Asep Yunta Darma
Teknologi Pengolahan Sawit, Fakultas Vokasi, Institut Teknologi Sains Bandung,

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Kajian Perubahan Nilai Konduktivitas Termal pada Bata Ringan dengan Penggunaan Crude Palm Oil (CPO) sebagai Bahan Penyimpan Kalor Lia Laila; Asep Yunta Darma
JOURNAL OF APPLIED SCIENCE (JAPPS) Vol 2, No 2 (2020): Journal of Applied Science (JAPPS)
Publisher : Institut Teknologi Sains Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36870/japps.v2i2.181

Abstract

Indonesia is the largest producer of Crude Palm Oil (CPO) in the world. The use of CPO is mostly for edible oils and biofuels. Even though CPO potential is huge, the development of CPO in other forms is still limited. CPO has a melting point of 25˚C - 50˚C which is suitable to be develoved in the environment of Indonesia. This characteristic allows CPO to be used as phase change material. This study examines the use of CPO as a material to reduce the thermal conductivity of light bricks. The idea is to make the brick as a building material has the ability to maintain room conditions from fluctuative ambient temperatures. The results showed that the addition of effective CPO to reduce the thermal conductivity of light bricks was 2.5 to 7.5 ml per 160 cm3.
Penggunaan Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dalam Identifikasi Kegagalan Mesin untuk Dasar Penentuan Tindakan Perawatan di Pabrik Kelapa Sawit Libo Idad Syaeful Haq; Asep Yunta Darma; Rahman Affandi Batubara
JURNAL VOKASI TEKNOLOGI INDUSTRI (JVTI) Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Vokasi, Teknologi, dan Industri (JVTI)
Publisher : Institut Teknologi Sains Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.483 KB) | DOI: 10.36870/jvti.v3i1.209

Abstract

Proses pengolahan Tandan Buah Sawit (TBS) menjadi minyak sawit mentah (CPO) dan/atau minyak kernel sawit (PKO) di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) melewati beberapa stasiun pemrosesan. Salah satu stasiun dalam proses pengolahan sawit tersebut adalah stasiun nut dan kernel. Stasiun nut dan kernel merupakan stasiun yang memiliki jumlah mesin yang relatif banyak dibanding dengan mesin/peralatan pemroses pada stasiun lain di PKS. Kategori mesin/peralatan yang relatif banyak digunakan adalah alat angkut. Alat angkut memiliki peran yang sangat penting berfungsi untuk mengirimkan bahan yang akan diolah menuju ke proses pengolahan berikutnya. Apabila alat angkut mengalami kerusakan/kegagalan fungsi, proses pengolahan dapat terhenti. Hal ini diakibatkan karena bahan tidak bisa dikirimkan menuju ke proses pengolahan berikutnya. Kebanyakan alat angkut yang terdapat di PKS tidak memiliki cadangan, sehingga jika terjadi kerusakan proses pun akan dihentikan. Stasiun nut dan kernel sendiri memiliki 18 buah alat angkut jenis conveyor dan elevator. Pencegahan terjadinya kerusakan pada mesin, khususnya alat angkut, diperlukan tindakan perawatan yang baik dan tepat agar proses pengolahan yang berlangsung dapat bejalan dengan lancar. Salah saru cara yang terbaik untuk melakukan dan menentukan tindakan perawatan adalah dengan mengidentifikasi kegagalan yang terjadi. Identifikasi kegagalan ini dapat menggunakan suatu metode yang disebut Failure Mode and Effect Analysis (FMEA). Melalui metode FMEA akan diketahui kegagalan komponen kritis pada suatu sistem berdasarkan nilai Risk Priority Number (RPN). Kegagalan komponen kritis merupakan jenis kegagalan dengan nilai RPN>100. Kemudian komponen tersebut akan menjadi prioritas dalam melakukan tindakan perawatan. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa kegagalan komponen kritis pada stasiun nut & kernel adalah keausan pada liner wet kernel elevator (RPN: 168) dan baut bucket wet kernel elevator patah (RPN: 126). Tindakan perawatan yang dilakukan untuk meminimalkan potensi breakdown adalah dengan melakukan penggantian komponen (replacement). Penggantian komponen dijadwalkan berdasarkan Mean Time Between Failure (MTBF) atau rata-rata waktu antar kegagalan suatu komponen. Berdasarkan perhitungan MTBF, liner wet kernel elevator dijadwalkan untuk diganti setiap 3.039 jam (7 bulan) penggunaan dan baut bucket wet kernel elevator dijadwalkan untuk diganti setiap 2.026 jam (5 bulan) penggunaan.
Tingkat Korelasi Budaya Organisasi Dan Kinerja Karyawan (Studi Pabrik Kelapa Sawit PT. Smart.Tbk) Deni Rachmat; Asep Yunta Darma
JURNAL VOKASI TEKNOLOGI INDUSTRI (JVTI) Vol 2, No 1 (2020): Jurnal Vokasi, Teknologi, dan Industri (JVTI)
Publisher : Institut Teknologi Sains Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (626.247 KB) | DOI: 10.36870/jvti.v2i1.166

