Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

IDENTIFIKASI TEKNOLOGI PROSES PENGOLAHAN DAN ANALISA MUTU SELUANG KERING (PUNDANG) PADA PENGOLAHAN SECARA TRADISIONAL Liuhartana, Riya; Harris, Helmi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan JURNAL ILMU PERIKANAN VOLUME 6 TH 2011
Publisher : Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian bertujuan untuk memahami teknologi proses pada pengolahan pundang secara tradisional dan menentukan kandungan nutrisi seluang segar serta mutu seluang kering (Pundang) ini dilaksanakan di Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin pada Mei hingga Juli 2010.Penelitian ini menggukan metode survey lapang dan wawancara langsung kepada pelaku usaha Pundang di daerah ini. Analisi mutu komposisi kadar Air, protein, karbohidrat, lemak, abu dan garam serta mikrologis dilaksanakan di Workshop TPHP Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang dn Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor. Hasil penelitian menunjukkan ikan seluang segar yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan pundang adalah jenis seluang putih (Rasbora argyrotaenia var B) dengan komposisi kadar Air, protein karbohidrat, lemak, abu dan garam masing-masing adalah 78,91%, 17,75%, 0,97%, 0,49%, 1,4% dan 0,10%. Pengolah Pundang di masyarakat terdiri atas 2 cara, yaitu secara sederhana dan cara yang lebih maju. Kandungan protein ikan seluang segar cukup tinggi, dengan kandungan karbohidrat dan lemak yang rendah. Dari dua jenis proses pengolahan, mutu pundang yang dihasilkan pengolahan cara kedua menghasilkan pundang dengan penampilan lebih seragam, warnanya lebih terang, kandungan air lebih rendah dan harga yang lebih baik.
REKAYASA ALAT PENGERING SEL SURYA SERBAGUNA Harris, Helmi
Jurnal Dosen Universitas PGRI Palembang Jurnal Dosen Universitas PGRI Palembang Edisi 2
Publisher : Jurnal Dosen Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAKInvensi ini berkaitan dengan upaya menciptakan alat pengering serbaguna untuk mengeringkan berbagai produk hasil perikanan. Karena harga Bahan Bakar Gas (BBG) saat ini drastis melambung naik, begitu juga dengan harga Tarif Dasar Listrik (TDL) juga ikut naik, maka dilakukan penelitian untuk mendesain alat pengering dengan memanfaatkan sumber energi alternatif yang sebenarnya sudah disediakan oleh alam secara gratis.Cara kerja alat adalah sebagai berikut : pada siang hari, energi matahari mengenai panel surya dan diubah menjadi energi listrik DC, kemudian masuk ke alat charger untuk melakukan pengisian batere (aki). dari batere (aki), energi listrik DC diubah menjadi energi listrik AC oleh inverter dengan tegangan sebesar 220 volt. Energi listrik 220 volt tersebut digunakan untuk memanaskan elemen pemanas di oven pengering yang telah disusun disamping rak-rak pemanas, sehingga dapat mengeringkan produk yang dikeringkan. Untuk mengatur suhu yang diinginkan sesuai dengan produk yang dikeringkan, digunakan thermosta. Saat digunakan energi listrik ini batere akan mensuplai energi listrik ke elemen pemanas alat, dan disamping itu akan terjadi pengisisan batere dari panel surya, sehingga pada saat malam hari energi batere telah penuh dan bisa mensuplai enenrgi listrik ke alat.Alat pengering sel surya serbaguna ini memiliki keunggulan yaitu dapat digunakan pada saat panas matahari tidak ada, yang disuplai oleh energi listrik dari batere, misalnya pada saat cuaca buruk atau pada malam hari, sehingga proses pengeringan material tidak terhambat. Disamping itu juga terjadi penghematan biaya operasional, karena sumber panas berasal dari energi matahari yang disimpan dalam batere.Diantara produk hasil perikanan yang sudah diujicobakan di Workshop Pengolahan Hasil Perikanan Universitas PGRI Palembang adalah untuk pengeringan Pelet Ikan, Pempek Kering dan Pundang Seluang.Kata Kunci : Alat Pengering Sel Surya, Bahan Bakar Gas, Tarif Dasar Listrik, Panel Surya, Charger, Batere dan Inverter
DISAIN KEMASAN UNTUK MENINGKATKAN FUNGSI DAN TAMPILAN KEMASAN SELUANG KERING (PUNDANG) Harris, Helmi; Liyuhartana, Riya
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan JURNAL ILMU PERIKANAN VOLUME 6 TH 2011
Publisher : Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakSumatera Selatan terkenal dengan makanan tradisional berbasis hasil perikanan, salah satunya adalah pundang. Walaupun secara keseluruhan produk hasil perikanan Sumatera selatan lebih bervariatif, baik jenis maupun bentuknya, tetapi untuk bersaing di tingkat nasional produk kita masih jauh tertinggal dalam teknik pengemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendisain kemasan pundang, sehingga menghasilkan kemasan pundang dengan penampilan yang lebih menarik, praktis, higienis dan informative. Penelitian ini dilaksanakan di Workshop TPHP Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang, yang berlangsung selama tiga bulan dari bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2011. Disain kemasan Pundang ini dilakukan dengan metoda Try and Error, sampai didapatkan kemasan Pundang yang lebih baik. Setelah didapatkan kemasan Pundang , diuji tingkat kesukaan Panelis (Uji Hedonik).  Faktor Perlakuan dalam penelitian ini adalah disain kemasan (K) yang terdiri atas 6 taraf perlakuan. Rancangan dasar yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah Tingkat Kesukaan Panelis Uji Hedonik) terhadap hasil disain Kemasan, dan pengamatan parameter mutu dominan Pundang (Kadar Air). Analisa Statistik yang digunakan untuk membedakan taraf perlakuan adalah Analisis Varians (Anova) dan Uji lanjutnya menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Sedangkan untuk parameter Mutu Dominan Pundang (kadar air) dianalisa dengan analisa Regresi. Hasil penelitian telah menghasilkan disain kemasan Pundang dengan tampilan yang lebih menarik, praktis dalam penggunaannya, higeinis dan informative. Untuk uji Hedonik (kesukaan) terhadap disain kemasan, perlakuan yang terbaik secara berturut-turut adalah perlakuan K5, K4, K3, K2, K1 dan K0. Pundang yang dikemas dengan gabungan pengemas primer ( Plastik PP) dan sekunder (kotak karton berlabel) memberikan perlindungan dengan penampilan yang lebih baik dibandingkan yang hanya menggunakan kemasan primer saja. Laju peningkatan Kadar Air dapat digunakan sebagai parameter dominan untuk menentukan titik kritis, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan Umur Simpan (Shelf lilfe) Pundang.
IDENTIFIKASI TEKNOLOGI PROSES PENGOLAHAN DAN ANALISA MUTU SELUANG KERING (PUNDANG) PADA PENGOLAHAN SECARA TRADISIONAL Liuhartana, Riya; Harris, Helmi
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 6, No 1 (2011): Jurnal Ilmu - ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Desember 2011
Publisher : Faculty Fisheries Departement Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1861.524 KB)

