Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Kebiasaan makan ikan cakalang di Perairan Laut Flores Sulawesi Selatan Warda Susaniati; Achmar Mallawa; Faisal Amir
Agrokompleks Vol 19 No 1 (2019): Agrokompleks Edisi Januari
Publisher : PPPM Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v19i1.128

Abstract

Ikan bernilai ekonomis penting di Perairan Laut Flores adalah ikan Cakalang. Telah di manfaatkan nelayan Bulukumba dan Selayar dengan menggunakan berbagai alat tangkap dan tingkat teknologi yang bervariasi. Keberadaan ikan Cakalang memiliki hubungan yang sangat erat dengan keberadaan makanan dengan mengetahui kebiasaan makanannya. Pengamatan kebiasaan makan ikan Cakalang merupakan salah satu cara untuk mengetahui komposisi, jenis dan jumlah proporsi makanan yang dikonsumsi oleh ikan Cakalang berdasarkan musim penangkapan. Mengguanakan metode survey dan metode gravimetric. Pengumpulan data dilakukan dengan selected random sampling. Sampel ikan berasal dari area potensial penangakapan ikan Cakalang. Dibagi kedalam 4 musim penangkapan ikan Cakalang yaitu musim peralihan barat ke timur (Maret – April), musim timur (Mei – Agustus), musim peralihan timur ke barat (September - Oktober), dan musim barat (Nopember – Februari). Pengamatan isi organ pencernaan yang menjadi indikator sebagai kebiasaan makanan dilakukan dengan pembedahan. Data pendukung salah satu parameter oseanografi perairan pada daerah fishing ground ikan Cakalang yakni SPL dan CHL-a. Hasil penelitian menunjukkan memiliki perbedaan jenis makanan dan jumlah proporsi makanan berdasarkan musim penangkapan. Ikan Cakalang digolongkan sebagai hewan karnivora, yang memiliki kebiasaan makanan adalah memakan Teri Stolephorus sp., Udang Peneanus sp., Cumi-cumi Loligo sp., Peperek Leiognathus sp., Layang Decapterus ruselli, Cacing dan Tembang Sardinella, sp.
Perbandingan Hasil Tangkapan Ikan Cakalang (Katsuwonus pelamis) Purse Seine yang Dioperasikan Di Dalam dan Di Luar Area Rumpon Achmar Mallawa
Agrokompleks Vol 16 No 1 (2017): Agrokompleks
Publisher : PPPM Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/japp.v16i1.170

Abstract

Penelitian perbandingan hasil tangkapan ikan cakalang purse seine yang dioperasikan di dalam dan di luar area rumpon dilakukan di perairan Laut Flores pada musim Timur, bertujuan menganalisis struktur ukuran dan hasil tangkapan per upaya purse seine yang dioperasikan di area rumpon dan di luar area rumpon. Data panjang ikan dan jumlah tangkapan dikumpulkan langsung di atas kapal dan di Tempat Pendaratan Ikan. Perbandingan struktur ukuran dianalisis menggunakan histogram dan metoda Bhattacharya, sedang perbandinga hasil tangkapan per upaya dianalisis dengan uji t. Hasil penelitian menjelaskan bahwa ikan cakalang hasil tangkapan purse seine di area rumpon memiliki selang panjang 19.5 – 52.0 cm FL, panjang dominan 31.5 – 34.5 cm FL dan panjang rata-rata 32.50 cm FL, sedangkan ikan cakalang hasil tangkapan purse seine melalui perburuan memiliki selang panjang 26.6 – 63.5 cm, panjang dominan 34.5 – 40,0 cm FL dan panjang rata-rata 36.5 cm FL. Hasil tangkapan per trip purse seine pada daerah rumpon lebih tinggi pada daerah rumpon dibanding melalui perburuan. Kesimpulan bahwa struktur ukuan ikan cakalang hasil tangkapan purse seine di area rumpon berbeda dengan ikan cakalang hasil tangkapan melalui perburuan, namun keduanya didominasi ikan cakalang berukuran kecil, jumlah hasil tangkapan purse seine area rumpon berbeda dengan hasil tangkapan di luar area rumpon.
Fyke Net sebagai Alat Tangkap Alternatif untuk Penangkapan Ikan Demersal Achmar Mallawa; Faisal Amir; Mahfud Palo
Lutjanus Vol 24 No 2 (2019): Lutjanus Edisi Desember
Publisher : Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51978/jlpp.v24i2.292