Abstract

Persoalan Sumber Daya Manusia yang dihadapi Pabrik Kelapa Sawit adalah tingkat kedisiplinan karyawan rendah, konflik antara karyawan dan turn over karyawan yang tinggi. Pesoalan-persoalan ini menjadi penghambat yang berpengaruh besar terhadap kinerja karyawan, akan tetapi persoalan ini dapat diatasi dengan meningkatkan implementasi budaya organisasi yang sudah ditetapkan oleh perusahaan. Dengan mengetahui tingkat implementasi budaya organisasi dan pengaruhnya terhadap kinerja karyawan, dapat dilakukan upaya sosialisasi, evaluasi implementasi budaya perusahaan secara berkala/rutin oleh pimpinan perusahaan sebagai agen perubahan. Pada penelitian ini budaya organisasi dan kinerja karyawan diamati melalui 7 (tujuh) aspek menjadi data olah. Pengambilan data dilakukan melalui data primer dan sekunder, observasi langsung, wawancara dan penyebaran kuesioner. Analisis dilakukan dengan menyusun distribusi frekuensi masingmasing aspek yang diamati. Distribusi frekuensi ini sebagai instrument untuk mengetahui aspek mana yang memberikan kontribusi tinggi dan rendah terhadap budaya organisasi dan kinerja karyawan, langkah selanjutnya dilakukan analisis regresi untuk mengetahuai hubungan budaya organisasi dan kinerja karyawan. Hasil analisis regresi diperoleh hubungan kinerja dengan budaya organisasi perusahaan yaitu: Kinerja (Y) = 55,623 + 0,058 Budaya (X). Bila budaya organisasi tidak dilaksanakan oleh individu karyawan yang belum mengetahui dan memahami budaya organisasi (X=0), maka diperkirakan kemampuan kinerja karyawan adalah 55,623 unit. Namun bila budaya organisasi sudah dilaksanakan oleh karyawan setara dengan 1 unit budaya organisasi, maka kinerja organisasi naik sebesar 55,623 + 0,058 = 55,681. Koefisien regresi b = 55,623 menunjukkan bahwa besaran penambahan tingkat kinerja perusahaan yang harus ditetapkan, apabila budaya organisasi tidak diterapkan pada suatu organisasi. Hasil uji statistik menunjukan budaya organisasi memberikan pengaruh yang kecil terhadap kinerja perusahaan, hal ini menunjukkan bahwa budaya organisasi yang ditetapkan oleh perusahaan belum sepenuhnya terinternalisasi pada setiap individu karyawan.
Penggunaan Metode Failure Mode And Effect Analysis Untuk Mengidentifikasi Kegagalan Dan Pemilihan Tindakan Perawatan (Kasus Stasiun Klarifikasi Pabrik Kelapa Sawit Langling) Lia Laila; Asep Yunta Darma; Akbar Karuniawan
JURNAL VOKASI TEKNOLOGI INDUSTRI (JVTI) Vol 3, No 1 (2021): Jurnal Vokasi, Teknologi, dan Industri (JVTI)
Publisher : Institut Teknologi Sains Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1014.188 KB) | DOI: 10.36870/jvti.v3i1.226

