Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam di Indonesia Oktiya Hayyu Liyandani; Nur Kolis
EDUKASIA: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 2 No. 2 (2021): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (503.768 KB) | DOI: 10.62775/edukasia.v2i2.44

Abstract

Abstract: Islamic Religious Education in Indonesia has developed since the Dutch colonial era. At that time Islamic education was carried out halaqah between “kyai” and “santri”. In the land of Islamic education institutions are called “pawiyatan”, which contains ki ajar and cantrik. All religious lessons are derived from the study of the yellow book. In the current era of Islamic Religious Education has been recognized as a sub-part of national education, but in public schools Islamic religious education every week is only given 2 hours of lessons, so religious education especially about ethics and morals does not have much effect on the formation of the religious character of students. This research uses a library research approach with data retrieval through investigation of books, literature, notes, and reports related to research problems to be solved. Therefore, this research is only limited to the discussion of Islamic Education Policy in Indonesia. Abstrak: Pendidikan Keagamaan Islam di Indonesia telah berkembang sejak masa kolonial Belanda. Pada masa tersebut pendidikan islam dilaksanakan secara halaqoh antara kyai dan santri. Ditanah jawa lembaga pendidikan islam disebut dengan pawiyatan, yang didalamnya terdapat ki ajar dan cantrik. Semua pelajaran agama bersumber dari kajian kitab kuning. Pada era sekarang Pendidikan Keagamaan Islam telah diakui menjadi sub bagian dari pendidikan nasional, namun di sekolah negeri pendidikan agama Islam setiap minggunya hanya diberikan 2 jam pelajaran, sehingga pendidikan agama terutama tentang etika dan akhlak tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan karakter religius siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan library research dengan pengambilan data melalui penyelidikan terhadap buku, literatur, catatan maupun laporan yang berhubungan dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan. Oleh karena itu, penelitian ini hanya dibatasi pada pembahasan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia.
Kebijakan Pendidikan Keagamaan Islam di Indonesia Oktiya Hayyu Liyandani; Nur Kolis
EDUKASIA Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran Vol. 2 No. 2 (2021): Edukasia: Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran
Publisher : LP. Ma'arif Janggan Magetan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62775/edukasia.v2i2.44

Abstract

Abstract: Islamic Religious Education in Indonesia has developed since the Dutch colonial era. At that time Islamic education was carried out halaqah between “kyai” and “santri”. In the land of Islamic education institutions are called “pawiyatan”, which contains ki ajar and cantrik. All religious lessons are derived from the study of the yellow book. In the current era of Islamic Religious Education has been recognized as a sub-part of national education, but in public schools Islamic religious education every week is only given 2 hours of lessons, so religious education especially about ethics and morals does not have much effect on the formation of the religious character of students. This research uses a library research approach with data retrieval through investigation of books, literature, notes, and reports related to research problems to be solved. Therefore, this research is only limited to the discussion of Islamic Education Policy in Indonesia. Abstrak: Pendidikan Keagamaan Islam di Indonesia telah berkembang sejak masa kolonial Belanda. Pada masa tersebut pendidikan islam dilaksanakan secara halaqoh antara kyai dan santri. Ditanah jawa lembaga pendidikan islam disebut dengan pawiyatan, yang didalamnya terdapat ki ajar dan cantrik. Semua pelajaran agama bersumber dari kajian kitab kuning. Pada era sekarang Pendidikan Keagamaan Islam telah diakui menjadi sub bagian dari pendidikan nasional, namun di sekolah negeri pendidikan agama Islam setiap minggunya hanya diberikan 2 jam pelajaran, sehingga pendidikan agama terutama tentang etika dan akhlak tidak terlalu berpengaruh terhadap pembentukan karakter religius siswa. Penelitian ini menggunakan pendekatan library research dengan pengambilan data melalui penyelidikan terhadap buku, literatur, catatan maupun laporan yang berhubungan dengan masalah penelitian yang akan dipecahkan. Oleh karena itu, penelitian ini hanya dibatasi pada pembahasan kebijakan pendidikan Islam di Indonesia.
Kepemimpinan Pembelajaran Guru Penggerak Dalam Program Merdeka Belajar Binti Masruroh; Nur Kolis
Excelencia: Journal of Islamic Education & Management Vol. 4 No. 01 (2024): Excelencia: Journal of Islamic Education & Management
Publisher : Pascasarjana IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/excelencia.v4i01.3030

