Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Waspada Risiko Diabaetes Melitus Tipe 2 Melalui Skrining Gula Darah Di Yayasan Baptis Cengkareng Sukmawati Tansil Tan; Alexander Halim Santoso; Edwin Destra; Paulus Gegana Thery Dewanto; Kresna Bambang Fajarivaldi
Compromise Journal Community Proffesional Service Journal Vol. 3 No. 2 (2025): Compromise Journal : Community Proffesional Service Journal
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/compromisejournal.v3i2.750

Abstract

Fasting blood sugar screening is a crucial step in the early detection of metabolic risks, including prediabetes and type 2 diabetes mellitus. This examination is useful for identifying at-risk individuals before clinical symptoms appear. Screening activities are carried out using the Plan–Do–Check–Act (PDCA) approach and the Point-of-Care Testing (POCT) tool. The examination was carried out on adult participants, followed by education using leaflets containing information about blood glucose control and the importance of physical activity. A total of 62 participants underwent the examination aged 23–76 years. Most participants were women (74.2%). Fasting blood sugar values ranged from 67.0 to 333.0 mg/dL with a median of 90.0 mg/dL. A total of 75.8% were in the normal category, 16.1% were pre-diabetic, and 8.1% were diabetic. Fasting blood sugar screening revealed a proportion of participants with impaired glucose regulation. These results emphasize the importance of early detection and health education, especially about physical activity which plays a role in increasing insulin sensitivity and lowering blood glucose levels. The combination of screening and education can be a preventive strategy to reduce the risk of diabetes.
Korelasi antara Antropometri dan Caliper terhadap Kadar Hidrasi, Air, dan Minyak Kulit secara Segmental: Correlation between Anthropometric Measures and Skinfold Caliper Measurements with Segmental Skin Hydration, Water, and Oil Levels Sukmawati Tansil Tan; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya
Jurnal Keperawatan Bunda Delima Vol 8 No 3 (2026): EDISI MARET
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jkbd.v8i3.263

Abstract

Latar Belakang: Parameter antropometri, seperti IMT, lingkar tubuh, dan rasio distribusi lemak, serta pengukuran ketebalan lemak subkutan dengan caliper telah lama digunakan untuk menilai status gizi dan risiko metabolik, namun indikator sederhana yang dapat digunakan untuk memperkirakan kondisi hidrasi dan kesehatan kulit secara praktis belum ada. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi hubungan antara parameter antropometri dan ketebalan lipatan kulit dengan kadar hidrasi, air, dan minyak kulit secara segmental pada populasi dewasa di Kelurahan Kota Bambu, Jakarta Barat. Metode: Desain penelitian menggunakan metode potong lintang dengan melibatkan 135 responden yang menjalani pemeriksaan antropometri, pengukuran lipatan kulit menggunakan caliper, serta evaluasi kondisi kulit menggunakan skin analyzer pada kedua lengan. Hasil: Penelitian menunjukkan bahwa hidrasi kulit tidak memiliki korelasi bermakna dengan seluruh parameter antropometri maupun ketebalan lemak subkutan, menegaskan bahwa hidrasi epidermal terutama dipengaruhi oleh integritas skin barrier dan mekanisme homeostatik stratum korneum. Sebaliknya, kadar air dan minyak kulit menunjukkan korelasi positif konsisten dengan lingkar leher dan lingkar betis, serta korelasi negatif dengan beberapa lipatan kulit, yang mengindikasikan bahwa massa otot segmental dan perfusi mikrovaskular berperan dalam mempertahankan kadar air dan aktivitas kelenjar sebasea, sedangkan akumulasi lemak subkutan cenderung menurunkan keduanya. Kesimpulan: Temuan ini menegaskan bahwa ukuran tubuh global seperti IMT atau lingkar perut bukan prediktor utama karakteristik kulit, dan bahwa kualitas kulit lebih ditentukan oleh faktor lokal. Penelitian lanjutan dengan desain longitudinal serta integrasi parameter fisiologi kulit tambahan, seperti aliran darah, TEWL, dan biomarker epidermal, diperlukan untuk memperkuat pemahaman mekanistik dan mendukung pengembangan strategi intervensi dermatologis yang lebih presisi dan segmental.
Edukasi dan Skrining Kesehatan melalui Pemeriksaan Asam Urat dan Kekuatan Genggaman Tangan pada Masyarakat Dewasa di Jelambar: Education and Health Screening through Uric Acid Examination and Handgrip Strength Assessment among Adults in Jelambar Sukmawati Tansil Tan; Alexander Halim Santoso; Bryan Anna Wijaya; Fidelia Alvianto; Aditya Pratama
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bunda Delima Vol 5 No 1 (2026): EDISI FEBRUARI
Publisher : Akademi Keperawatan Bunda Delima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59030/jpmbd.v5i1.124

Abstract

Pendahuluan: Hiperurisemia dan sarkopenia merupakan dua kondisi metabolik dan muskuloskeletal yang prevalensinya meningkat seiring bertambahnya usia dan perubahan gaya hidup masyarakat perkotaan. Kondisi ini sering kali tidak terdeteksi pada tahap awal karena kurangnya pemeriksaan rutin di tingkat layanan primer. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran dan melakukan deteksi dini terhadap risiko hiperurisemia dan sarkopenia melalui pemeriksaan kadar asam urat dan kekuatan genggaman tangan (handgrip strength, HGS) pada masyarakat dewasa di Kelurahan Jelambar, Jakarta Barat. Metode kegiatan meliputi edukasi kesehatan, pemeriksaan asam urat kapiler menggunakan alat digital, dan pengukuran HGS dengan hand dynamometer sesuai prosedur standar. Sebanyak 46 partisipan berusia 20–63 tahun berpartisipasi secara sukarela. Hasil menunjukkan rerata kadar asam urat sebesar 6,56 ± 1,83 mg/dL dengan proporsi hiperurisemia 50%, sedangkan rerata kekuatan genggaman tangan 24,49 ± 8,55 kg dengan 30,4% peserta menunjukkan indikasi penurunan kekuatan otot. Data ini menegaskan adanya kecenderungan gangguan metabolik dan muskuloskeletal pada populasi usia produktif. Kesimpulan: Pelaksanaan skrining sederhana ini terbukti efektif dan mudah diaplikasikan di komunitas serta meningkatkan literasi kesehatan mengenai gaya hidup aktif, hidrasi, dan konsumsi protein adekuat. Integrasi pemeriksaan asam urat dan HGS dapat menjadi model promotif–preventif untuk pencegahan hiperurisemia dan sarkopenia di tingkat layanan primer.