Wilma Sriwulan
Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Published : 20 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

TIGO LAREH: SISTEM KEKUASAAN DAN KONSEP ESTETIKA MUSIKAL TIGA GENRE MUSIK DI LUHAK NAN TIGO MINANGKABAU Andar Indra Sastra; Wilma Sriwulan; Yon Hendri
PROSIDING: SENI, TEKNOLOGI, DAN MASYARAKAT No 3 (2018): Seni, Teknologi, dan Masyarakat #3
Publisher : LP2MP3M, INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of this study was to uncover and discover the influence of the power of tigolareh (three laras) in shaping the aesthetic concepts and theories of three traditional music genres in Luhak Nan TigoMinangkabau. TigoLareh’s system of power emerged as a political-legal reality that comes from two legendary Minangkabau figures, namely Dt. Katumangguangan and Dt. Parpatiah Nan Sabatang. Told in a story of traditional historiog-raphy, the two involved in ideological conflict in establishing a system of ‘governance’ (power) in Minangkabau called LarehKotopiliang and LarehBodicaniago. LarehKotopiliang, in his system of government, is character-ized by royal autocracy and LarehBodicaniago is more democratic in nature. The ideological conflict between the two figures gave rise to the third figure, namely RajoBabandiang, who held the title of Dt. Nan SakelapDunia, who then give birth to the concept of Lareh Nan Buntathat is a synthesis of both systems. The musical reality of bronze talempong music - is part of the (power) cultural system of LarehKotopiliang, and can be divided into two genres, namely: (1) the talempongbararak genre (procession), and; (2) talempong genre duduak (sitting). Talempongbararak appears in the form of “arakan” music and talempongduduak is played on the Java rea: rancakan and usually use gongs. LarehBodicaniago’s musical concept is populist and it is oriented to the power of vocal music (dendang) which in its presentation it is tied to the concept of bagurau (joking) which is accompanied by a musical instrument saluang (a type of wind instrument typical of Minangkabau). Meanwhile, the musical concept of Lareh Nan Bunta reflects the synthesis of both bronze musical concepts and vocal music (dendang). The musical concept of bronze music gave birth to the concept of talempongbasaua which was presented in the form of a hocketting technique. Tigolareh as a symbol of power synchronized with the reality of musical culture in its society.
Struktur Dramatisasi Basalisiah dalam Trilogi Ritual Tabuik Pariaman Vujji El Ikhsan; Asril Asril; Wilma Sriwulan
Jurnal Kajian Seni Vol 7, No 2 (2021): Jurnal Kajian Seni Vol 7 No 2 April 2021
Publisher : Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1784.172 KB) | DOI: 10.22146/jksks.64930