Abstract

AbstrakPenelitian bertujuan untuk memahami teknologi proses pada pengolahan pundang secara tradisional dan menentukan kandungan nutrisi seluang segar serta mutu seluang kering (Pundang) ini dilaksanakan di Sekayu Kabupaten Musi Banyuasin pada Mei hingga Juli 2010.Penelitian ini menggukan metode survey lapang dan wawancara langsung kepada pelaku usaha Pundang di daerah ini. Analisi mutu komposisi kadar Air, protein, karbohidrat, lemak, abu dan garam serta mikrologis dilaksanakan di Workshop TPHP Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang dn Balai Besar Industri Agro (BBIA) Bogor. Hasil penelitian menunjukkan ikan seluang segar yang digunakan sebagai bahan baku pembuatan pundang adalah jenis seluang putih (Rasbora argyrotaenia var B) dengan komposisi kadar Air, protein karbohidrat, lemak, abu dan garam masing-masing adalah 78,91%, 17,75%, 0,97%, 0,49%, 1,4% dan 0,10%. Pengolah Pundang di masyarakat terdiri atas 2 cara, yaitu secara sederhana dan cara yang lebih maju. Kandungan protein ikan seluang segar cukup tinggi, dengan kandungan karbohidrat dan lemak yang rendah. Dari dua jenis proses pengolahan, mutu pundang yang dihasilkan pengolahan cara kedua menghasilkan pundang dengan penampilan lebih seragam, warnanya lebih terang, kandungan air lebih rendah dan harga yang lebih baik.
DISAIN KEMASAN UNTUK MENINGKATKAN FUNGSI DAN TAMPILAN KEMASAN SELUANG KERING (PUNDANG) Harris, Helmi; Liyuhartana, Riya
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 6, No 1 (2011): Jurnal Ilmu - ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Desember 2011
Publisher : Faculty Fisheries Departement Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1811.316 KB)