Abstract

Pelarangan penggunaan jaring tarik dan pukat hela melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan nomor 2 tahun 2015 menyebabkan hilangnya mata pencaharian sebagain nelayan dan kurang termanfaatkannya ikan demersal. Penelitian dilakukan di perairan Barru, Selat Makassar bertujuan menganalisis kesesuaian desain, cara pengoperasian, tata letak di dalam perairan, dan jenis ikan hasil tangkapan fyke net. Data aspek teknis meliputi konstruksi alat tangkap, tata letak alat tangkap di daerah penangkapan, jenis hasil tangkapan, dan perbandingan jenis ikan hasil tangkapan fyke dengan jaring tarik diperoleh melalui uji coba lapangan pengoperasian fyke net. Hasil penelitian bahwa fyke net dapat dioperasikan di perairan pantai, pengoperasiannya mudah, hasil tangkapan terdiri atas jenis ikan demersal, ikan neritik dan ikan bermigrasi harian ke pantai, dan beberapa jenis krustasea. Kesimpulan bahwa berdasarkan aspek teknis dan biologi fyke net dapat menjadi alat penangkapan ikan demersal alternatif pengganti jaring tarik dan pukat hela.
Struktur Ukuran dan Ukuran Pertama Kali Matang Gonad Ikan Gabus (Channa striata) di Danau Tempe Kabupaten Wajo Andi Wakiah; Achmar Mallawa; Faisal Amir
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 6 (2019): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VI KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.34 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui struktur ukuran dan ukuran pertama kali matang gonadikan gabus yang ada di Danau Tempe. Penelitian ini dilaksanakan selama enam bulan mulaiSeptember 2018 – Februari 2019. Metode pengambilan ikan contoh menggunakan metoda acakbertingkat. Struktur ukuran dan ukuran pertama kali matang gonad dianalisis dengan metodeBhattacharya dan Spearman Karber. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ikan gabus yangdiperoleh sebanyak 1.594 ekor terdiri dari 515 ekor jantan dan betina 1.079 ekor. Kisaran panjangikan gabus jantan 19 – 57 cm dan untuk ikan gabus betina 16 – 57,7 cm. Frekuensi tertinggi ikangabus gabungan, jantan dan betina berada pada tengah kelas panjang 29 cm. Ikan gabus di DanauTempe memiliki ukuran yang lebih panjang dibanding daerah-daerah lain. Ukuran pertama kalimatang gonad ikan gabus jantan sebesar Lm = 23,523 cm dan ikan gabus betina sebesar Lm =22,332 cm.Kata Kunci :Danau Tempe, ikan gabus, struktur ukuran, ikan pertama kali matang gonad.
Pola migrasi ikan Pelagis Besar di Wilayah Pengelolaan Perikanan 713 Safruddin Safruddin; Baso Aswar; Rachmat Hidayat; Saiful Saiful; Yashinta Kumala Dewi; Moh. Tauhid Umar; St. Aisjah Farhum; Mukti Zainuddin; Achmar Mallawa
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 7 (2020): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VII KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk menyediakan informasi tentang pola migrasi ikan pelagis besar berdasarkan pola hubungan antara fluktuasi hasil tangkapan ikan dan dinamika kondisi oseanografi secara spatial dan temporal yang ditemukan selama penelitian. Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan model kombinasi fishing performance-oceanographi preferencesdan dipetakan dengan menggunakan teknik SIGdari bulan Januari sampai dengan bulan Desember. Zona potensial penangkapan ikan pelagis besar di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) 713 yang paling produktif terbentuk pada bulan Maret sampai dengan Mei dengan puncaknya terjadi pada bulan Mei, dimana zona potensial tersebut terlihat bahwa sepanjang Teluk Bone, Laut Flores dan Selat Makassar berkembang sangat pesat. Sedangkan bulan lainnya (Oktober sampai dengan Desember) ditemukaan bahwa ikan pelagis besar bergerak masuk ke perairan Teluk Bone dari arah Selatan, sebaliknya pada bulan Juni dan September, ikan pelagis besar membentuk formasi yang besar di bagian Selatan Teluk Bone menuju ke Laut Flores dan Selat Makassar. Informasi ini sangat dibutuhkan nelayan dan stakeholders untuk pengaturan kalender penangkapan ikan dalam rangka optimalisasi pemanfaatan potensi ikan pelagis besar yang sudah dipetakan di wilayah WPP 713.Kata kunci: ikan pelagis besar, pola migrasi, WPP 717.