Abstract

The Ministry of Education's policy of Merdeka Belajar Guru Penggerak as a manifestation of the government's efforts to improve the quality of learning which is oriented towards improving the process and learning outcomes of students, so the strategic step taken is to provide education and training for teachers in the form of professional development through training and mentoring that focuses on learning leadership in the transformation of the educational ecosystem to realize the profile of Pancasila students. The initial condition of understanding of teachers in Garuda Kindergarten and Tunas Bangsa PKK Kindergarten does not understand the meaning and competence of learning leaders which is the focus of training and mentoring organized by the Ministry of Education and teachers do not fully understand the meaning of independent learning and the use of the environment and so far training for teachers has been centralized on the role of supervisors so that the meaning of independent learning is still very limited. The objectives of this study are: 1) to find out the characteristics of the learning leadership of the driving teacher in the independent learning program, 2) to find out the competence of the driving teacher and 3) to see the impact of the driving teacher's learning leadership for Garuda Kindergarten and PKK Tunas Bangsa Kindergarten. The method used in this research is a qualitative method with a multisite study research type. Data collection was done through interviews, observation, and documentation. While data analysis techniques through data collection, data condensation, data presentation, and conclusion making. The results of the study show: 1) The learning leadership of the lead teacher in Garuda Kindergarten and Tunas Bangsa PKK Kindergarten has the ability to set goals, utilize strategic resources, be able to assist in planning and evaluating teaching, promote the education unit and participate in learning and teacher development and ensure an environment that supports teacher development, 2) the lead teacher in Garuda Kindergarten and Tunas Bangsa PKK Kindergarten mastered the core competencies of the lead teacher program direction, namely developing self and others, leading learning, leading school management, and leading school development, 3) the learning leadership of the lead teacher in Garuda Kindergarten and Tunas Bangsa PKK Kindergarten has a good impact on the implementation of the independent learning independent play curriculum in accordance with the objectives of early childhood education.
Kompetensi Manajerial Kepala Madrasah dalam Gerakan Literasi di MA Ma’arif Nahdlatul Ummah Arif Zein Rifai; Nur Kolis
Excelencia: Journal of Islamic Education & Management Vol. 5 No. 1 (2025): Excelencia: Journal of Islamic Education & Management
Publisher : Pascasarjana IAIN Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/excelencia.v5i01.3172

Abstract

Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kompetensi manajerial kepala madrasah dalam gerakaan literasi sekolah, penerapan kompetensi manajerial dalam pengelolaan gerakan literasi dan dampak dari kompetensi kepala madrasah terhadap pengelolaan gerakan literasi. Penelitian ini dilakukan di MA Ma’arif Nahdlatul Ummah Ponorogo dengan menggunakan pendekatan kualitatif melalui wawancara, observasi dan dokumentasi. Kemudian Analisis data dalam menggunakan triagulasi data yang dimulai dari reduksi data, data display (penyajian data dalam bentuk uraian sinkat) dan penarikan kesimpulan. Hasil dari penelitian ini yaitu 4 kompetensi manajerial yang dimiliki kepala madrasah dalam tahap persiapan, pelaksanaa, pemantauan atau evaluasi dan tindak lanjut berdasarkan kompetensi manajerial kepala madrasah menurut Permendiknas No. 13 Tahun 2007. Dalam penerapan kompetensi manajerial kepala madrasah dalam pengelolaan gerakan literasi terdapat pengeloaan persiapan melalui rapat koodinasi, pembentukan tim literasi, penyediaan sarana dan prasarana dan sosialiasi, pengelolaan pelaksanaan terdapat kegiatan pembiasaan, pengembangan dan pembelajaran, pengelolaan pemantauan dan evaluasi dilakukan oleh kepala madrasah, tim litersi dan guru, pengelolaan tindak lanjut adanya laporan terhadap wali siswa, sanksi dan apresiasi. Dampak dari kompetensi manajerial dalam pengelolaan gerakan literasi yakni peningkatan motivasi membaca dan prestasi siswa serta tim literasi progam kerjanya lebih terencana, terarah, terkelola dan terpantau.
IMPLEMENTATION OF LIFELONG LEARNING COMPETENCIES THROUGH LITERACY PROGRAM IN THE SCHOOL LIBRARY MA SULAMUL HUDA MLARAK PONOROGO Nur kolis; Idris Akbar Pramono
PROCEEDING UMSURABAYA 2023: Prosiding Conference of Elementary Studies (CES) 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Lifelong learning can be developed through literacy programs in school libraries. This study aims to determine the implementation of lifelong learning competencies through literacy programs in the school library. The research method uses a qualitative approach through descriptive research methods to librarians, four teachers, and 25 students at MA Sulamul Huda Mlarak Ponorogo, East Java. Through observation, data collection techniques were carried out using a checklist form for the dimensions of lifelong learning, semi-structured and in-depth interviews, and literature studies. Data analysis technique is data reduction using open coding, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that librarians organize literacy programs that support the School Literacy Movement. In practice, librarians act as initiators; teachers become facilitators and librarian partners in developing literacy programs in schools. Literacy programs have a positive impact on students, including building character, increasing knowledge, developing special talents related to communication and writing, adding experience, building positive relationships between librarians and students, and intellectual recreation. Communication competence in a foreign language is one of the lifelong learning competencies that is not accommodated by the school library program. The obstacle to the literacy program is managing study time and the role of parents and family at home. This study concludes that school library literacy programs have supported increased implementation of lifelong learning competencies for students in several dimensions. Keywords: Literacy program; Lifelong learning; School library; School literacy movement; Librarian.
WAHDAT AL-ADYAN: MODERASI SUFISTIK ATAS PLURALITAS AGAMA Nur Kolis
Tajdid: Jurnal Pemikiran Keislaman dan Kemanusiaan Vol. 1 No. 2 (2017): Oktober
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v1i2.42

