Ganung Harsono
Divisi Alergi-Imunologi, Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia / RSU Cipto Mangunkusumo Jakarta

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

FAKTOR YANG DIDUGA MENJADI RESIKO PADA ANAK DENGAN RINITIS ALERGI DI RSU DR. CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA Harsono, Ganung; Munasir, Zakiudin; Siregar, Sjawitri P; Suyoko, HEM Dadi; Kumiati, Mia; Evalina, Rita; Palupi, Ratih D
Jurnal Kedokteran Brawijaya Vol 23, No 3 (2007)
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (114.548 KB) | DOI: 10.21776/ub.jkb.2007.023.03.2

Abstract

This researach was aimed to describe the risk factor profile of pediatric patients with allergic rhinitis. 1792 medical recordsof outpatients pediatric allergy immunology clinic in Cipto Mangunkusumo Hospital from 1997 to 2005. Fifty patients were diagnosed with allergic rhinitis and 22% of them  were having allergic rhinitis with bronchial asthma.Allergic rhinitis were identified higher in boys (62%) than girls (38%) and ranged from 5 months to 13 years and 8 months old. Atopic history were identified in 24 patients (48) while atopic history in patient family were identified in mother (42%), father (40%), and siblings (24%). Total IgE serum increased in 35 patients (88,57%) while total eosinophil serum increased in 28 patients (80%). The most common aeroallergen by skin prick test was house dust mite (36%) and the most common food allergen was shrimp (40%). There were several factors that contribute to the development of allergic rhinitis such as age, sex, family atopic history and increasing in total IgE serum and total eosinophil serum . House dust mite and shrimp were the most common allergen identified in allergic rhinitis. Keywords: allergic rhinitis, risk factors, pediatric
Analisis Hubungan Eosinopenia Terhadap Derajat Keparahan Infeksi COVID-19: Studi Cross-Sectional di Rumah Sakit Umum Daerah Moewardi Surakarta Kesit, Johan Wijaya; Harsono, Ganung; Moelyo, Annang Giri
Sari Pediatri Vol 26, No 2 (2024)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.2.2024.102-8

Abstract

Latar belakang. Luaran klinis infeksi COVID-19 pada anak baik tetapi angka kematian COVID-19 masih tinggi. Identifikasi derajat keparahan sedini mungkin dapat memberikan luaran klinis yang baik. Beberapa penanda inflamasi pada kasus COVID-19 salah satunya didapatkan eosinopenia. Tetapi hingga saat ini belum ada penelitian tentang hubungan antara eosinopenia terhadap derajat keparahan infeksi COVID-19 pada anak.Tujuan. Menganalisis hubungan eosinopenia terhadap derajat keparahan infeksi COVID-19 pada anak. Metode. Studi cross sectional observasional analitik, data sekunder retrospektif, diambil dari rekam medis pasien usia 0-<18 tahun terkonfirmasi COVID-19 derajat ringan, sedang, berat dan kritis, yang dirawat diruang isolasi RSUD Dr. Moewardi Jawa Tengah sejak 1 Januari 2022 – 31 Desember 2022 didapatkan 268 subyek penelitian. Analisis statistik SPSS 22 dengan Uji Chi square dan nilai p<0,05 signifikan.Hasil. Dari 268 subyek, kelompok eosinopenia 168 (62,6%) anak dan non eosinopenia 100 (37,4%) anak. Kasus severe (derajat berat dan kritis) 160 (95,2%) anak dan kasus non severe (derajat ringan dan sedang) 8 (4,7%) anak pada kelompok eosinopenia. Ada korelasi bermakna antara eosinopenia terhadap derajat keparahan infeksi COVID-19 kasus severe (p<0,001) dengan nilai duga positif (NDP) 95,2% dan nilai duga negatif (NDN) 87%.Kesimpulan. Eosinopenia dapat memprediksi derajat keparahan infeksi COVID-19 pada anak.
Korelasi antara Penyakit Alergi dengan Kesehatan Mental pada Remaja: Sebuah Studi Observasional di Surakarta Lestari, Dewi Kurnia; Harsono, Ganung; Martuti, Sri
Sari Pediatri Vol 26, No 6 (2025)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp26.6.2025.358-63