Penangkapan Ikan Kakap Putih (Lates calcarifer, Bloch 1790) pada Fishing Ground di Perairan Ekositem Mangrove Musbir Musbir; Sudirman Sudirman; Achmar Mallawa
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 7 (2020): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VII KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berbagai jenis ikan menjadikan perairan ekosistem mangrove sebagai habitat alami baik sebagai tempat mencari makan, tempat berkembang biak maupun sebagai tempat asuhan. Salah satu jenis ikan yang sering dijumpai adalah kakap putih (Lates calcalifer). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis ikan kakap putih yang terdapat pada daerah penangkapan ikan di perairan kawasan mangrove. Penelitian dilakukan selama 4 bulan yaitu dari Agustus sampai Nopember 2019 di perairan mangrove kawasan pesisir Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan. Ikan diperoleh dengan cara menangkap dengan menggunakan jaring insang dasar (bottom gill net) yang. ukuran panjang 500 m dan tinggi 5 m serta ukuran mata jaring (mesh size 3, 5, dan 7 inch). Pengambilan data dilakukan sebanyak 30 kali trip penangkapan. Jumlah ikan hasil tangkapan dihitung kemudian masing-masing diukur panjang total dan berat total. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa total hasil tangkapan adalah 77 ekor dengan ukuran panjang total antara 212-592 mm dan berat total antara 493-2480 gr.Kata kunci : Lates calcarifer , panjang total, bobot badan, ekosistem mangrove, daerah penangkapan ikan.
Tingkat keberlanjutan alat penangkapan ikan cakalang (Katsuwonus pelamis) skala tradisional di perairan Selat Makassar, Sulawesi Selatan Achmar Mallawa; Faisal Amir; Safruddin Safruddin; Elsa Mallawa
Prosiding Simposium Nasional Kelautan dan Perikanan Vol. 7 (2020): PROSIDING SIMPOSIUM NASIONAL VII KELAUTAN DAN PERIKANAN UNHAS
Publisher : Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan (FIKP), Universitas Hasanuddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fenomena menurunnya kondisi stok ikan selain dipengaruhi oleh intensitas penangkapan yang tinggi, juga tingkat keberlanjutan teknologi penangkapan ikan yang dipergunakan. Penelitian bertujuan menganalisis tingkat keberlanjutan alat penangkapan ikan cakalang tradisional di perairan Selat Makassar. Data berkaitan 14 parameter keberlanjutan teknologi penangkapan ikan dalam CCRF dikumpulkan saat kegiatan penangkapan ikan dan wawancara dari April 2017 – Nopember 2018. Hasil penelitian bahwa capaian 14 parameter keberlanjutan alat penangkapan ikan yang diamati yaitu pancing tonda layangan, pancing tangan, rawai tegak dan bandrong cakalang hampir sama kecuali pada dampak teknologi terhadap habitat dan persentase ikan layak tangkap. Sebanyak 12 parameter mengindikasikan empat alat tangkap tersebut berkelanjutan dan dua parameter kurang berkelanjutan yaitu keuntungan usaha dan penggunaan tenaga kerja. Kesimpulan bahwa empat alat penangkapan ikan cakalang skala tradisional yaitu pancing tangan, pancing tonda layangan, rawai tegak dan bandrong cakalang dikategorikan sebagai alat penangkapan ikan berkelanjutan. Pancing tangan, pancing tonda layangan dan rawai tegak memiliki tingkat keberlanjutan moderat dan bandrong cakalang memiliki tingkat keberlanjutan tinggiKata kunci: keberlanjutan, alat penangkapan ikan, tradisional, cakalang.
Analisis hubungan karakteristik oseanografi dan hasil tangkapan yellowfin tuna (Thunnus albacares) di perairan Laut Banda Umar Tangke; Achmar Mallawa; Mukti Zainuddin
Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan Vol 4, No 2 (2011)
Publisher : Sangia Research Media and Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29239/j.agrikan.4.2.1-14