Abstract

AbstractThis article discusses the dramatization of the basalisiah event in the Tabuik Pariaman ritual trilogy. Basalisiah as a form of cultural performance has presented a dramatic identity of the character of the Tabuik Pariaman ritual.  This dramatic trilogy is contained in a separate Tabuik ritual trilogy, namely manabang batang pisang, maarak jari-jari, and maarak saroban. The performance of the show is situational, tends to change, is unpredictable, and without directing, but has clear and intact rules. The role of the basalisiah pawang, Anak Tabuik, and basalisiah audience really determines the dramatization of basalisiah. Sosoh and cime'eh become speech styles in the dramatization of the show. With the concept of theatricality, performativity and liminality become the basis for the analysis of the structure of basalisiah dramatization from the point of view of the character of the Tabuik performance, Prosest basalisiah in the Tabuik Pariaman ritual trilogy influenced by histrionic behavior so as to form a behavior that dramatizes situations from basalisiah to bacakak (fighting). Basalisiah recorded the history and dramatization style of theatricality in Tabuik cultural performances that can be relevant in the renewal of the world of performances.  AbstrakArtikel ini membahas tentang dramatisasi peristiwa basalisiah dalam trilogi ritual Tabuik Pariaman. Basalisiahsebagai bentuk pertunjukan budaya telah mempresentasikan sebuah identitas ‘dramatik’ karakter ritual Tabuik Pariaman. Dramatik ini terdapat dalam trilogi ritual Tabuik yang terpisah, yaitu manabang batang pisang, maarak jari-jari, danmaarak sorban. Performatif pertunjukannya bersifat situasional, cenderung berubah-ubah, tidak bisa diprediksi, dan tanpa ‘directing’, namun memiliki aturan yang jelas dan utuh. Peran pawang basalisiah, Anak Tabuik, dan penonton basalisiah sangat menentukan dramatisasi basalisiah. Sosoh dan cime’eh menjadi gaya tutur dalam dramatisasi pertunjukan. Dengan konsep teatrikalitas, performativitas dan liminal menjadi dasar analisis struktur dramatisasi basalisiah dalam sudut pandang karakter pertunjukan Tabuik. Prosesi basalisiah dalam trilogi ritual Tabuik Pariaman dipengaruhi oleh perilaku histrionik, sehingga membentuk suatu perilaku yang mendramatisir situasi dari basalisiah sampai bacakak (berkelahi). Basalisiah mencatatkan sejarah dan gaya dramatisasi teatrikalitas dalam pertunjukan budaya Tabuik yang bisa relevan dalam pembaruan dunia pertunjukan. 
Nilai Estetik Pertunjukan Gondang Borogong dalam Upacara Pernikahan Di Desa Kepenuhan Barat Kecamatan Kepenuhan Kabupaten Rokan Hulu (The Aesthetic Value of Gondang Borogong Performances in a Wedding Ceremony in West Kepenuhan Village, Kepenuhan District, Rokan Hulu Regency) Rima Wanti Sabilah HRP; Wilma Sriwulan; Emridawati Emridawati
MUSICA : Journal of Music Vol 2, No 2 (2022): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v2i2.2802

Abstract

Penelitian ini bertujuan menyelidiki dan menganalisis bentuk pertunjukan dan nilai estetik yang muncul dalam pertunjukan Gondang Borogong pada upacara pernikahan di Desa Kepenuhan Barat, Rokan Hulu. Saat peneliti mendefenisikan dan menghasilkan data, peneliti menggunakan metode kualitatif serta menggunakan teori: estetika Djelantik dan Monroe Beardsley. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pertunjukan Gondang Borogong selalu ditampilkan dalam upacara pernikahan dan dimainkan oleh lima orang pemain musik terdiri dari: satu ogong, dua gondang, dan dua calempong. Membawakan lagu wajib berjudul Nayong Lalu yang merupakan lagu persembahan sebagai pengiring silek, salah satu materi pokok dari proses penikahan. Penelitian ini juga menemukan, bahwa pertunjukan Gondang Borogong serat dengan nilai-nilai estetik antara lain: nilai estetis pemain atau seniman, nilai estetik alat musik, nilai estetik lagu, nilai estetik kostum, nilai estetik waktu dan tempat pertunjukan, serta nilai estetik penonton. Disamping itu, nilai-nilai estetik ini memiliki kesatuan hubungan yang saling bersinergi dan tidak terpisah dari pertunjukan Gondang Borogong pada upacara pernikahan.ABSTRACTThis study aims to investigate and analyze the form of performance and aesthetic values that appear in the Gondang Borogong performance at a wedding ceremony in Kepuhan Barat Village, Rokan Hulu. When researchers define and generate data, researchers use qualitative methods and apply theory: Djelantik and Monroe Beardsley aesthetics. The results of this study indicate that the Gondang Borogong performance is always performed in wedding ceremonies and is played by five musicians consisting of: one ogong, two gondang and two calempong. Performing the obligatory song titled Nayong Lalu which is a tribute song as an accompaniment to silek, one of the main materials of the marriage process. This study also found that Gondang Borogong fiber performances have aesthetic values, including: the aesthetic values of the players or artists, the aesthetic values of musical instruments, the aesthetic values of songs, the aesthetic values of costumes, the aesthetic values of the time and place of performance, and the aesthetic values of the audience. Besides that, these aesthetic values have a unified relationship that is synergized with each other and is inseparable from the Gondang Borogong performance at the wedding ceremony.
Percussion Ensemble for Katentong Manumbuak Padi (Music Minimalist) Widianto, M. Iqbal; Tindaon, Rosmegawaty; Sriwulan, Wilma; Herdianto, Ferry
Jurnal Sitakara Vol. 9 No. 1 (2024): Jurnal Sitakara
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/sitakara.v9i1.14754