Abstract

AbstrakSumatera Selatan terkenal dengan makanan tradisional berbasis hasil perikanan, salah satunya adalah pundang. Walaupun secara keseluruhan produk hasil perikanan Sumatera selatan lebih bervariatif, baik jenis maupun bentuknya, tetapi untuk bersaing di tingkat nasional produk kita masih jauh tertinggal dalam teknik pengemasan. Penelitian ini bertujuan untuk mendisain kemasan pundang, sehingga menghasilkan kemasan pundang dengan penampilan yang lebih menarik, praktis, higienis dan informative. Penelitian ini dilaksanakan di Workshop TPHP Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang, yang berlangsung selama tiga bulan dari bulan Oktober sampai dengan bulan Desember 2011. Disain kemasan Pundang ini dilakukan dengan metoda Try and Error, sampai didapatkan kemasan Pundang yang lebih baik. Setelah didapatkan kemasan Pundang , diuji tingkat kesukaan Panelis (Uji Hedonik).  Faktor Perlakuan dalam penelitian ini adalah disain kemasan (K) yang terdiri atas 6 taraf perlakuan. Rancangan dasar yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 ulangan. Parameter yang diamati adalah Tingkat Kesukaan Panelis Uji Hedonik) terhadap hasil disain Kemasan, dan pengamatan parameter mutu dominan Pundang (Kadar Air). Analisa Statistik yang digunakan untuk membedakan taraf perlakuan adalah Analisis Varians (Anova) dan Uji lanjutnya menggunakan Uji Beda Nyata Jujur (BNJ). Sedangkan untuk parameter Mutu Dominan Pundang (kadar air) dianalisa dengan analisa Regresi. Hasil penelitian telah menghasilkan disain kemasan Pundang dengan tampilan yang lebih menarik, praktis dalam penggunaannya, higeinis dan informative. Untuk uji Hedonik (kesukaan) terhadap disain kemasan, perlakuan yang terbaik secara berturut-turut adalah perlakuan K5, K4, K3, K2, K1 dan K0. Pundang yang dikemas dengan gabungan pengemas primer ( Plastik PP) dan sekunder (kotak karton berlabel) memberikan perlindungan dengan penampilan yang lebih baik dibandingkan yang hanya menggunakan kemasan primer saja. Laju peningkatan Kadar Air dapat digunakan sebagai parameter dominan untuk menentukan titik kritis, yang selanjutnya digunakan untuk menentukan Umur Simpan (Shelf lilfe) Pundang.
PENAMBAHAN TEPUNG KEONG TUTUT (Bellamnya javanica) DENGAN KOMPOSISI YANG BERBEDA TERHADAP KARAKTERISTIK KERUPUK Aslami, Halim; Harris, Helmi; Widayatsih, Tri
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 9, No 1 (2014): JURNAL ILMU - ILMU PERIKANAN DAN BUDIDAYA VOL. 9 NO.1 DESEMBER 2014
Publisher : Faculty Fisheries Departement Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kerupuk merupakan jenis makanan yang digemari oleh kalangan usia. Permasalahan rendahnya kandungan protein dan kalsium kerupuk diduga  dapat diatasi  dengan penambahan  atau  substitusi  bahan  dasar  tepung  tapioka  dengan  bahan  tepung  lain  yang kaya  protein dan kalsium. Diduga Keong Tutut (Bellamnya javanica) yang kaya protein dan kalsium dapat diolah menjadi tepung dan diaplikasikan pada pengolahan produk kerupuk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik meliputi : rendemen, daya kembang, dan warna kerupuk yang difortifikasi dengan tepung Keong Tutut (Bellamnya javanica), mengetahui nilai mutu kimia Keong Tutut (Bellamnya javanica) yang meliputi : kadar air, kadar abu, kadar protein, kadar lemak dan kadar karbohidrat, mengetahui kalsium pada Keong Tutut (Bellamnya javanica) dan mengetahui nilai mutu organoleptik pada Keong Tutut (Bellamnya javanica) yang meliputi :  penampakan, warna, aroma, tekstur dan rasa. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Februari - Maret 2014 di Workshop Teknologi Pengolahan Hasil Perikanan (WSTPHP) Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang dan di Laboratorium Kimia Hasil Pertanian Jurusan Teknologi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya Indralaya. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan taraf 5 (lima) perlakuan, masing-masing perlakuan dilakukan 3 (tiga) kali ulangan.  Perlakuan pada penelitian ini berupa penambahan Keong Tutut (Bellamnya javanica) pada pengolahan kerupuk dengan berbagai konsentrasi (B/B) yaitu : 0 %, 5 %, 10 %, 15 %, 20 %, (dari berat tepung tapioka). Hasil penelitian karakteristik kerupuk yang difortifikasi dengan konsentrasi penambahan tepung Keong Tutut (Bellamnya javanica) yang berbeda. Dapat diperoleh bahwa A2 (5 % tepung Keong Tutut) lebih baik dibandingkan dengan A1 (0 % Tepung Keong Tutut), A3 (10 % tepung Keong Tutut), A4 (15 % tepung Keong Tutut) dan A5 (20 % tepung Keong Tutut ).
PRODUKSI DAN KANDUNGAN NUTRISI MAGGOT (Chrysomya Megacephala) MENGGUNAKAN KOMPOSISI MEDIA KULTUR BERBEDA Azir, Akhmad; Harris, Helmi; Kusuma Haris, Rangga Bayu
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 12, No 1 (2017)
Publisher : Faculty Fisheries Departement Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.824 KB)

