Claim Missing Document
Check
Articles

Found 16 Documents
Search

Inventories of Methane Emission for Enteric and Decomposition Gasses from Cattle Manure and Its Mitigation Strategies Dodi Devitriano; Hutwan Syarifuddin; Jalius Jalius; Yudha Gusti Wibowo
Jurnal Presipitasi : Media Komunikasi dan Pengembangan Teknik Lingkungan Vol 20, No 1 (2023): March 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/presipitasi.v20i1.196-207

Abstract

Livestock is a significant contributor to global methane (CH4) emissions, accounting for 18% to 51% of total emissions worldwide. The purpose of this study is to estimate the CH4 emissions from livestock in Jambi Province, using the Tier-1 method recommended by the Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC). The results show that CH4 emissions range from 7,464,728 to 7,833,349 tons per year, with feces management contributing 160,261 to 166,667 tons per year, and buffalo enteric emissions contributing 2,511,135 to 2,616,185 tons per year. These findings highlight the significant impact of the livestock sector in Jambi Province on global warming. Moreover, this study presents a brief overview of mitigation strategies that can be implemented to reduce CH4 emissions from the livestock sector.
Analisis Pengelolaan Perhutanan Sosial di Sarolangun Provinsi Jambi Doni Satria; Hutwan Syarifuddin; Marwoto
Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol. 6 No. 1 (2023): Jurnal Pembangunan Berkelanjutan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kegiatan pengelolaan hutan terdiri dari perencanaan, perlindungan, pemanfaatan dan Evaluasi. Perhutanan sosial merupakan program Pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengelolaan dan pemanfaatan hutan. Rumusan dalam penelitian ini adalah mengalalisis kegiatan pengelolaan hutan oleh masyarakat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat partisipasi masyarakat pada kegiatan pengelolaan hutan. Penelitian ini dengan bentuk deskripti kwantitatif teknik sampling secara purposive sejumlah 83 sampel responden. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kegiatan pemanfaatan hutan memiliki partisipasi yang paling tinggi dan kegiatan evaluasi menunjukkan partisipasi yang paling rendah. Tingkat partisipasi masyarakat diperoleh dengan kategori sangat tinggi 22 %, tinggi, 26%, cukup 19%, rendah 14% dan sangat rendah 2%.
Strategi Pengelolaan Sampah di Tempat Pemrosesan Akhir Sampah Langling Kabupaten Merangin dengan SWOT Dhea Ussarvi; Hutwan Syarifuddin; Damris M
Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol. 6 No. 1 (2023): Jurnal Pembangunan Berkelanjutan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpb.v6i1.27969

Abstract

Penelitian in bertujuan untuk mengetahui strategi pengelolaan sampah di TPA Langling Kabupaten Merangin, yang dikelola oleh UPTD TPA Langling pada Instansi Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Merangin. Dalam penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan menggunakan pendekatan kuantitatif dan kualitatif. informan yang terlibat adalah Sekretaris Daerah Kabupaten Merangin, Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Merangin, KepalaBidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3 (PSLB3) Instansi DLH Kabupaten Merangin, Kepala UPTD TPA Sampah Langling, kepala UPTD Balai Benih Tanaman Perkebunan, Kepala Bidang Pembinaan dan Pengembangan Energi Instansi ESDM Provinsi Jambi, Sekretaris Camat di Kecamatan Bangko, Kepala Desa Langling dan warga sekitar yang dijadikan sebagai informan penelitian. Wawancara dan dokumentasi digunakan dalam perolehan data dan informasi. Dengan mempertimbangkan semua karakteristik internal dan eksternal yaitu kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman, maka teknik analisis data menggunakan analisis SWOT. Berdasarkan hasil analisis SWOT, TPA Langling berada pada kuadran pertama (positif, positif) posisi ini menunjukkan kekuatan dan peluang memliliki nilai positif dan positif artinya TPA dalam pengelolaannya menghadapi peluang sangat besar, untuk itu digunakan kekuatan semaksimal mungkin dalam meraih peluang. Sehingga saran strategi pada posisi ini adalah strategi agresif,
Faktor – faktor Pendorong Keberlanjutan Habitat Gajah Sumatera (Elephas Maximus Sumatranus) di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh Provinsi Jambi rendi Nofiandi; Hutwan Syarifuddin; Hamzah
Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol. 6 No. 1 (2023): Jurnal Pembangunan Berkelanjutan
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jpb.v6i1.27977