Abstract

Percussion Ensemble for Katentong (Music Minimalist) merupakan komposisi ansambel perkusi yang menggunakan pendekatan sistem musik minimalis. Komposisi musik ini diciptakan untuk mensimulasikan bentuk permainan kesenian Alu Katentong kedalam bentuk musik Barat dengan format musik ansambel perkusi, baik secara komposisi maupun instrumennya. Komposisi ini berangkat dari fenomena kegiatan manumbuak padi (menumbuk padi) yang pada akhirnya digarap untuk menjadi sebuah perhelakan musik bernuansa ritem. Kesenian Alu Katentong ini terdapat di Nagari Padang Laweh, Kecamatan Sungai Tarab, Kabupaten Tanah Datar. Kesenian Alu Katentong ini memiliki pola ritem yang bersifat interlocking atau saling mengunci pola ritem satu sama lain. Metode penciptaan karya ini di bagi menjadi tiga tahap. Tahap pertama ekplorasi pada materi komposisi. Kedua eksperimentasi mencoba bereksperimen menciptakan bentuk simulasi instrumen dan materi. Ketiga perwujudan karya. Komposisi ini (manumbuak padi), meciptakan bentuk permainan musik tradisional klasik Alu katentong kedalam bentuk musik barat dengan format ansambel perkusi minimalis. Kata Kunci: Alu Katentong, Musik Minimalis, Ensemble, Simulasi, Interlocking
Musik Rabanae Dalam Prosesi Arak Induak Bako Di Nagari Sungai Abu Kabupaten Solok: Kajian Musikologis Jusna Dilka Risha; Wilma Sriwulan; Nursyirwan; Arga Budaya
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1373

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan struktur musik dan bentuk penyajian musik rebana dalam prosesi Arak Induak Bako pada masyarakat Nagari Sungai Abu, Kabupaten Solok. Tradisi Arak Induak Bako merupakan salah satu upacara adat Minangkabau yang masih dilaksanakan sebagai bentuk penghormatan keluarga bako kepada anak pisang. Musik rebana memiliki peran penting sebagai pengiring prosesi sekaligus memperkuat nilai-nilai budaya, sosial, dan keagamaan yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan musikologi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka, kemudian dianalisis menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur musik rebana terdiri atas unsur ritme, tempo, dinamika, dan pola permainan yang sederhana dengan pengulangan motif sehingga menghasilkan kesatuan musikal yang mendukung jalannya prosesi adat. Bentuk penyajian musik rebana disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan Arak Induak Bako, mulai dari arak-arakan hingga prosesi penyambutan. Keberadaan musik rebana tidak hanya berfungsi sebagai pengiring, tetapi juga menjadi media pelestarian budaya serta memperkuat identitas masyarakat Nagari Sungai Abu.
Fungsi dan Peran Musik Syair Olang-Olang Dalam Mengiringi Tari Rumah Inai Weni Mawadah; Nursyirwan; Awerman; Wilma Sriwulan
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1380