Abstract

Stasiun Klarifikasi merupakan stasiun tempat proses pemurnian Crude Oil atau minyak kasar hasil ekstraksi dari Stasiun Pressing. Pada stasiun ini minyak kasar dibersihkan dari kotoran-kotoran seperti padatan, lumpur, dan air sebelum dikirim ke Tangki Penyimpanan. Stasiun Klarifikasi terdiri dari beberapa mesin yang beroperasi secara terus-menerus selama proses produksi sehingga apabila terjadi kerusakan pada mesin akan menghambat proses produksi. Dengan demikian tindakan perawatan sangat penting terutama terhadap komponen kritis agar Stasiun Klarifikasi dapat beroperasi dengan baik. Metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) dapat digunakan mengidentifikasi komponen kritis mesin agar dapat menentukan tindakan perawatan yang tepat. Dengan demikian tujuan penelitian adalah menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA) untuk mengetahui komponen kritis pada Stasiun Klarifikasi dan menentukan tindakan perawatan untuk meminimalkan potensi kerusakan. Langkah-langkah untuk mendapatkan hasil penelitian adalah (1) Mengumpulkan Data, (2) Mengidentifikasi komponen kritis, (3) Menentukan tindakan perawatan. Hasil penelitian menunjukan komponen kritis pada Stasiun Klarifikasi adalah Packing Body Pompa Crude Oil (RPN: 105) dan Mechanical Seal Pompa Condensate (RPN: 105). Tindakan perawatan yang dapat dilakukan adalah penggantian komponen (replacement). Penggantian komponen dijadwalkan berdasarkan Mean Time Between Failure (MTBF) ,yaitu. Packing body pompa crude oil diganti setiap 1.657 jam (5 bulan) dan mechanical seal pompa condensate diganti setiap 1.037 jam (3 bulan).
Pengaruh Setting Temperature, Steam Valve dan Retention Time Heater Control Terhadap % Kadar Air Kernel di Kernel Silo Pabrik Kelapas Sawit Menggunakan Metode Analisis Jalur Rachmat, Deni; Putra, Aditya Pratama; Darma, Asep Yunta
JURNAL VOKASI TEKNOLOGI INDUSTRI (JVTI) Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Vokasi, Teknologi, dan Industri (JVTI)
Publisher : Institut Teknologi Sains Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36870/jvti.v6i1.355