Abstract

Abstrak Tujuan dari penelitian ini yaitu : 1. Mengetahui  jumlah  produksi  maggot  dari perlakuan  limbah  ikan dengan komposisi media kultur yang berbeda. 2. Mengetahui nilai nutrisi yang terkandung dalam maggot. Penelitian ini telah pada bulan November sampai bulan  Desember 2015 di kampus  C Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang, Kecamatan Sematang Borang Palembang. Dari hasil  identifikasi  siklus  pertumbuhan  maggot,  maggot  akan melalui  tahapan  pertumbuhan  yang dimulai dari telur (24 jam), maggot instar 1 (18 jam), maggot instar 2 (3 hari), maggot instar 3 (3 hari), pupa (7 hari) dan lalat deawasa. Dari tahapan tahapan-tahapan siklus pertumbuhan maggot yang dimulai dari telur sampai menjadi lalat dewasa membutuhkan waktu 14 hari 18 jam. Produksi maggot tertinggi terjadi pada perlakuan D (limbah ikan 3 kg + ampas kelapa 3 kg)  dimana maggot yang  dihasilkan  mencapai  1.149,88  gram.  Biaya  produksi  pada  perlakuan  D  sebesar  Rp.72/gr dengan  rendemen sebesar 8,2347%.Untuk  produksi berat maggot terendah terjadi pada perlakuan A (limbah ikan 6 kg), maggot  yang dihasilkan hanya 494,08 gram dengan biaya produksi Rp. 72/gr  dan rendemen sebesar  8,2347%.  Kandungan  nutrisi  kandungan  protein  maggot  tertinggi diperoleh pada perlakuan C. Pada perlakuan C kandungan protein yang terkandung pada maggot sebesar 41,22% dan protein terendah terjadi pada perlakuan A dimana   protein yang terkandung sebesar 25,22%.  Kata Kunci  : Maggot, Produksi, Kandungan Nutrisi.
ANALISIS PENGARUH SUHU PENGERINGAN TERHADAP MUTU ORGANOLEPTIK PUNDANG SELUANG Harris, Helmi; Agustiawan, Aan
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 13, No 2 (2018): Jurnal Ilmu - Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : Faculty of Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

his study aims to determine the effect of drying temperature using electric ovens and sunlight on organoleptic quality of Pundang Seluang. This study used a Randomized Block Design (RBD) with 4 (four) levels of treatment, each treatment performed 3 (three) replications. The treatment in this study is the use of 4 (four) temperature variations, namely: T0 (Sun drying as a Control, T1 (Drying using an electric oven temperature of 40 0C), T2 (Drying using an electric oven at 45 0C), T3 (Drying using an oven electric temperature 50 0C) The parameters observed included organoleptic quality analysis The results showed that drying using sunlight with an average temperature of 42 0C requires a drying time of 14 hours, with yield 22.00 %, organoleptic value 7.88 Electric oven drying, the best treatment is drying with a temperature of 45 0C (T2) Quality characteristics of the treatment T2 Drying using an electric oven temperature of 45 0C with organoleptic value 7.90, yield 22.33 %, drying time 14.09 hours. Drying uses sunlight to produce a lawn with a brighter and less brittle appearance Keywords: Organoleptic Quality, Drying, Pundang Seluang, and Temperature Variation
TINGKAT SERANGAN EKTOPARASIT PADA IKAN PATIN (Pangasius hypopthalmus) YANG DIBUDIDAYAKAN DALAM KERAMBA JARING APUNG DI SUNGAI MUSI PALEMBANG Yuli, Saefudin; Harris, Helmi; yusanti, Indah Anggraini
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 12, No 2 (2017)
Publisher : Faculty of Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (330.522 KB)