Abstract

Indonesia. Terdapat sekitar 140 ekor populasi gajah yang hidup di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis atributatribut sensitif terhadap status Status Keberlanjutan Habitat Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus) di Bentang Alam Bukit Tiga Puluh. Penelitian ini menggunakan responden sebanyak 32responden dengan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan data. Analisis dilakukan dengan atribut/indikator yang telah diidentifikasi kemudian diberi rentang skor antara 0-2 menyesuaikan dengan kriteria-kriteria yang ada. Rentang skor paling rendah/buruk adalah 0 dan paling sesuai/baik adalah 2. Hasil penelitian menunjukan bahwa Atribut pengungkit dimensi ekologi diantaranya adalah 1) tekanan terhadap habitat Gajah, 2) areal bernilai konservasi tinggi, 3) kesesuaian peruntukan habitat Gajah dan 3) Daya dukung habitat Gajah. Atribut pengungkit dimensi ekonomi diantaranya adalah 1) Pembatasan masuk ke habitat gajah dan 2) Penyerapan tenaga kerja. Atribut pengungkit dimensi sosial diantaranya adalah 1) Konflik Tenurial dan 2) Resistensi terhadap kebijakan pemerintah terkait konflik gajah Atribut pengungkit dimensi kelembagaan diantaranya adalah 1) Ketersediaan peraturan pengelolaan, 2) Penyuluhan peraturan terkait aturan pengelolaan habitat gajah, 3) Mitra Konservasi, 4) Penegakan hukum, 5) Keterlibatan masyarakat dan 6) Koordinasi antar Lembaga pengelolaan satwa dan habitat gajah.
Pengetahuan dan Persepsi Masyarakat Terhadap Konflik Gajah Sumatera di Desa Lubuk Mandarsah: (Knowledge and Public Perception of Sumatran Elephant Conflict in Lubuk Mandarsah Village) Ginda Bahari; Hutwan Syarifuddin; Hamzah Hamzah
BIODIK Vol. 8 No. 1 (2022): March 2022
Publisher : Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/bio.v8i1.16028

Abstract

The condition of the Bukit Tigapuluh National Park, which is directly adjacent to agricultural land and residential areas of the Lubuk Mandarsah Village community as well as the existence of a concession permit causes a high potential for conflict between Sumatran elephants and the community. The decline in biodiversity due to overexploitation of natural resources, the conversion of company land around the Bukit Tigapuluh National Park has a negative impact on the conservation of Sumatran elephants and the survival of the people living around the buffer area of ​​the Bukit Tigapuluh National Park. With this problem, it will certainly cause conflict between humans and Sumatran elephants. The purpose of this study was to determine the knowledge and perceptions of the community towards conflicts with Sumatran elephants. This research is research using mixed method or mix method, which combines qualitative and quantitative methods. Based on this research, it was found that the level of community knowledge in the hamlet of Lubuk Mandarsah Village regarding Sumatran Elephants was classified as high (39-48) with a percentage of 82% and the perception of people in Lubuk Mandarsah Village regarding Sumatran elephants was classified as bad with a percentage of 78%. Key words: knowledge, perception, public, Sumatran Elephant   Abstrak. Kondisi Taman Nasionnal Bukit Tigapuluh yang berbatasan langsung dengan lahan pertanian dan pemukiman masyarakat Desa Lubuk Mandarsah  serta adanya perizinan konsesi menyebabkan tingginya potensi konflik gajah sumatera dengan masyarakat. Penurunan keanekaragaman hayati akibat eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan, konversi lahan perusahaan sekitar Taman Nasional Bukit Tigapuluh menimbulkan dampak negatif terhadap konservasi gajah sumatera dan keberlangsungan hidup masyarakat yang hidup disekitar daerah penyangga Taman Nasional Bukit Tigapuluh. Dengan adanya permaslaahan ini tentu akan menimbulkan konflik antara manusia dan gajah sumatera. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui pengetahuan dan persepsi dari masyarakat terhadap konflik dengan gajah sumatera. Penelitian ini merupakan penelitian menggunakan metode campuran atan mix method dimana mengkombinasikan metode Kualitatif dan kuantitatif. Berdasarkan penelitian ini dihasilkan bahwa Tingkat Pengetahuan Masyarakat di dusun Desa Lubuk Mandarsah terkait Gajah Sumatera sudah tergolong Tinggi (39-48) dengan persentase sebesar 82 % dan persepsi masyarakat di Desa Lubuk Mandarsah terkait gajah sumatera masik tergolong tidak baik dengan persentase 78%.  Kata kunci: Pengetahuan, Persepsi, Masyarakat, Gajah Sumatera
PENGELOLAAN SAMPAH DI TPS3R PANDAN BERSIH DESA PUDAK KECAMATAN KUMPEH Hutwan Syarifuddin; Hamzah Hamzah; Jalius Jalius; Afreni Hamidah; Dodi Devitriano; A. Yani
GANESHA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Tunas Pembangunan Surakarta (UTP)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/ganesha.v4i2.3399

Abstract

Program penanganan sampah merupakan salah satu upaya untuk menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi pencemaran. Kegiatan pelatihan pengelolaan sampah dan budidaya maggot melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PPM) bertujuan untuk menambah pengetahuan, wawasan, dan kepedulian terhadap lingkungan dan kewirausahaan desa melalui Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Pandan Bersih. Kegiatan Pengabdian Masyarakat memberikan keterampilan kepada KSM dan masyarakat sekitar untuk mengolah sampah (organik dan anorganik) dan budidaya maggot, sehingga meningkatkan nilai jual dan produk ramah lingkungan. Berdasarkan hasil evaluasi yang dilakukan terhadap peserta pelatihan, kegiatan ini sangat dibutuhkan terutama dalam menjaga kebersihan lingkungan dan mengurangi bau busuk dari sampah. Peserta merasa bahwa selama ini pengetahuan mereka masih sangat terbatas. Ke depan, diharapkan program-program lain dalam pengolahan sampah anorganik, seperti plastik menjadi eco bricks, paving block dan bahan bakar, serta crafts yang ramah lingkungan.