Abstract

Penelitian dimulai dari bulan Januari - Mei 2011 bertujuan untuk menganalisis hubungan antara faktor oseanogrfi dan hasil tangkapan yellowfin tuna  di perairan laut Banda.  Data hasil pengamatan dianalisis dengan menggunakan regresi linier berganda untuk melihat pengaruh parameter oseanografi secara bersama-sama dan secara individual terhadap hasil tangkapan  yellowfin tuna. Hasil analisis regresi berganda diketahui bahwa dari lima parameter oseanografi secara bersama-sama berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan yellowfin tuna ini dapat dilihat pada hasil Uji F  dengan nilai signifikansi 0.000 < 0.01, dan Fhitung lebih besar dari Ftabel (8.23 > 2.44), Hasil uji t menunjukan bahwa secara individual terdapat tiga dari lima faktor Oseanografi yang berpengaruh nyata terhadap hasil tangkapan ikan yellowfin tuna, diantaranya suhu permukaan laut (SPL), kedalaman dan kecepatan arus.
Population dynamics of climbing perch fish (Anabas testudineus) in the waters of Tempe Lake, Wajo Regency, South Sulawesi Siti Khadijah Srioktoviana; Faisal Amir; Achmar Mallawa
Jurnal IPTEKS Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan Vol. 9 No. 1 (2022)
Publisher : Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20956/jipsp.v9i1.20062

Abstract

Climbing perch (Anabas testudienus) is one of the inhabitants of Lake Tempe exploited throughout the year, so it is feared that its population has decreased. This study aims to analyze aspects of the dynamics of the climbing perch population, including age group, population growth, mortality, exploitation rate, and yield per recruitment. Data on the total length of fish were collected by measuring all catches of fishermen from October to December 2021. Age groups were analyzed using the Battacharya method, L∞ and K used the Ford and Walford method, M used the Empiris Pauly method, Z, F, and E used the Beverton and Holt method. Data analysis using FISAT-II software and Microsoft Excel. The results showed that the climbing perch in the waters of the Lake Tempe Wajo Regency had a total length range of 6 – 20.8 cm, the highest catch was in the middle-class size of 11.5 – 13.5 cm, and the average length is 13.03±2.15 cm. The population consists of two age groups, the estimated value L∞ = 26.3 cm, K = 0.5 year-1 and t0 = -0.3384 years. The estimated Z, M and F values are 3.41 year-1, 1.22 year-1, and 2.19 year-1, respectively. The exploitation rate is 0.64 year-1, and the actual and optimal Y/R are 0.015gram recruitment-1 and 0.0163 gram recruitment-1, respectively. The conclusion is that climbing perch in the waters of Lake Tempe  Wajo Regency require a short time to reach the maximum length, the main cause of population death due to fishing, and the recruitment process is not optimal due to the high rate of exploitation.
Growth Pattern and Sex Ratio of Octopus vulgaris at Bone Gulf Amir, Faisal; Mallawa, Achmar; Umar, Moch. Tauhid
Agrikan Jurnal Agribisnis Perikanan Vol. 14 No. 2 (2021): Agrikan: Jurnal Agribisnis Perikanan
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Maluku Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1419.622 KB) | DOI: 10.52046/agrikan.v14i2.873

Abstract

Octopus vulgaris in the Bone gulf waters was caught with modified fishing rods resembling crabs, caught throughout the year with the peak fishing season in the west season (January to March) with a small population without any management regulation. The purpose of this study was to obtain information on growth patterns, condition factors, and sex ratio of O. vulgaris in the Bone gulf waters. The method used is a survey method. The sample measurements were carried out at the largest collector domiciled on Kambuno Island, Sinjai Regency, South Sulawesi Province from May to August 2021. The measurements of dorsal mantle length (MLd:cm), body weight (g) and sex determination were carried out directly in the field. The results showed that the dorsal mantle length of O. vulgaris ranged from 7.0 cm – 20.0 cmDML (13.7±2.3 cmDML) with a weight between 50 g - 3270 g (1076.4±522.5 g) for males and 7.0 cm – 22.0 cmDML (13.0±2.3 cmDML) with a weight between 70 g - 4800 g (1043.8±526.4 g) for females. Negative allometric growth patterns. The sex ratio between males and females is not balanced.