dapat merumuskan perilaku benar dan salah untuk kemudian diterapkan dan disosialisasikan di tengah-tengah masyarakat.