Abstract

Latar belakang. Penyakit alergi (atopi) merupakan kondisi hipersensitivitas IgE-mediated yang berkorelasi dengan peningkatan risiko gangguan kesehatan mental pada anak. Studi ini bertujuan menganalisis hubungan antara penyakit alergi dengan gangguan kesehatan mental pada remaja.Tujuan. Menilai korelasi penyakit alergi terhadap gangguan kesehatan mental pada remaja usia 13-18 tahun.Metode. Studi observasional potong lintang dengan consecutive sampling pada 52 siswa SMP Muhammadiyah 4 Surakarta. Diagnosis alergi dinilai menggunakan kuesioner ISAAC Score, sedangkan gangguan kesehatan mental dievaluasi dengan Strengths and Difficulties Questionnaire (SDQ). Analisis statistik menggunakan regresi logistik multivariat.Hasil. Penyakit alergi meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental secara signifikan (OR=26,25; IK95%=4,88-141,20; p<0,001). Durasi tidur <8 jam merupakan faktor dominan (OR=54; IK95%=2,80-1041; p=0,008). Variabel lain seperti pendapatan orang tua <UMR (p=0,028) dan status pernikahan orang tua bercerai (p=0,002) juga menunjukkan asosiasi bermakna.Kesimpulan. Penyakit alergi merupakan prediktor kuat gangguan kesehatan mental pada remaja. Intervensi holistik yang mencakup manajemen alergi, optimasi durasi tidur, dan dukungan psikososial diperlukan untuk memitigasi risiko tersebut.
Hubungan Kepatuhan Minum Obat dengan Aktivitas Penyakit Systemic Lupus Erythematosus pada Anak: Studi Potong Lintang Shanti, Anita Dwi; Harsono, Ganung; Nugroho, Hari Wahyu
Sari Pediatri Vol 27, No 6 (2026)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp27.6.2026.377-82

Abstract

Latar belakang. Systemic Lupus Erythematosus (SLE) pada anak merupakan penyakit autoimun kronis yang memerlukan terapi jangka panjang. Kepatuhan minum obat mejadi faktor kunci dalam mengontrol aktivitas penyakitTujuan. Menganalisis hubungan antara kepatuhan minum obat dengan derajat aktivitas SLE pada anakMetode. Penelitian potong lintang dilakukan pada 30 anak berusia 5-18 tahun dengan diagnosis SLE di poliklinik anak Rumah Sakit Dr. Moewardi pada bulan Juli-November 2024. Analisis menggunakan SPSS 25. Nilai p<0,05 dianggap signifikan secara statistik.Hasil. Sebagian besar pasien adalah perempuan (93,3%) dengan usia median 15 tahun. Skor median MMAS adalah 6 (kepatuhan sedang), dan skor median SLEDAI adalah 3 (aktivitas penyakit rendah). Analisis bivariat menunjukkan hubungan negatif yang signifikan antara kepatuhan minum obat dengan aktivitas penyakit (r=- 0.706; p<0,001). Analisis multivariat mengonfirnasi setiap peningkatan skor MMAS sebesar 1 poin mengurangi skor SLEDAI rata-rata sebesar 0.681 (p<0,001). Indeks Massa Tubuh (IMT) menunjukkan korelasi positif signifikan dalam analisis bivariat (r=0,454; p=0,012), tetapi tidak signifikan dalam analisis multivariat (p=0,087) Kesimpulan. Kepatuhan minum obat memiliki hubungan negatif yang kuat dengan derajat aktivitas SLE pada anak. Intervensi untuk meningkatkan kepatuhan minum obat dapat menjadi strategi penting dalam mengontrol aktivitas penyakit SLE pada anak.