Abstract

Abstrak Penyakit ikan merupakan masalah serius yang dihadapi dalam pengembangan usaha budidaya perikanan. Salah satu jenis penyakit yang menyerang yaitu parasit. Parasit dapat didefinisikan sebagai organisme yang hidup pada organisme lain yang disebut inang dan mendapat keuntungan dari inang yang ditempatinya hidup, sedangkan inang menderita kerugian. Penelitian tentang tingkat serangan ektoparasit pada pada ikan Patin Siam (Pangasius hypopthalmus) yang dibudidayakan dalam keramba jaring apung di Sungai Musi Palembang, telah dilaksanakan pada bulan Agustus 2017 - September 2017. Bertempat di keramba jaring apung Sungai Musi Palembang, sedangkan untuk pengamatan ektoparasit dilakukan di Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM)  Kelas II Palembang. Tujuan penelitian mengidentifikasi jenis ektoparasit, menentukan nilai prevalensi dan nilai intensitas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu bersifat survei lapangan dan penentuan stasiun dilakukan secara purposive random sampling sebanyak 3 stasiun yaitu Kelurahan Pulokerto, Kelurahan Karang Anyar dan Kelurahan Bagus Sekuning. Hasil pengamatan selama penelitian mengenai tingkat serangan ektoparasit pada ikan Patin Siam (Pangasius hypopthalmus) yang dibudidayakan pada setiap stasiun keramba jaring apung (KJA) Sungai Musi Palembang hanya ditemukan satu jenis ektoparasit yaitu Dactylogyrus sp. Nilai prevalensi parasit pada ikan Patin Siam (Pangasius hypopthalmus) yang dibudidayakan di stasiun I  Pulokerto adalah 90 % , stasiun II Karang Anyar adalah 90 % dan stasiun III Bagus Sekuning adalah 100 %.  Sedangkan nilai intensitas serangan parasit pada masing-masing lokasi adalah stasiun I Pulokerto 11,3 ind/ekor, stasiun I Karang Anyar 11,77 ind/ekor dan stasiun I Bagus Sekuning 16,8 ind/ekor. Kata kunci : Ektoparasit, Ikan Patin Siam, Keramba Jaring Apung, Sungai Musi
KOMBINASI PAKAN KOMERSIL DENGAN CACING DARAH (Chironomus sp) TERHADAP PERTUMBUHAN, DAN KELANGSUNGAN HIDUP IKAN MAS KOKI (Carrassius auratus) Suhendri, Herman; Harris, Helmi; Laksmi Utpalasari, Rih
Jurnal Ilmu-Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan Vol 13, No 1 (2018): Jurnal Ilmu - Ilmu Perikanan dan Budidaya Perairan
Publisher : Faculty of Fisheries

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.72 KB)

Abstract

Penelitian telah dilaksanakan pada bulan Mei 2017 sampai dengan Juni 2017 di Kampus C Fakultas Perikanan Universitas PGRI Palembang, Kecamatan Sematang Borang Palembang. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui mengetahui pertambahan pertumbuhan dan kelangsungan hidup Ikan Mas Koki. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yang masing masing perlakuan dilakukan 3 kali ulangan. P0 : Tanpa Cacing Darah (kontrol), P1 : Pemberian tepung Cacing Darah 25%  pada pakan pellet 75%, P2 : Pemberian tepung Cacing Darah 50%  pada pakan pellet 50%, dan P3 : Pemberian tepung Cacing Darah 75%  pada pakan pellet 25%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertambahan berat Ikan Mas Koki (Carrassius auratus) tertinggi terletak pada perlakuan P2 yaitu pemberian tepung Cacing Darah 50% pada pakan pellet 50% dengan rata-rata pertambahan berat sebesar 0.694 gram, sedangkan pertambahan panjang Ikan Mas Koki (Carrassius auratus) tertinggi terletak pada perlakuan P3 yaitu pemberian tepung Cacing Darah 75% pada pakan pellet 25% dengan rata-rata pertambahan panjang sebesar 0.96 cm. Kelangsungan hidup Ikan Mas Koki (Carrassius auratus) tertinggi terletak pada perlakuan P3 yaitu pemberian tepung Cacing Darah 75% pada pakan pellet 25% dengan rata-rata persentase sebesar 83,33%. Kata Kunci  :   Cacing Darah (Chironomus sp), Pertumbuhan, dan Kelangsungan Hidup.