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan fungsi dan peran musikal Syair Olang-Olang dalam mengiringi Tari Rumah Inai pada upacara Adat Besar masyarakat Melayu di Desa Tasik Serai, Riau. Syair ini merupakan tradisi lisan yang saat ini hadir melalui hasil rekonstruksi oleh pelaku seni setempat akibat ancaman kepunahan. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan pendekatan musikologis dan pisau analisis teori etnomusikologi Alan P. Merriam (1964). Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam, dan dokumentasi lapangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perpaduan vokal dengan instrumen perkusi (bebano dan tetawak) menjalankan tiga fungsi fundamental. Pertama, fungsi respons fisik sebagai pengatur tempo dan penyangga kestabilan gerak tari melalui pola ostinato bebano dan siklus tetawak. Kedua, fungsi pengesahan institusi sosial dan ritual dengan menciptakan suasana magis yang melegitimasi kesakralan prosesi tolak bala. Ketiga, fungsi kesinambungan budaya, di mana lirik pantun bertindak sebagai media pewarisan memori kolektif yang mengukuhkan nilai kegigihan dan identitas budaya Suku Darat. Meskipun eksistensinya bergantung pada hasil rekonstruksi, kehadiran Syair Olang-Olang tetap menjadi bukti nyata resiliensi pelestarian warisan budaya lokal.
Kreativitas Yusuf Gayos Dalam Mengembangkan Musik Tradisi Batang Hari Di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi Chintiya Nopta Viani; Ade Syahputra; Wilma Sriwulan; Awerman Awerman; Bambang Wijaksana
Musica: Journal of Music Vol 5, No 2 (2025): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v5i2.5992

Abstract

Musik tradisi sebagai warisan budaya takbenda menghadapi tantangan serius akibat perubahan sosial dan minimnya regenerasi pelaku seni. Di Kabupaten Batang Hari, Provinsi Jambi, Yusuf Gayos tampil sebagai seniman yang berperan penting dalam mempertahankan sekaligus mengembangkan musik tradisi melalui pendekatan kreatif. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk kreativitas Yusuf Gayos dalam proses penciptaan, pengolahan musikal, serta transformasi unsur musik tradisi ke dalam karya kontemporer tanpa menghilangkan identitas budaya lokal. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara mendalam, studi pustaka, dan dokumentasi. Analisis data didasarkan pada teori kreativitas Graham Wallas, teori bentuk musik Karl Edmund Prier, serta konsep pelestarian budaya Koentjaraningrat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kreativitas Yusuf Gayos terwujud melalui pemanfaatan pola vokal Barzah, syair Melayu, teknik improvisasi, serta penggabungan instrumen tradisional dan modern dalam karya seperti Kaylana dan Menyeding Untung. Temuan ini menegaskan bahwa kreativitas seniman berperan strategis dalam menjaga keberlanjutan musik tradisi Batang Hari di tengah dinamika zaman
Penerapan Lagu Gamang Bamimpi Genre Pop Punk Format Band Di SMAN 2 Padang Panjang Aditya Pratama; Ofa Yutri Kumala; Wilma Sriwulan; Emridawati Emridawati; Wilman In
Musica: Journal of Music Vol 5, No 2 (2025): MUSICA : JOURNAL OF MUSIC
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/musica.v5i2.5997

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengkaji penerapan lagu Gamang Bamimpi yang diaransemen ke dalam genre Pop Punk sebagai strategi pembelajaran seni musik di SMAN 2 Padangpanjang. Latar belakang penelitian berangkat dari rendahnya minat siswa terhadap lagu Pop Minang dibandingkan musik populer modern. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode action research yang melibatkan sembilan siswa dalam format band, memadukan instrumen modern dan instrumen tradisional Minangkabau. Proses penelitian dilaksanakan melalui tahapan perencanaan, tindakan, observasi, dan refleksi yang diwujudkan dalam latihan bertahap hingga pertunjukan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aransemen Pop Punk mampu meningkatkan minat, partisipasi, serta keterampilan musikal siswa secara kolaboratif. Selain itu, pendekatan ini efektif menjembatani pelestarian musik Pop Minang dengan selera musik generasi muda. Penelitian ini memberikan kontribusi pada pengembangan metode pembelajaran musik yang inovatif, kontekstual, dan relevan di lingkungan sekolah menengah.
Pembelajaran Lagu Daerah "Rambadia" Dalam Format Ensembel Vokal di SMP Negeri 1 Padangpanjang Agnes Sihaloho; Wilma Sriwulan; Yon Hendri; Hidayatmi
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 4 (2026): Menulis - April
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i4.1113