Abstract

Kernel sawit sebelum dikirim ke Pabrik Pengolahan Kernel di simpan terlebih dahulu dalam kernel silo, kadar air kernel harus dijaga pada batas 6% - 7% sesuai standard yang ditetapkan perusahaan. Kadar air kernel dibawah batas standar, kernel akan menyerap air lebih banyak dari lingkungan penyimpanan dan sebaliknya, kadar air kernel lebih tinggi dari batas yang ditentukan, udara disekitar akan lembab dan dapat menyebabkan meningkatnya asam lemak bebas pada kernel. Fluktuasi kadar air kernel ini dapat dipengaruhi oleh setting temperature dalam kernel silo, pengendalian steam valve dan lamanya waktu pemanasan kernel di dalam silo. Untuk menjaga agar kadar air kernel pada rentang standar maka dilakukan setting temperatur kernel silo dan pengaturan bukaan steam valve, pengaturan temperatur dan pengaturan waktu pemanasan kernel dalam silo. Penelitian ini menganalisis variabel-varibel yang paling berpengaruh dari ke tiga variabel tersebut terhadap kadar air kernel pada silo agar selalu berada pada nilai standar. Temperatur kernel silo di-setting pada berbagai nilai 600C-750C dan bukaan steam valve 3-4 putaran, dan lamanya waktu pemanasan 10-12 jam selanjutnya dipilih skenario yang menghasilkan kadar air kernel yang berada pada rentang 6-7%. Metode penelitian adalah metode observasi dengan skenario setting temperatur, bukaan steam valve dan lamanya waktu pemanasan pada kernel silo kemudian menggunakan analisis jalur untuk melihat pengaruh paling dominan dari ketiga variabel tersebut. Pengambilan data sampel kernel silo berdasarkan pada variasi temperatur kernel silo dengan mengatur katup uap panas pada steam heater dan lamanya waktu pemanasan.. Setiap sampel dilakukan analisis kadar air kernel sehingga diperoleh data nilai kadar air yang terdapat pada sampel kernel. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh 3 skenario, skenario pertama setting temperatur 62.50 C dengan Kadar air pada kernel sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan diperoleh dengan mengatur setting temperature kernel silo dan bukaan steam valve dari BPV dan lamanya waktu pemanasan (retention time heater). Setting temperature pada temperature mengikuti skenario operasi yaitu setting temperature 62,5 0C, 650C dan 600C , bukaan steam valve pada operasi 3 putaran (7.02 mm), 4 putaran 9,36 mm), selanjutnya lamanya waktu pemanasan dilakukan dari 10 jam sampai dengan 12 jam. Hasil a nalisis jalur diperoleh hubungan individual (satu variabel independen) yang paling berpengaruh adalah bukaan steam valve terhadap % kadar air kernel dan bukaan steam valve terhadap setting temperatur selebihnya tidak signifikan. Sedangkan untuk dua variabel independen yang paling berpengaruh adalah setting temperature dan bukaan steam valve terhadap % kadar air kernel, serta bukaan steam valve dan retention time heater terhadap % kadar air kernel. Selanjutnya untuk tiga variabel independen (setting temperature, bukaan steam valve dan retention time heater) menunjukkan hubungan yang kuat terhadap variabel dependennya (% kadar air kernel). Persamaan regresi multivariable (3 variabel independen) menunjukkan korelasi 0,963 dan koefisien determinasi atau koefisien penentu 0,928 (92,8%), sekitar 7,2% faktor lainnya yang mempengaruhi % kadar air kernel yang belum dapat diteliti yaitu volume kernel. Selanjutnya persamaan regresinya adalah sebagai berikut: % Kadar air kernel = 14.860 - 0.094*setting temperature – 0.276*bukaan steam valve – 0.050*retention time heater.
Temperatur Optimum Sludge CPO Untuk Meminimalkan Kehilangan Minyak Pada Mesin Sludge Centrifuge di Pabrik Kelapa Sawit Darma, Asep Yunta
JURNAL VOKASI TEKNOLOGI INDUSTRI (JVTI) Vol 6, No 1 (2024): Jurnal Vokasi, Teknologi, dan Industri (JVTI)
Publisher : Institut Teknologi Sains Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36870/jvti.v6i1.366

Abstract

Salah satu proses yang terjadi pada stasiun klarifikasi yaitu pemisahan sludge dari minyak mentah sawit (CPO) dengan menggunakan sludge centrifuge. Sifat fisika CPO pada temperatur ruang yaitu semi-solid. Hal ini disebabkan adanya komposisi kimia yang seimbang antara ikatan tunggal dan rangkap. Perlu ada pengaturan temperatur agar wujud CPO menjadi likuid sehingga pemisahan sludge dari CPO menjadi optimal. Produk disebut final effluent dihasilkan berdasarkan prinsip kerja gaya sentrifugal pada mesin tersebut. Pemisahan yang tidak sempurna mengakibatkan nilai kehilangan CPO (oil loss) pada final effluent berada diluar standar pabrik yang ditetapkan. Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh temperatur terhadap kehilangan minyak pada final effluent dan menentukan temperatur optimum untuk menjaga oil loss dari sludge. Penelitian menggunakan metode observasi dan data yang dikumpulkan adalah data temperatur, data O/WM, data O/DM, oil loss. Pengolahan data, (1) Menghitung korelasi antara temperatur dengan besarnya oil loss terhadap O/WM dan O/DM final effluent, (2) menghitung nilai temperature yang menghasilkan oil loss tidak melebihi rentang standar. Hasil penelitian menunjukkan terjadi kecenderungan bahwa temperatur memengaruhi oil loss yang dihasilkan pada setiap sampel yang diambil pada kondisi temperatur berbeda-beda. Besarnya pengaruh kontribusi temperatur pada oil loss yaitu sebesar 65,65% terhadap O/WM dan 75,80% terhadap O/DM final effluent. Untuk menghasilkan oil loss minmal dan sesuai standar pabrik, ditemukan bahwa penjagaan temperatur sebesar 900 C – 940 C penting dilakukan.