Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

ANALISIS PERKEMBANGAN COSPLAY SEBAGAI BUDAYA POP JEPANG DI KOTA MEDAN Laraiba Nasution; Alvy Mawaddah; Muhammad Yusuf Siregar; Abdul Gapur; Taulia Taulia
JURNAL EDUCATION AND DEVELOPMENT Vol 12 No 3 (2024): Vol 12 No 3 September 2024
Publisher : Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/ed.v12i3.6504

Abstract

Penelitian ini membahas tentang Analisis Perkembangan Cosplay Sebagai Budaya Pop Jepang di Kota Medan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana kondisi perkembangan budaya cosplay yang ada di kota Medan saat ini. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan desain deskriptif yaitu penelitian yang bertujuan untuk memberi gambaran secara cermat mengenai individu atau kelompok tertentu tentang keadaan dan gejala yang terjadi. Responden dalam penelitian ini adalah para cosplayer yang ada di komunitas Cosplay Medan sebanyak 40 orang baik itu laki-laki maupun perempuan. Penelitian ini menggunakan wawancara mendalam (indepth enterview). Setelah wawancara, teknik selanjutnya adalah membagikan kuesioner kepada para peserta yaitu cosplayer baik yang masih pelajar maupun mahasiswa dan pekerja. Dari data yang diperoleh bahwa cosplay di jaman sekarang ini sudah mulai berkembang. Berkembangnya cosplay sudah mulai telihat banyak karena banyaknya anak muda di seluruh dunia khususnya di kota Medan, Indonesia yaitu didalam sebuah komunitas Cosplay Medan. Cosplayer yang termuda berusia 5 tahun dan tertua berusia 32 tahun. Para cosplayer yang berada di kota Medan memiliki berbagai macam tingkatan. Mulai dari pelajar sekolah, mahasiswa, baru selesai berkuliah dan bekerja. Untuk pelajar sekolah dimulai dari tingkat TK, SD, SMP hingga tingkat SMA/SMK sebanyak 14 orang, mahasiswa sebanyak 12 orang, yang baru selesai berkuliah sebanyak 2 orang dan yang telah bekerja sebanyak 12 orang.
a journal: PENGGUNAAN VERBA AGEMASU DAN MORAIMASU DALAM BAHASA JEPANG Nasution, Laraiba; Siregar, M. Yusuf; Simanjuntak, Desyca Putri
Vernacular: Linguistics, Literature, Communication and Culture Journal Vol. 5 No. 1 (2025): July Edition 2025
Publisher : Universitas Harapan Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35447/vernacular.v5i1.1160

Abstract

Agemasu and moraimasu are two Japanese verbs that are often used in the context of giving and receiving. This study aims to find out the meaning of agemasu and moraimasu verbs, find out the use and function of agemasu and moraimasu by using the literature method. Agemasu ( あげます) means ‘to give’ and is used when someone gives something to another person, usually in the context of giving something from the speaker to another person or from someone of higher status to a lower one. Moraimasu (もらいます) means ‘to receive’ and is used when someone receives something from another person. It is usually used in contexts where the receiver is lower in status than the giver, or in more informal situations. Both are important in everyday communication as they help to illustrate social relationships and interactions in Japanese culture, which places great importance on hierarchy and social etiquette. The verb ‘agemasu’ focuses on the act of giving from the perspective of the giver, while ‘moraimasu’ focuses on the act of receiving from the perspective of the receiver. In the same situation, ‘agemasu’ would be used by the giver and ‘moraimasu’ by the receiver, yet both speak of the same action from different perspectives. The verb moraimasu means to receive. The receiver here can be the speaker or someone close to the speaker. It can also come in the form itadakimasu, if the giver is of a higher social level.
Analisis Kosakata Slang Bahasa Jepang (Wakamono Kotoba) dalam Anime pada Komunitas Medan Anime Nasution, Laraiba; Siregar, Muhammad Yusuf
J-Litera: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra dan Budaya Jepang Vol 5 No 1 (2023): May 2023
Publisher : Program Studi Sastra Jepang, Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jlitera.2023.5.1.7219

Abstract

This study discusses the Analysis of Japanese Slang Vocabulary (Wakamono Kotoba) in Anime at the Medan Anime Club Community. This study aims to determine the interests of members of the Medan Anime Club in Japanese slang vocabulary (wakamono kotoba) and to find out what types of Japanese slang vocabulary (wakamono kotoba) are known by members of the Medan Anime Club. The theory used is a sociolinguistic theory, which is about language variations. The methodology used is the descriptive qualitative method. Respondents in this study were members of the Medan Anime Club as many as 45 people, both male and female. Each of these respondents will be distributed a questionnaire/questionnaire. The results of the questionnaire/questionnaire of the respondents will be the primary data source in this study. The data will be analyzed using an advanced technique, namely face-to-face or abbreviated as CTS. The members of the Medan Anime Club can learn Japanese by watching anime (animation) and also that 42 people are interested in speaking Japanese, in this case, Japanese slang vocabulary (wakamono kotoba) with a percentage of 93.3%. Furthermore, 32 people know about Japanese slang vocabulary (wakamono kotoba) with a percentage of 71.1%. The most widely known slang (wakamono kotoba) vocabulary by Medan Anime Club members is 7 people know baka and kimochi, 5 people know gomen, 4 people know nani, urusai, 3 people know Atashi, boku, souka, wakaranai, 2 people see the word aniki, kimi 2, itai, omae, yamete. Finally, 1 person knows dattebayo, konoyarou, sankyu, kisama, akuma, ikenai, shinjirarenai, aho, naze, yabai, yamerou, nandemonai, korose, nande, minna, teme, bakayarou, dekinai.
Akulturasi bahasa dalam masyarakat di Kampung Aur Kecamatan Medan Maimun Alvy Mawaddah; Laraiba Nasution
Jurnal Linguistik Terapan JLT Volume 9 No 2, 2019
Publisher : UPT P2M Politeknik Negeri Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan tersebut antara lain untuk mengetahui akulturasi bahasa yang ada di dalam masyarakat di kampung aur dan mengetahui Bahasa yang mendominasi di dalam masyarakat kampung aur. Dari hasil analisis data di temukan akulturasi bahasa ditemukan dalam masyarakat Etnis India, Tionghoa dan Batak di Lingkungan IX Kelurahan Aur Kecamatan Medan Maimun dengan persentase yang paling kecil yaitu Bahasa Batak 5,4% dan yang paling besar 13,6% dalam Bahasa Hokkien. Persentasi Akulturasi yang ada tidak terlalu besar dikarenakan mayoritas masyarakat Etnis India, Tionghoa dan Batak di Lingkungan IX Kelurahan Aur Kecamatan Medan Maimun dapat berbahasa Indonesia dengan keterampilan berbahasa 80,4%. Bahasa Indonesia lebih dominan digunakan oleh masyarakat Lingkungan IX Kelurahan Aur Kecamatan Medan Maimun sebanyak 60%. Sedangkan untuk penggunaan bahasa daerah lebih sedikit. Penggunaan Bahasa India dan Batak sebanyak 14% sedangkan Bahasa Hokkien sebanyak 8%. Kemudian sebanyak 4% penggunaan bahasa lainnya seperti Bahasa Melayu, Bahasa Minang dan lain-lain.