Abstract

Penelitian berjudul “Pembelajaran Lagu Rambadia dalam Bentuk Ansambel Vokal di SMP Negeri 1 Padangpanjang” ini dilatar belakangi oleh isu menurunnya minat siswa dalam mempelajari lagu daerah. Dari isu yang sudah ada maka penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan apresiasi, pemahaman, dan pengetahuan siswa terhadap kekayaan lagu daerah. Penelitian ini juga bertujuan mendeskripsikan proses pembelajaran lagu Rambadia yang telah diaransemen ulang ke dalam format ansambel vokal dengan pembagian suara Sopran, Mezzo-Sopran, dan Alto. Aransemen lagu ini menggunakan nada dasar D Mayor dengan sukat 4/4, serta dilengkapi musik pengiring gitar, cajon, dan marakas yang memperkaya warna musikal selama proses pembelajaran berlangsung. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis. Pendekatan ini membantu peneliti menggambarkan data secara apa adanya, menganalisis tahapan pembelajaran, serta memahami respon siswa terhadap materi, sehingga diperoleh gambaran komprehensif mengenai pembelajaran lagu daerah dalam konteks pendidikan musik di sekolah. Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini mencakup teori teknik vokal khususnya pernapasan diafragma, serta teori musik yang meliputi solfeggio, harmoni, dan aransemen, dan Metode pembelajaran yang diterapkan di lapangan meliputi metode latihan (drill), demonstrasi, dan diskusi. Hasil dari penelitian ini adalah dipertunjukkannya lagu Rambadia dalam bentuk ansambel vokal di kampus Institut Seni Indonesia Padangpanjang.
Musik Gong Kecitang Sebagai Pengiring Tari Kejei Curup, Rejang Lebong: Kajian Musikologis Terhadap Fungsi Dan Peran Musikal Anindita Oriana; Wilma Sriwulan; Irwan; Yon Hendri; Vindo Alhamda Putra
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 8 (2026): Menulis - Agustus
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i8.1330

Abstract

Abstrak Musik Gong Kecitang merupakan ansambel tradisional yang menjadi bagian integral pertunjukan Tari Kejei masyarakat Rejang di Curup, Kabupaten Rejang Lebong, Bengkulu. Keberadaannya berfungsi sebagai pengiring tari dan memiliki struktur musikal, fungsi, serta peran yang membentuk kesatuan pertunjukan. Penelitian ini bertujuan mengkaji struktur musikal, fungsi, dan peran Gong Kecitang dalam pengiring Tari Kejei. Penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dalam perspektif musikologi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi audio-visual, dan studi pustaka. Analisis dilakukan terhadap unsur struktur penyajian, ritme, tempo, dinamika, fungsi instrumen, dan hubungan musik dengan gerak tari. Hasil penelitian menunjukkan struktur musikal Gong Kecitang terdiri atas empat bagian: Sambei Pangela, Ombak Laut, Burung Lanting, dan Siamang di Balik Bukit. Setiap bagian memiliki karakter musikal berbeda dan membentuk kesatuan pertunjukan. Ansambel terdiri atas kelintang, gong, redap, dan krilu. Kelintang sebagai pembawa ritme utama dan pengatur tempo, gong sebagai penanda struktur, redap sebagai penguat ritme, dan krilu sebagai pengiring vokal pembuka. Bagian Sambei Pangela dimainkan pada tempo lambat sekitar 60 bpm, sedangkan bagian inti menggunakan tempo sekitar 110 bpm secara stabil.Kajian fungsi menunjukkan Gong Kecitang memiliki fungsi ritual-sosial budaya, pengiring-komunikasi simbolik, serta hiburan-estetika. Perannya tampak dalam mengatur tempo dan pola gerak tari, menandai perpindahan bagian, membangun suasana ekspresif, serta menjembatani interaksi pemusik dan penari. Temuan juga menunjukkan musik ini mengandung nilai kebersamaan, kerja sama, dan identitas budaya Rejang yang diwariskan turun-temurun. Dengan demikian, Gong Kecitang tidak hanya sebagai pengiring Tari Kejei, tetapi juga representasi budaya yang memperkuat keberlangsungan tradisi masyarakat Rejang di Kabupaten Rejang Lebong.