Abstract

Perkembangan hubungan antara umat beragama ccenderung kehilangan spirit kemanusiaannya yang universal, berganti dengan semangat kelompok dan individu. Isu agama diangkat untuk keepentingan individu, kelompok, dan kekuasaan. Gagasan tentang pembelaan terhadap Tuhan telah menjadi gagasan yang utopis. Iman kemudian tertuju pada institusi agama, bukan kepada Tuhan. Akhirnya penganut ajaran agama lain dianggap bukan peenyembah Tuhan. Secara bertubi-tubi sikap keagamaan tersebut memicu terjadinya peperangan atas nama agama. Berbagai langkah solutif telah coba diwacanakan. Dikalangan pemikir Islam sufistik, jauh sebelum muncul wacana pluralisme agama, terdapat satu gagasan tentang wa?dat al-adyân atau “kesatuan agama-agama”. Pemikir sufistik wa?dat al-adyân menawarkan satu gagasan moderat yang humanis, dan universal dalam konteks relasi agama-agama, mengandung pesan moral yang terkait secara langsung dengan masalah harmoni kehidupan sosial keagamaan. Universalitas konsep wa?dat al-adyân terdapat pada aspek ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Konsep wa?dat al-adyân dalam tasawuf dipopulerkan oleh dua tokoh sufi ternama, yaitu Husin Mansur al-?allâj (w. 922 M) dan Muhyi al-Din Ibn ‘Arabi wahdat al-wujûd (w. 1240 M). Al-?allâj menggandengkan konsep wa?dat al-adyân dengan hulûl, sedangkan Ibn ‘Arabi. Pemikiran dua sufi tersebut saling melengkapi, al-?allâj sebagai penggagas wa?dat al-adyân sedangkan Ibn ‘Arabi membuat ide-ide al-?allâj menjadi sistematis.
ANALISIS PERAN KOMITE SEKOLAH DALAM PEMBIAYAAN PENDIDIKAN DI SMP N 2 BOJA KENDAL Scripzyan Meifany Ariyadi Norma Kartono; Ariyah; Vina Okta Viana; Nur Kolis
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 9 No. 2 (2024): Volume 09 No. 2 Juni 2024
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v9i2.13921

Abstract

Penelitian ini bertujuan 1) untuk mengetahui dan menganalisis peran komite sekolah dalam perencanaan pembiayaan pendidikan 2) untuk mengetahui dan menganalisis peran komite sekolah dalam pelaksanaan pembiayaan pendidikan 3) untuk mengetahui dan menganalisis peran komite sekolah dalam pengawasan pembiayaan pendidikan 4) untuk mengetahui dan menganalisis kendala yang dihadapi oleh komite sekolah SMPN 2 Boja Kendal dalam pembiayaan pendidikan. Jenis penelitian ini merupakan studi kasus. Pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa observasi kegiatan, wawancara dan penelusuran dokumen keuangan. Penelitian ini menggunakan triangulasi sumber dan metode. Analisis data dengan tiga langkah: reduksi data, menyajikan data, dan menarik simpulan. Hasil penelitian yaitu 1) peran komite dalam perencanaan dengan terlibat mengakomodir program sekolah yang tidak dibiayai oleh APBN dan APBD, serta mensosialisasikan program-program sekolah. 2) peran komite dalam pelaksanaan pembiayaan dengan melakukan penggalangan dana dan mengelola dana.3) peran komite sekolah dalam pengawasan yang dilakukan komite dalam mengawasi pelayanan pendidikan dan menindaklanjuti kritik dan saran atau aspirasi dari peserta didik, orang tua/wali, dan masyarakat belum optimal. 4) kendala utama yang dihadapi komite sekolah dalam manajemen pembiayaan ialah pengelolaan dana komite yang bersifat sumbangan dan ketat aturan sehingga sulit untuk memastikan jumlah sumbangan yang akan terhimpun. Penulis menyarankan agar Komite SMP N 02 Boja meningkatkan keterlibatannya dalam proses penyusunan rencana dalam semua program sekolag